
Ayra sedang menunggu suaminya yang sedang ada rapat penting siang ini. Dia duduk di atas sofa dengan memainkan ponselnya. HIngga pintu yang terbuka dan terdengar omelan dari suaminya itu membuat Ayra segera mendongak dan menatap suaminya yang masuk ke dalam ruangan ini dengan seorang pemuda di belakangnya, yang mengikutinya dengan wajah menunduk.
Bukankah dia yang waktu itu tidak sengaja menabrak aku pas di lift ya.
"Kamu harus perbaiki semuanya, pokoknya dalam waktu tiga hari kamu tidak bisa menyelesaikan semua ini, maka siap-siap keluar dari perusahaan ini"
"Baik Tuan, saya mengerti dan akan segera menyelesaikan semua ini"
Ketika pria itu mendongak dan melihat Ayra yang menatap ke arahnya membuat dia langsung tersenyum pada Ayra dan gadis itu pun juga membalas senyumannya itu dengan ramah.
Kenapa dia ada disini lagi? Ya ampun kenapa senyumannya begitu menenangkan hatiku.
Aiden masih fokus dengan berkas di tangannya hingga dia tidak melihat adegan barusan. Ketika Aiden mendongak, pria itu juga langsung memalingkan wajahnya pada Aiden, ketika sejak tadi dia hanya memperhatikan Ayra yang sedang duduk diatas sofa.
"Semuanya benar-benar harus kau revisi, bagaimana bisa kau menaruh lebih angka nol disini. Semuanya akan menjadi masalah yang semakin besar ketika berkas ini sudah sampai di tangan pemegang saham di perusahaan ini. Jadi cepat kau selesaikan semuaya"
"Baik Tuan"
Aiden melemparkan berkas itu ke arah karyawan baru yang berdiri di depan meja kerjanya. Beruntungnya karena dia yang langsung sigap menangkap berkas itu dan mendeka di dadanya.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan, dan Nona"
Aiden menyipit tajam ketika dengan tidak sengaja dia melihat senyuman pria itu yang begitu berbeda pada Ayra, dan istrinya juga yang membalas senyuman dari pria itu.
"Cepat pergi!"
"Ba-baik Tuan"
Aiden berjalan menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa dengan wajah dinginnya. Hal itu membuat Ayra bingung dan merasakan aura kemarahan dari suaminya ini.
Kenapa? Kenapa menatapku seperti itu? Memangnya aku telah melakukan kesalahan apa?
__ADS_1
Ayra merasa merinding sendiri melihat tatapan suaminya yang sangat tajam dan dingin itu. Entah kenapa Ayra merasa aura dingin menyeramkan dari suaminya ini.
"Sayang, kamu kenapa?"
Aiden duduk disampingnya dan menatap Ayra dengan semakin tajam. "Kenapa kau tersenyum seperti itu pada pria tadi?"
Hah..?
Ayra mebgerutkan keningnya, bingung dengan ucapan Aiden barusan. Memangnya apa yang Ayra lakukan sampai membuat suaminya marah seperti ini. Padahal Ayra merasa jika dirinya tidak melakukan hal yang membuat Aiden marah. Masalah untuk senyumannya pada karyawan Aiden barusan, hanya karena memang dirinya membalas senyuman pria itu padanya.
"Kenapa tersenyum seperti itu padanya?!"
Ayra terkejut ketika mendengar nada suara suaminya yang semakin menekan itu. Ayra sampai tidak lagi berani menatap wajah suaminya yang menakutkan itu.
"Sayang, aku hanya membalas senyuman dia saja. Masa aku harus besikap tidak ramah pada karyawan kamu yang memberikan senyuman ramah padaku"
Aiden mendelik tajam pada istrinya itu, dia jelas melihat jika senyuman pria tadi bermakna berbeda pada Ayra. "Jelas dia tersenyum padamu karena dia menganggumi. Kau faham?! Kenapa kau malah membalas senyuman dia"
"Sayang, kamu ini kenapa si? Aku tidak mungkin berkhianat padamu. Lagian aku juga tidak mengenal siapa karyawan kamu yang tadi itu"
"Pokoknya aku tidak suka kau tersenyum seperti itu pada pria lain. Kau tahu, aku juga seorang pria dan aku jelas melihat ketertarikan dari tatapan pria itu padamu"
Ayra tidak bisa terus berdebat dengan suaminya ini. Dia harus menyudahi kekesalan suaminya itu. Ayra memeluk Aiden, menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu.
