Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Siapa Ghea?#


__ADS_3

"Jadi kita akan pergi hari ini?"


Aiden mengangguk, menatap wajah polos istrinya yang baru bangun tidur dengan gemas. Wajah polos Ayra memang membuatnya selalu merasa jatuh cinta setiap saat. Ayra yang sedang memasangkan dasi di leher suaminya merasa tidak nyaman saat suaminya menatapnya dengan lekat seperti itu.


"Sayang ada apa si? Apa ada yang salah dengan wajahku?"


Aiden menggeleng pelan, dia tersenyum lalu memberikan kecupan di pipi istrinya dengan gemas. "Tidak, kamu selalu terlihat cantik dalam keadaan apapun"


Ayra tersenyum tipis, dia sma sekali tidak merasa tersnjung dengan gomblan suaminya itu. Karena dia memang sudah sering mendengar Aiden berkata seperti itu. Entah kenapa, Ayra melihat suaminya yang sekarang benar-benar berubah menjadi suami yang manja dan selalu ingin di perhatikan oleh istrinya.


"Sudah selesai, sekarang kamu ke bawah dulu lihat keadaan Alerio. Aku ingin mandi dulu"


Cup...


Aiden memberikan kecupan hangat di bibir istrinya sebelum dia berlalu dari kamarnya. Ayra pun segera masuk ke kamar mandi.


Dilantai bawah Aiden melihat anaknya sudah kembali aktif bermain dengan Omanya. Aiden segera menghampirinya dan duduk disamping Mami.


"Alerio sudah tidak panas Mam? Semalam dia sedikit demam dan rewel, Ayra sampai tidur sangat larut semalam"


"Ya ampun, Mami benar-benar tidak tahu jika Alerio demam semalam. Istrimu itu memang tidak pernah mau memberi tahu Mami dan meminta bantuan pada Mami ketika Alerio rewel di malam hari. Apalagi semalam kamu juga pulang agak larut 'kan?"


Aiden mengangguk, dia tahu bagaimana istrinya yang selalu merasa tidak enak ketika dia ingin meminta bantuan. Meski itu pada mertuanya sendiri. "Ya, begitulah istriku Mam, dia selalu tidak enakan kalau mau meminta bantuan pada orang lain. Jangankan sama Mami, padaku saja kadang dia suka tidak enak"


Mami mengangguk menyetujui, memang seperti itu sikap menantunya. Ayra bukannya tidak mau meminta bantuan pada orang lain, meski itu bukan orang lain tapi pandai mertuanya. Ayra hanya merasa jika Mami sebagai mertua sudah sangat baik padanya. Jadi, Ayra tidak mau jika dirinya kembali harus menyusahkan mertuanya. Lagian selama dia mampu mengatasinya sendri, maka dia akan lakukan saja sendiri tanpa harus merepotkan orang lain.


"Dy...Dy.." Alerio melangkah ke arah Ayahnya dengan tangan yang dia rentangkan. Mungkin Alerio ingin digendong oleh Aiden.


'Ohh Sayang, sini sama Daddy Nak"

__ADS_1


Aiden langsung menggendong Alerio dan mendudukannya di atas pangkuannya. Aiden gemas sendiri dengan anaknya ini. Membuat dirinya terus menciumi pipi Alerio sampai anak itu tertawa geli dengan apa yang di lakukan oelh Ayahnya ini.


Beberapa saat kemudian, Ayra turun dari lantai atas setelah dia selesai besiap. Menghampiri suaminya dan anaknya yang sedang duduk di atas sofa, Mami sudah pergi dari ruang tengah untuk melihat Papi di kamarnya.


"Sayang, ini kita langsung pergi bertemu dengan pihak WO? Atau ke kantor kamu dulu?"


