
Ayra terdiam ketika Aiden membawanya ke sebuah pemakaman umum. Ayra manoleh dan menatap suaminya. "Kenapa kita datang kesini?"
Aiden tidak menjawab, dia hanya menggandeng tangan Ayra dan membawanya masuk ke dalam tempat pemakaman umum. Ayra terdiam melihat beberapa gundukan tanah. Hingga Aiden berhenti di depan sebuah gundukan tanah. Ayra melihat batu nisan dengan tulisan nama disana. Ayra terdiam melihat nama yang tertera di atas batu nisan.
"I-ibu"
Aiden langsung merangkul bahu Ayra, takut jika istrinya akan langsung terjatuh lemas ketika mengetahui semuanya. "Sabar Sayang, Ibu kamu memang sudah meninggal dua tahun yang lalu"
Ayra benar-benar terkejut dengan apa yang dia dengar. Tubuhnya lemas seketika dan hampir jatuh ke atas tanah jika Aiden tidak menahannya.
"Sayang tenang, kamu harus bisa menerima semua ini"
Aku mencintaimu, Ayra.
Aku adalah Ayahmu, Ayra.
Aku adalah Kakakmu, kita bersaudara Ayra.
Bruk..
Ayra jatuh pingsan ketika semua suara-suara itu berdengung di telinganya. Bayangan-bayangan masa lalu langsung terlintas dalam ingatan Ayra. Cukup jelas untuk kali ini.
"Sayang, hei"
Aiden yang panik langsung menggendong Ayra dan membawanya ke rumah sakit. Dia sudah menduganya jika kejadiannya akan seperti ini ketika dia memutuskan untuk membawa Ayra ke makam Ibunya.
Menunggu diruang tunggu, dia menatap pintu ruang pemeriksaan yang masih tertutup. Menunggu dengan cemas, takut jika istrinya akan kenapa-napa.
"Bodoh, kenapa juga aku harus membawa Ayra ke tempat itu. Sekarang keadaan istriku sedang tidak baik-baik saja" Aiden benar-benar cemas dan khawatir dengan keadaan istrinya saat ini.
Drett.. Drett..
Ponselnya yang berdering membuat Aiden langsung merogoh saku jaketnya. Melihat siapa yang menghubunginya disaat genting seperti ini. "Rega, ada apa dia menghubungiku?"
"Ada apa?"
"Aku telah menemukan penyebab kecelakaan itu terjadi. Sudah aku kirim filenya ke email kamu"
"Baiklah, aku akan memeriksanya"
Aiden segera memeriksa email yang masuk di ponselnya. Sebuah video yang menunjukan kejadian kecelakaan itu. Sebuah mobil yang jelas menabrak mobil Aiden karena dia yang menerobos lampu merah. Hingga kecelakaan yang tidak bisa di hindari lagi.
"Sial, ternyata memang dia yang sepenuhnya bersalah"
Aiden langsung menghampiri Dokter ketika pintu ruangan terbuka. Menanyakan keadaan istrinya.
__ADS_1
"Semuanya baik-baik saja, Tuan bisa langsung menemui Nona saat ini"
Aiden mengangguk, dia sudah tidak sabar untuk bisa menemui istrinya dan melihat keadaannya. Ketika dia masuk, Aiden melihat Ayra yang sedang duduk di atas ranjang pasien dengan tatapan kosong.
"Sayang.."
Ayra tidak merespon sama sekali, dia tetap pada posisinya itu. Aiden duduk di pinggir ranjang pasien dan mengelus kaki istrinya yang berselonjor itu.
"Sayang, kamu baik-baik saja 'kan? Tidak ada yang sakit?"
Ayra menghembuskan nafas pelan, menatap sekilas pada Aiden. "Aku sudah mengingat semuanya"
Seolah mendapatkan sebuah angin segar, Aiden langsung tersenyum lebar mendengar itu. Rasanya semua beban di pudaknya langsung hilang seketika. Tidak bisa berkata-kata, Aiden langsung memeluk Ayra dengan erat.
"Sayang, kamu benar sudah mengingat semuanya? Ya ampun Sayang, aku benar-benar senang"
Ayra menangis dalam pelukan Aiden, merasa sangat sedih karena dia sempat melupakan suami dan anaknya.
"Sayang, kenapa menangis hmm?"