"Sayang, aku tidak tahu apa maksud pria itu tersenyum padaku. Jadi sudah ya, jangan marah-marah lagi"
Ayra sedikit menghela nafas lega ketika dia merasakan kecupan di puncak kepalanya. Jika sudah seperti ini dipastikan jika rasa kesal suaminya sudah mulai mereda.
"Pokoknya jangan pernah tersenyum pada pria di luar sana"
"Iya, iya. Aku tidak akan melakukan itu"
__ADS_1
Untuk situasi tertentu memang Ayra harus lebih mengalah pada suaminya ini. Karena dirinya tidak mungkin harus sama-sama keras kepala. Karena suaminya ini tidak akan bisa di bantah apapun ketika dia sedang cemburu. Apalagi jika Ayra keras kepala dan tidak membujuknya, pasti kekesalan suaminya akan semakin lama.
"Sudah ya, jangan kesal lagi. Kan aku datang kesini untuk membawakan makan siang untuk kamu"
Aiden membalas pelukan istrinya, meski rasa kesalnya masih belum benar-benar hilang. Tapi Aiden tetap tidak bisa kesal dan marah terlalu lama pada istrinya itu. Karena memang dirinya yang mencintainya terlalu besar, membuat Aiden selalu takut jika istrinya direbut oleh pria lain.
"Pokoknya kalau sekali lagi aku melihat dia tersenyum seperti itu padamu, maka aku akan memecatnya"
Ayra merasa merinding sendiri dengan ucapan suaminya yang benar-benar bukan sekedar ancaman biasa saja. Ayra mengelus dada Aiden agar pria itu lebih tenang dan tidak terus merasa kesal.
"Sudah ya, jangan marah terus. Mendingan kita makan siang saja sekarang"
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Dan ketika pulang ke rumah, kekesalan Aiden berlanjut. Saat ini lebih ke merajuk dan terus membahas tentang Ayra yang tersenyum pada karyawan pria di kantornya tadi.
"Kau tidak sadar jika senyumanmu itu membuat banyak pria terpesona denganmu. Jadi, jangan pernah menunjukan senyuman itu lagi pada pria di luar sana"
Ayra hanya bisa menghembuskan nafas pelan, jika sudah sekali saja suaminya cemburu. Maka akan terus di bahas sampai dia benar-benar puas menghilangkan kekesalan dalam hatinya.
Suamiku ini memang pencemburu berat.
"Sayang, aku tidak bermaksud apa-apa saat aku tersenyum padanya. Jadi sudah jangan dibahas terus" Karena jika terus dibahas, maka kekesalanmu itu tidak akan cepat hilang.
Aiden tidak menjawab, dia hanya memeluk Ayra dengan erat di atas tempat tidur. Dia hanya sedang takut jika istrinya akan pergi meninggalkannya ketika bertemu dengan pria lain yang lebih muda dan lebih tampan darinya.
Sial. Dia juga lumayan tampan, dan umurnya jelas lebih muda daripada aku.
Malam ini Ayra hanya mencoba menenangkan suaminya yang sedang kesal padanya. Ayra terus memberikan kelembutan dan kehangatan ketika Aiden memang benar-benar sedang kesal dengan kejadian tadi siang. Hanya karena sebuah senyuman. Aiden bisa sekesal itu, apalagi jika Ayra benar-benar berpaling pada pria lain, mungkin Aiden akan menggila.
Karena sudah terbiasa, jadi aku merasa jika memang seperti ini cara mencintaiku.
__ADS_1
Bersambung