Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Perdebatan Rega Dan Alvaro


__ADS_3

"Tidak!"


Aiden langsung berlalu dari hadapan Ayra. Dia tidak akan pernah membiarkan Ayra lepas darinya. Sampai kapanpun. Biarkan saja dia egois, biarkan saja dia serakah karena tetap ingin bersama Ayra, di saat dia masih suami dari Saqila.


Ayra mengerjap kaget mendengar suara tegas suaminya. Dia mendekati Aiden yang duduk di sofa, dia mengusap wajah kasar. Mungkin sangat frustasi dengan keadaan ini.


"Sayang, aku..."


Aiden mendongak dan menatap Ayra dengan dingin. "Tidak Ayra! Aku sudah bilang jika aku tidak akan mengizinkanmu pergi"


Ayra menghela nafas, dia tahu jika Aiden tidak akan pernah mengizinkannya pergi sebelum bayi ini lahir. Ayra tahu jika semua yang ada di surat perjanjian tetap harus dia tepati. Tugasnya adalah melahirkan anak untuk Aiden, setelah itu barulah dia bisa pergi dan terlepas dari semua ini.


"Duduk!"


Suara Aiden masih terdengar sangat dingin. Ayra hanya menurut dia duduk di samping suaminya. Menunduk dengan jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuannya. Ayra tahu jika semuanya tidak akan semudah yang dia fikirkan. Pergi tanpa menepati janjinya. Sudah pasti Aiden akan melarangnya, karena dia sudah begitu banyak mengeluarkan uang untuk membayar Ayra, sementara sekarang dirinya malah meminta pergi membawa bayi yang sudah dia janjikan pada Aiden. Tentu Aiden tidak akan membiarkan itu terjadi.


Aiden menghembuskan nafas berat, dia meraih tubuh Ayra dan membawanya ke pelukan. Menciumnya beberapa kali. "Sayang pliss, jangan berfikir untuk pergi. Aku janji akan menyelesaikan semuanya, aku akan menghukum Saqila yang sudah berani berpura-pura hamil di depan semua orang"


Bukan itu masalahnya, aku hanya ingin memilikimu dan bayi ini. Tapi aku tetap tidak akan bisa. Tuhan, apa harus serumit ini kisah kami?


Ayra benar-benar tidak menjawab, dia hanya dia dalam pelukan nyaman suaminya. Hatinya sudah terlanjur di miliki suaminya, bahkan Ayra ingin memiliki suaminya dan juga anaknya. Dia sadar jika saat ini dirinya sedang sangat serakah. Tapi, mau bagaimana lagi? Hatinya sudah di miliki suaminya. Ayra sudah tidak bisa terus-terusan membohongi hati dan perasaannya pada suaminya.


Tok..Tok..


Suara pintu di ketuk dan beberapa saat kemudian pintu terbuka oleh Rega. "Tuan, ada Alvaro di luar. Dia ingin menemuimu"


"Apasi Ga, kau ini lebay sekali. Aku bisa masuk tanpa harus meminta izin dulu sama Aiden. Dia itu sahabatku" Alvaro nyelonong masuk dan menatap tidak percaya pada Aiden yang sedang memeluk istri keduanya dengan hangat. Tidak pernah sekalipun Alvaro melihat sikap lembut Aiden yang seperti ini pada seorang wanita. Bahkan pada Saqila saja, Aiden tidak seperti ini.


Apa kau benar-benar mencintainya?

__ADS_1


Aiden menatap Alvaro yang berjalan ke arahnya, Ayra sudah ingin melepaskan pelukannya, namun Aiden menahannya. Dia malah mencium kembali puncak kepala Ayra dengan lama. Seolah ingin menunjukan pada Alvaro jika dirinya sangat mencintai wanita ini.


Alvaro duduk di sofa tunggal depan mereka. "Kau ini bagaimana? Diluar semua orang mencarimu sebagai pemilik acara. Malah mojok disini"


Aiden menatap dingin sahabatnya itu. "Mau apa kau kesini? Mengganggu saja"


Alvaro mengangkat bahu acuh tak acuh, dia tidak merasa takut sedikit pun dengan tatapan dingin Aiden. Karena memang sudah terbiasa dengan dua sahabatnya yang dingin itu, apalagi dengan Rega yang lebih dingin tak tersentuh. Kadang Alvaro juga merasa bingung kenapa dirinya bisa mempunyai dua sahabat yang seperti ini.


"Tuan Alvaro, sebaiknya anda pergi sekarang. Sebelum saya menyeret anda keluar dari ruangan ini" kata Rega yang mengikuti Alvaro untuk masuk ke dalam ruangan ini.


Alvaro memutar bola mata malas, lihatkan bagaimana kedua sahabatnya ini memiliki sifat yang sama.


