Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Bukan Pilihan!


__ADS_3

Masih dengan sikap Ayra yang cuek dan dingin pada Aiden. Membuat setiap harinya bagaikan neraka untuk Aiden. Seperti hari ini, dia mengantar Ayra untuk pergi kuliah. Gadis itu tidak menolak, tapi tidak juga mengiyakan. Dia hanya menuruti saja apa yang Aiden katakan. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka. Aiden sudah bingung harus bagaimana lagi menjelaskan pada Ayra, tentang apa yang dia katakan yang memang tidak sesuai kata hatinya.


"Ay, nanti jemput jam berapa? Aku akan menjemputmu"


"Saya bisa naik taxi saja"


Aiden langsung menahan tangan Ayra saat dia baru saja ingin membuka pintu mobil. "Gak, aku akan menjemputmu!"


"Lepasin Tuan"


"Kamu kenapa si harus terus diemin aku kayak gini? Aku udah minta maaf, aku udah jelasin semuanya sama kamu Ay. Apa perlu aku berlutut di kaki kamu, agar kamu bisa kembali pada Ayra yang dulu"


Ayra menoleh, menatap Aiden dengan tatapan nanar. "Ayra yang dulu seperti apa Tuan? Ayra yang lemah, Ayra yang gampang jatuh hati hanya dengan sedikit saja perhatian? Begitu? Ayra yang akhirnya tetap akan terluka juga. Saya hanya sedang membangun benteng di hati saya agar saya tidak bisa kembali jatuh pada setiap perhatian yang Tuan berikan. Karena apa? Karena saya sadar jika saya hanya sebagai istri bayaran saja. Saya tidak mau terus-terusan menjadi Ayra yang lemah"


"Ay..." Aiden benar-benar kehilangan kata-kata mendengar ucapan Ayra. Dia mengeratkan genggaman tangannya di tangan Ayra. Membawa tangan mungil itu ke bibirnya dan menciumnya. "...Tunggu sebentar lagi, biarkan aku menentukan yang akan di pilih oleh hatiku"


Ayra tersenyum pedih "Maaf Tuan, saya bukan pilihan!"


Ayra menarik tangannya dari genggaman Aiden lalu turun dari mobil. Aiden menatap punggung istrinya yang terlihat bergetar. Tuhan aku telah salah bicara lagi. gumamnya, kepalanya dia benturan pada kemudi. Aiden benar-benar frustasi menghadapi perasaan dan kenyataan yang ada. Hatinya menginginkan Ayra, tapi kenyataan harus memaksa dirinya memilih. Apalagi dengan adanya perjanjian yang ada di antara dirinya dan Ayra. Semuanya terlalu sulit untuk menjadi sebuah pilihan untuk Aiden.


"Maafkan aku Ayra, aku telah memaksa kamu masuk di antara aku dan Saqila. Tapi aku tidak akan rela jika kamu harus pergi meninggalkan aku. Hatiku sudah terlalu nyaman denganmu. Maafkan aku Sayang. Berikan aku waktu" Aiden memutar mobilnya dan melajukannya menuju perusahaan. Perasaannya yang kacau dan tidak tahu harus berbuat apa. Rasanya tidak ada tempat yang tenang untuk dirinya sekarang.


"Kau kenapa?" Rega menepuk bahu Aiden yang berjalan gontai menuju ruangannya.


"Aku sedang dalam dua pilihan yang sulit"


"Ini tentang kedua istrimu itu"


Aiden mengangguk, dia membuka pintu ruangannya lalu masuk di ikuti oleh Rega. Kedua pria itu duduk sofa yang ada di dalam ruangan. Rega tahu dilema yang di alami sahabat sekaligus atasannya itu. Memiliki dua istri, tapi Rega tahu jika Aiden mulai menyimpan perasaan lebih pada istri keduanya yang pada awalnya hanya dia jadikan sebagai istri bayaran untuk bisa melahirkan anak untuknya. Tapi, pada akhirnya dia sendiri yang terjebak oleh perjanjian yang dia buat.


"Jadi, kau mengakui jika telah mencintai gadis itu?" tanya Rega langsung pada point utamanya.

__ADS_1


Aiden menghela nafas berat "Ya, aku rasa begitu. Tapi sekarang situasinya sedang sangat kacau"


"Kenapa? Apa karena Saqila?"


