Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Perkara Bulan Madu#


__ADS_3

"Kamu benar-benar akan mengadakan bulan madu untuk kita? Sayang, jangan deh. Masa kita bulan madu di usia pernikahan yang sudah tiga tahun ini"


Cup..


Aiden mengecup bibir istrinya untuk menghentikan ocehan gadis itu padanya. "Memangnya kenapa? Aku hanyaingn mempunyai waktu berdua dengan kamu dan kita bisa menikmati waktu berdua itu"


Ayra menjatuhkan kepalanya di dada suaminya. Merasa jika keinginan suaminya ini memang sudah tidak bisa di bantah lagi. "Sayang, tapi aku tidak mau meninggalkan Alerio terlalu lama"


"Kau selalu begitu, kenapa selalu Alerio yang menjadi fokus utama kamu. Tapi kamu mulai mengabaikan aku"


Ayra melingkarkan tangannya di pinggang Aiden, wajahnya mendongak dan menatap wajah kesal suaminya itu. "Sayang kenapa si kamu ini selalu merasa cemburu pada Alerio? Padahal dia adalah anakmu sendiri"


"Karena kamu selalu menjadikan Alerio sebagai alasan ketika aku ingin bersamamu. Seperti saat ini, kau menjadikan dia alasan saat aku ingin mengajakmu berbulan madu. Padahal aku ingin sekali menikmati masa berdua denganmu seperti yang dilakukan pengantin pada awal pernikahannya"


"Ya tapi 'kan kita sudah bukan pengantin baru lagi"


"Karena kau tahu bagaimana awal pernikahan kita terjadi. Tolong mengerti Ayra, aku sedang mencoba menebus segala penyesalanku ketika mengingat awal pernikahan kita yang tidak baik-baik saja"


Ayra terdiam, menatap bola mata Aiden yang terlihat berkaca-kaca. Ayra mulai sadar jika ternyata suaminya itu memang begitu memikirkan tentang awal pernikahan mereka yang didasari atas dasar perjanjian.


"Sayang, maafkan aku. Tapi benar, aku sudah sangat bahagia bersama kamu. Jangan membuat diri kamu menyesal dengan hal yang tidak perlu kamu sesali. Karena semua itu adalah takdir Tuhan untuk kita berdua"


Aiden menundukan pandangannya, entah kenapa dia memang begitu memikirkan tentang awal pernikahannya dengan Ayra. Merasa jika selama ini dia belum cukup membuat istrinya ini bahagia. Karena Ayra tidak pernah merasakan hal-hal yang dialami banyak orang pada awal pernikahannya.


"Tapi Sayang, aku tetap ingin mengadakan bulan madu untuk kita berdua. Jadi tolong kamu jangan melarang aku untuk melakukan hal yang belum pernah kita lalu selama pernikahan kita ini"


Ayra tersenyum, dia sedikit berjinjit dan mengecup bibir suaminya itu. "Baiklah, aku menurut apa katamu"


Percuma saja jika terus menolak, karena memang Aiden hanya ingin menunjukan jika dia juga harus membuat Ayra bahagia lebih dari saat ini. Ayra hanya mencoba menuruti keinginan suaminya itu dan tidak membuat Aiden merasa kecewa dengan penolakan Ayra.

__ADS_1


"Lalu kapan kita akan pergi? Kemana dan berapa lama?"


"Mungkin bulan depan, karena saat ini Rega masih mengambil cuti. Istrinya baru saja melahirkan"


"Oh ya, kenapa kamu baru bilang sekarang. Kapan kita akan menengok bayinya Rega?"


"Besok saja,  setelah aku pulang bekerja"


Ayra mengangguk, dia kembali memeluk suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada Aiden dengan nyaman.


"Baiklah"


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


Tidak ada lagi alasan untuk Aiden tidak melakukan rencana awalnya untuk berbulan madu. Tidak peduli jika memang pernikahan mereka yang sudah terjalin lama. Karena ini hanya tentang Aiden yang ingin membuat istrinya bahagia.


