Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Bodyguard?#


__ADS_3

Pagi ini Ayra terbangun dengan peutnya yang terasa tidak nyaman. Dia bangun dan pergi ke kamar mandi. Ayra menghela nafas pelan ketika dia melihat bercak merah di pakaian dalamnya. Ayra segera mandi dan berganti pakaian. Dan ketika dia kembali ke kamar, dia melihat suaminya yang baru saja bangun.Tubuh polos Aiden terlihat jelas. Selimut hanya menutupi dibagian bawahnya saja. Tidak sampai ke bagian atas tubuhnya yang juga polos.


"Sayang udah mandi ya? Ini masih pagi banget"


Ayra tersenyum, dia duduk dipinggir tempat tidur. Mengelus lembut kaki Aiden yang berselonjor itu. "Iya, aku datang bulan"


Aiden langsung menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu dia menghela nafas pelan. "Sayang, kamu datang bulan, berarti bulan madu kita yang kemarin belum menghasilkan dong"


Ayra tersenyum mendengar itu, jelas dia tahu keinginan suaminya yang begitu menginginkan anak lagi. "Mungkin belum, kita 'kan tidak bisa melakukan apapun. KIta hanya bisa berusaha, selebihnya biar Tuhan yang mengaturnya"


Aiden mengangguk, ya dia memang tidak akan bisa melakukan apapun. Aiden hanya punya kenginan, sementara yang mewujudkan semuanya adalah Tuhan.


"Kamu mandi dulu sana, aku mau ke bawah dulu lihat Alerio"


Ayra mengecup kening suaminya sebelum dia pergi keluar dari kamar. Ayra pergi ke dapur dan menyiapkan sarapan pagi ini. Ayra bangun cukup pagi hingga penghuni rumah juga masih belum terlihat ada yang bangun kecuali para pelayan yang sudah sibuk dengan masing-masing tugasnya.


Ayra yang menyiapkan sarapan untuk pagi ini,  meski sudah ada beberapa pelayan yang menawarkan diri untuk membantunya. Tapi Ayra menolak, karena memang dia ingin memasakan sarapan untuk suami dan mertuanya.


Sarapan pagi ini semua orang terlihat cukup lahap memakan masakan buatan Ayra.Bahkan Papi saja sampai menambah lagi. Untuk pertama kalinya Ayra melihat Papi makan cukup banyak. Apalagi ini masih pagi hari.


"Masakan kamu memang selalu membuat orang-orang berselera makan tinggi Ay. Kamu memang pandai memasak"


Ayra hanya tersenyum mendengar ucapan Mama itu. Dia senang jika anggota rumah ini menyukai makanan yang dia buat.


"Emm. Sayang, aku mau ker rumah Kak Saqila nanti siang ya. Mau kasih oleh-oleh sekalian bawa Alerio jalan-jalan"


"Diantar supir ya, dan kalau ada apa-apa harus langsung hubungi aku. Faham"


Ayra mengangguk, dia tahu jika suaminya masih sedikit trauma dengan kejadian penculikannya oleh Rezend waktu itu. Jadi wajar saja jika saat ini Aiden lebih posesif dari biasanya.

__ADS_1


######


Ayra terdiam ketika yang Aiden adalah supir baru yang di khususkan untuknya ternyata seorang pria yang berotot besar dengan tubuh tinggi besar dan wajah yang garang. Jujur melihat dari wajah dan gestur tubuhnya, dia seperti seorang pereman.


"Maaf Nona, apa kita akan pergi sekarang?"


Ayra mengerjap pelan, dia malah berkeliaran dengan pikirannya tentang orang yang saat ini berada di depannya. "I-iya Pak, kita berangkat sekarang"


Ayra masuk ke dalam mobil ketika pria itu membukakan pintu mobil untuknya. Sungguh Ayra merasa sangat seram melihat wajah pria itu.


Aduh, kenapa suamiku mempekerjakan orang seperti itu si? Apa tidak ada orang lain yang wajahnya lebih lembut gitu. Tidak sangar seperti dia.


Ayra hanya diam dengan memangku Alerio. Balita itu terlihat berceloteh banyak hal, namun tidak terlalu ditanggapi oleh Ibunya. Karena Ayra masih memikirkan kenapa suaminya mempekerjakan orang menyeramkan yang sedang mengemudi di depannya ini.


