Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Pertengkaran Part 2#


__ADS_3

Aiden mengusap wajah kasar ketika melihat istrinya yang berlalu ke ruang ganti dengan kekesalannya. Aiden duduk diatas sofa dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Hari ini adalah pertengkaran pertama yang cukup besar diantara mereka setelah mereka menikah selama ini.


Sementara di dalam ruang ganti, Ayra menyandar pada dinding dengan tangan yang memegangi dadanya yang terasa sesak karena menahan tangis sejak tadi. Ayra benar-benar kecewa pada suaminya yang menganggap Ayra seperti ini hanya karena rasa cemburu yang berlebihan, padahal kenyataanya dia hanya kecewa pada suaminya yang seolah tidak punya waktu sedikit pun untuk memberi kabar pada Ayra tentang dirinya yang tidak bisa datang.


Ayra berendam di dalam bak mandi dengan tangisan yang pecah. Dia sengaja menyalakan shower agar menyamarkan suara tangisannya.


"Dia benar-benar hanya memikirkan jika aku ini cemburu berlebihan sampai tiadk mempunyai rasa empati sedikit pun pada Ghea yang kecelakaan. Sementara dirinya saja tidak menyadari jika dia telah mengabaikan aku. Bahkan pesan dan telepon dariku saja dia tidak merespon sedikit pun"


Ayra benar-benar menangis sesenggukan mengingat kejadian barusan. Pertengkarannya dengan Aiden. Hampir satu jam Ayra hanya berendam  di dalam  bak mandi. Hinggaair  yang awalnya angat, kini sudah berubah menjadi dingin.


Aiden masuk ke dalam ruang ganti ketika menyadari jika istrinya tidak keluar dari sana sudah cukup lama. Aiden mulai merasa khawatir dengan keadaan strinya, Dan saat dia masuk, tepat sekali karena Ayra baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju handuk dan tubuhnya terlihat menggigil.


Ayra melewati Aiden begitu saja, dia tidak ingin berbicara apapun pada suaminya untuk saat ini.


"Kau berendam terlalu lama, tubuhmu sampai menggigil begitu. Kalau kau sakit bagaimana?" Aiden menyusul Ayra yang sedang memilih pakaian di lemarinya.


"Tidak usah pedulikn aku, bukannya aku tidak berarti apapun bagimu. Yang terpenting bagimu  hanya Ghea"


"Ya ampun Ayra, kenapa masih membahas itu. Kau tahu sendiri jika aku hanya membantunya yang sedang dalam kesulitan. Kenapa kau tidak merasa peduli sedikit pun"


Ayra tidak menjawab, dia memakai bajunya di depan Aiden. Selesai memakai baju, Ayra segera keluar dari ruang ganti tanpa menghiraukan keberadaan suaminya.


Aiden langsung menyusul Ayra dan menahan tangan istrinya yang sudah memutar handel pintu kamar. "KIta harus selesaikan semuanya sekarang"


Ayra menepis lengan suaminya dengan kasar. Hl itu tentu saja membuat Aiden kesal dan marah atas apa yang dilakukan suaminya barusan. Ayra berbalik dan menatap suaminya dengan lekat.

__ADS_1


"Apa yang harus diselesaikan lagi? Sudah jelas kau lebih mementingkan sahabat masa kecilmu itu dari pada aku yang menjadi istrimu"


"Apa maksudmu? Oh, ayolah Sayang, aku hanya membantu Ghea karena memang dia sedang berada dalam kesulitan. Kenapa kamu begitu membeesar-besarkan masalah itu"


"Bukan itu yang aku besar-besarkan..." Ayra menatap Aiden dengan mata berkaca-kaca. "...Aku hanya heran saja, apa kamu tidak bisa menghubungiku sebentar saja atau membalas pesanku dan mengatakan jika kau sedang ada masalah dan tidak bisa datang. Mungkin aku tidak akan jadi datang ke acara  Reuni itu, karena semuanya juga tidak pernah mengharapkan aku datang dan aku juga tidak ingin datang jika bukan kamu yang memaksanya"


Deg..


Aiden terdiam mendengar ucapan istrinya itu, ternyata dia memang salah menduga kenapa istrinya sampai marah hanya karena dirinya yang menolong Ghea yang sedang mengalami kecelakaan.


"Sayang maaf karena aku tidak memberi kamu kabar tadi" Aiden mencoba meraih tangan Ayra, namun istrinya langsung menepis tangannya.


