Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Makan Malam


__ADS_3

Masuk ke dalam restaurant mewah milik Alvaro. Sebenarnya Aiden masih malas bertemu dengan pria itu, mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya dan Saqila. Tapi, Rega yang memilihkan tempat ini dia juga sudah mengatur semuanya tadi siang.


Masuk ke sebuah ruangan VVIP di restaurant ini. Ayra sampai tidak menganga dengan tampilannya. Semuanya hampir sama persis dengan apa yang dia siapkan semalam untuk kejutan ulang tahun suaminya. Hanya tulisan di dinding yang berbeda, jika kemarin adalah ucapan selamat ulang tahun untuk suaminya. Kini menjadi ucapan permintaan maaf dari suaminya. 'I am sorry Dear'. Ayra menatap tulisan itu lalu beralih menatap suaminya.


Aiden memeluk Ayra dari belakang, dia mencium bahu Ayra dengan menghirup aroma tubuh istrinya itu. "Maafkan aku Sayang, aku benar-benar tidak tahu jika semalam kamu sudah menyiapkan kejutan untukku. Tolong maafkan aku"


Ayra menghela nafas, meski dia kesal dan sedikit kecewa pada suaminya. Tapi hatinya tetap tidak bisa terlalu lama mendiamkan suaminya itu. Ayra tidak bisa terus bersikap seperti ini pada suaminya. Setidaknya selama dia masih bisa bersama Aiden, maka dia harus memanfaatkan waktu itu agar bisa menjadi sebuah kenangan suatu saat nanti jika dirinya sudah benar-benar pergi dari kehidupan pria itu.


Dua bulan lagi Ayra, manfaatkan waktumu sekarang.


Ayra melepaskan lingkaran tangan suaminya di perutnya. Dia berbalik dan menatap Aiden dengan lekat. Semalam dia memang sangat kesal dan kecewa karena kejutan yang dia siapkan sia-sia begitu saja. Namun, Ayra tetap tidak bisa terlalu lama mendiamkan suaminya ini. "Aku sudah memaafkanmu, lagian semalam aku juga hanya menyiapkan kejutan kecil. Tidak terlalu berarti apapun. Jadi lupakan saja"


Aiden menggeleng tegas, dia mencium kening istrinya dengan lembut. "Itu adalah kejutan terindah dalam hidupku. Maafkan aku karena semalam aku pulang telat, sampai membuatmu menunggu dan kecewa denganku"


Ayra tersenyum, dia sudah tidak mempermasalahkan soal kejutannya yang sia-sia. Mungkin memang dirinya saja yang terlalu berharap. Jadi, Ayra tidak perlu marah atau apapun pada Aiden karena pria itu tidak salan. Dirinya yang salah karena terlalu berharap dengan pernikahan di atas perjanjian ini.


"Aku tidak papa, lagian memang tidak seharusnya aku membuatkan kejutan untukmu. Aku selalu berprilaku seolah aku adalah istri benerannya kamu. Padahalkan aku hanya istri bayaran..."


Cup..Cup..Cup..


"Istri apa? Aku mau dengar sekali lagi?" Aiden menatap Ayra sedikit dingin, dia tidak suka dengan ucapan Ayra barusan. Makanya dia mengecup bibir istrinya agar dia berhenti berbicara jika dia hanya seorang istri bayarannya. Meski pada awalnya mungkin memang benar, tapi sekarang keadaannya sudah berbeda.


"Istri bayaranmu" lirih Ayra dengan rasa terkejut dan juga hati yang sakit saat dia berhasil mengatakan itu di depan Aiden langsung.

__ADS_1


Tanpa aba-aba apapun Aiden langsung menarik tengkuk Ayra dan menciumnya dengan rakus. Aiden seolah sedang meluapkan kekesalannya pada ucapan Ayra dan juga sakit hatinya pada Saqila. Aiden ingin marah pada Saqila, tapi apa yang di lakukan Saqila juga karena kesalahannya. Karena dia yang menikah lagi di belakangnya, membuat Saqila memilih jalan ini. Mungkin dia hanya ingin membalas dendam padanya atas pangkhianatan Aiden dalam pernikahan mereka.


