Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Kejutan Yang Sia-Sia


__ADS_3

Sebenarnya aku tidak tahu mau menulis apa. Yang jelas aku bahagia bersamamu, aku bahagia bisa menjalani kehidupan ini bersamamu. Selepas apa yang kita lalui setelah ini dan sebelum ini. Apa yang membuat pernikahan ini terjadi. Saat ini aku hanya bahagia bisa bersamamu. Terimakasih karena sudah hadir di hidupku dan membiarkan aku merasakan mengandung anakmu ini. Terimakasih untuk semuanya.


Ayra Diandra


Aiden mengusap ujung matanya yang sedikit berair. Dia tidak bisa menahan haru saat membaca surat dari istrinya ini. Disini, ada hati yang tulus untuk Aiden. Sudah seharusnya Aiden tidak lagi memikirkan masalah perselingkuhan Saqila dan sahabatnya. Tapi, rasanya tidak semudah itu untuk Aiden bisa melupakan apa yang telah dilakukan istri pertamanya itu. Aiden menarik kursi dan duduk disana. Dia menyalakan korek api untuk menyalakan lilin di atas kue ulang tahun itu. Memejamkan mata untuk membaca do'a dan permohonannya.


Aku hanya ingin hidup bahagia bersama anak dan istriku, Ayra.


Saat ini hanya itu yang Aiden inginkan, dia tidak menginginkan apapun untuk saat ini. Harapannya untuk pernikahan dirinya dan Saqila, sudah hancur. Dia menyerah dengan sikap Saqila kali ini.


Aiden berjalan gontai ke arah kamarnya, membuka pintu dengan perlahan karena takut membuat Ayra terbangun. Aiden menatap punggung istrinya yang tidur membelakanginya. Aiden pergi ke kamar mandi sebelum dia menghampiri istrinya. Barulah setelah mandi dan berganti pakaian, Aiden naik ke atas tempat tidur. Menatap wajah tenang Ayra, tangannya sedikit merapikan anak rambut Ayra yang menghalangi wajahnya. Lalu Aiden kecup pipi istrinya itu.


Aiden berbaring dan memeluk Ayra dari belakang. Mengecup bahu istrinya. Tepat pada saat itu, mata Ayra terbuka. Tatapan sendu itu menandakan jika dirinya sangat terluka saat ini. Acara kejutan yang sudah dia siapkan sejak siang, hanya berakhir sia-sia.


Hati istri mana yang tidak akan terluka saat apa yang dia siapkan untuk suaminya, namun semuanya berakhir seperti ini.


Hingga pagi ini, Ayra bangun lebih pagi. Dia menghancurkan semua yang hiasan di ruang tenang. Bahkan kotak hadiah yang sudah terbuka itu dia buang ke tempat sampah. Ayra benar-benar mencopot semua hiasan yang susah payah dia pasang kemarin, bersama sahabatnya. Ayra memanggil orang untuk membawa meja dan kursi yang ada disana. Hingga kini ruang tengah apartemennya sudah kembali seperti semula.


Ayra sedikit terengah-engah, merasa cape dan juga emosinya yang meluap-luap sekarang. Sungguh baru kali ini Ayra merasa sangat tidak berguna. Dia merasa jika apa yang dia siapkan tidak akan pernah berarti apapun untuk suaminya, selain Saqila yang bisa memberikan barang mewah dan kepuasan untuk suaminya. Ayra benar-benar tidak bisa membuat Aiden sedikit saja meliriknya. Nyatanya hanya Saqila yang berada di hati suaminya dan menjadi prioritas utama suaminya itu.


Ayra duduk di atas sofa, dia mengusap air mata kasar yang lolos begitu saja. Rasanya sangat menyakitkan saat dia sadar jika inilah posisinya. Dia memang pantas mendapatkan ini. Bahkan Aiden tidak merasa bersalah apapun, semalam dia langsung tidur dan memeluknya. Rasanya tidak mungkin jika suaminya tidak melihat apa yang telah Ayra siapkan.


Tuhan, rasanya sakit sekali.


Posisi Saqila tidak pernah tersisihkan oleh siapapun.

__ADS_1


Ya, ucapan Aiden saat itu masih melekat di ingatan Ayra. Memang benar jika dirinya tidak akan pernah ada di hati suaminya, sedikit saja.


Ayolah Ay, kamu harus sadar diri jika kamu hanya sebatas istri bayaran untuk melahirkan seorang anak saja.


