Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Dilema Aiden


__ADS_3

Ayra berjalan perlahan ke arah mobil yang sudah menunggunya di tempat biasa. Sebenarnya Ayra masih sangat berat untuk bertemu dengan suaminya setelah perdebatan tadi malam. Apalagi dengan hal yang dia lihat di kamar Saqila semalam. Rasanya Ayra sudah benar-benar kecewa dengan suaminya. Apa dia berbohong tentang Saqila yang sakit. Padahal dirinya yang sedang ingin bercinta dengan Saqila.


Ayra benar-benar tidak menyangka jika suaminya rela berbohong hanya demi gairahnya pada istri pertamanya. Ayra sadar diri, dirinya dan Saqila tentu jauh berbeda. Pantas saja jika Aiden lebih bernaf*su pada Saqila di banding dirinya. Hingga dia rela berbohong padanya.


Ayra menghembuskan nafas kasar sebelum dia membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya. Tidak bicara apapun, Ayra hanya diam saat masuk ke dalam mobil. Sekedar menyapa suaminya pun tidak. Ayra masih ingin diam, karena kalau dirinya bicara dengan Aiden. Ayra hanya takut akan terpancing emosi.


Tapi seolah tidak mempunyai salah, Aiden tetap bersikap biasa pada Ayra. Dia bahkan mencium kepala Ayra saat istrinya itu masuk ke dalam mobil. "Bagaimana kuliahnya?"


"Baik" Ayra memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Menatap setiap pemandangan di luar jendela mobil yang berlarian seiring kecepatan mobil melaju.


Aiden bukan tidak tahu jika istri keduanya sedang merajuk. Tapi, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya Aiden juga sedikit kesal pada Saqila yang memberinya obat perangsang semalam. Padahal dia bilang sedang sakit, tapi malah mengajak Aiden bercinta dengan cara paksaan seperti ini. Memasukan obat perangsang pada minuman yang di bawanya.


"Mau mampir makan siang dulu?" tanya Aiden, masih mencoba mencairkan suasana yang hening.


"Tidak"


Aiden menghela nafas mendengar jawaban singkat dan cuek dari Ayra. Istrinya benar-benar sedang merajuk. Aiden juga tidak tahu apa salahnya, apa hanya karena semalam dirinya tidur dengan Saqila di saat jadwalnya tidur dengan Ayra. Tapi malam ini dan besok Aiden akan tidur bersamanya. Menurut Aiden itu sama saja. Tapi kenapa Ayra malah membesar-besarkan masalah.


Sampai di depan rumah, Ayra langsung keluar dari dalam mobil tanpa sepatah kata pun. Aiden menghela nafas, dia menatap punggung istrinya yang masuk ke dalam rumah. Aiden ingin menyusul, tapi dering ponselnya yang membuatnya mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil.


"Hallo"


"Meeting akan segera di mulai, segeralah ke perusahaan"

__ADS_1


"Hmm"


Aiden kembali memasang sabuk pengamannya yang tadi dia lepas. Lalu melajukan mobilnya menuju perusahaan. Semnetara Ayra baru saja sampai di kamarnya, dia membuka tirai jendela dan melihat mobil suaminya yang pergi meninggalkan pekarangan rumah. Ayra semakin di buat kesal dengan sikap Aiden. Ternyata suaminya benar-benar tidak peduli padanya. Percuma dirinya bersikap cuek pada Aiden, nyatanya itu tidak berarti apa-apa baginya. Ya, karena memang Ayra yang tidak berarti untuknya.


Sadar diri Ayra... Sadar diri.. Jangan terus memaksa untuk bisa mendapatkan posisi sebanding dengan Nyonya Saqila.


Ayra merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur. Mengelus perutnya dengan lembut. Di saat seperti ini hanya bayi dalam kandungannya yang bisa jadi temannya bercerita. "Kalau nanti Bunda gak sama kamu, jangan lupain Bunda ya Nak. Yang harus kamu tahu, Bunda sayang banget sama kamu. Jika Bunda tidak ada di sampingmu, ini bukan keinginan Bunda. Tapi ini adalah pilihan bodoh Bunda yang telah terikat perjanjian dengan Ayahmu. Maafkan Bunda Nak"


Hiks...


Akhirnya pertahanan Ayra runtuh juga, tangisan memilukan itu terdengar memenuhi ruangan. Ayra sedih, Ayra sakit, Ayra kecewa dengan jalan hidup yang dia pilih. Ayra menyesal karena telah menandatangani surat perjanjian itu, kenapa dia tidak mengajukan satu syarat saja waktu itu.


