Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Aiden Sakit#


__ADS_3

Pulang ke rumah, Aiden melihat istrinya yang diam saja diatas tempat tidur. Aiden merasa bingung dengan sikap istrinya ini. Entah dia kenapa sampai terlihat bingung dan memikirkan sesuatu.


"Sayang, kamu kenapa?"


Ayra menoleh dan menatap pada suaminya, dia menghela nafas pelan. "Sayang aku jelek ya, aku tidak mempunyai karier yang bagus. Gak seperti teman-teman perempuan kamu yang pada sukses dan cantik juga"


Aiden menggeleng pelan, dia merasa heran dengan apa yang diucapkan istrinya itu. "Aku tidak mempunyai teman perempuan, karena kamu bilang jika perempuan dan laki-laki tidak bisa berteman jika tidak salah satunya akan punya perasaan lebih. Jadi kau merasa tidak percaya diri pada siapa?"


Ayra mencebikan bibirnya, sebenarnya benar jika dia pernah mengatakan itu. Tapi entah kenapa dia selalu merasa tidak percaya diri jika bersama dengan orang-orang di sekitar suaminya itu.


"Ingat ya, kamu yang memiliki aku dan menjadi milikku. Apa itu tidak cukup untuk membuat kamu percaya diri?"


Ayra beringsut mendekati suaminya yang duduk dipinggir tempat tidur. Dia merasa bingung juga kenapa dia selalu mempunyai kepercayaan diri yang rendah. Mungkinkarena lingkungan Ayra sebelumnya jelas sangat berbeda dengan dunia suaminya saat ini.


Ayra memeluk suaminya, dia memang seharusnya bisa menyombongkan suaminya yang sekarang sudah menjadi miliknya seutuhnya. Tapi nyatanya Ayra tidak bisa melakukan itu.


"Aku hanya merasa jika kamu akan malu menikah denganku dan membawa aku ke tempat seperti itu. Aku hanya tidak punya percaya diri yang tinggi.Lihat saja mantan istrimu adalah Kak Saqila, yang cantik juga dengan karier yang bagus. Sementara saat ini kamu membawa aku yang jauh di bawah Kak Saqila."


"Memangnya kenapa? Kau memangnya kenapa? Apa yang membuat kamu jauh di bawah Saqila? Kamu adiknya dan kamu tidak jauh lebih cantik dari dia"


Ayra mendongak dan menatap suaminya dengan lembut. "Memangnya aku cantik ya?'


Aiden benar-benar gemas dengan istrinya ini. Dia mencubit hidung istrinya gemas. "Kamu itu cantik Sayang, bahkan sangat cantik. Dimataku tidak ada yang lebih cantik dari kamu"


Ayra menahan senyumnya dengan pipinya yang terasa panas. Mungkin pipinya sudah memerah sekarang karena malu dengan ucapan suaminya itu.


"Sudah ahh, ayo tidur aku ngantik" Ayra merebahkan tubuhnya dengan membelakangi Aiden, menarik selimut hingga hampir menutupi kepalanya.


Aiden tersenyum, dia ikut naik keatas tempat tidur dan memeluk Ayra dari belakang. "Aku belum mau tidur, kamu sudah selesai datang bulan 'kan?"


Ayra langsung membelalakan matanya, jelas dia tahu kemana arah tujuan dari pembicaraan Aiden ini. Apalagi ketika tangan suaminya merayap ke dalam piyama tidur yang Ayra kenakan.


"Sayang, aku benar-benar sangat menginginkannya. Sudah lama sekali aku tidak melakukannya" bisik Aiden di teinga Ayra, membuat istrinya itu merasa merinding ketika hembusan nafas hangat suaminya mengenai kulitnya.

__ADS_1


Lama sekali dia bilang? Ohh ayolah, selama-lamanya datang bulan yang normal itu hanya sampai 10 hari saja.


Ayra benar-benar bingung dan heran dengan suaminya yang mesum itu. Padahal Ayra datang bulan juga hanya sampai 5 hari saja, tapi Aiden sudah seperti satu bulan saja tidak diberikan jatah oleh Ayra.


"Boleh ya Sayang"


Dan Ayra tidak mungkin menolak, jadi dia hanya pasrah saat suaminya sudah mulai membuka kancing piyama tidur yang dia gunakan.


