
Pagi ini untuk pertama kalinya Ayra melihat anaknya di dalam ingcubator. Dia sudah memompa asinya untuk bisa memberikan asi untuk anaknya yang belum bisa dia gendong. Mata Ayra berkaca-kaca melihat anaknya yang berada di dalam ingcubator. Anaknya yang mungil dan masih sangat rentan.
"Maafin Bunda ya Nak, karena Bunda belum bisa memberikan yang terbaik untuk kamu saat kamu lahir"
Jika boleh memilih, mungkin Ayra tidak mau melahirkan anaknya kurang bulan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi karena dia juga tidak mungkin melawan apa yang sudah di rencanakan oleh Tuhan.
Saat ini Ayra hanya bisa berdo'a untuk putrinya agar bisa segera sembuh. Ayra yang tidak bisa melakukan apapun agar putrinya bisa segera pulih dan bisa di bawa pulang.
"Sayang, apa kamu sudah memberi dia nama?" tanya Ayra pada suaminya yang sejak tadi hanya berdiri diam di dekatnya.
"Aku sudah menyiapkan sebenarnya, tapiĀ tidak tahu kamu akan suka atau tidak"
Ayra menatap suaminya dengan tersenyum. "Siapa namanya?"
"Aurelia Narendra"
"Nama yang bagus, aku suka. Aurel, kita panggil di seperti itu"
Aiden mengangguk, dia membungkukam tubuhnya di belakang kursi roda yang di duduki oleh istrinya. Dia memeluk dada istrinya dengan lembut. Dia tidak pernah berpikir akan bagaimana hidupnya jika tidak ada Ayra di sampingnya. Karena istrinya itu begitu berarti bagi Aiden. Ayra yang selalu memberikan kebahagiaan untuk Aiden.
"Yuadah, sekarang kita kembali ke ruangan kamu. Hari ini kamu sudah boleh pulang"
"Sebenarnya dari kemarin juga aku sudah bisa pulang dan sekarang juga tidak perlu juga aku memakai kursi roda ini. Aku sudah bisa berjalan sendiri"
Aiden mendorong kursi roda Ayra dan mendorongnya keluar dari ruangan bayi. "Sudah deh, gak usah protes. Jalan kamu masih kayak gitu"
"Ya 'kan wajar Sayang, lagian kamu ini kenapa si? Aku 'kan emang habis melahirkan, jadi wajar kalau aku jalannya seperti itu"
"Iya makanya nurut aja pake kursi roda"
__ADS_1
Ayra hanya menggeleng pelan dengan kelakukan suaminya yang selalu posesif ini. Sebenarnya aku tidak bisa memberikan apapun untuk kebahagiaannya. Tapi aku hanya bisa memberikan dua orang anak yang mungkin akan membuat dia bahagia. Gumam Ayra dalam hati. Dia selalu merasa jika suaminya itu terlalu sempurna untuk dirinya.
Sampai di ruang rawat, Ayra langsung di gendong oleh suaminya. Membuat dia berteriak dengan memukul dada suaminya itu. "Turunin aku, aku bisa jalan sendiri. Kenapa kamu harus menggendong aku segala"
"Sudah diam, kamu itu baru saja selesai melahirkan. Jadi menurut saja"
Ayra mencebikan bibirnya dengan kesal, kembali terulang lagi saat kejadian Ayra yang baru saja melahirkan Alerio saat itu. Aiden yang semakin overprotektive pada Ayra yang habis melahirkan. Bahkan Aiden selalu menyuruh Ayra untuk selalu berada di dalam kamar dan tidak boleh keluar dari kamar.
Memang kelakukan AIden ini terlalu berlebihan, tapi mau bagaimana lagi karena beginliah suaminya yang harus Ayra maklumi. Sikap posesif Aiden yang selalu terlihat berlebihan. Tapi mungkin memang ini yang biasa dia tunjukan dan memang ini cara Aiden menunjukan cintanya pada Ayra.
Sore hari, Ayra sudah bisa pulang ke rumah. Dan setelah sampai di rumah sikap posesif suaminya masih tetap sama.
