
Ayra mematung di tempatnya, ucapan Aiden benar-benar terdengar jelas. Itu sudah cukup untuk menjadikan Ayra sadar diri jika dirinya hanya seorang istri bayaran Aiden. Tidak bisa berkata-kata lagi, dia berjalan mundur dan masuk dengan segera ke kamarnya. Melupakan niat awalnya yang ingin membuat susu untuknya.
Masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar. Menyandarkan tubuhnya di pintu kamar yang tertutup. Dadanya mulai terasa sesak, air mata sudah tak bisa dia tahan. Sakit... Hatinya sangat sakit dan terluka. Ya, dia terlalu berharap tinggi pada Aiden. Nyatanya pria itu tidak pernah memiliki sedikit pun ketulusan dengan apa yang dia lakukan pada Ayra selama ini. Perhatiannya hanya sebatas kata-kata saja, tidak tulus dari hati.
Tuhan kenapa sesakit ini.
Mungkin Ayra tidak akan sesakit ini jika dirinya tidak jatuh cinta pada setiap perhatian Aiden. Ayra tidak akan sehancur ini jika dia tidak memiliki harapan yang lebih dalam pernikahan ini. Nyatanya apa yang dia harapkan, tidak sesuai dengan kenyataan. Ayra kembali terhempaskan oleh kenyataan jika dirinya hanyala seorang istri bayaran. Tidak ada tempat sedikit pun di hati suaminya untuk Ayra.
Tok...tok..
Sebuah ketukan pintu yang berubah menjadi sebuah gedoran. "Ayra buka, dengar dulu penjelasan aku. Ay, tolong buka dulu pintunya"
Suara Aiden terdengar jelas di telinga Ayra. Namun, mendengar suaranya saja malah semakin membuat Ayra terluka. Dia berdiri dan memutar kunci pintu agar Aiden tidak bisa masuk ke kamarnya. Ayra masih butuh waktu untuk memikirkan segalanya. Keputusan apa yang akan dia ambil setelah ini. Setelah Ayra tahu jika suaminya memang tidak benar-benar tulus padanya.
Gedoran di pintu semakin terdengar keras di susul dengan suara Aiden. "Ay, dengarkan aku dulu. Ayra..."
"Sudahlah Honey, Ayra mungkin masih butuh waktu" Saqila menepuk bahu suaminya yang terlihar seperti orang gila berteriak dan menggedor pintu kamar dengan keras.
Mendengar suara Saqila, hati Ayra semakin sakit. Ya, memang hanya Saqila yang menjadi istri utama Aiden. Hanya Saqila yang menjadi prioritas utama Aiden.
Berhenti berharap apapun Ayra, kamu hanya sebatas istri bayaran saja. Jangan terlalu besar kepala saat Aiden menunjukan perhatiannya. Karena nyatanya dia tidak pernah tulus.
Suara isakan memilukan memenuhi ruangan ini. Malam ini seharusnya Ayra tidur bersama Aiden, memeluknya dan meminta Aiden untuk mengelus perutnya sebelum tidur. Tapi, kenyataannya dirinya malah harus tidur sendiri dengan di temani sepi. Mengingat itu semakin membuat tangisannya pecah. Ayra memukul bantal dengan kesal. Kenapa harus dia? Kenapa Tuhan menakdirkan dirinya yang berada di posisi ini.
__ADS_1
Tangannya mengelus perutnya, disana anak dari pria yang siap meninggalkannya setelah bayi ini lahir kedunia. "Nak, sabar ya... Hiks.. Bunda yakin kalau kamu akan jauh lebih bahagia bersama Ayahmu disini. Tolong sampaikan pada Ayahmu nanti, jika Bunda mencintainya. Tidak apa...Hiks.. jika cinta Bunda tidak terbalas"
Ayra tidak bisa lagi menjadi wanita tegar yang selalu terlihat biasa saja saat melihat kemesraan Aiden dan Saqila. Setelah apa yang dia dengar barusan, Ayra sadar jika suaminya bukan miliknya. Anaknya pun bukan miliknya. Ayra benar-benar tidak mempunyai hak apa-apa untuk mereka.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Tidak Ay, aku tidak akan meninggalkanmu.
