Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Harus Menentukan Pilihan


__ADS_3

Ayra terdiam saat pagi ini dia hanya sarapan seorang diri. Aiden memang masih di rumah Saqila dua hari ini. Jika biasanya di malam hari dia suka menelepon Ayra jika sedang di rumah Saqila, tapi hari ini hal itu tidak terjadi. Ayra tersenyum miris dengan hidupnya ini. Ternyata perhatian Aiden hanya selama Ayra menjadi istri penurut dan tidak membuatnya kesal. Karena hal kemarin yang membuat Aiden kesal dan akhirnya pria itu menjadi acuh pada Ayra. Tapi seharusnya Ayra senang karena memang ini yang dia inginkan, biarkan Aiden kembali pada Aiden yang dulu, tidak peduli pada Ayra lagi. Biarkan Ayra menjalani kehidupannya sekarang tanpa rasa takut kehilangan Aiden.


Ayra berdiri dari duduknya, sarapannya tidak habis. Tapi Ayra sudah merasa tidak berselera lagi. Dia mengambil tas ranselnya, dan beberapa buku lalu keluar dari apartemen. Pagi ini dia kembali berangkat dengan taxi online. Turun ke lobby, Ayra terdiam saat melihat mobil yang terparkir di depaj lobby apartemen. Jelas dia hapal mobil itu.


"Selamat pagi Sayang, maaf ya kemarin gak sempat jemput" Aiden keluar dari mobil dan menghampiri Ayra dengan wajah cerah. Memeluk istrinya dan menciumi seluruh bagian wajahnya.


Ayra mematung, kenapa Aiden bisa datang tanpa memberinya kabar apapun. Ayra bahkan tidak mengerti dengan sikap suaminya satu ini. Terkadang terlihat dingin dan tidak peduli, tapi sekarang dia terlihat sangat peduli dan penuh perhatian.


"Ayo berangkat, mau kuliah 'kan. Biar aku antar"


Aiden menuntun Ayra menuju mobilnya, dia sama sekali tidak peduli saat ada beberapa keamanan yang melihat adegannya barusan. Mereka sampai merasa sangat terkejut melihat Tuan Aiden yang begitu romantis pada wanita yang tentu mereka ketahui jika itu bukan istrinya. Namun, lagi-lagi kenyataan Aiden yang seorang pengusaha ternama membuat mereka tidak akan berani mengungkit tentang itu ataupun mempertanyakannya. Hanya bisa acuh dan pura-pura tidak melihat apapun disana.


Aiden membukakan pintu mobilnya, tapi Ayra masih tidak juga masuk membuatnya menoleh dan menatap bingung pada istrinya. Aiden sudah siap marah jika Ayra lagi-lagi menolak untuk di antar.


"Taxi online ku sudah datang, Sayang. Bagaimana ini?" Ayra menatap sebuah mobil yang berhenti di pinggir jalan. Dia panik sendiri karena sudah tidak mungkin membatalkan orderan taxi onliennya. Ayra malah bingung harus bagaimana.


Aiden menatap ke arah tatapan Ayra melihat. Aiden terkekeh melihat wajah Ayra yang menggemaskan. "Sudah kamu tunggu disini sebentar"


Ayra malah bingung sendiri saat melihat suaminya berjalan menghampiri mobil di pinggir jalan sana. Aiden terlihat berbicara sebentar lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya. Setelah itu mobil taxi online yang Ayra pesan langsung melaju. Ayra bingung dan terkejut. Aiden berjalan kembali ke arahnya.


"Itu kok pergi taxi online nya"


Aiden mengelus kepala istrinya sambil tersenyum. "Sudah aku bayar dan kasih tip yang lumayan, langsung pergi dia"


Ayra melongo mendnegar apa yang di ucapkan Aiden. Memang uang masih berada di atas segalanya. Ayra pun masuk ke dalam mobil di ikuti Aiden.

__ADS_1


"Beneran kamu bayar?"


Aiden melajukan mobilnya meninggalkan kawasan apartemen. "Iya Sayang, emangnya dia bakalan mau pergi kalau aku tidak membayarnya?"


"Iya juga si, yaudah deh kalau udah kamu bayar. Kasihan juga soalnya kalau dia aku batalin, udah sampai juga"


"Lagian kamu kenapa gak telepon aku, malah pesan taxi online"


"Kan kamu juga gak telepon aku, gak bilang juga kalau mau kesini jemput aku" kata Ayra dengan wajah menunduk.