Dia hanya ingin di akui sebagai Ibu dari anaknya, meski nantinya dia tidak akan bisa terus bersama dengan anaknya. Setidaknya anaknya tahu, jika Ayra adalah Ibu kandungnya. Tapi, ini tidak bisa. Dalam perjanjian yang dia tandatangani, tertulis jelas jika Ayra harus pergi jauh dan tidak lagi mengganggu anak itu. Serahkan anak itu seutuhnya pada pihak pertama, yaitu Aiden.


"Tetap ingat Bunda ya Nak, jika Bunda pergi meninggalkanmu nanti. Maafkan Bunda Nak.. Hiks.."


Aiden pulang hampir petang, Saqila sudah menyambutnya di ruang tamu dengan senyuman hangat. Aiden sebenarnya masih sangat kecewa pada istri pertamanya yang telah membohonginya semalam. Dia ingin bercinta dengan Aiden, tapi menjadikan sakitnya yang sebenarnya tidak parah sebagai alasan agar Aiden menemaninya di kamar. Sampai dia memberikan obat perangsang pada suaminya. Aiden benar-benar tidak habis fikir, kenapa bisa Saqila melakukan itu pada suaminya sendiri.


"Ayra dimana?"


Saqila yang awalnya tersenyum berubah menjadi cemberut kesal. "Aku yang ada di depan kamu gak di tanyain, tapi Ayra yang gak ada di sini kamu tanyain. Kamu benar-benar udah berubah ya Aiden"


Aiden menghela nafas kasar, dia berjalan melewati Saqila yang langsung mengikuti langkahnya. "Aku lelah Sa, jangan buat aku marah lagi seperti tadi pagi. Aku benar-benar tidak menyangka jika kamu tega melakukan itu hanya karena ingin tidur bersama denganku. Sa, kita menikah sudah lama. Apa kamu tidak percaya padaku jika aku bisa berbuat adil pada kalian"

__ADS_1


"Adil apa? Kamu fikir kepercayaan ku masih sama setelah kamu menghianati aku dengan menikah lagi di belakangku. Apa kamu fikir aku tidak di penuhi rasa curiga setiap harinya setelah tahu kamu tega menghianati ku"


Aiden mengusap wajah kasar, Saqila mulai menunjukan kemarahannya atas perniakahan yang telah terjadi di antara dirinya dan Ayra. "Ini semua keinginan Papi dan Mami. Bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Kamu tahu sendiri, aku bisa bertahan bersamamu selama ini tanpa seorang anak. Tapi Papi dan Mami tetap menekanku untuk bisa memiliki keturunan. Aku juga tertekan di saat ini Sa"


"Lalu sekarang aku yang di paksa untuk menerima keadaan ini. Aiden, aku tidak bisa terus melihat kamu memperhatikan Ayra. Ya, dia memang sedang hamil dan aku tidak bisa hamil. Tapi, yang istri pertama kamu itu aku bukan dia. Apa kamu tidak memikirkan perasaanku, aku cemburu Aiden..." teriak Saqila frustasi, dia sudah mencoba untuk bersikap biasa saja. Tapi hatinya tetap tidak rela melihat suaminya memperhatikan Ayra.


Aiden memeluk Saqila yang menangis, dia tahu ini tidak akan mudah untuk Saqila. Menerima pernikahan suaminya dengan wanita lain. Dia tidak jahat pada Ayra saja, sudah sangat bersyukur. Jadi wajar jika Saqila marah dan melupakan kemarahannya ini.


"Yang sabar Sa, ini sudah terjadi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku tidak bisa mengulang waktu yang sudah berlalu"


Saqila mendongak, menatap wajah Aiden dengan matanya yang basah. "Apa kamu janji akan meninggalkan Ayra setelah dia melahirkan? Kan kamu menikahinya karena untuk seorang anak"


Aiden tidak bisa menjawab, awalnya memang itu tujuannya. Tapi setelah waktu berlalu. Aiden mulai melupakan tujuannya, dia juga merasa nyaman dengan Ayra. Aiden juga ingin bersama Ayra dan juga anaknya.


Saqila langsung melepaskan pelukannya saat tak kunjung juga mendapatkan jawaban dari suaminya. "Tuhkan, kamu emang udah berubah"


"Iya, aku akan meninggalkannya"


Deg


Aiden melirik ke lantai atas dan dia melihat seseorang yang berdiri disana.


Ayra..

__ADS_1


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5


__ADS_2