
Merasa berada diantara mimpi dan nyata, saat ini Ayra sedang menatap pantulan dirinya di cermin, gaun pengantin yang indah melekat dengan pas di tubuhnya. Riasan natural di wajahnya semakin membuat auranya keluar. Dia merasa tidak percaya jika saat ini adalah nyata. Dimana dia memakai gaun pengantin. Meski pernikahannya dan Aiden sudah berjalan tiga tahun lamanya. Namun, acara ini benar-benar baru dilaksanakan hari ini. Dan entah kenapa Ayra merasa haru yang menyeruak di hatinya.
Tentang cinta dan masa depan, tentang hati dan perasaan. Tentang memilih pergi dan tetap tinggal. Semuanya telah Ayra alami selama dia bersama Aiden. Selama dia berjuang untuk tetap bertahan di samping suaminya, dan sekarang dia telah mendapat kebahagiaannya.
Aku tidak pernah menyangka jika hari ini akan tiba. Dimana aku memakai gaun pengantin bak seorang ratu sehari. Impian semua wanita.
Ya, memang benar apa yang dikatakan oleh Mami pada Aiden. JIka semua wanita pasti mempunyai mimpi untuk acara pernikahannya. Dan Ayra juga mempunyai mimpinya sendiri untuk pernikahan yang dia harapkan, meski mungkin pernikahan Ayra dan Aiden sebelumnya tidak sepeti mimpinya sebelumnya.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku ucapkan pada suamiku yang telah begitu baik dan mewujudkan semua mimpiku"
Pintu terbuka, Aiden muncul di ambang pintu. Menatap pantulan wajah istrinya di balik cermin, dan Aiden merasa tidak percaya jika yang sedang dia lihat saat ini adalah istrinya, Ayra. Yang biasanya selalu tampil biasa dan sederhana, lalu sekarang Ayra terlihat sangat berbeda dengan riasan di wajahnya dan juga gaun pengantin yang terlihat sangat indah ditubuhnya. Aiden melangkah mendekati istrinya dengan senyuman yang tidak pernah luntur.
"Sayang, kamu terlihat sangat cantik" Aiden memeluk tubuh istrinya dari belakang. Saling melempar tatapan dibalik pantulan cermin di depan mereka.
"Sayang, terima kasih karena sudah memberikan semua ini untukku. Kamu telah banyak berjuang untuk membuat aku bahagia dan sekarang aku sangat bahagia bersamamu"
Aiden mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut. "Sayang, aku bahagia saat melihat kau juga bahagia. Jadi mari kita cari kebahagiaan kita bersama"
Ya, karena kebahagiaan Aiden adalah melihat istrinya yang bahagia. Aiden sudah sangat bahagia ketika dia bisa bersama Ayra saat ini. Meski awal pernikahan mereka tidak seperti kebanyakan orang, tapi Aiden benar-benar bersyukur karena saat ini bisa bersama Ayra dan memiliki anak dari istri tercintanya.
"Ayo kita keluar Sayang, Mami dan yang lainnya sudah menunggu kita di luar"
Ayra mengangguk, dia menatap kembali pantulan dirinya di cermin. Melihat itu Aiden langsung menarik tangan istrinya itu untuk segera keluar dari ruangan itu. "Kau sudah cantik, apalagi yang ingin kau benarkan? Wajahmu sudah sangat cantik, dan sepertinya aku sedikit tidak rela jika wajahmu terlihat oleh banyak pria di luar sana"
Ayra memutar bola mata malas, sudah terbiasa dengan sikap posesif suaminya ini. Terkadang Ayra merasa jika suaminya itu terlalu berlebihan, tapi Ayra sadar jika Aiden berlaku seperti itu hanya padanya. Bahkan saat masih bersama Saqila pun, dia tidak pernah bersikap seperti ini. Hal itu membuat Ayra merasa istimewa karena suaminya hanya menunjukan sikap aslinya padanya, seorang.
__ADS_1
Berdiri diatas pelaminan yang telah disediakan, Ayra menatap beberapa tamu undangan yang mulai berdatangan. Sungguh sampai saat ini, Ayra masih tidak menyangka jika hari ini akan tiba. Dimana dirinya berdiri di atas pelaminan bersama pria yang dia cintai dan yang telah menikhinya.
"Aku benar-benar mencintaimu, tetaplah disampingku apapun yang terjadi"
Bisikan lembut di telinganya itu, membuat Ayra tersenyum dan menoleh pada suaminya. "Terima kasih untuk semuanya"
Dan acara demi acara berlanjut dengan meriah. Bahkan tamu undangan yang Aiden katakan hanya sedikit yang dia undang. Pada nyatanya sangat banyak, bagi Ayra yang tidak mempunyai banyak teman atau kenalan.
