
Sorak sorai anggota keluarga yang bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun, benar-benar memenuhi ruang tengah rumah mewah ini. Ayra sedikit mengusap ujung matanya ketika dia melihat bagaimana anaknya yang kini sudah tumbuh menjadi balita yang menggemaskan.
Alerio meniup lilin angka 2 diatas kue ulang tahunnya. Ayra membantu untuk Alerio memotong kue ulang tahunnya. tangan mugilnya dipegang oleh tangan Ibunya yang membantu dia untuk memotong kue ulang tahunnya.
"Suapan pertama akan dikasih pada siapa Alerio?" tanya Mami pada cucu pertamanya itu.
"Nda..Nda"
"Ah, untuk Bunda Sayang? Ah terima kasih ya Nak"
Ayra mengambil piring berisi potongan kue pertama dari putranya itu dengan senyum bahagia. "Karena Daddy kamu cemberut tidak mendapatkan potongan kue pertama dari kamu ini. Jadi biar Bunda suapi Daddy agar dia tidak terus merajuk ya"
Anggota keluarga yang ada disana hanya terkekeh lucu melihat tingkah sepasang suami istri ini. Ayra berjalan mendekati suaminya dan menyuapkan kue yang diberikan oleh anaknya itu.
Aiden tersenyum dan langsung memberikan ciuman di kening istrinya dengan lembut. Lalu dia juga mnyuapi Ayra kue itu. Dan tepuk tangan semua orang memeriahkan acara sederhana ini. Semua orang mulai memberikan hadiah pada Alerio, hingga anak itu benar-benar kegirngan karena mendapatkan banyak hadiah.
Acara berakhir dengan makan siang bersama, dan satu persatu anggota keluarga mulai berpamitan pulang. Alerio juga sudah terlelap karena kelelahan. Ayra membereskan beberapa kado untuk anaknya itu. Dia duduk diatas lantai dan mulai membuka satu persatu kado yang diterima Alerio dari keluarganya.
Kado pertama yang Ayra buka adalah dari Saqila. Mantan istri suaminya yang juga adalah Kakaknya. Ayra cukup terkejut saat mengetahui isi dari kado itu. Sebuah mobilan robot yang harganya tidak bisa Ayra hitung dengan jari. Kado kedua dan seterusnya juga barang-barang yang benar-benar dengan harga fantastis.
Aku bingung, kenapa memberi hadiah untuk seorang anak berusia dua tahun saja harus barang mewah dan mahal begini. Ah, namanya juga orang kaya, aku mana mengerti.
Sampai saat ini Ayra masih belum bisa benar-benar menyesuaikan dengan kehidupan da lingkungan disekitar suaminya dan kelauarganya ini.
Maklumlah,meski Ayra sekaranga adalah anak dari Papa yang memiliki perusahan di luar negara, tapi kehidupan dan kebiasaan Ayra sebelumnya hanya seorang gadis miskin yang hidup serba kekurangan. Jadi Aya masih merasa terlalu asing dengan ini semua.
__ADS_1
Pintu kamar terbuka dan Aiden masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh anknya dan juga pengasuhnya itu. Aiden melihat istrinya yang sedang membereskan hadiah milik Alerio.
"Sayang, kamu belum istirahat sejak tadi. Sudah semua ini biar pelayan saja yang bereskan"
Ayra yang sedang menata mainan di dalam lemari khusus untuk tempat mainan Alerio, langsung menoleh pada suaminya itu. "Tinggal sedikit lagi kok, Sayang"
Aiden duduk di pinggir tempat tidur dan menatap anaknya yang terlelap. Aiden mengelus kepala anaknya dengan lembut dan penuh dengan kasih sayang. "Anak Daddy tidur ya, pasti kelelahan sekali habis acara ulang tahun"
Ayra tersenyum melihat suaminya yang sedang mengelus kepala anaknya itu. Ayra memunguti sampai bekas kado Alerio dan membawanya keluar kamar untuk dibuang. Setelah semuanya selesai, barulah Ayra bisa istirahat sejenak. Dia duduk diatas sofa dengan menyandar pada sandaran sofa. Hari ini memang cukup melelahkan bagi Ayra.