Ayra memalingkan wajahnya dan mengusap air mata yang menetes begitu saja di pipinya. "Aku tahu jika kamu memang memperdulikan Ghea seperti saudaramu sendiri. Tapi apa kamu tidak memiliki waktu satu menit saja hanya untuk mengirim pesan padaku dan mengabari aku tentang apa yang terjadi padamu. Mungkin aku tidak jadi datang ke acara Reuni itu dan tidak akan membuat diriku malu dan kembali ke masa lalu yang selalu menyakitkan. Aku tidak mungkin merasakan bullyan itu lagi jika aku tidak hadir disana"


Aiden terdiam mendengar ucapan istrinya barusan. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang diinginkan istrinya dan apa yang membuat istrinya itu marah padanya. Aiden telah salah faham dan membuat Ayra bersedih dan kecewa padanya.


Kali ini Ayra tidak menepis tangan Aiden yang meraih tangannya. Dia membiarkan suaminya menggenggm tangannya. "Aku bukannya tidak peduli pada teman kamu itu. Tapi aku hanya bingung kenapa kamu sampai segitunya dan bahkan tidak mempunyai waktu untuk membalas pesan atau sekedar mengangkat teleponku"


Aiden mengecup punggung tangan Ayra beberapa kali. Dia jelas sekali melihat wajah kecewa Ayra padanya. Dan itu benar-benar membuat hatinya tersayat. "Iya Sayang maaf, aku benar-benar minta maaf karena sudah membuat kamu kecewa. Maaf karena sudah membuat kamu mengalami hal buruk hari ini karena datang ke acara Reuni itu. Maaf"


"Sudahlah, aku ngantuk dan ingin tidur"


Ayra melepaskan tangan Aiden yang masih menggenggam tangannya. Dia berjalan ke arah tempat tidur dan naik ke atas sana. Merebahkan tubuhnya dengan selimut yang menutupi tubuhnya itu. Melihat itu, Aiden juga langsung menyusul istrinya untuk naik ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh istrinya yang tertutup oleh selimut tebal itu. Memeluk tanpa membuka selimut yang dipakai istrinya.


"Sayang sudah dong jangan marah lagi"

__ADS_1


Ayra hanya berdehem pelan, dan berpura-pura sudah tidur. Padahal dia belum tidur dan mencoba untuk menenangkan hati dan fikirannya dulu. Karena terus berdebat dengan suaminya pun tidak ada gunanya.


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


Pagi ini Ayra terbangun dengan dirinya yang masih berada di pelukan Aiden. Meski sedang marah, tetap saja jika sudah terlelap pasti akan membuat dirinya dengan sendirinya memeluk suaminya. Karena pelukan Aiden adalah yang paling ternyaman bagi Ayra.


Ayra menatap wajah suaminya yang terlelap, ketika tangannya yang ingin menyentuh wajah tampan itu. Tapi terhenti saat ponsel Aiden bergetar di atas nakas. Ayra berbalik dan meraih ponsel suaminya. Hanya sebuah pesan yang masuk ke dalam ponsel suaminya itu.


Ghea


Aiden, bisa datang ke rumah sakit sekarang? Aku kesepian dan butuh bantuanmu.


Ayra menoleh sekilas pada suaminya yang masih terlelap. "Dia bilang kesepian? Bukannya rumah sakit selalu ramai dengan orang-orang sakit ya"


Ayra kesal juga melihat pesan dari Ghea ini. Akhirnya dia membalas pesan itu.


Maaf, suamiku masih tdiur. Dia kelelahan karena kejadian semalam denganku.


Ayra menghapus pesan itu setelah memastikan jika Ghea sudah membacanya. Wanita itu tidak akan berani membalas lagi karena tahu jika Ayra yang membalas pesannya. Bukan Aiden.


Ayra membalikan kembali tubuhnya menghadap Aiden setelah dia menyimpan kembali ponsel di atas nakas. "Awas saja kalau sampai ada yang berani menggoda suamiku. Aku tidak akan tinggal diam, aku tidak mau jika kebahagiaan Alerio juga harus rusak karena rumah tangga orang tuanya hancur"


Sementara di dalam ruangan rawat inap di sebuah rumah sakit. Ghea menatap ponselnya dengan tangan mengepal erat.


"Apa maksudnya kejadian semalam? Apa dia ingin memanas-manasi aku"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2