Aiden benar-benar tidak bisa tertidur malam ini. Wajah sendu Ayra terbayang jelas di ingatannya. Aiden mengatakan itu, tapi hatinya benar-benar menolak keras apa yang bibirnya ucapkan. Aiden melirik Saqila yang terlelap dengan tangan memeluknya, dengan perlahan Aiden melepaskan tangan Saqila yang memeluknya. Setelah itu dia turun dari tempat tidur dan melangkah keluar dari kamar. Aiden duduk di sofa ruang tengah dengan satu kaleng minuman di tangannya. Tatapannya mengarah ke lantai atas, tepat pada pintu kamar Ayra yang tertutup.
"Apa yang sedang di lakukannya sendirian di dalam kamar? Ay, maafkan aku Sayang"
Entah apa yang membuat Aiden bahkan sampai meneteskan air matanya. Untuk pertama kalinya dia menangisi seorang perempuan dengan permasalahan yang ada. Aiden merasa hatinya sakit sendiri saat mengingat wajah sendu dan terluka Ayra ketika mendengar ucapannya tadi.
Aiden kembali meminum minuman kaleng di tangannya. Saat ini dia benar-benar kecau, Ayra yang marah padanya di saat seharusnya malam ini dirinya sedang bermanja dengan istri keduanya itu. Jujur, perhatian yang Ayra berikan padanya belum pernah dia dapatkan dari siapapun. Belum lagi setiap usapan dan sentuhan tangan Ayra ketika membelainya selalu menenangkan. Sebesar apapun masalah yang Aiden hadapi, dia selalu merasa tenang saat bersama istrinya itu. Aiden telah menjadi candu pada Ayra. Namun, bodohnya dia malah mengatakan hal yang membuat hati istrinya terluka.
Terdiam di sofa hingga dia tertidur disana. Satu kaleng minuman telah dia habiskan sebelum dia terlelap di atas sofa. Hingga pagi menjelang Aiden merasakan elusan lembut di kepalanya. Aiden membuka matanya, berharap yang mengelusnya adalah Ayra. Tapi, nyatanya bukan.Saqila yang membangukannya.
"Honey, ayo bangun dan mandi. Apa kamu tidak ke kantor?"
"Iya Sa, aku ke kantor siang. Kamu pergi saja duluan kalau mau ke kantor" Aiden bangun dan berjalan gontai menuju kamar Saqila. Aiden sedang tidak bisa bersikap biasa saja walaupun dengan Saqila.
Saqila menatap punggung suaminya yang menjauh. "Kamu telah berubah Aiden, kamu telah tidak lagi memiliki cinta padaku"
__ADS_1
Saqila berlalu ke luar rumah untuk segera pergi ke perusahaannya. Sementara Aiden sedang berendam di dalam batthup, dia tidak akan bisa bekerja dengan fokus dengan keadaan seperti ini. Aiden mengambil ponsel yang di letakan di pinggiran batthup yang biasa digunakan untuk menyimpan ponsel. Aiden menelepon Rega.
"Hallo, aku tidak ke kantor hari ini. Kau urus saja semuanya, batalkan saja jika ada meeting hari ini"
Tidak menunggu jawaban dari orang yang dia telepon. Aiden langsung memutuskan sambungan teleponnya, menonaktifkan ponsel agar dia tidak terganggu dengan orang-orang yang menghubunginya. Saat ini Aiden hanya ingin menenangkan diri saja.
Selesai mandi dan berganti pakaian dengan pakaian santai. Aiden keluar kamar, menuju dapur untuk membuat kopi agar bisa sedikit saja menghilangkan stres. Namun Aiden mematung saat melihat seseorang sedang memakan roti lapis dengan segelas susu di sampingnya. Dengan terburu-buru Aiden segera menghampirinya.
"Sayang"
Ayra mendongak, dia menatap Aiden yang berjalan cepat ke arahnya. Namun Ayra kembali fokus pada sarapannya tanpa mau memperdulikan Aiden lagi. Dia hanya perlu mengisi nutrisi untuk anaknya.
Aiden menarik kursi di samping Ayra, dan duduk disana. "Ay, maafin aku"
Ayra meminum susunya, lalu dia mengambil dua lembar roti tawar dan melapisinya dengan selai coklat. Menaruhnya di piring, lalu menyodorkannya ke depan Aiden.
"Sarapan dulu Tuan"
Ayra berlalu pergi bahkan sebelum Aiden tersadar dengan keadaan. Aiden menatap roti lapis yang di buatkan istrinya dengan tatapan nanar. Bahkan Ayra kembali memanggilnya Tuan, seperti dulu. Aiden tidak suka itu. Dia tidak suka dengan sikap cuek Ayra. Kemana Ayra nya yang hangat?
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5
__ADS_1