Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Sabar Aiden#


__ADS_3

Waktu semakin berlalu, kehamilan Ayra sebenarnya tidak terkendala apapun. Semuanya lancar dan sehat-sehat saja. Namun memang Ayra saja yang sengaja memanfaatkan keadaan ini untuk bermanja dan sedikit mengerjai suaminya. Entah kenapa dia selalu merasa senang ketika melihat wajah suaminya yang kesal dengan segala permintaannya yang terkadang memang tidak masuk akal.


"Sayang, aku..."


"Apa lagi Ayra? Mau apa lagi?"


Ayra langsung cemberut ketika suaminya yang memanggil namanya seperti itu. Padahal AIden melakukan itu memang karena dia yang sudah kesal dengan sikap istrinya yang selalu meminta apa saja yang terkadang sangattidak masuk akal.


"Yaudah tidak jadi, sepertinya kamu tidak mau mewujudkan keinginan anak kamu. Tahu gitu aku lebih lelah, mengandung anak kamu ini selama 9 bulan dan harus melahirkan yang resikonya adalah nyawa"


Aiden mengusap wajah kasar, dia bingung dengan segala keinginan istrinya. Yang membuat Aiden kesal, Ayra sering kali menginginkan makanan seperti benar-benar dia ingin sekali memakannya. Tapi setelah Aiden membelikan itu, Ayra benar-benar hanya diam dan tidak memakannya. Malah menyuruh Aiden untuk menghabiskannya.


"Memangnya kamu apa?" Aiden beringsut naik keatas tempat tidur dan mengelus kepala istrinya yang duduk membelakanginya itu.


"Tidak jadi, aku tidak mau apa-apa. Aku mau tidur saja"


Aiden menghela nafas pelan, memang salah dirinya sendiri karena tidak mengerti situasi. Sudah tahu jika Ibu hamil selalu sensitif, tapi Aiden malah membuat mood istrinya hancur.


"Sayang, aku minta maaf ya. Jangan marah dong, kamu mau apa? Ayo kita beli sekarang"


Ayra tidak menjawab, dia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan menarik selimut sampai hampir menutupi seluruh tbubuhnya. Aiden ikut merebahkan tubuhnya di belakang Ayra, memeluk istrinya itu dengan hangat.


"Sudah ya marahnya, kamu mau apa hmm?"


Nyatanya Aiden tidak akan pernah bisa jika istrinya marah padanya dan mendiamkan dirinya.Aiden tetap suami yang bucin pada istrinya itu. Jadi dia tidak akan bisa melihat istrinya yang seperti ini.


"Aku  mau tidur, tidak menginginkan apapun"


Dan tidak ada lagi percakapan setelah itu. Ayra benar-benar terlelap dengan Aiden yang terus memeluknya dari belakang. Sejatinya pelukan AIden masih yang membuat Ayra merasa nyaman dalam hal apapun.


Pagi ini Ayra sudah bersiap, ketika suaminya terbangun. Aiden merasa bingung karena diakhir pekan tapi istriny sudah siap.


"Sayang, kamu mau kemana?"


Ayra menoleh pada suaminya, dia merapikan tali pita baju yang di pakainya itu. "Hari ini jadwal aku periksa ke Dokter"

__ADS_1


Sebenarnya memang itu yang Ayra katakan semalam. Dia mau melakukan usg hari ini untuk melihat jenis kelamin anak keduanya ini. Tapi suaminya sudah keburu marah duluan, membuat Ayra tidak jadi melanjutkan pembicaraannya.


Aiden langsung bangun terduduk diatas  tempat tidur. "Kenapa kamu tidak bilang"


"Semalam 'kan aku sudah bilang, tapi kamu malah marah karena aku yang selalu banyak maunya. Aku sekarang tidak akan meminta kamu membelikan apapun atau membuat apapun"


Aiden merasa nyeri dibagian dadanya, jelas dia melihat istrinya itu sedang sangat kecewa padanya. "Sayang bukan begitu maksud aku. Maaf Sayang, kamu jangan marah ya"


Ayra berdiri dengan perutnya yang sudah terlihat buncit itu. "Tidak papa, lagian aku bisa kok pergi sendiri"


"Gak! Tunggu aku, aku akan mengantarmu"


Aiden segera berlalu ke ruang ganti, dia tidak mungkin membiarkan Ayra pergi ke Dokter sendirian. Sudah seperti tidak mempunyai suami saja.