"Pak belok kiri Pak, saya ingin ke rumah teman saya dulu"


Ayra langsung terhenyak mendengar penolakan dari supirnya ini.Bahkan cara bicaranya saja terdengar lebih dingin daripada Rega dan suaminya.


"Tapi Pak saya hanya sebentar saja, cuma ingin memberikan oleh-oleh pada teman saya"


"Sekali lagi maaf Nona, tapi saya tidak bisa melanggar perintah Tuan"


Ayra menghela nafas pelan, merasa bingung dengan suaminya yang memepekerjakan orang dengan wajah sangar dan menyeramkan itu. Dan kenapa juga Aiden seperti sedang mengawasi gerak Ayra melewati orang itu. Hingga Ayra tidak merasa bebas lagi ketika dia ingin berpergian.


Akhirnya Ayra tidak bisa mampir terlebih dahulu ke rumah Tami karena supirnya ini yang tidak mengizinkan dia pergi kecuali ke rumah Saqila. Saqila yang melihat supir Ayra itu juga tentunya terkejut melihatnya. Ketika Ayra masuk ke dalam rumah Saqila langsung menanyakan apa yang terjadi sampai Ayra mempunyai supir seperti itu.


"Aku juga bingung Kak, kenapa juga Mas Aiden mencarikan supir yang benar-benar menyeramkan seperti dia. Bahkan selama perjalanan saja aku merasa berada di kandang macan tahu. Serem banget lihat dia"


Saqila tertawa lucu mendengar ucapan adiknya itu. "Sudah-sudah, sini kamu duduk"

__ADS_1


Ayra duduk disamping Saqila yang sedang memangku Alerio. Sesekali Ayra melirik ke arah luar dan melihat pria yang menjadi supir baru untuknya itu sedang berdiri tegak di teras depan. Benar-benar hanya diam dan tidak melakukan apapun.


"Tuhkan Kak, lihat deh. Sejak tadi dia hanya berdiri diam disana. Apa itu tidak aneh? Kelakuannya saja sudah aneh, aku jadi takut tahu"


Saqila ikut menatap ke arah tunjuk Ayra. "Dia bukan seperti seorang supir, tapi seperti seorang bodyguard profesional"


Ayra langsung terdiam ketika dia mendnegar ucapan Saqila barusan. Bodiguard? Ayra pernah mendengar jika Aiden akan mencarikan bodyguard untuknya karena dia yang terlalu khawatir pasca kejadian penculikan itu. Dan sekarang Ayra faham kenapa Aiden mempekerjakan orang itu.


"Ya ampun Kak,s epertinya benar deh apa yang Kakak bilang barusan. Mas Aiden memang pernah bilang jika dia ingin mencarikan bodyguard saat kejadia aku diculik oleh teman kampusku dulu"


"Nah, benar kalau begitu dia bukan hanya sekedar supir, tapi memang ditugaskan oleh Aiden untuk menjaga kamu saat kamu tidak berada di dekatnya"


Hah..


Ayra menghembuskan nafas berat, sudah pasti setelah ini hidup dia benaar-benar tidak akan bebas lagi seperti biasanya. Merasa jika Ayra tidak akan pernah bisa bebas seperti sebelumnya setelah tingkat keposesifan suaminya semakin tinggi.


"Tapi, Mas Aiden tadi bilangnya kalau ada supir baru yang dikhususkan untuk aku. Gak bilang kalau dia adalah bodyguard yang pernah dia bicarakan itu sebelumnya"


Saqila terkekeh pelan, dia merangkul bahu Ayra dan mengelusnya."Sabar ya Ay, karena memang suami kamu itu mempunyai tingkat keposesifan yang sangat tinggi. Apalagi setelah kejadian penculikan kamu waktu itu, jelas membuat dia akan semakin posesif sama kamu"


"Iya Kak sepertinya begitu"


Bahu Ayra langsung melemas ketika dia memikirkan hidupnya kedepannya akan seperti apa setelah suaminya benar-benar membatasi gerak dan kebebasannya.


"Sudah, kamu terima saja dan nikmati cara suami kamu mencintaimu ya memang begini"


Ya, Ayra tidak bisa melakukan apapun lagi karena mungkin memang beginilah cara suaminya mencintainya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2