
Ini adalah kehamilan kedua, tapi entah kenapa Ayra malah merasa mempunyai kesempatan untuk bisa lebih manja pada suaminya. Karena di masa lalu, Ayra masih terlalu canggung untuk bermanja dengan suaminya sendiri. Ya, semuanya karena Ayra yang hanya menikah untuk melahirkan anak saja untuk auaminya pada awalnya.
Jadi Ayra tidak berpikir jika akhirnya akan seperti ini. Saat itu Ayra sedang tidak bisa menjadikan kehamilannya untuk bisa bermanja pada suaminya, karena yang ada di pikiran Ayra hanya dirinya yang jadi yang kedua dan masih ada yang lebih berhak atas Aiden.
Dan saat ini ketika dia diberikan kesempatan untuk kembali mengandung, dia jadikan kesempatan untuk bisa bermanja pada suaminya dan memanfaatkan setiap keadaan yang bisa membuat Aiden menurutinya karena alasan dia yang sedang hamil.
"Jangan aneh-aneh kamu, kenapa mau memakai kemeja aku?"
Aiden benar-benar terkejut ketika dia pulang dari rumah dan melihat istrinya yang sedang duduk diatas sofa dengan menggunakan kemeja miliknya. Terlihat kemeja itu sangat kebesaran ditubuh Ayra, panjangnya saja sampai ke pahanya. Tidak biasanya Ayra menggunakan pakaian miliknya dan ini baru pertama kali.
"Kenapa si Sayang, kan aku pengen pake baju kamu aja gak boleh"
Aiden berjalan menghampiri istrinya itu, duduk disampingnya. "Bukan gak boleh, tapi gimana kalau ada yang masuk ke kamar ini dan melihat kamu yang sedang pakai baju ini. Tuh paha kamu terlihat jelas, dan aku tidak mau ada yang melihat keindahan tubuh kamu ini"
"Tidak kok, tidak ada yang masuk dan aku juga tidak mungkin keluar kamar dengan menggunakan baju seperti ini"
Aiden menghela nafas pelan, sepertinya memang istrinya ini sangat ingin memakai kemeja miliknya. "Yaudah, tapi jangan berani keluar kamar dengan menggunakan ini"
"Iya Sayang, aku tidak akan melakukan itu. Oh ya, kamu mau mandi dulu? Biar aku siapkan airnya"
Ayra berdiri dan tidak sengaja ponselnya jatuh dari atas pangkuannya, dia membungkuk dan mengambil ponsel miliknya diatas lantai. Namun apa yang di lakukan Ayra itu malah membuat Aiden yang berada tepat di belakangnya langsung menelan ludah kasar. Kemeja miliknya yang di pakai Ayra naik ke atas saat dia membungkukan tubuhnya. Tentu saja sesuatu dibalik celana pendek itu membuat Aiden berpikir kemana-mana.
"Sayang, apa kamu sedang mencoba menggodaku?"
Ayra berdiri dan menoleh pada suaminya dengan bingung. "Menggoda apanya? Aku sedang tidak melakukan apa-apa"
__ADS_1
"Sudahlah, aku akan mandi sendiri saja. Tidak usah kamu siapkan air untuk aku mandi"
Aiden segera berlalu ke ruang ganti, dia harus mengguyur tubuhnya untuk meredakan hawa panas yang tiba-tiba menyerang tubuhnya.Aiden masih belum berani melakukannya pada Ayra sebelum dia berkonsultasi dengan Dokter. Takut jika dia akan melukai bayinya dan istrinya itu. Apalagi saat mengetahui jika istrinya sempat mengalami flek sebelum dia mengetahui jika dirinya hamil. Aiden semakin waspada dengan itu. Menjaga kesehatan istri dan anaknya.
Ayra hanya menggeleng pelan melihat kelakuan suaminya itu. Dia tidak tahu dan tidak mengerti kenapa suaminya bertingkah seperti itu barusan.
Selesai mandi, Aiden kembali ke kamar dengan wajah yang lebih segar. Dia naik ke atas tempat tidur dan memeluk istrinya. "Sudah makan?"