"Rasanya aneh ya, pulang ke rumah pas habis melahirkan tapi tidak membawa bayinya"
Mama yang ikut menjemput Ayra ke rumah sakit bersama dengan Saqila, mengelus lengan Ayra dengan lembut. "Nanti kalau bayi kamu sudah stabil, dia pasti langsung diizinkan pulang oleh Dokter"
"Iya Ma, makasih ya karena sudah mau menjemput aku"
"Baik Ma"
Dan setelah Mama pergi, saat ini Ayra hanya terdiam saja diatas tempat tidur dengan helaan nafas panjang. Ayra sangat merindukan Ibunya, dia bahkan belum pernah menggendong cucunya sendiri karena keburu meninggal dunia.
Semoga Ibu bisa merasakan dan melihat kebahagiaan Ayra disini ya Bu. Aku merasa bangga menjadi anak Ibu. Tidak peduli bagaimana kisah Ibu dan Papa di masa lalu. Tapi aku akan tetap merasa bangga dibesarkan oleh Ibu.
Ayra mengusap air matanya yang meluncur begitu saja di pipinya. Dia menatap foto Ibunya yang dia simpan di dalam laci nakas. Sebuah foto kecil yang sudah usang itu, menyimpan banyak memori indah dalam hidup Ayra.
Aiden yang baru keluar dari kamar mandi, terdiam saat melihat istrinya yang sedang duduk menyandar diatas tempat tidur dengan sebuah foto dtangannya, Ketika Aiden duduk di samping Ayra, dia baru tahu foto apa yang sedang di lihat oleh istrinya itu.
"Sayang, kamu pasti merindukan Ibu kamu ya" Aiden meraih kepala Ayra dan menyandarkannya di bahunya. Mengelus kepala Ayra dengan lembut.
__ADS_1
"Tidak papa, aku hanya menyayangkan karena Ibu tidak pernah sekali pun menggendong cucunya sendiri"
Aiden mengecup puncak kepala istrinya itu, di tidak akan pernah membiarkan istrinya sedih berkepanjangan. "Kamu harus yakin kalau Ibu juga pasti akan melihat dari sana bagaimana kamu bahagia sekarang. Jadi, kamu tidak perlu bersedih lagi"
"Iya Sayang, terima kasih ya karena kamu sudah memberikan kebahagiaan ini untuk aku"
######
Akhirnya setelah dua minggu di rawat di rumah sakit, hari ini baby Aureliya sudah bisa di bawa pulang. Ayra dan Aiden menjemputnya dengan rasa bahagia. Karena pada akhirnya mereka bisa membawa anaknya untuk pulang ke rumah.
Di dalam mobil Ayra tidak berhenti tersenyum, melihat bayi mungil dalam gendongannya saat ini. Setelah dua minggu berlalu, Ayra baru bisa menggendong anaknya ini. Beberapa kali Ara mencium putri cantiknya ini.
"Sehat terus ya anaknya Bunda, sekarang kita akan bertemu dengan Abang Ale"
Seolah mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Bundanya, bayi itu meggerakan jarinya dengan pelan.
"Aurel senang bertemu dengan Bang Ale dan keluarga yang lainnya? Akhirnya ya Aurel bisa pulang ke rumah juga"
Aiden hanya tersenyum mendengar celotehan istrinya yang mengajak bayi mereka itu. Bagaimana Aiden yang sangat bahagia hari ini karena bisa melihat anak dan istrinya juga sehat dan bahagia.
Ketika sampai di rumah, semua anggota keluarga langsung berebut untuk menggendong Aurel. Menunggu bagian mereka untuk bisa menggendong Aurel.
"Manis dan cantik sekali seperti kamu, Ay" kata Saqila yang saat ini sedang kebagian untuk menggendong Aurel.
Ayra hanya tersenyum, dia sedang memangku Alerio yang tiiba-tiba sangat rewel dan ingin terus bersama dengan Ibunya. Mungkin Alerio sedang merasa takut tersaingi dengan hadirnya baby Aureliya.
"Abang kenapa? Kok tiba-tiba rewel Nak? BIasanya juga anteng sama Mbak" tanya Mami yang mulai membiasakan memanggil Alerio dengan sebutan Abang.
"Mungkin Alerio sedang merasa tersaingi Mam. Maklumlah, dia masih kecil tapi sudah mempunyai adik"
__ADS_1
Mami mengangguk mengerti, memang begitu kalau anak yang masih kecil dan mempunyai adik lagi.
Bersambung