
Aiden mematung melihat apa yang di berikan Rega padanya. Sebuah video dan beberapa foto. Aiden meremas foto itu dengan amarah yang memuncak. Dia menatap Rega dengan tatapan menusuk. Aiden mencengkram kerah kemeja Rega, dia sangat tidak menyangka jika ada rahasia yang lebih besar dari ini.
"Kenapa kau baru memberi tahuku sekarang, Hah?! Kau tahu semua ini, sementara aku tidak!"
Rega tidak menjawab apapun, dia hanya menunduk karena dirinya tahu jika dia salah. Namun semuanya Rega lakukan hanya karena dia belum siap melihat sahabatnya kecewa. Apalagi yang terjadi saat ini adalah, istri yang dia nikahi selingkuh dengan sahabatnya sendiri.
"Kau gila Rega, kenapa kau tidak pernah memberi tahuku?" Lagi-lagi Aiden berteriak pada Rega. Dia melepaskan cengkraman tangannya di kerah kemeja Rega. Aiden terduduk di sofa, mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sudah berapa lama?"
Rega menghembuskan nafas berat, dia menatap bagaimana Aiden yang sangat kecewa dan marah saat ini. Tapi Rega seolah tidak punya pilihan lain. Semuanya terlalu sulit untuknya.
"Aku akan mencoba memberi tahunya untuk tidak melanjutkan hubungan ini dengan Saqila" Alvaro berbicara dengan wajah memelas, meski dia tidak akur dengan saudaranya. Tapi Alvaro tetap tidak bisa melihat saudara dan sahabatnya akan menjadi musuh.
"Kau gila! Ini sudah melewati batas, kau bisa membelanya karena dia saudaramu. Tapi aku tetap akan membela Aiden, karena dia sahabatku!"
"Aku tahu Ga, aku tahu. Tapi tolong beri aku waktu untuk bisa menyelesaikan ini. Aku akan berusaha untuk membuat dia berhenti menjalani hubungan ini. Aku mohon Ga, aku mohon"
Akhirnya Rega tidak tega juga dengan wajah sahabatnya yang terus memohon padanya. Rega juga tahu kenapa Alvaro sampai seperti ini, karena dia besar bersama saudaranya. Orang tua mereka sudah meninggal sejak mereka kecil. Jadi mereka hanya di urus dengan paman dan bibinya yang berbaik hati mau merawat mereka. Mungkin juga karena mereka yang tidak mempunyai seorang anak. Jadi, Alvaro pasti tidak akan mau melihat hidup saudaranya hancur di tangan Aiden.
"Baiklah, kau urus semuanya"
Rega menatap Aiden dengan wajah bersalah, dia memang membantu Alvaro agar dia bisa benar-benar menyelesaikan semua ini. Tapi kenyataannya, Alvaro tidak bisa membuat saudara biadabnya itu berhenti melakukan hal menjijikan itu.
"Sejak awal, Alvino memang menyukai Saqila. Bahkan sejak kita kuliah di luar negara bersama-sama. Namun, dia tidak berani mengungkapkannya karena Saqila yang terang-terangan menyatakan cinta padamu di depan semua orang. Hingga dia benar-benar patah hati. Semuanya berjalan seperti biasa saja saat Alvino sudah mulai merelakan kalian bersama. Tapi, sejak kecelakaan yang menimpa Saqila. Dia mulai tidak tenang, karena sering mendengar ceritamu kalau orang tuamu memaksa kamu untuk menikah lagi agar bisa mendapatkan keturunan..."
__ADS_1
"....Dan semuanya di mulai sejak pernikahanmu dengan Ayra. Alvino mengetahuinya entah darimana. Sejak saat itu dia...."
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Sehari setelah pernikahan Aiden dan Ayra, seseorang datang ke rumah Saqila membuat si empunya rumah terkejut dengan kedatangannya.
"Vino, ada apa?"
"Sa, apa kamu tahu jika suamimu sudah menikah lagi?"
Deg..