Ayra memangku Alerio yang terlihat begitu tampan dengan jas yang dia gunakan. Dasi kupu-kupu yang terpasang di kerah kemeja yang dipakai oleh Alerio, benar-benar menambah kesan lucu dan menggemaskan anak itu.
"Ale, kenapa kau begitu menempel pada Bunda? Biasanya juga tidak begini?" Aiden merasa heran saat anaknya yang begitu menempel pada Ayra. Padahal biasanya dia cukup bersama pengasuh saja.
"Mungkin dia sama seperti kamu, Sayang. Takut kalau aku dilihat banyak orang. Haha"
Aiden menatap putranya, sepertinya sifat posesifnya akan menurun pada Alerio. Anak laki-lakinya ini benar-benar sangat mirip dengannya. Selain wajah, tapi juga sikap dan sifatnya sepertinya benar-benar akan menurun.
Ayra menatap tidak percaya pada orang-orang yang baru saja datang ke acaranya ini. Semua orang itu adalah teman masa kuliahnya. Rasanya Ayra tidak percaya jika mereka semua rela menyempatkan waktu untuk datang ke acaranya Ayra. Murid yang terkadang dianggap tidak terlihat keberadaannya.
"Sayang, itu..?"
Aiden tersenyum, dia merangkul bahu istrinya dengan lembutm. "Kekuasaan yang lebih mereka hargai daripada pertemanan"
Satu kalimat itu cukup membuat Ayra mengerti jika memang kekuasaan suaminya yang membuat teman masa kuliahnya itu datang ke acara ini. Bukan karena mereka menganggap Ayra adalah teman merka.
"Hallo Ay, selamat ya semoga kamu bahagia selalu bersama suami kamu dan keluarga kamu"
__ADS_1
"Iya Ay, kita senang melihat kamu yang sekarang lebih bahagia"
"Selamat ya Ay"
Jelas semua ucapan dan do'a itu tidak tulus terucap dari hati. Mereka semua mengucapkan itu semua hanya karena ada Aiden disampingnya. Karena Aiden yang menjadi suaminya. Jika bukan karena keberadaan Aiden disampingnya, mereka tentu tidak akan melakukan semua ini. Hadir diacara ini pun mereka tidak akan sudi.
Setelah semua teman masa kuliahnya itu berlalu dari atas pelaminan, Ayra yang tadinya tersenyum ramah dan mengucapkan banyak terima kasih pada mereka karena sudah menyempatkan datang ke acara ini. Seketika ekspresi wajah Ayra langsung berubah seketika. Karena dia tahu jika apa yang di lakukan teman-temannya itu, hanya karena ada suaminya di belakangnya.
Aiden ikut duduk di kursi pelaminan, dia merangkul bahu istrinya dan mengecup pipinya dengan lembut. "Sudah, tidak perlu kau pikirkan tentang mereka semua. Yang terpenting kau bersama aku dan bahagia bersamaku"
Ayra menatap suaminya dengan bibir yang mencebik. Tidak tahu saja jika ekspresinya yang seperti itu bisa membuat Aiden tidak tahan karena merasa gemas dengan ekspresi wajah Ayra.
"Tapi aku kesal Sayang, kenapa mereka begitu membenci aku? Padahal aku tidak merasa pernah berbuat salah pada mereka semua. Mereka membenci aku karena aku yang hanya anak dari seorang pembantu dan tidak punya apa-apa. Jadi mereka menganggap jika aku ini spesies berbeda dari mereka semua. Padahal kita tetap sama dimata Tuhan"
Aiden tersenyum gemas melihat bibir Ayra yang terus mengolmel. "Sayang, bibirnya biasa aja ya. Aku tidak tahan untuk tidak mencium kamu sekarang"
Ayra langsung mengatupkan bibirnya dengan seketika. Dia melirik ke sekitarnya yang masih banyak orang-orang. Ayra langsung menggeser tubuhnya untuk lebih jauh dari Aiden. Bisa gawat kalau dia masih dekat-dekat dengan suaminya itu.
"Kenapa menjauh Sayang? Nanti kita diangkanya sedang bertengkar lagi"
Sebenarnya Aiden sangat ingin tertawa melihat wajah kaget istrinya itu. Tapi dia menahannya karena takut Ayra menjadi kesal.
"Sudah ihh, jauh-jauh sana. Kamu membahayakan kalau dekat dengan aku"
Aiden hanya terkekeh mendengarnya.
__ADS_1
Bersambung