######


Hari ini Aiden terbangun dengan kepala yang terasa berat. Mungkin efek beberapa hari ini dia yang selalu pulang terlambat saat bekerja karena menyelesaikan kasus pabrik yang kebakaran itu.


"Ekhem.." Aiden berdehem saat tenggorokannya terasa sangat kering dan teras sakit.


"Sayang.." Panggilnya dengan suara yang serak, Ayra yang sedang berganti pakaian di ruang langsung keluar dengan handuk yang masih terlilit di kepalanya.


"Ada apa?"


Aiden melambaikan tangannya meminta Ayra untuk mendekat padanya.Tanpa banyak bicara, Ayra berjalan menghmapiri suaminya yang masih setengah berbaring diatas tempat tidur. Ayra duduk di pinggir tempat tidur dengan menatap suaminya yang terlihat cukup pucat.


"Sini naik" Aiden menepuk ruang kosong disebelahnya agar istrinya naik ke atas tempat tidur.


"Mau apa? Aku lagi mau ke bawah siapin sarapan"


"Sudah sini naik dulu, sarapan biar pelayan dan Mami saja yang siapin"


"Kamu sakit? Suaranya kok gitu"


Sepertinya Ayra baru menyadari jika suara Aiden terdengar berbeda dari biasanya. Dia naik ke atas tempat tidur dan memegang kening suaminya dengan punggung tangannya. Suhu tubuh Aiden memang terasa cukup tinggi dari suhu normal.


"Sayang, kamu demam. Kita ke Dokter ya"


Bukannya menjawab, Aiden malah memeluk istrinya dengan erat. Menyandarkan kepalanya di dada Ayra, "Aku tidak mau ke Dokter, aku hanya butuh kamu sekarang"

__ADS_1


Ayra menghela nafas pelan, dia mengelus kepala suaminya yang berada di dadanya itu. "Yaudah, kamu makan dulu dan minum obat. Abis itu baru tidur lagi"


Aiden tetap menggeleng, saat ini dia hanya membutuhkan pelukan istrinya saja. Dia tidak butuh obat lainnya. "Aku hanya ingin seperti ini saja"


Ayra menghela nafas, memang begini suaminya jika sedang sakit. Pasti selalu ingin bermanja padanya hingga tidak boleh membiarkan Ayra jauh darinya.


Akhirnya Ayra hanya diam dengan suaminya yang memeluknya, Ayra mengecek suhu tubuh Aiden yang masih belum turun. Dia mengelus kepala suaminya dengan lembut, memberi ciuman di keningnya.


Aiden yang memejamkan matanya tapi tidak tidur itu tentu merasakan apa yang dilakukan istrinya. Ketulusan Ayra yang selalu dia rasakan ketika sakit begini. Ayra tidak pernah mengeluh, apalagi dengan AIden yang selalu bersikap lebih manja jika sedang sakit seperti ini. TapiĀ  Ayra selalu sabar menghadapi suaminya ini.


"Makan dulu ya, biar aku buatkan bubur. Terus minum obat, kalau memang kamu tidak mau ke Dokter"


Aiden tetap menggeleng, jangankan untuk makan. Menelan ludah saja tenggorokannya sudah terasa sangat sakit.


"Ay, Aiden kenapa?"


Mami masuk ke dalam kamar ketika anak dan menantunya tidak kunjung turun untuk sarapan. Padahal Papi saja sudah berangkat kerja baru saja.


Ayra menghela nafas, Mami sudah terbiasa dengan kemanjaan Aiden pada istrinya. Jadi saat ini dia melihat posisi Aiden yang memeluk istrinya sudah seperti anak kecil saja, Mami sudah terbiasa.


"Demam Mam, mungkin karena terlalu kelelahan akhir-akhir ini. Mau dibawa ke Dokter tidak nau"


"Yaudah biar Mami suruh pelayan untuk membuatkan bubur biar Aiden mau makan"


"Iya Mam, terima kasih"


Mami memukul pelan kaki Aiden. "Jangan manja-manja kamu, sakit gitu aja manjanya melebihi Alerio"


"Sama istri sendiri ini, Mam. Siapa yang mau melarang"


Mami hanya menggelengkan kepalanya dengan sikap anaknya yang terlalu bucin ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2