Sementara di dalam kamar, Ayra tersenyum tipis sambil mengelus perutnya. Dia duduk di atas sofa. "Daddy kamu itu memang tidak akan kuat melihat Bunda yang terus mendiamkannya"


Kebiasaan baru Ayra adalah ngambek dan marah tidak jelas pada Aiden. Meski Aiden sebenarnya tidak benar-benar melakukan kesalahan apapun. Tapi Ayra selalu merasa kesal pada suaminya itu hingga marah-marah tidak jelas.


Dan mungkin ini adalah sebuah hormon kehamilan yang membuat Ayra bisa sedikit saja membalas setiap rasa kesalnya di masa lalu ketika Aiden yang masih bersikap dingin dan bahkan sering kali begitu cuek pada Ayra.


Ayra yang awalnya tersenyum, langsung merubah mimik wajahnya ketika  Aiden datang. "Hemm"


######


Saat ini Ayra sedang melakukan usg oleh Dokter. Sepasang suami istri ini mendengarkan setiap penjelasan Dokter dengan seksama. Aiden terus menggenggam tangan istrinya sambil menatap ke layar monitor yang sebenarnya dia tidak terlalu mengerti.


"Sepertinya calon anak kalian ini adalah seorang putri"


Aiden menatap istrinya dengan tersenyum, benar jika dia tidak salah menduga jika anak keduanya sudah pasti perempuan. Karena Aiden selalu berharap mempunyai anak perempuan yang mirip dengan istrinya. Cantik dan sangat manis.


"Semuanya sehat dan perkembangannya pun sangat baik"


Aiden membantu istrinya untuk turun dari ranjang pemeriksaan. Menuntun istrinya menuju meja kerja Dokter. Dan setelah mendengarkan beberapa penjelasan dari Dokter juga setelah menerima obat dan vitamin. Ayra dan Aiden langsung pulang.


"Sayang..." Aiden menghentikan langkahnya, membuat Ayra juga ikut berhenti melangkah. "...Sudah ya marahnya, kamu dari tadi hanya diam terus"

__ADS_1


Ayra menghela nafas, lalu dia tersenyum tipis pada suaminy. "Bawa aku makan siang di Restaurant Kak Alvaro"


"Iya, ayo kita makan disana"


Aiden langsung mengiyakan ucapan istrinya itu. Aiden tidak mau jika istrinya akan marah lagi jika dia tidak segera menuruti keinginannya itu.


Setelah dari rumah sakit, mereka mampir di Restaurant Alvaro. Dan kebetulan ada Tami yang sedang menemui suaminya. Kedua sahabat ini langsung saling memeluk.


"Ya ampun sudah besar saja nih kehamilan kamu Ay"


"Iya Mi, sudah 7 bulan sekarang benar-benar tidak terasa"


Tami mengelus perut sahabatnya itu dengan lembut. "Aku jadi pengen hamil lagi deh"


"Sayang, jangan aneh-aneh!" Alvaro yang mempunyai trauma atas kelahiran anak kembar mereka, memang menyudahi untuk tidak mempunyai anak lagi. Karena istrinya hampir meninggal di kehamilan anak kembar mereka.


Tami hanya mencebikab bibirnya. "Aku gak akan bisa hamil lagi Ay, suamiku tidak mengizinkannya"


"Yaudah si, kamu 'kan sudah punya dua anak sekaligus. Laki-laki dan perempuan lagi. Jadi untuk apa hamil lagi. Kak Alvaro hanya sedang memikirkan keadaan kamu dan kesehatanmu"


Tami mengangguk, mungkin memang begitu maksud suaminya itu.


"Yaudah, nikmati makan siang kalian. Aku mau ke atas dulu ya"


"Iya Mi"


Aiden menatap istrinya yang duduk di depannya. Makanan sudah tersaji diatas meja. Namun Ayra hanya diam menatap makanan itu.


"Ayo dimakan Sayang"


Ayra menatap suaminya dengan helaan nafas panjang. "Sebenarnya aku tidak ingin makan"


Aiden menghela nafas pelan dengan terus menguatkan dirinya untuk bersabar.


*Sabar, sabar Aiden.

__ADS_1


Bersambung*


__ADS_2