Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Trauma Ayra#


__ADS_3

Tidak ada suami yang tidak sakit ketika melihat istrinya sendiri tidak mengenalinya seperti ini. Bahkan Ayra selalu terlihat takut ketika Aiden mendekatinya.


"Sepertinya aku memang harus pergi, karena tidak mungkin aku terus berada disini. Karena Ayra akan terus merasa jika kita masih suami istri" kata Saqila pada Aiden saat ini.


"Mama dan Papa juga sepertinya harus pergi dulu dari rumah ini. Membiarkan Ayra sendiri dan tidak bingung dengan keadaan ini" Mama ikut menimpali ucapan putrinya itu.


"Baiklah, memang sepertinya harus seperti itu"


Dan hari ini benar-benar hanya ada Aiden dan kedua orang tuanya. Merasa jika Ayra selalu tidak nyaman ketika ada Saqila dan kedua orang tuanya di rumah ini. Semua itu karena Ayra yang kehilangan sebagian ingatannya. Membuat dia merasa tidak nyaman ketika melihat Saqila. Karena dalam ingatan Ayra, Saqila masih menjadi istrinya Aiden.


Ayra terdiam ketika lagi-lagi Alerio yang terus memanggilnya Bunda dan selalu ingin Ayra menggendongnya. Namun Ayra tidak menolaknya, karena memang dia merasa senang ketika bersama Alerio. Meski dia masih merasa ragu ketika mengingat jika dirinya telah mempunyai seorang anak. Padahal yang dia ingat, sampai saat ini dirinya belum menikah dan sekarang malah mempunyai anak laki-laki berusia 2 tahun.


"Ale, apa benar jika aku ingin adalah Bunda kamu? Kenapa aku tidak mengingat apapun ya. Bagaimana aku tidak mengingat apapun dan kenapa aku bisa menikah dengan Tuan Aiden"


Ayra mengelus kepala anaknya dengan memberikan kecupan di puncak kepalanya. Alerio duduk dengan nyaman dia atas pangkuan Ayra. Dan Ayra juga merasa nyaman memangku anak ini.


"Aku hanya ingin tahu apa benar aku ini sedang hilang ingatan? Karena aku tidak merasa melupakan apapun"


Ayra hanya merasa bingung dan tidak mengerti dengan keadaan saat ini. Tentang Aiden yang mengaku sebagai suaminya dan Alerio yang katanya adalah anaknya. Tapi, Ayra sama sekali tidak mengingat tentang pernikahan yang pernah terjadi diantara dirinya dan Aiden.


"Say..." Hampir saja Aiden kembali menyebut Ayra dengan panggilan sayang. Dia sudah terlalu terbiasa dengan panggilan itu pada Ayra. Namun, rasanya saat ini dia merasa harus mengubah panggilannya membuat dia merasa tidak nyaman. Tapi apa boleh buat, Aiden harus tetap seperti ini jika ingin Ayra tetap nyaman berada bersama dengan dirinya di saat ingatannya belum pulih.


"Ayra, ayo kita pergi. Kamu harus chek up sekarang"


Ayra mengangguk, dia memang sudah siap dan hanya menunggu Aiden untuk mengantarnya ke Dokter. "Tapi Alerio bagaimana?"

__ADS_1


Aiden menatap Alerio yang masih menempel pada Ibunya. Sudah pasti jika Alerio merasakan ikatan batin yang kuat dengan Ibunya itu. Meski Ayra tidak benar-benar ingat pada Alerio. Namun setidaknya kehadiran Alerio telah membuat Ayra sedikit bisa mempercayai ucapan Aiden jika dirinya telah menikah dan mempunyai seorang anak.


"Mbak, tolong dijaga dulu Alerio. Kami akan ke rumah sakit dulu"


"Baik Tuan"


Pengasuhnya Alerio langsung mengambil alih Alerio dari atas pangkuan Ayra. Meski ALerio sedikit merengek karena tidak mau berjauhan dengan Ibunya. Namun pada akhirnya pengasuhnya bisa menenangkan anak itu dengan memberinya mainan.


Saat ini Ayra sudah berada di dalam mobil suaminya. Dia menghembuskan nafas pelan, mengingat jika hal ini tidak asing baginya. Naik kendaraan bersama Aiden. Entah kenapa ada suara-suara benturan keras yang tiba-tiba terdengar sangat nyaring ditelinganya.


Tubuh Ayra tiba-tiba bergetar hebat ketika melihat beberapa mobil yang berseliweran di jalanan. Ada sebuah bayangan dimana sebuah mobil yang di tabrak mobil lainnya dengan sangat kencang hingga mobil yang ditabrak itu berguling. Jeritan orang-orang juga terdengar begitu nyaring di telinga Ayra hingga telinganya berdenging sakit.


