
Ayra terdiam saat Aiden dan Mami menjemputnya di rumah sakit. Hari ini dia sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter. Namun kenapa hanya ada mereka, dimana Ibunya. Selama dia di rawat tapi Ibunya tidak pernah datang menjenguknya ke rumah sakit.
"Dimana Ibu?"
Aiden dan Mami jelas tidak bisa menjawab apapun, karena mereka bungung harus menjawab apa saat ini. Ketika Aiden yang tidak bisa menjelaskan jika Ibunya Ayra telah meninggal dunia.
"Emm. Sekarang ayo kita pulang dulu"
Ayra hanya menurut ketika Mami yang menuntunnya untuk masuk ke dalam mobil. Meski dia merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tentang semua yang terjadi dengan ingatannya yang hilang.
Sebenarnya apa yang aku lupakan? Aku merasa jika aku tidak melupakan apapun.
Perjalanan di dalam mobil membuat Ayra terus menatap keluar jendela. Dia masih ingat dengan jalan dan tempat-tempat yang dilewatinya saat ini. Jadi Ayra tidak merasa jika dia melupakan satu hal dalam hidupnya.
"Kenapa kesini?" tanya Ayra dengan bingung ketika mobil yang ditumpanginya masuk ke halaman rumah mewah ini.
"Sa... Ayra, untuk sementara kamu harus tinggal disini dulu sampai kamu benar-benar pulih" Jelas Aiden yang hampir saja keceplosan memanggil Ayra dengan panggilan sayang.
"Kenapa harus kesini? Kan aku bisa pulag ke rumah Ibu saja"
Aiden menghela nafas pelan, dia tidak tahu bagaimana reaksi Ayra ketika dirinya mengetahui tentang kebenarannya, jika Ibunya memang sudah lama meninggal.
"Sudah, ayo kita turun dulu dan masuk ke dalam rumah" Mami merangkul lengan Ayra dengan lembut. Dia juga merasa bingung bagaimana dia harus menjelaskan pada Ayra situasi yang sebenarnya.
Ayra masuk ke dalam rumah yang terasa tidak asing baginya. Ayra menatap beberapa orang yang menyambut kepulangannya dari rumah sakit ini. Tidak ada Ibunya disana, dan Ayra semakin merasa aneh karena yang datang adalah Saqila, Papi dan orang tua Saqila yang Ayra baru melihatnya.
"Selamat datang ya Ay, cepat sembuh ya"
"Iya Ay, semoga kamu segera mengingat kami dan siapa kami untuk kamu"
__ADS_1
Ayra hanya tersenyum mendengar itu, merasa jika apa yang dikatakan mereka semua seolah Ayra tidak kenal dan tidak tahu mereka. Padahal aku mengetahui mereka itu siapa. Lalu apa yang sebenarnya aku lupakan. Gumamnya.
"Kamu harus banyak istirahat, ayo kita ke kamar" Aiden ingin merangkul Ayra, namun gadis itu langsung menjauh darinya karena tidak ingin Aiden menyentuhnya di depan Saqila yang ada disana.
"Nda,, nda"
Ayra langsung menoleh ke arah suara anak kecil itu. Ayra melihat seorang anak laki-laki yang sedang di gendong oleh seorang perempuan. Tatapan Ayra tertuju pada mata anak itu, dan entah kenapa dia merasa jika anak itu sangat dekat dengannya. Seolah ada ikatan batin diantara dirinya dan anak itu.
"Nda.." Alerio merentangkan tangannya pada Ayra, ingin Ibunya itu menggendongnya.
Deg..
Dia memanggilku Bunda? Oh Tuhan, apa benar jika aku telah menikah dan mempunyai seorang anak. Dan anak ini adalah anakku?
Seperti sudah tergerak sendiri, Ayra langsung menggendong anak itu. Alerio yang sudah lama tidak bertemu dengan Bundanya langsung melingkarkan tangannya dengan erat di leher Ayra.
"Nda, kemana? Tinggal Alelio"
Ayra menatap pada orang-orang yang ada disana dengan tatapan bertanya-tanya. Ayra tetap menggendong Alerio dan memeluk tubuhnya dengan erat.
