
"Honey aku ganti baju dulu ya"
"Oke"
Saqila berlalu ke kamarnya, sementara Aiden menghampiri istri keduanya yang masih berada di sofa dengan mata terpejam. Apa dia tertidur.
Aiden terduduk di samping istrinya. Mengelus kepala Ayra dengan lembut, sampai gadis itu membuka matanya dan tertegun melihat Aiden ada di sampingnya. "Tuan"
"Kirain tidur Ay, udah siap mau kuliah?"
"Iya Tuan, saya sudah pesan taxi online. Jadi Tuan bisa mengantarkan Nyonya saja"
Aiden menatap tidak suka dengan ucapan Ayra. Dia tidak suka melihat Ayra yang seperti ini. Dia tidak harus selalu mengalah pada Saqila. Karena dia juga berhak atas Aiden. Dia juga istri dari Aiden. "Aku akan mengantarmu dan Saqila. Kalian berdua adalah tanggung jawabku, jadi aku tidak akan membiarkan salah satu dari kalian merasa di telantarkan"
Haruskah Saqila merasa bahagia dengan ini? Suaminya sangat bertanggung jawab dan memiliki keadilan yang penuh dengan istri-istrinya. Tapi, apa Aiden akan seperti ini sampai seterusnya? Rasanya tidak mungkin, karena setelah bayi ini lahir maka Ayra harus pergi meninggalkan Aiden. Ini hanya karena dirinya yang sedang mengandung anaknya saat ini.
"Honey, aku sudah siap" Saqila muncul dengan pakaian yang rapi dan riasan yang sangat elegan. Tentu, dia adalah pemilik perusahaan scincare terkenal di tanah air, pasti dia harus selalu memperhatikan penampilannya. "...Loh Ay, sudah siap kuliah?"
Ayra mengangguk "Iya Nyonya, saya sudah mau berangkat kuliah"
"Yaudah, ayo kita pergi sekarang. Aku antarkan dulu kamu, Sa. Baru antar Ayra ke kampusnya" Aiden berdiri dan membantu Ayra untuk berdiri dari duduknya dengan perlahan. Membantu Ayra menggendong tas ranselnya.
Saqila tersenyum, meski terlihat sangat di paksakan. Tentu saja hatinya cemburu melihat suaminya yang memperhatikan Ayra seperti itu. "Yaudah ayo"
Merekapun berangkat bersama dengan Ayra yang tahu posisi. Dia duduk di kursi belakang, karena tidak mau jika harus mengambil posisi Saqila yang jelas adalah istri pertama Aiden. Meski begitu, Ayra tidak menyadari jika Aiden sesekali melihat ke arahnya lewat kaca spion di atasnya.
"Honey, nanti jemput aku ya. Aku pulang sore kayaknya"
Saqila mencium pipi Aiden sebelum dia keluar dari mobil. Aiden juga terkejut dengan apa yang di lakukan Saqila. Dia melirik Ayra yang memejamkan matanya, sepertinya gadis itu tidak mau melihat adegan tidak pantas di depannya. Karena pasti akan membuatnya sakit hati saja.
__ADS_1
"Iya Sa"
Setelah Saqila keluar dari mobil dan berjalan ke masuk ke dalam perusahaannya. Aiden menoleh ke arah Ayra yang masih duduk bersandar di kursi mobil dengan mata terpejam. "Ay, ayo pindah ke depan"
Ayra membuka kedua matanya, menatap Aiden dengan lekat. "Tidak perlu Tuan, disini saja"
"Ayolah Ay, maaf kalau Saqila telah menyakitimu dengan apa yang dia lakukan barusan" Aiden tahu jika istri keduanya pasti sangat tidak nyaman dengan situasi seperti ini. "...Yuk pindah ke depan"
Ayra tersenyum, dia tahu bagaimana suaminya sangat mencoba untuk bersikap adil. Tapi, Ayra juga sadar diri siapa dirinya dan siapa Saqila. Dirinya hanyalah istri bayaran Tuan Aiden yang hanya di jadikan alat untuk bisa melahirkan anak untuknya. Meskipun kebaikan dan perhatian Aiden selama ini telah membuat Ayra gagal mempertahankan perasaannya. Ayra gagal membangun benteng pembatas di hatinya agar tidak jatuh cinta pada Aiden. Nyatanya hatinya tetap sangat lemah, dia mencintai Aiden dan sangat egois hingga hanya ingin Aiden menjadi miliknya saja.