Ayra gelagapan, dia sampai tidak tahu harus bagaimana. Semuanya terlalu mendadak hingga membuatnya begitu terkejut. Bahkan dia sampai lupa caranya mengambil nafas saat berciuman. Beberapa menit berlalu, barulah Aiden melepaskan tautan bibirnya. Dia menatap Ayra, menyatukan keningnya dan kening gadis itu. Aiden menangkup wajah mungil Ayra dengan kedua telapak tangannya.


"Kamu istriku dan akan selalu menjadi istriku. Jangan berfikir untuk pergi, aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun"


Deg..


Ayra merasa detak jantungnya lebih cepat dari biasanya. Apa yang di ucapkan Aiden apakah benar? Tetap menjadi istrinya dan dia tidak akan melepaskan Ayra. Apa maksudnya ini? Jelas-jelas di surat perjanjian tertulis jika setelah Ayra melahirkan anak untuk Aiden, maka dia harus langsung pergi tanpa memiliki status atau hak apapun dengan anak itu. Tapi hari ini, semuanya seolah berbeda. Apa boleh Ayra berharap lebih tinggi lagi saat ini?


Ayra menggeleng cepat, mengusir pikiran itu dalam kepalanya. Tidak Ay, kamu tidak boleh lebih berharap pada suamimu ini. Sejatinya dia mengatakan itu mungkin hanya karena rasa bersalahnya saja atas kejutan yang gagal tadi malam.


"Permisi Tuan"


Ayra masih diam dengan wajah menunduk setelah pelayan pergi, dia masih sangat malu dengan pelayan tadi. Ayra merasa terpergok sedang berbuat mesum oleh pelayan tadi. Padahal tidak seburuk itu sebenarnya.


"Ayo makan, kau harus makan banyak biar bayi kita sehat dan kamunya juga sehat" Aiden memotong-motong kecil daging steak di piringnya, lalu menukarnya dengan piring istrinya agar dia bisa lebih mudah memakannya.


Ayra tersenyum tipis dengan apa yang Aiden lakukan padanya. "Terimakasih"


Aiden menatap Ayra dengan senyuman menggodanya. "Terimakasih apa?"


Ayra memutar bola mata malas saat Aiden selalu menggodanya dengan cara ini. "Terimakasih suamiku tersayang"

__ADS_1


Senyum lebar terlihat jelas di wajah tampan Aiden. Dia selalu merasakan debaran senang di hatinya saat mendengar Ayra memanggilnya Sayang. Suatu panggilan yang selalu terdengar begitu tulus dari bibir Ayra saat mengucapkannya.


Mereka pun mulai memakan makanannya. Suasana malam ini begitu sangat tenang bagi Ayra. Aroma dari lilin aromaterapi membuat suasana hatinya juga semakin membaik. Meski tidak selamanya akan begitu. Ayra tahu itu, karena hidupnya bersama Aiden mungkin akan berakhir dalam waktu dua bulan ini.


"Besok jadwal periksa, apa mau antar?" kata Ayra di sela-sela makannya.


Aiden mengangguk, wajahnya selalu antusias setiap kali Ayra mengatakan jadwal periksa kandungannya. Karena Aiden selalu senang saat mendengar dokter menjelaskan perkembangan bayinya dan juga mendengar detak jantung bayi dalam kandungan istrinya.


"Tentu saja, apa kita sudah bisa melihat jenis kelaminnya?"


"Seharusnya sudah bisa ya, usianya sudah 7 bulan lebih 3 hari"


Aiden mengangguk, dia akan menerima apapun jenis kelamin anaknya. Bisa menggendong seorang anak saja sudah sangat bersyukur untuknya.


Selesai dengan makanan mereka, pelayan kembali datang dengan membawa kue ulang tahun yang juga hampir sama persis dengan kue ulang tahun yang dia beli kemarin, yang Ayra berikan pada petugas keamanan di apartemen.


"Maaf ya karena acara kemarin malam gagal, sekarang aku akan meniup lilin di depanmu dan kita akan memakan kue ini bersama-sama"


Aiden menutup matanya, mengucapkan do'a dan harapannya. Dan do'a dan harapannya masih sama. Ingin hidup bahagia bersama Ayra dan anak mereka.


Aiden meniu lilin di atas kue ulang tahun itu. Ayra tersenyum haru melihatnya. Akhirnya dia bisa melihat suaminya meniup lilin di kue ulang tahun tepat di depannya. Dan Ayra juga bisa memakan potongan kue pertama yang di suapi oleh suaminya.


Bersambung

__ADS_1


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5


__ADS_2