Aiden mengangguk, dia tidak bisa meninggalkan Saqila tapi dia juga tidak ingin Ayra pergi meninggalkannya. "Saqila tetap memaksa aku untuk meninggalkan Ayra saat dia sudah melahirkan"


"Ini konsekuensi yang harus kamu tanggung. Dari awal aku sudah pernah mengingatkan tentang ini. Yang aku takutkan adalah ini, kau malah jatuh cinta pada istri bayaranmu. Lalu, apa yang akan kamu lakukan pada istri pertamamu?"


Aiden mengusap wajah kasar, tangannya mengacak rambutnya dengan frustasi. "Lalu aku harus bagaimana?"


"Aku juga bingung, tapi yakinlah jika Ayra adalah jodohmu maka dia akan bertahan dan kalian bisa bersama selamanya. Tapi jika Saqila adalah jodoh sejatimu, maka Ayra akan pergi meninggalkanmu dan kalian tidak akan pernah bisa bertemu lagi"


Ucapan Rega bukan menenangkan hati Aiden yang sedang kacau. Tapi malah semakin menakut-nakuti. Aiden takut jika kenyataan akan membawa Ayra pergi dari kehidupannya. Aiden tidak sanggup jika benar itu terjadi.


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


"Ay gak papa?" Tami merasa cemas melihat wajah pucat Ayra. Sejak di kelas sahabatnya ini hanya diam dan tidak bersemangat sama sekali. Ayra terlihat sangat lesu.


"Mau aku antar saja Ay? Aku bawa motor kok. Takutnya kamu pingsan di jalan gimana? Muka kamu pucet banget"


Ayra tersenyum lalu dia menggeleng pelan. "Gak perlu Mi, aku bisa sendiri. Aku udah pesan taxi online kok"


"Yakin gak papa?"


"Iya gak papa"


Akhirnya Tami dan Ayra berpisah di pekarangan kampus. Ayra yang berjalan ke luar gerbang kampus dan Tami yang menuju parkiran untuk mengambil motornya. Ayra berjalan menuju mobil yang sudah menunggu di ujung jalan sana. Ayra menghela nafas saat sudah berada di depan pintu mobil. Membukanya lalu masuk ke dalam mobil.


"Sayang kenapa? Kok wajahnya pucet"


"Tidak papa"

__ADS_1


Aiden memegang pipi Ayra, dia merasakan suhu badan Ayra yang terasa panas. "Sayang, kamu demam. Ayo ke dokter"


"Gak perlu, aku hanya perlu istirahat saja"


Aiden menggeleng tegas "Gak, kalau kamu masih mau marah sama aku silahkan. Tapi jangan mengabaikan kesehatanmu juga"


Aiden segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Aiden tidak mau mengambil resiko jika dia menuruti Ayra yang terus bilang jika dirinya baik-baik saja. Padahal Aiden sudah merasakan sendiri jika suhu tubuh istrinya lebih tinggi dari suhu normal manusia.


Sampai di rumah sakit, Aiden membukakan pintu untuk Ayra. "Mau aku gendong"


"Apa si Tuan, saya hanya demam bukan cacat" Ayra menepis tangan Aiden yang sudah siap menggendongnya. Akhirnya Aiden hanya menuntun Ayra dengan hati-hati saat memasuki rumah sakit. Hal itu justru malah membuat Ayra merasa risih. Jelas dia masih mampu berjalan normal, kenapa Aiden memperlakukannya seolah dirinya akan tumbang begitu saja jika tidak dia jaga.


"Tuan saya baik-baik saja"


"Berhenti bilang baik-baik saja" Aiden menatap marah istrinya yang selalu berkata baik-baik saja untuk menyelamatkan suatu keadaan.


Mereka masuk ke ruangan Dokter, Ayra langsung berbaring dan di periksa oleh Dokter. Aiden tidak pernah jauh dari istrinya. Dia terus berdiri di sisi ranjang pemeriksaan dan menggenggam tangan Ayra. Menunggu Dokter selesai memeriksa istrinya dan memberikan penjelasan padanya.


"Nona kecapean dan terlalu banyak fikiran. Jadi, tolong di jaga kesehatannya ya. Jangan sampai bayinya ikut stres ya. Saya akan berikan vitamin dan obat penurun panas. Nona harus istirahat dulu selama beberapa hari"


Setelah dokter memberikan obat dan vitamin pada Ayra. Mereka pun langsung pulang. Sampai di rumah Aiden langsung membawa Ayra ke kamar untuk istirahat.


"Pokoknya selama kau sakit, aku yang akan merawatmu"


"Tapi...."


"Tidak ada bantahan apapun!"


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5

__ADS_1


__ADS_2