Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Alasan Ingin Mempunyai Anak Lagi#


__ADS_3

Dengan tanpa menggunakan alas kaki, Ayra dan Aiden berjalan menyusuri pesisir pantai. Menikmati angin laut yang menerpa tubuh mereka. Deburan ombak terdengar begitu keras. Aiden menggandeng tangan istrinya dengan sesekali mengecup punggung tanga istrinya.


"Sayang apa kamu senang berada disini?"


Ayra mengangguk, dia menoleh pada suaminya dan tersenyum begitu manis. "Aku senang, tapi aku juga kangen sama Alerio"


Aiden tersenyum, dia merangkul bahu istrinya dan mencium kepala Ayra dengan lembut. "Kamu tenang saja, Alerio pasti akan baik-baik saja disana. Lagian dia juga akan senang jika ketika kita pulang dia mengetahui kalau dia bakal punya adik"


Ayra mencubit pinggang suaminya itu, meski tidak terlihat ada efek apa-apa untuk Aiden atas cubitannya barusan. "Kamu ini, yang di fikirin hanya tentang itu saja. Lagian kenapa si kamu ingin sekali memberikan Alerio adik? Padahal usianya saja masih kecil"


"Ya karena aku masih bisa membereikan kamu kepuasan dan menjadikan benih aku untuk menjadi seorang bayi yang akan berada di rahim kamu sebelum lahir ke dunia ini. memangnya kenapa? Apa aku salah jika menginginkan anak lagi dari kamu?"


Ayra menggelen pelan, lalu dia duduk diatas pasir dengan menatap ke arah pantai. Aiden pun ikut duduk disamping istrinya itu. "TIdak salah, tapi aku heran saja karena kamu begitu menginginkan Alerio segera mempunyai adik"


Ya karena usia aku dan dia berbeda jauh, aku takut saja jika nanti tidak bisa membuatnya hamil lagi.


Tentu saja Aiden tidak akan berani mengatakan itu secara langsng. Dia akan sangat malu jika mengakui semua itu. Ya, memang itu ketakutan Aiden. Dia takut jika semakin di tunda-tunda maka diusianya yang mungkin tidak bisa dibilang muda lagi jika dibandingkan dengan istrinya yang masih sangat muda. Jadi Aiden takut jika kesuburan dalam tubuhnya berkurang dan dia tidak bisa membuat Ayra hamil lagi dan memberikan adik pada Alerio.


"Ayo kembali  ke Villa, anginnya kencang sekali. Nanti kamu masuk angin lagi"


Ayra mendongak, menatap suaminya yang sudah berdiri disampingnya itu. Ayra berdiri dan langsung merangkul leher suaminya dnegan kedua tangannya. Cup... Ayra mengecup bibir Aiden sebelum dia berlari pergi dari hadapan suaminya itu.


"Sayang. kau sudah berani ya. Awas kamu, aku tidak akan membiarkan kamu lepas dariku"


Ayra hanya tertawa kencang ketika melihat suaminya mengerjarnya.Semakin kencang Ayra berlari, maka Aiden juga lebih kencang juga mengerjarnya. Hingga Aiden bisa menangkap tubuh Ayra, dia memeluknya dan tidak membiarkan Ayra lepas darinya.


"Mau kemana kau sekarang, sudah berani menggodaku dan sekarang mau lari begitu saja"


"Haha. Iya Sayang maaf, aku menyerah deh. Lepasin dulu ih"

__ADS_1


"Tidak akan aku lepaskan lagi"


Aiden menggendong tubuh Ayra dan membawanya masuk ke dalam Villa. Aiden langsung membawa istrinya itu masuk ke dalam kamar. Dan setelah itu, mereka kembali melakukan kegiatan di dalam kamar.


######


Pagi ini Ayra terbangun lebih awal, meski  tentu tidak benar-benar pagi sekali. Ayra berjalan ke dapur dan melihat bahan makanan yang ada di dalam lemari es. Ayra ingin membuatkan sarapan untuk dirinya dan suaminya. Ayra mulai memasak dengan santai, ketika sepasang tangan memeluknya dari belakang.