Aiden menghela nafas, dia mengelus kepala istrinya. "Sayang, maaf kalau aku gak sempat hubungi kamu semalam. Aku banyak pekerjaan, jadi pas pulang ke rumah juga langsung mengerjakan pekerjaan yang belum terselesaikan di kantor"


"Iya aku tahu, tapi 'kan..." Gak Ayra, jangan memberi hatimu terus harapan yang besar. Biarkan seperti ini saja.


"Tapi apa?"


Aiden melirik Ayra dengan nakal. "Kenapa? Apa kamu merindukan sentuhanku?"


Ayra langsung memukul lengan Aiden, yang tangannya di pukul malah tertawa senang karena merasa berhasil menggoda istrinya. "Aku pengen tidur sama kamu, karena aku selalu merindukanmu"


Ayra menunduk dengan wajah memerah, selalu saja hatinya berdebar senang saat Aiden mengatakan kata-kata seperti itu. Ayra selalu merasa jika suaminya benar-benar mencintainya. Dengan setiap perhatian dan kata-kata rindu yang dia ucapkan. Tapi Sayang, Ayra tetap tidak bisa terlalu terbuai dengan itu. Aiden tetap akan menjadi milik Saqila, tidak akan pernah menjadi miliknya.


"Aku pulang agak sore hari ini, ada kelas tambahan?"


Aiden langsung menyipitkan matanya menatap Ayra, mobil baru saja berhenti di tempat biasa dia mengantarkan istrinya. "Kau mau kemana? Mau bohong apalagi?"

__ADS_1


Aiden trauma dengan alasan ini, dulu saja Ayra memakai alasan ini saat ingin memeriksa kandungannya ke dokter. Lalu, sekarang apalagi yang akan dia sembunyikan dari Aiden?


"Beneran Sayang, aku emang ada kelas tambahan..." Ayra merogoh ponselnya di dalam tas, membuka chat di grup mahasiswa. Ada chat dari Dosen disana dan menunjukan pada Aiden. "..Nih kamu lihat sendiri kalau tidak percaya"


Aiden mengambil ponsel Ayra dan membaca chat dari Dosen Ayra yang masuk di grup mahasiswa. "Emm. Baiklah, awas saja kalau kau sampai berbohong"


Ayra tersenyum, dia mengelus pipi Aiden dengan lembut. "Tidak akan, yaudah aku pergi kuliah dulu ya. Kamu hati-hati berangkat ke kantornya"


Setelah mencium punggung tangan suaminya, Ayra turun dari mobil dan berjalan menuju kawasan kampus. Sementara Aiden kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan.


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


"Bagaimana?" Aiden bertanya tidak sabar pada Rega saat asistennya itu masuk ke dalam ruangannya. Rega menunjukan sebuah rekaman cctv di ponsel canggihnya.


"Ini adalah cctv bagian lobby apartemen, ternyata Nyonya Saqila sudah beberapa kali menemui Ayra secara diam-diam. Lalu membawanya ke dalam mobil dan pergi dari sana. Aku belum menemukan kemana mereka pergi"


Tangan Aiden mengepal erat di atas meja kerjanya. Dia tahu sekarang kenapa Ayra berubah sikap akhir-akhir ini. Dan alasannya ada di Saqila. Sungguh Aiden tidak menyangka jika Saqila akan berbuat seperti ini. Dia yang berjanji akak bersikap baik pada Ayra, ternyata malah seperti ini di belakang Aiden.


"Kirimkan rekaman itu pada ponselku. Tidak perlu mencari tahunya lagi, biar aku saja yang langsung bicara pada mereka"


Rega mengangguk, lalu dia segera mengirimkan rekaman cctv pada nomor ponsel Aiden. "Baik"


Setelah Rega keluar dari ruangannya, Aiden merenung. Memikirkan apa yang telah terjadi di antara Ayra dan Saqila di belakangnya. Aiden memijat pelipisnya, merasa sangat pusing dengan semua masalah yang dia hadapi. Seolah dia benar-benar harus menentukan pilihan. Tapi, rasanya masih sangat sulit karena Saqila juga tidak mungkin mau mengalah. Tapi Aiden juga tetap ingin bersama Ayra. Saat ini Aiden hanya sedang menunggu waktu sampai bayi Ayra lahir, dan dia akan menjatuhkan pilihannya.


Bersambung

__ADS_1


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5


__ADS_2