"Arghhh" Ayra berterak kencang dengan tangan memegangi telinganya yang teras sakit. Kepalanya juga mulai terasa sakit ketika bayangan-bayangan hitam itu terus berputar diingatannya seperti kaset rusak.


"Ayra, kamu kenapa?" Aiden tentu langsung panik ketika mendengar teriakan Ayra.


"Ayra, Sayang tenang dulu. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit, kamu tahan dulu ya"


Aiden semakin menginjak pedal gas cukup dalam. Dia sangat panik ketika melihat Ayra yang berteriak kesakitan. Aiden tik bisa melihat sang istri kesakitan seperti itu. Membuat dirinya panik saja.


Sampai di   rumah sakit, Aiden segera menggendong Ayra dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit. Berteriak memanggil Dokter hingga beberapa perawat langsung membawakan brankar pasien untuk Ayra.


Aiden hanya bisa menunggu dengan cemas di kursi tunggu depan ruang pemeriksaan itu. Ayra masih berada di dalam sana dan Aiden juga tidak tahu bagaimana keadaannya. Hingga beberapa menit kemudian, Dokter keluar dari dalam ruangan membuat Aiden langsung berdiri dan menghampiri Dokter dengan segera untuk menanyakan keadaan istrinya.


"Sepertinya Nona tengah mengalami trauma psikis juga akibat kecelakaan itu. Dia bilang jika dia melihat sebuah kecelakaan yang cukup parah, hingga mobilnya terguling. Dan ingatan yang mulai muncul ini akan membuat Nona merasakan sakit di kepalanya..."

__ADS_1


"...Karena memang cedera d kepala Nona Ayra cukup parah, hingga membuat kepalanya terasa sakit ketika ingatan-ingatan yang hilang mulai bermunculan. Tapi hal ini sangat wajar terjadi, dan perkembangan Nona juga cukup baik sekarang. Dia sudah mulai menunjukkan ke-stabilan ingatannya yang hilang"


Mendengar itu, Aiden merasa cukup lega dan juga cemas. Karena mungkin setiap ingatan Ayra yang mulai bermunculan, maka Ayra akan merasakan sakit. Dan Aiden paling tidak bisa melihat Ayranya terluka dan sakit.


"Saya akan memberikan obat pereda nyeri ketika sakit di kepala Nona kembali datang. Semoga saja Nona akan segera mengingat semuanya, karena sejauh ini perkembangan Nona juga sangat bagus"


Aiden mengangguk saja, mendengar penjelasan Dokter. Setelah Dokter pergi, Aiden segera masuk ke dalam ruangan Ayra dan melihat keadaan istrinys itu. Aiden berjalan perlahan ke arah ranjang pasien, dimana Ayyra terbaring lemah diatas sana.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?"


Nyatanya Aiden tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak memanggil Ayra dengan panggilan seperti itu. Karena panggilan sayang adalah panggilan ternyaman Aiden pada Ayra.


Ayra menatap Aiden, lalu dia menggeleng pelan menjawab pertanyaan Aiden barusan. Ayra tidak bisa banyak bicara sekarang, karena dia juga masih sangat terkejut dengan bayangan hitam yang cukup jelas tadi. Sebuah kecelakaan yang parah membuat Ayra merasa takut sendiri.


"Aku ingin pulan" lirihnya


Aiden tersenyum sambil mengelus kepala Ayra dengan lembut. " Sebentar ya, kamu masih shock. Jadi Dokter belum mengizinkan kamu pulang"


Ayra menghela nafas pelan, meski dia memang sanga ingin pulang. Tapi Ayra juga tidak bisa memaksa.


Dan setelah dipastikan jika keadaan Ayra baik-baik saja. Barulah dia diizinkan pulang. Di dalam mobil Ayra hanya diam dengan memejamkan matanya. Dia mencoba menghilangkan rasa takutnya ketika dia melihat banyaknya mobil yang berseliweran di jalanan. Ayra memilih memejamkan mata, karena dia takut jika bayangan menakutkan seperti tadi kembali hadir dalam ingatannya.


"Tidur saja, nanti kalau sudah sampai biar aku bangunkan" Aiden mengelus lembut kepala Ayra hingga ke pipinya.


Dan setiap kali Aiden melakukan hal-hal seperti ini, maka selalu ada debaran aneh dihati Ayra yang dia sendiri tidak tahu apa artinya itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2