Saat ini, Ayra benar-benar menyadarkan dirinya atas posisi dia yang sebenarnya. Tangannya terus mengelus perut buncitnya, seolah meminta maaf pada anaknya karena dirinya tidak akan bisa lebih lama lagi bersama anaknya ini.


Semoga kamu bahagia bersama Ayahmu nanti, Nak. Maafkan Bunda, karena tidak bisa bersamamu hingga kamu besar nanti.


"Dua bulan lagi Ay, kamu pasti bisa melewati semua ini"


Pintu kamar yang terbuka membuat Ayra segera menghapus air matanya. Dia memalingkan wajahnya saat suaminya datang menghampiri. Aiden masih memakai pakaian semalam. Sepertinya dia belum mandi. Aiden duduk di samping Ayra, mencium puncak kepalanya dan memeluk istrinya. Sama sekali tidak ada penolakan dari Ayra, tapi juga tidak ada suara apapun dari istrinya ini. Aiden melepaskan pelukannya, saat dia sadar jika suasana di ruang tengah sudah kembali seperti semula lagi.


"Sayang, kenapa ini sudah kamu bereskan. Aku 'kan belum merasakan makan disini"


"Untuk apalagi? Membuat sakit mata saja, lebih baik aku buang saja semuanya. Tidak berguna juga"


"Maaf karena semalam aku pulang telat, aku ada pekerjaan tambahan. Sayang, aku benar-benar minta maaf"


Tangan Ayra sudah terangkat untuk mengelus kepala suaminya, tapi dia langsung menurunkannya kembali saat sadar jika apa yang dia lakukan.


"Sayang, maafkan aku. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kerja kerasmu seharian untuk memberikan kejutan untukku. Tapi semuanya malah gagal karena aku. Maafkan aku Sayang"


Aiden mendongak, dia menatap wajah Ayra dengan tatapan sendu. Sungguh dia benar-benar merasa bersalah dengan istrinya ini. Tapi apa yang bisa Aiden lakukan saat ini, semuanya telah terjadi.


Ayra berdiri saat kepala suaminya sudah terangkat dari pangkuannya. Ayra berjalan ke arah dapur untuk membuat sarapan. Dia masih dalam mode membisu. Tidak mau menyerah, Aiden berjalan dan mengikuti Ayra. Dia menatap punggung istrinya yang sedang memotong beberapa sayuran. Aiden langsung memeluknya dari belakang. Mencium puncak kepala Ayra.

__ADS_1


"Sayang, plisss maafkan aku"


"Sudahlah, kau mandi dan siap-siap untuk bekerja" Nyatanya Ayra tidak bisa terus mendiamkan suaminya. Meski hatinya kecewa, tapi lagi-lagi dia hanya sedang mencoba menyadarkan diri tentang posisinya saat ini.


Cup..


Aiden mengecup pipi istrinya sebelum dia melepaskan lingkaran tangannya di perut Ayra. "Maafin aku ya, nanti malam kita dinner. Aku akan mengganti kejutan yang sudah kamu berikan padaku"


Ayra tidak menjawab, namun Aiden menganggap itu sebagai jawaban iya dari istrinya. Aiden berjalan ke arah kamar, namun dia tidak sengaja melirik tempat sampah. Melihat sebuah kotak yang berada di tempat sampah itu, Aiden lalu melirik ke arah istrinya yang masih fokus dengan masakannya. Aiden menghela nafas, dia mengambil kotak itu dan membawanya ke dalam kamar.


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


Malam ini Aiden benar-benar meminta Ayra untuk bersiap, karena dia ingin mengajak istrinya untuk makan malam di luar. Meski dengan sedikit paksaan, akhirnya Ayra mau juga. Dia sudah selesai bersiap dan sedang menunggu suaminya yang sedang berganti baju di ruang ganti.


"Ayo Sayang, takut keburu malam" Aiden keluar dari ruang ganti sambil menggulung lengan kemejanya. Ayara terdiam melihat kemeja yang digunakan suaminya. Itu adalah hadiah ulang tahun yang dia belikan untuk suaminya. Ayra ingat jelas jika dia sudah membuangnya, kenapa sekarang malah ada pada suaminya dan dia memakainya.


"Kenapa? Aku mengambil kemeja ini, kasihan sekali dia sampai ada di tempat sampah"


"Tapi 'kan..."


"Sudah, ayo berangkat sekarang"


Aiden menarik tangan Ayra dan menggandengnya keluar dari kamar.


Bersambung

__ADS_1


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5


__ADS_2