Tentu Saqila terkejut dengan itu, dia tidak tahu apa-apa. Aiden hanya izin bekerja di luar kota selama seminggu ini. "Kamu jangan bercanda Vin, dia hanya izin ke luar kota untuk pekerjaannya. Lagian mana mungkin dia menikah lagi, dia sangat mencintaiku"
"Tapi dia menikah dengan siapa Vin? Apa dia memang tidak mencintaiku lagi"
Alvina memeluk Saqila yang menangis, dia tidak bisa melihat wanita yang di cintainya menangis seperti ini. Alavino selalu merasa hatinya sakit. "Sabar Sa, mungkin memang Aiden tidak bisa bersabar untuk memiliki keturunan sehingga dia malah memilih jalan ini"
Saqila hanya bisa menangis dan menyadari jika kekurangannya memang sudah sangat pas untuk di jadikan alasan Aiden menikah lagi.
"Kau bisa bersamaku Sa, mari kita jalani hidup bahagia berdua"
Saqila menatap Alvino dengan mata basahnya, dia melihat tatapan mata laki-laki di depannya yang begitu tulus padanya. "Aku tidak bisa melepas Aiden, apa yang aku miliki saat ini juga karena Aiden"
Disini, Alvino sadar jika Saqila menikah Aiden hanya untuk reputasi dan karirnya. "Kita jalani saja di belakang Aiden, kau bisa tetap menjadi istri Aiden dan aku yang menjadi orang yang akan membuatmu bahagia"
__ADS_1
Sejak saat itu hubungan terlarang itu terjadi. Bahkan Alvino juga yang menyebar berita tentang Aiden yang menikah lagi pada media. Lalu dia menaruh Saqila menelepon Aiden terlebih dahulu agar semuanya tidak di curigai oleh pria itu. Setelahnya mereka benar-benar pergi berdua ke luar negara, untuk bersenang-senang.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Di apartemen, Ayra sedang mondar mandir menunggu suaminya pulang. Dia melirik jam dinding, sudah pukul 10 malam, sementara tadi pagi Aiden bilang jika dia akan pulang pukul 7 malam. Ayra merasa cemas, takut jika suaminya kenapa-napa.
"Aduh kemana ya dia? Aku takut terjadi apa-apa dengannya"
Ayra melirik ke arah ruang tengah yang sudah dia desain sedemikian rupa. Satu meja dengan dua kursi saling berhadapan. Di atasnya tersaji makanan dan kue ulang tahun dengan lilin angka 36 di atasnya. Lilin yang masih utuh karena belum Ayra nyalakan. Menunggu suaminya pulang, tapi sampai sekarang Aiden benar-benar belum juga datang. Lilin aromaterapi yang Ayra nyalakan di sekeliling meja itu sudah mulai banyak yang padam.
"Sudahlah, mungkin dia pulang ke rumah Nyonya" Akhirnya Ayra menyerah, dia berjalan gontai ke dalam kamarnya.
Tepat pukul 11 malam, Aiden baru sampai di apartemennya. Dia benar-benar kacau, mendapatkan kenyataan yang benar-benar membuat hidupnya seolah goyah. Nyatanya wanita yang dia nikahi karena cinta, tidak menjamin dia bisa setia padanya. Ya, Aiden tahu jika ini juga karena salahnya yang menikah secara diam-diam di belakang Saqila. Tapi, apa harus begini cara Saqila membalasnya?
Aiden membuka sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah. Dia berjalan gontai menuju kamarnya, namun matanya tidak sengaja melihat sesuatu di ruang tengah. 'Happy Brithday My Husband' kalimat yang pertama kali Aiden baca saat dia melihat ke ruang tengah. Ayra membuat konsep dinner ala-ala restaurant mahal di apartemen. Dia menggunakan ruang tengah untuk itu.
Ayra, Sayang maafkan aku.
Aiden berjalan ke aras meja itu, sebuah kue ulang tahun yang belum tersentuh sama sekali, juga makanannya. Aiden melihat sebuah kotak di atas sana. Mengambilnya dan membukanya. Sebuah kemeja berwarna coklat muda dengan sebuah surat di atasnya.
Aiden mengambil surat itu dan membukanya.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5
__ADS_1