Ayra pindah ke kursi penumpang, Aiden segera mendekati tubuh Ayara hingga wajah mereka menjadi sangat dekat. Hembusan nafas yang sangat terasa menyentuh kulit. Ayra mulai tidak bisa mengendalikan debaran jantungnya yang semakin cepat. Aiden menarik sabuk pengaman dan memasangkannya di tubuh Ayra. Setelahnya dia kembali ke kursi kemudi dan mulai melajukan mobilnya setelah. Sementara Ayra masih diam dengan jantung berdebar dan wajah yang memerah.
Ya Tuhan, kenapa jantungku sampai mau loncat begini rasanya.
"Ay nanti pulang jam berapa?"
Aoden menoleh ke arah istrinya itu. "Mau kemana lagi emangnya?"
Ayra mengelus perutnya, dia agak ragu untuk mengatakannya. "Mau periksa kandungan dulu Tuan"
"Loh Ay, kenapa tidak memberi tahuku? Aku akan mengantarmu. Jadi tunggu aku ya"
Tidak ada salahnya jika Aiden ikut, toh memang dia adalah Ayah dari bayi dalam kandungannya ini. "Baik Tuan"
"Jadi selama ini kau selalu pulang telat karena periksa kandunganmu. Pintar sekali kau membohongiku" Aiden selalu merasa kesal saat mengingat Ayra yang sempat menyembunyikan kehamilannya. Meski Aiden sekarang tahu kenapa istrinya melakukan itu. Dia hanya takut kehilangan bayinya. Karena surat perjanjian yang telah Aiden buat tentu memberatkannya sebagai seorang Ibu yang harus rela menyerahkan anaknya ketika dia lahir.
Kau tidak akan berpisah dengan anakmu, Ay. Aku akan selalu menjadi suami dan Ayah dari anak kita.
Entah sejak kapan tujuan Aiden berubah, segala yang dia tulis dalam surat perjanjian tidak lagi menjadi tujuan utamanya. Aiden ingin Ayra tetap menjadi istrinya sampai kapanpun itu dan biarkan dia juga bisa mengurus anak mereka bersama. Meski begitu, Aiden tidak menyadari jika dirinya telah memiliki perasaan yang lebih pada Ayra. Dia masih berfikir jika itu hanyalah sebuah rasa kasihan pada gadis yang di nikahinya beberapa bulan lalu.
__ADS_1
"Aku antar sampai di depan kampus saja ya?"
"Jangan Tuan, disini saja. Aku belum siap"
Aiden menghela nafas panjang, akhirnya dia tetap menghentikan laju mobilnya di tempat biasa dia menjemput dan mengantar Ayra. "Memangnya kenapa kalau mereka tahu jika aku adalah suamimu?"
"Tidak bisa Tuan, ini adalah sebuah pernikahan rahasia. Meski Nyonya sudah mengetahuinya, tapi orang-orang di luar sana tidak. Akan menjadi masalah besar jika sampai teman-teman kampus ku tahu kalau Tuan adalah suamiku"
Memang benar apa yang di katakan Ayra. Semuanya akan lebih sulit bagi Ayra jika teman-temannya tahu tentang pernikahan mereka. "Baiklah, aku akan bertahan dan akan mencari cara untuk bisa mempublikasikan pernikahan kita ini"
Ayra menatap Aiden dengan bingung, apa maksudnya mempublikasikan hubungan mereka. Apa Aiden berniat menjadikan Ayra istri selamanya? Tidak..Itu tidak mungkin terjadi. "Baiklah Tuan, saya pergi dulu"
Aiden mengangguk lalu dia memberikan kecupan di kening istrinya dan mengelus rambutnya dengan lembut. "Hati-hati ya, jangan kecapean"
"Iya Tuan, saya pergi"
Aiden mengangguk dan hanya menatap punggung Ayra yang menjauh. Setelah Ayra tidak terlihat lagi, barulah Aiden kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan. Memikirkan nanti siang dia akan menemani Ayra untuk periksa kandungan, membuat hati Aiden sangat senang dan dia jadi tidak sabar untuk segera melihat perkembangan anaknya yang masih berada dalam pelukan Ayra.
Disisi lain ada Rega yang merasa aneh dengan sikap Tuannya akhir-akhir ini. Rega selalu melihat Aiden yang tiba-tiba tersenyum sendiri tidak jelas. Dan beberapa kali Rega memergoki Aiden sedang menatap foto Ayra di layar ponselnya.
Apa dia telah benar-benar jatuh cinta pada gadis itu?
Bersambung
Like komen di setiap chapter..kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5 juga..
Ada karya temanku lagi.. ceritanya bagus..
__ADS_1