"Sayang, aku sudah siap. Ayo kita pergi ke rumah Rega"


"Apa-apaan ini? Mau menunjukan pada siapa bahumu ini? Udah panjangnya juga diatas lutut. Kau benar-benar ingin memamerkan tubuhmu"


"Sayang, baju ini sudah lama ada di lemariku dan tidak pernah aku pakai. Kan sayang kalau tidak di pakai sama sekali"


Aiden menarik lengan baju Ayra yang jatuh di bawah bahu hingga bahuny benar-benar terlihat dengan jelas. "Ganti! Aku akn suruh pelayan membuang baju-baju tidak layak di lemari milikmu"


Ayra tidak bisa membantah apapun karena memang seperti ini suaminya. Paling tidak suka jika istrinya menunjukan bagian tubuhnya yang seharusnya hanya dia yang boleh melihatnya. Ayra berjalan ke arah ruang ganti dengan langkah yang gontai. Lagian siapa suruh membeli baju dengan model seperti ini tapi tidak boleh aku pakai. Gumamnya.


Aiden meraih telepon rumah yang ada di dalam kamarnya. Menelepon pada bagian kepala pelayan di rumah ini. "Hallo, siapa yang bertugas membeli pakaian dan mengisi lemari pakaian untuk istriku? Kenapa harus membeli pakaian yang tidak layak. Besok harus di bereskan dan dibuang semua pakaian yang tidak layak"


"Baik Tuan"

__ADS_1


Kepala pelayan itu tentu merasa terkejut saat mendengar ucapan Aiden itu. Meski begitu, dia tidak bisa melakukan apapun selain mengiyakan ucapan Tuan Muda di rumah ini.


Ayra keluar dari ruang ganti dengan pakaian yang berbeda. Dan suaminya tidak lagi komplain saat melihat pakaian yang dipakai oleh Ayra saat ini. Sebuah gaun di bawah lutut dengan lengan sampai sikut. Membuat Ayra terlihat lebih elegan saat ini.


"Yasudah ayo berangkat" Ayra merangkul manja lengan suaminya, terkadang dia suka merasa heran dengan sikap posesif suaminya yang terkadang terlalu berlebihan itu. Namun Ayra tahu jika seperti inilah cara Aiden memberikan kasih sayang dan perhatiannya.


"Sayang, apa kita tidak membel dulu hadiah untuk bayinya Rega?"


"Aku sudah membelikannya hadiah dan langsung di kirim ke rumahnya"


Ayra mengangguk saja, dia masuk ke dalam mobil dengan memangku Alerio. Anak itu terlihat sangat bahagia ketika diajak masuk ke dalam mobil. Tahu jika saat ini dirinya akan dibawa jalan-jalan.


"Sayang, senang ya? Kita main ke rumah uncle Rega dan Aunty Medina ya. Ada teman baru Alerio disana"


Aiden tersenyum melihat kelembutan istrinya yang selalu membuat dirinya merasa tenang dan bahagia bisa bersama dengan Ayra. Kebahagiaan yang tidak pernah Aiden kira ketika dirinya menikah Ayra hanya karena membutuhkan rahimnya untuk melahirkan anaknya. Namun ternyata semuanya berubah ketika Aiden yang mulai jatuh cinta pada istri bayarannya itu. Takdir Tuhan memangnya siapa yang akan tahu.


"Aku mencintai kalian"


Ayra langsung menoleh pada suaminya yang sedang memegang kemudi itu. Merasa heran karena Aiden yang tiba-tiba saja mengatakan kalimat itu.


"Kita juga mencintai Daddy ya"


Kebahagiaan apa lagi yang ingin Ayra dapatkan saat bersama suaminya saja sudah menjadi kebahagiaan yang terbesar dalam hidupnya.


"Jangan pernah pergi dari kehidupan aku, karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi ketika tidak ada kalian dalam hidupku"


"Iya Sayang, kita akan selalu bersamamu. Selamanya"


Ketika cinta yang bersatu diatas ketulusan dan kebahagiaan yang semakin besar ketika bersama. Dan takdir yang tela mempertemukan mereka dengan segala lika-liku kehidupan yang harus mereka hadapi. Namun bersyukur karena takdr itu sendiri yang telah membawa Ayra dan Aiden pada kebahagiaan ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2