Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Ternyata Usulan Mami?#


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa Ayra selalu disibukan mengurus bayi. Bukan Alerio yang Ayra urus, karena anaknya itu sudah mempunyai pengasuhnya. Tapi bayi besarnyayang selalu banyak maunyaketika dia akan berangkat bekerja,


"Sayang cium dulu"


Tuhkan, padahal baru juga beberapa menit yang lalu dia mencium Ayra saat di ruang ganti. Tapi saat mereka keluar dari ruang ganti juga masih saja Aiden meminta ciuman darinya.


"Sayang, kan udah tadi"


"Ck, minta cium sama istri sendiri saja masa harus memakai batas si. Aku jadi malas bekerja kalau begitu'


Ayra menghela nafas pelan, lalu dia mendekat pada suaminya yang sedang duduk di pinggir tempat tidur. "Yaudah mau cium dimana?"


"Disini,  sini, sini, dan sini" Menunjuk pipi bibir dan leher dengan tidak tahu malunya.


Ayra menggeleng pelan dengan kelakuan suaminya itu. Jika Ayra baru mengenal Aiden, pasti dia juga akan terkejut dengan sikap suaminya yang snagat berbeda dari Aiden yang banyak dikenal banyak orang-orang. Tapi jika saat ini Ayra tidak menuruti keinginannya itu pasti akan membuat Aiden benar-benar kesal dan bisa saja jika dia tidak berangkat bekerja.


Akhirnya Ayra menueuti keinginan suaminya, dia menangkup wajah suaminya dan mencium semua bagian yang ditunjuk oleh suaminya itu.


"Sudah, sekarang ayo ke bawah. Mami dan Papi pasti masih menunggukita"


Aiden tersenyum ketika apa yang dia  inginkan telah diberikan oleh istrinya. Aiden berdiri  dari duduknya dan mengecup kening istrinya, lalu dia merangkul bahu Ayra dan membawanya keluar kamar.


Turun ke lantai bawah,dan langusng menuju ruang makan untuk sarapan bersama. Ayra megambilkan makanan untuk suaminya. Setiap pagi Mami sudah pasti terbiasa dengan sikap manja Aiden pada istrinya tu. Pada awal-awal tinggal bersama Aiden. Mami dan Papi juga cukup terkejut dengan sikap Aiden yang benar-benar berubah. Bersyukur karena perubahan putranya adalah perubahan  yang baik.


Setelah mengantar suaminyabekerja, barulah Ayra bisa lebih mempunyai banyak waktu bersama putranya. Mami duduk  disamping  Ayra dan melihat cucu pertamanya yang sedand asyik memainkan beberapa mainan yang baru dia dapatkan dari hadiah ulang tahun dari beberapa anggota keluarganya kemarin.


"Mam, masa kemarin Mas Aiden tiba-tiba saja membicarakan tentang resepsi  pernikahan. Terus dia juga bilang ingin mengadakan resepsi pernikahan.Aneh 'kan"

__ADS_1


Mami tersenyum mendengar itu, dia meraih tangan Ayra dan menggengam dengan kedua tangannya. "Sayang, apa yang dilakukan Aiden itu wajar saja. Dia hanya ingin membuat kenangan indah atas hari pernikahan kalian dengan mengadakan resepsi pernikahan. Kamu tahu sendiri jika pernikahan kalian waktu itu benar-benar hanya diadakan sangat sederhana dan tidak ada kenangan indah yng biasa diabadikan"


Aiden sudah mengatakan tentang rencananya ini pada Mami, bahkan sebelum dia memberi tahukannya pada Ayra.Saat itu ketika Aiden kembali dari acara perniakahan Rega, dia langsung menemui Mami di kamar dn menceritakan tujuannya itu.


"Mam, aku merasa jadi suami yang buruk karena tidak mementingkan kebahagiaan Ayra pada saat itu. Aku menikahinya hanya tujuan untuk mempunyai anak saja. Tapi sekarang aku sadar jika Ayra juga mungkin juga mengharapkan pernikahan yang indah seperti banyak wanita liannya. Aku benar-benar tidak mempunyai kenangan apapun di hari pernikahan kita"


"Kenapa tidak kamu adakan saja resepsi pernikahan saja. Kamu bicarakan dulu bersama Ayra"


Dan ternyata memang Mami yang mengusulkan untuk mengadakan resepsi pernikahan itu. Pantas saja dia terlihat biasa saja dan langsung mendukung rencana Aidden itu.