"Iya, iya. Aku keluar. Aku kesini hanya ingin memberikan hadiahku untuk ulang tahunmu.. " Alvaro mengeluarkan dua kotak berwarna coklat di depan Aiden, lalu dia menaruh satu paper bag yang di bawanya di atas meja. "...Dan ini untuk hadiah pernikahan kalian. Maaf aku baru memberikannya"


"Baiklah, kau bisa pergi sekarang. Terimakasih untuk hadiahnya, istriku pasti suka" kata Aiden dengan mengibaskan tangannya agar Alvaro segera keluar dari ruangan ini.


Ayra ingin lepas dari pelukan suaminya, dia ingin mengucapkan terimakasih secara langsung pada Alvaro. "Terimakasih Tuan"


Ayra hanya mengangguk, dan Alvaro pun pergi dari ruangan itu di ikuti oleh Rega. Keluar dari dalam ruangan, Alvaro tahu jika semuanya tidak akan berhenti sampai dia keluar dari ruangan itu saja. Rega sudah pasti menahannya, tatapan pria itu masih sama. Dingin dan tak tersentuh.


"Kau sudah melihat bagaimana dia mencintai Ayra. Jadi, tolong jangan hancurkan semuanya"


Alvaro tertawa mendengar itu. "Kau fikir Aiden akan terus bahagia selamanya? No, dia tetap akan berada di pilihan sulit jika dia masih berada diantara Saqila dan Ayra. Aiden tetap harus melepaskan salah satunya"


Rega tersenyum sinis mendengarnya. "Lalu apa Nyonya Saqila bisa dia tinggalkan?"


"Bisa asal kau memberi tahu semuanya"


Rega langsung menarik kerah kemeja Alvaro. Menatapnya dengan tajam. "Ini salahmu, aku sudah ingin memberi tahunya, tapi kau yang melarang aku. Sekarang kau lihat sendiri, semuanya sudah semakin kacau sekarang. Nyonya tidak akan meninggalkan Aiden, karena si berengsek itu telah pergi entah kemana? Apa kau tahu dimana saudaramu itu sialan!"

__ADS_1


Alvaro memegang lengan Aiden yang mencengkram kerah kemejanya. "Aku tidak tahu dia dimana? Kau tahu, aku juga membencinya. Dia juga yang telah membuat orang tuaku meninggal. Rega, kau tahu semuanya. Lalu, kenapa kau selalu menyalahkanku"


"Ya, karena kamu selalu melarang apa yang ingin aku katakan pada Aiden. Kau selalu berusaha melindungi saudaramu itu"


"Karena hanya dia yang aku miliki"


"Lalu sekarang apa dia masih menjadi saudaramu? Dia tidak menganggapmu saudara"


Alvaro diam, dia melepaskan cengkraman tangan Rega di kerah kemejanya. Lalu berjalan begitu saja meninggalkan Rega. Benar apa yang di ucapkan Rega. Hanya dia yang menganggapnya saudara.


Kembali ke dalam ruangan, Aiden melihat istrinya yang sedang membuka hadiah dari sahabatnya. Sebuah jam tangan mewah yang jelas harganya tidak akan bisa untuk Ayra membelinya, meski mengumpulkan uang seumur hidupnya.


Hadiah dari temannya sebagus ini, lalu apa yang aku berikan nanti benar-benar tidak ada apa-apanya.


Ayra menghela nafas, dia merasa sangat rendah saat melihat hadiah dari Alvaro. Belum lagi untuk hadiah lainnya, pasti sangat mewah.


Ayra menoleh pada suaminya "Tuan Alvaro itu baik ya"


"Dia baik pada semua wanita, seorang playboy sejak dulu. Jadi kau jangan dekat-dekat dengannya"


Apasi, siapa juga yang mau dekat dengannya. Lagian apa aku bisa dekat dengan pria lain, jika melihat aku berbicara dengan Kak Ridwan saja waktu itu sudah membuatnya murka. Aku tidak akan berani untuk itu.


Ayra lalu membuka paper bag dan melihat hadiah yang Alvaro berikan dan yang dia katakan untuk hadiah pernikahannya. Dia mengeluarkan isinya dan dia langsung memasukannya kembali setelah tahu apa yang Alvaro berikan padanya. Sayang, Aiden sudah terlanjur melihatnya. Dia terkekeh melihat wajah merah padam Ayra.


"Kau tahu, dia adalah playboy. Percaya sekarang"


Aku cabut kembali kata-kata ku yang mengatakannya baik. Masa kasih hadiah pernikahan baju seperti itu.


Bersambung

__ADS_1


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5


Ada yang tahu hadiah apa yang di berikan Alvaro?


__ADS_2