"Sayang sudah selesai mandinya, aku lagi buat sarapan untuk kita"


Aiden menyandarkan kepalanya di bahu Ayra, dengan sesekali mengecup leher istrinya itu. Aiden merasa begitu tergoda melihat leher jenjang milik istrinya ketika rambut Ayra di cepol asal-asalan seperti ini. Meski terasa sangat tidak rapi, tapi justru Ayra terlihat sangat cantik dengan penampilannya yang seperti ini. 


"Sayang, aku pengen pergi jalan-jalan. Kita 'kan belum belanja oleh-oleh. Aku ingin memberi Tami juga"


"Iya, tapi nanti saja. Kan kita disini juga masih punya cukup banyak waktu jika inginmembeli oleh-oleh"


"Memangnya kita akan berapa lamaberada disini?"


"Entahlah, bagaimana kamu saja. Kalau memang kamu betah, ya kita akan tinggal lebih lama lagi"


Ayra sedikit berpikir, dia memang suka tempat ini. Sangat menenangkan dan udaranya yang sejuk dan juga pemandangannya yang indah dipandang mata. Tapi tentu Ayra juga sangat merindukan anaknya. Rasanya baru beberapa hari saja tinggal disini dan berjauhan dengan Alerio sudah membuat Ayra begitu merindukan balita kecil itu.


"Ya, aku memang senang berada disini. Tapi aku juga tidak mau terlalu lama meninggalkan Alerio. Aku kangen sama dia"


Aiden mengecup bahu istrinya itu, menghirup aroma tubuh Ayra yang selalu membuatnya candu. "Yaudah nanti kita video call Alerio biar kamu bisa mengobati rindu kamu itu sama anak kita"


"Beneran ya"


"Iya Sayang"

__ADS_1


Dan setelah sarapan selesai, Aiden dan Ayra langsung melakukan panggilan video pada Mami hanya untuk melihat keadaan Alerio. Mami mengarahkan kamera ponselnya ke arah Alerio yang sedang bermain di atas karpet bersama pengasuhnya. Banyak mainan yang berserakan di sekitarnya.


"Sudah kalian tenang saja disana, nikmati masa bulan madu kalian itu. Alerio aman kok disini. Mami selalu menjaganya dengan baik, lagian ada pengasuhnya juga"


Ayra tersenyum, jujur saja dia sangat merindukan anaknya itu. Tapi setelah melihat jika Alerio baik-baik saja membuat Ayra sedikit tenang.


"Makasih ya Mam"


Aiden memutuskan sambungan telepon dan menyimpan ponselnya diatas nakas. Dia memeluk istrinya dan mengecup puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.


"Sudah lebih tenang sekarang? Kamu sudah lihat sendiri 'kan kalau Alerio baik-baik saja disana. Jadi tidak ada lagi yang perlu kamu takutkan"


Ayra memeluk suaminya dengan erat, menyandarkan kepalanya di dada Aiden dengan nyaamn. "Ya, aku sudah tenang sekarang"


Aiden meraih tubuh Ayra dan menidurkannya diatas tempat tidur. Menjatuhkan kepala Ayra dengan perlahan diatas bantal. Lalu dia menatap wajah istrinya itu dengan senyuman tipis. Mengelus lembut pipi Ayra dengan sedikit merapikan rambut Ayra yang keluar dari ikatannya.


"Sayang, ini masih pagi loh?" Ayra  sudah merengek duluan sebelu, Aiden melancarkan aksinya itu.


"Memangnya kenapa? Kan kita juga melakukannya tadi malam. Jadi sudah lama, dan aku sudah menginginkan lagi saat ini"


Aiden terkekeh melihat wajah cemberut istrinya ketika dia mengatakan itu. Namun meski pada awalnya Ayra menolak dan terus merengek agar suaminya tidak melakukannya lagi di pagi ini. Tapi nyatanya Ayra juga tetap menikmati permainan yang Aiden kendalikan ini.


"Emmhh.. Sayang ahh"


"Lepaskan Sayang, jangan  ditahan"


Begitulah suara ******* dan erangan kenikmatan itu terdengar di setiap penjuru kamar. Sepasang suami istri yang bukan lagi pengantin baru sedang saling menikmati permainan yang sedang terjadi di dalam kamar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2