Ayra melerai pelukannya, menatap Aiden dengan matanya yang basah. "Sayang, maafkan aku karena aku sudah melupakan kamu dan Alerio"
Aiden menggeleng, dia tersenyum tapi dengan air mata yang menetes begitu saja di pipinya. Sungguh Aiden sangat bahagia saat ini, ketika istrinya telah benar-benar sembuh dan kembali mengingat dirinya.
Ayra kembali memeluk suaminya, menyandarkan kepalanya di dada Aiden dengan isak tangis yang masih tersisa. "Terima kasih Sayang, karena kamu sudah begitu sabar menjaga aku selama ini"
"Iya Sayang"
Dan pada akhirnya Ayra kembali mengingat semuanya. Ketika dia pergi ke makam Ibunya, semua bayangan yang hilang dalam ingatannya langsung kembali hadir dalam ingatannya. Kabar sembuhnya Ayra membuat semua anggota keluarga langsung menemuinya. Saqila memeluk Ayra dengan erat, sangat senang karena akhirnya adiknya kembali dan mengingat semuanya.
"Maaf ya Kak, kalau aku sampai melupakan Kakak"
"Tidak papa Sayang, kamu bisa selamat dari kecelakaan itu saja sudah menjadi sebuah mukjizat bagi kami semua. Jadi sekarang baik-baik ya dan jaga kesehatan kamu"
Ayra mengangguk, dia merasa sangat bersyukur memiliki keluarga ini.
Di dalam ruang kerja, Aiden sedang duduk berhadapan dengan Rega. Dia sedang memastikan tentang kecelakaan yang terjadi itu.
"Jadi apa kau sudah menyelidiki siapa pemilik mobil itu?"
Rega menyodorkan berkas yang dibawanya kepada Aiden. "Ini adalah bukti dari daller mobil itu. Disini tertera pemilik pertama mobil ini"
Aiden langsung mengambil dan membuka berkas itu. Dia terdiam ketika membaca isi dari dalam berkas dan sebuah foto yang ada disana.
"Dia?"
__ADS_1
"Ya, dia orangnya"
######
Aiden masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya yang sedang tiduran diatas sofa. Rambutnya jatuh terjuntai mengenai lantai. Aiden berjalan menghampirinya dan merapikan rambut Ayra yang jatuh menjuntai ke atas lantai.
"Sayang"
"Diam"
Ayra yang hampir berbalik ke arahnya, langsung diam ketika mendengar suara suaminya itu. Membiarkan Aiden mengikat rambutnya.
"Sayang, jangan potong rambut kamu ya. Udah bagus di panjangin aja"
"Kenapa memangnya? Padahal aku udah niat buat motong rambut loh"
"Jangan, aku suka rambut kamu yang panjang"
Ayra tidak menjawab, dia hanya tersenyum mendengar itu. Membiarkan Aiden apa yang ingin lakukan saat ini. Memekik kaget ketika tubuhnya melayang ketika suaminya langsung menggendongnya.
"Sayang.." Ayra mengalungkan lengannya di leher suaminya. Menatap dengan lembut.
"Aku sudah lama menahannya, sekarang kau harus memuaskan aku"
Ayra terbelalak mendengar itu, sudah dapat di pastikan jika malam ini tidak akan bisa tidur dengan nyenyak.
Menidurkan tubuh Ayra dibawah tempat tidur. Mengecup keningnya dengan lembut, lalu beralih pada bibir istrinya dengan lembut. Ayra mulai memejamkan mata dan mulai menikmati ciuman yang diberikan oleh suaminya.
Aiden mulai bermain-main di bawa sana, menikmati sesuatu yang sangat dia rindukan selama ini. Membuat tubuh Ayra mulai menggelinjang kuat.
"Emmh.. Sayang.."
"Keluarkan Sayang"
Dan ******* itu semakin menggema di dalam kamar. Kenikmatan yang kembali Aiden rasakan setelah cukup lama dirinya tidak menjamah tubuh istrinya ini.
"Ahh.. Ayra, aku mencintaimu"
Keringat yang menetes di tubuhnya, berjatuhan di atas dada Ayra. Erangan keras seiring dengan kata cinta yang terucap.
"I Love You Sayang"
Tubuh Aide ambruk di atas tubuh Ayra dengan nafas terengah-engah. Malam ini menjadi malam yang menyenangkan untuk Aiden dan Ayra.
Bersambung
__ADS_1