"Jadi kamu terima saja keinginan suami kamu itu, Ay. Lagian memang kalian belum pernah mengadakan resepsi pernikahan. Jadi pastinya tidak ada yang bisa jadi kenangan dalam hidup kalian"


Ayra mengangguk, mungkin memang benar apa yang dikatakan Mami barusan. Memang Aiden menginginkan acara ini untuk mempunyai kenangan indah penikahan mereka yang bisa diabadikan.


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


"Sayang, Alerio kenapa?"


Ayra menoleh dan dia baru menyadari keberadaan Aiden disana. "Diia sedikit demam Sayang. Makanya dia agak rewel, kalau rewel begini aku tidak tega meninggalkannya hanya berdua bersama   Mbak"


Aiden memegag kening Alerio dengan punggung tangannya. Suhu tubuh Alerio tidak terlalu tinggi juga dari suhu normalnya. "Mau kita bawa ke dokter saja?"


Ayra menggeleng pelan, dia duduk dengan perlahan karena pinggangnya sudah sangat tegang ketika dia terus menggendong Alerio sambil brdiri. Aiden langsung membantu Ayra untuk duduk.


"Dia hanya demam karena tadi habis di suntik untuk dua tahun. Jadi tubuhnya agak panas, ini sudah biasa terjadi pada anak-anak. Waktu kecil 'kan Alerio juga sering seperti  ini jika habis disuntik"


Aiden tahu itu, bahkan jika waktu kecil maka Alerio sering menangis kencang jika habis suntik. Dan malam ini seperti biasa, Ayra akan selalu begadang jikan Alerio sedang deman seperti ini. Karena Alerio pasti akan rewel. Melihat itu tentu saja membuat Aiden merasa tidak tega pada istrinya.

__ADS_1


"Sayang, biar aku saja yang menjaga Alerio. Kamu bisa tidur"


Ayra yang menjaga Alerio dikamar anaknya itu langsung menoleh dan melihat suaminya yang berada di ambang pintu. "Sayang, kamu tidur saja. Kasihan pasti capek seharian ini bekerja"


Aiden selalu merasa bangga pada istrinya yang tidak pernah sekali pun dia merepotkan Aiden selama mereka sudah menjadi orang tua untuk Alerio. Bahkan saat Aiden ingin membantunya saja, Ayra malah sering menolak dan malah menyuruhnya untuk istirahat dan tidur.


Ayra menagap Alerio yang sudah mulai terlelap dalam gendongannya. Lalu dengan perlahan Ayra menidurkan Alerio di atas tempat tidur. Dan kali ini sepertinya Alerio memang sudah benar-benar terlelap hingga dia tidak terbangun lagi saat Ayra mencoba menidurkannya. Karena beberapa saat yang lalu, Alerio selalu terbangun ketika Ayra mencoba menidurkannya. Inginnya Alerio terus di gendong Ibunya.


"Akhirnya dia tertidur juga, Mbak tolong di jaga ya. Kalau ada apa-apa bisa langsung panggil saya saja"


"Baik Nona"


Aiden langsung menggandeng tangan istrinya dan membawanya ke kamar. Dia tidak tega melihat Ayra yang begitu kelelahan menjaga Alerio seharian ini.


"Sekarang langsung tidur ya, wajah kamu sudah lelah seperti itu"


Ayra mengangguk, dia tahu bagaimana suaminya sangat mengkhawatirkan dirinya. Aiden memeluk Ayra dengan erat, seolah tidak ingin jika istrinya pergi darisana.


"Sayang, aku sudah mendapatkan wedding organizer yang baik dan bagus untuk acara resepsi kita nanti. Lusa kita akan beretemu dengan mereka untuk menentukan tema"


Ayra menatap suaminya, lalu dia tersenyum dan sedikit mengecup bibir suaminya dengan lembut. "Terserah kamu saja, aku akan menurut dan ikut saja apa katamu dan semua rencana kamu"


Aiden tersenyum mendengar itu, lalu dia mencium kening istrinya. "Yasudah sekarang ayo kita tidur dulu, kasihan istriku ini sedang sangat kelelahan. Capek ya, tidur yang nyenyak ya"


Aiden mengecup kening istrinya lalu menarik tubuh istrinya untuk semakin masuk ke dalam pelukannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2