"Sepertinya ke kantor dulu Sayang, kan pihak WO juga janji bisa bertemunya pas jam makan siang, nanti sekalian kita makan siang diluar"


"Ya kalau nanti siang bertemu dengan pihak WO nya, yaudah aku berangkatnya nanti saja pas jam makan siang"


"Gak bisa Sayang, Rega 'kan masih belum bisa masuk kerja. Jadi aku aga kerepotan sendiri di kantor. Gak akn bisa jemput kamu dulu pas nanti jam makan siang"


Ayra langsung mengambil alih Alerio yang terus menoel-noel tangannya karena ingin digendong oleh Ibunya. "Aku bsa naik taksi online saja"


Aiden langsung menggeleng tegas, entah kenapa setelah mempunyai anak tingkat keposesifan Aiden pada Ayra malah semakin bertambah. "Tidak boleh! Kau pergi bersama aku sja saat ini. Lagian kenapa si kalau dia di kantor dan menemani aku sebentar saja" 


"Aku selalu bosan saja kalau menemani kamu di kantor Sayang"


Akhirnya Ayra hanya mengalah dan menuruti keinginan suaminya itu. "Tapi bagaimana dengan Alerio? Apa kita bawa saja? Soalnya takut terlalu lama juga aku meninggalkan dia"


"Tenang saja, Alerio bisa bersama Mami saja "


Ayra langsung menoleh ke arah Mami yang berjalan menghampiri mereka bersama Papi. "Mam, apa Ay tidak terlalu merepotkan Mami jika menitipkan Alerio pada Mami. Lagian kita perginya juga pasti akan cukup lama juga"


"Ayra, kenapa si kamu ini selalu merasa tidak enak pada Mami. Ingat Nak, Mami ini juga Ibu kamu. Jangan terus merasa tidak enak pada Mami. Jika memang kamu membutuhkan bantuan, seperti menjaga Alerio, beri tahu Mami Nak. Mami akan dengan senang hati menjaga cucu kesayangan Mami ini'


Ayra tersenyum dengan penuh rasa haru dalam hatinya. Betapa dia merasa sangat beruntung ketika mempunyai mertua seperti Mami. "Terima kasih ya Mam'


"Iya Nak, sama-sama"

__ADS_1


"Iya Ayra, kamu itu adalah menantu kami satu-satunya saat ini. Jadi jangan merasa sungkan untuk meminta bantuan pada kami" Papi ikut berbicara dan hal itu benar-benar membuat Ayra sangat merasa terharu memiliki mertua sebaik mereka.


"Iya Pi"


Dan selesai sarapan pagi ini, Ayra ikut Aiden ke kantor hanya untuk menemaninya bekerja sampai nanti siang barulah mereka akan bertemu dengan pihak wedding organizer.


"Sayang, kalau kamu capek atau lelah istirahat saja di kamar"


Ayra mengangguk, ini bukan lagi pertama kalinya dia datang ke perusahaan suaminya ini. Jadi dia sudah tahu jika diruangan ini ada sebuah kamar yang digunakan Aiden untuk beristirahat. Bahkan mereka pernah juga melakukannya di kamar ini. Mengingat itu membuat Ayra jadi malu sendiri. Bisa-bisanya Aiden meluangkan waktu kerja hanya untuk bermain dengan Ayra di kamar ini.


"Yaudah kalau gitu aku mau istirahat sebentar ya. Semalam kurang tidur, jadi membuat aku mengantuk sekarang"


Aiden mengangguk, dia menatap istrinya yang menghilang di balik pintu kamar. Merasa kasihan juga dengan Ayra yang semalaman kurang tidur karena menjaga Alerio yang rewel.


"Kasihan sekali istriku, pasti dia sangat lelah semalaman menjaga Alerio"


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


Siang ini Aiden dan Ayra sudah berada di ruangan VVIP Restaurant milik Alvaro. Sudah cukup lama juga Ayra tidak datang ke Restaurant milik sahabat suaminya ini.


"Pesan makanan saja dulu Sayang, takutnya nanti keburu datang dari pihak WO dan akan membuat kamu menunda makan cukup lama"


"Tidak papa Sayang, dari pada nanti ada pihak WO datang disaat kita sedang makan, bagaimana? Kan tidak enak juga. Lebih baik makannya nanti saja saat pertemuan hari ini selesai"


Aiden hanya menghela nafas pelan, dia tidak bisa membujuk istrinya jika memang itu sudah menjadi keputusan untuk Ayra.


Menunggu beberapa saat sampai seorang wanita berjalan dengan sedikit tergesa, masuk ke ruangan yang di tempati Aiden dan Ayra lalu mulai menyapa klien nya hari ini.


"Selamat siang, maaf saya terlambat.... Loh Aiden" Wanita itu benar-benar terkejut saat kembali bertemu dengan pria di masa lalunya.

__ADS_1


"Ghea?'


Bersambung


__ADS_2