"Ayra, kami tidak berbohong jika kamu memang sudah menikah. Dan Alerio ini adalah anak kamu dan Aiden" jelas Saqila
Ayra merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan Saqila. Jelas yang dia tahu Aiden adalah suaminya Saqila. Tapi kenapa sekarang Saqila malah mengatakan jika Aiden adalah suaminya dan bahkan dia sudah mempunyai anak bersamanya. Ini terlalu tidak masuk akal. Ayra berusaha mengingat apa yang dia lupa, tapi dia tidak mengingat apapun. HIngga bayangan tidak jelas terus berputar
di ingatannya. Membuat kepalanya pusing dan kembali sakit.
Melihat Ayra yang mulai kesakitan sambil memegangi kepalanya. Membuat Aiden sigap merangkul bahu Ayra dan menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Saqila juga segera mengambil alih Alerio dari gendongan Ayra.
"Sudah cukup, biarkan Ayra istirahat dulu. Kita tidak bisa terus memaksa untuk Ayra mengingat semuanya"
__ADS_1
Aiden membawa Ayra ke kamar mereka, dia tidak ingin istrinya terus kesakitan ketika terus mencoba mengingat yang terjadi sebelum dia hilang ingatan. Meski sebenarnya Aiden juga begitu terluka ketika melihat Ayra yang tidak mengingat dirinya bahkan anaknya sendiri.
Ketika Ayra masuk ke dalam kamar, sebuah bayangan tidak jelas juga kembali berputar dalam ingatannya. Membuat Ayra mengerang kesakitan.
"Kamu istirahat ya, jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat semuanya"
Aiden membantu Ayra untuk berbaring di atas tempat tidur. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Ayra dengan helaan nafas panjang. Merasa jika saat ini dia sangat merindukan tidur bersama istrinya dan memeluk tubuhnya. Namun Aiden tidak bisa melakukan hal itu karena keadaan istrinya yang sekarang seperti ini.
"Istirahatlah, aku akan keluar dulu"
Aiden berbalik dan siap melangkah untuk meninggalkan Ayra. Namun lengannya langsung di cekal oleh Ayra. Aiden menoleh dan menatap tangannya yang di pegang oleh Ayra.
Ayra terdiam menatap sebuah foto besar yang terpajang di dinding kamar. Sebuah foto pernikahan. Dimana disana ada Ayra dan Aiden dengan baju pernikahan. Ayra menatap Aiden dengan tatapan penuh tanya.
"Jadi, apa benar kita sudah menikah? Lalu kenapa kita bisa menikah? Bukankah Tuan adalah suaminya Nyonya Saqila?"
Aiden tersenyum, dia merasa jika Ayra telah mulai mempercayai perkataannya meski dia belum mengingat apa yang terjadi diantara dirinya dan Aiden. Dia duduk di pinggir tempat tidur, meraih tangan Ayra dan menggenggamnya dengan lembut.
"Iya, kita memang sudah lama menikah. Dan tentang aku dan Saqila, kami memang sudah resmi bercerai. Anak yang tadi adalah buah hati kita yang bernama Alerio"
Ayra terdiam dengan menatap Aiden dengan lekat. Dirinya merasa tidak percaya dengan ucapan Aiden barusan. Namun ketika dia melihat foto pernikahan itu, membuat Ayra harus percaya dengan apa yang diucapkan oleh Aiden barusan.
"Baiklah, meski aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kita sampai kita bisa menikah. Tapi aku percaya karena foto itu"
Aiden menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Ayra. Dan Aiden merasa sangat beruntung karena dia telah memajang foto saat resepsi mereka di dalam kamar. Tidak pernah menyangka kejadian ini akan terjadi.Tapi bersyukurnya karena Ayra yang sedang hilang ingatan, bisa langsung mempercayainya.
"Tapi Tuan, meski benar jika anda adalah suami saya sekarang.Tapi tolong jangan tidur bersama saya, karena saya masih belum yakin dengan semua ini. Biarkan ingatan saya benar-benar pulih sepenuhnya'
Sebuah permintaan yang benar-benar membuat Aiden menghela nafas panjang. Mulai saat ini dia akan menjadi kesepian, karena tidur pun tidak bisa dengan memeluk istrinya.
__ADS_1
Bersambung