Ayra mengangguk, dia mengelus kepala suaminya yang berada diatas dadanya itu. "Sudah, kamu sudah makan? Kok pulangnya larut sekarang?"
"Iya, lagi ada banyak berkas yang harus aku periksa. Aku belum makan sebenarnya, tapi emang tidak lapar juga"
"Makan dulu ya, nanti kamu sakit loh kalau mengabaikan waktu makan. Kalau kamu sakit, siapa dong yang bakal manjain aku nanti"
Aiden terkekeh mendengar ucapan istrinya itu. Memang sejak hamil anak kedua mereka, entah kenapa Ayra jadi semakin manja. Mungkin memang hormon kehamilan, tapi saat kehamilan pertama Ayra sama sekali tidak manja. Bahkan dia sering berangkat dan pulang kuliah menggunakan taksi online, ketika Aiden tidak bisa menjemputnya.Tapi sekarang Ayra benar-benar menjadi sosok istri yang manja.
"Yaudah, aku makan dulu"
"Ayo biar aku temani"
Aiden langsung melirik tajam istrinya yang sudah siap menurunkan kedua kakinya keatas lantai. "Jangan macam-macam kamu! Pakai baju seperti itu dan mau keluar kamar? Ingin menunjukan tubuh kamu pada siapa, hah?!"
Ayra tersenyum masam, dia baru ingat jika saat ini dia sedang memakai kemeja milik suaminya yang terlihat sangat seksi itu. "Yaudah, aku di kamar saja. Boleh minta tolong gak? Aku ingin buah apel"
"Iya, nanti aku bawakan kesini"
__ADS_1
Ayra tidak jadi ikut menemani suaminya ke lantai bawah untuk makan malam yang sebenarnya cukup terlambat ini. Ayra mengelus perutnya dengan senyuman bahagia di bibirnya.
"Sayang, sehat-sehat ya di dalam perut Bunda. Nanti kita akan ketemu, bersama dengan Kakak kamu juga"
Rasanya Ayra sudah tidak sabar untuk melihat dan mendengar anak keduanya ini memanggil Alerio dengan sebutan Kakak.
"Kira-kira Alerio lebih bagus di panggil Kakak, atau Abang ya? Ihh gemes deh kalau nanti anak aku udah lahir terus manggil Ale dengan sebutan itu"
Beberapa saat berlalu, Aiden kembali dengan membawa pesanan Ayra itu. Buah apel yang sudah di kupas dan di potong kecil-keci. Aiden naik ke atas tempat tidur dan menyuapi istrinya buah apel yang dia bawa.
"Enak?"
Ayra mengangguk, dia kembali membuka mulut dan Aiden segera menyuapinya sepotong buah apel.
"Yang kayak gini baru makanan Ibu hamil, bukannya malah beli yang aneh-aneh dengar rasa pedas"
Ayra hanya terkekeh saja mendengar itu. Memang sudah beberapa hari ini dia hanya membeli makanan yang pedas, meski sebenarnya pedasnya juga hanya sedikit hampir tidak terasa. Karena suaminya sudah memberikan peringatan jika dia tidak boleh makan makanan yang terlalu pedas. Ayra hamil, maka Aiden juga akan semakin posesif.
"Sayang, besok jadwal pemeriksaan. Kamu bisa temani aku?"
"Aku akan menemani kamu, tenang saja. Karena aku akan selalu menyempatkan waktu jika itu memang tentang kamu dan kehamilanmu"
Ayra tersenyum dan memeluk suaminya dengan erat. "Terima kasih Sayang, karena selalu ada untukku"
Aiden mengecup kepala istrinya itu dengan lembut. "Apapun akan aku lakukan asal kamu dan anak-anak kita nanti bahagia"
__ADS_1
Ayra tersenyum dalam pelukan suaminya itu, tidak pernah menyangka jika suaminya akan seperti saat sekarang, ketika Ayra mengingat bagaimana sikap Aiden di masa lalu yang sangat dingin dan tegas itu. Tapi sekarang telah berubah menjadi Aiden yang manja dan penyayang.
Bersambung