"Cape ya, bagaimana kalau nanti kita adakan resepsi pernikahan"
Hah?!
Ayra langseung menoleh pada suaminya yang berjalan mengitari sofa lalu duduk disamping Ayra. "Sayang, apa maksudmu?"
"Saat aku pergi ke acara pernikahan Rega kemarin, aku rasa pernikahan kita ini terlalu sederhana dulu. Sampai kita tidak punya foto yang bagus saat kita menikah dulu. Jadi aku rasa sebaiknya kita adakan saja resepsi pernikahan"
"Sayang jangan aneh-aneh deh, masa kita mau mengadakan resepsi pernikahan. Kita ini sudah hampir tiga tahun menikah. Dan sudah mempunyai anak juga, jadi resepsi pernikahan sudah tidak lagi penting untuk kita"
"Sayang.." Aiden terbangun dari pangkuan istrinya dan menatap Ayra dengan lekat. "...Tidak akan menjadi masalah jika kita mengadakan resepsi pernikahan di saat kita sudah menikah tiga tahun. Lagian banyak juga yang melakukan resepsi disaat pernikahan mereka sudah terjalin cukup lama, itu semua tidak masalah Sayang"
Ayra tersenyum, dia mengelus pipi suaminya dengan lembut. "Lagian, kamu ini kenapa si? Kok tiba-tiba ingin mengadakan resepsi pernikahan segala"
"Ya, karena aku ingin pernikahan kita juga berkesan seperti orang lain"
__ADS_1
"Kamu iri dengan pernikahan Tuan Rega yang kemarin cukup mewah itu?"
Aiden melengos, dia tentu tidak akan mau mengakui jika dirinya memang sedikit iri saat melihat pernikahan Rega. Aiden juga ingin melihat istrinya memakai gaun pengantin yang indah seperti itu. Namun saat dulu mereka menikah, memang keadaannya yang berbeda membuat Aiden tidak terlalu peduli dengan acara pernikahan itu. Dan sekarang dia menyesalinya.
"Begini saja, kalau memang itu yang kamu inginkan. Kita adakan saja ketika anniversary pernikahan kita yang ke tiga tahun, bagaimana? Daripada kita harus dengan sengaja mengadakan resepsi pernikahan. Mending sekalian saja 'kan?"
Aiden berfikir sejenak, lalu dia mengangguk menyetujui. "Tanggal pernikahan kita masih pertengahan bulan depan 'kan?"
Ayra mengangguk, dia berdiri dan mengulurkan tangannya pada suaminya itu. "Iya, jadi masi ada cukup waktu juga"
Aiden tersenyum, dia meraih uluran tangan istrinya dan ikut beranjak dari duduknya. "Sekarang ayo ke kamar, kamu perlu banyak istirahat. Dari kemarin sibuk sekali membantu menyiapkan semuanya untuk hari ini.
Masuk ke dalam kamar, Ayra langsung berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Sementara Aiden langsung mengambil ipad didalam laci nakas samping tempat tidur. Aiden mulai mencari wedding organizer terbaik untuk acara resepsi pernikahannya dengan Ayra nanti.
Sampai istrinya selesai mandi dan berganti pakaian, Aiden masih belum menemukan wedding organizer yang cocok.
"Sayang mandi sana, kamu lagi ngapain si? Apa ada pekerjaan?" Ayra yang duduk di kursi depan meja rias dan mulai membalurkan lotion ke tangan dan kakinya, merasa heran dengan suaminya yang begitu fokus dengan ipad ditangannya.
"Tidak Sayang, aku sedang mencari wedding organizer untuk acara kita nanti. Tapi aku belum menemukan yang cocok"
Ayra menggeleng heran dengan tingkah suaminya itu. Aiden benar-benar sngat berniat untuk mengadakan acara resepsi pernikahan yang terlambat itu.
Dia ini kenapa si? Kenapa bersemangat sekali untukmengadkan acara resepsi peernikahan.
Ayra saja merasa bingung dengan sikap Aiden ini. Atau mungkin memang Aiden iri dengan acara pernikahan Rega kemarin? Entalah.
__ADS_1
Bersambung