
...Munculnya jurang pemisah cinta Mayang dan Radhif (Bagian ketiga)...
...----Rumah sakit M, pusat kota Malang---...
Sepenggal part sebelumnya,
"Mayang!" panggil Bu Dian dengan lembut sembari membelai ujung rambutnya.
"Ayo, bangun, Nak. Makanlah dulu agar kondisimu segera pulih," ucap Ibu Dian.
Mayang yang memang sedari tadi terjaga, berpura-pura membuka matanya dengan perlahan. Dia tidak mau dramanya ketahuan oleh Radhif terlebih kedua orang tua Radhif.
... ---------------******---------------...
"Awh...!" rintih Mayang saat akan berusaha untuk bangun.
Mendengar Mayang merintih kesakitan secara refleks Radhif membalikan tubuhnya dan berlari ke arah Mayang. Namun, Bu Dian segera membantu Mayang sebelum Radhif mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu.
"Biar, Mami aja, Dhif. Kamu tolong ambilin tisu di meja," pinta sang mama.
"Tapi, Mam ...!" suaranya terhenti ketika sang mama mendorong lengan Radhif agar segera menuruti perintahnya.
Dengan berat hati, akhirnya Radhif menuruti apa yang diperintahkan maminya tadi.
Sebelum itu Radhif sempat melirik ke ranjang tempat Mayang berbaring. Nampak sang mama membenahi bantal agar kepala Mayang lebih tinggi dan bisa bersandar dengan nyaman.
"Mayang, bangunlah, Nak. Makanlah bubur ini, agar tenagamu bisa pulih kembali. Sebentar lagi perawat pasti akan datang memberimu obat," kata Bu Dian di sela-sela aktivitasnya menyiapkan bubur ayam untuk Mayang.
Mayang hanya terdiam. Pandangannya kosong, seakan ada sesuatu yang bersemayam di dalam benak dan fikirannya yang membuatnya merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah keluarga Pratama.
'Andai saja Kak Radhit masih ada, aku pasti tidak akan merasakan sakit seperti ini,' gumam Mayang dalam hati.
Tak terasa air mata membasahi sudut mata indahnya. Karena tidak ingin tertangkap basah sedang menagis oleh sang mertua, Mayang dengan sigap menghapus buliran bening yang telah menganak sungai di sudut matanya.
__ADS_1
Ternyata tanpa diketahui oleh Mayang, Radhif sempat melihat peristiwa tersebut. Hal itu membuat hati Radhif bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya dipendam oleh Mayang. Mengapa gadis itu terlihat begitu sedih.
'Apa semua ini karena kesalahanku? Mungkinkah Mayang masih menyalahkanku atas kejadian ini. Maafkan aku, Mayang. Aku telah membuatmu kehilangan janin dalam kandunganmu. Aku memang tidak pantas untukmu, hanya bisa membuatmu tenggelam dalam kesedihan,' sesal Radhif dalam hati.
'Apa aku harus melepasmu, agar kau bahagia bersama pria yang tepat? Aku tak sanggup membayangkan hal itu,' gumam Radhif lagi.
Tanpa sengaja tatapan matanya kini bertautan dengan Mayang. Mayang yang menyadari hal itu kemudian mengalihkan pandangannya secepat mungkin. Mayang merasa hatinya kini bimbang. Rasa yang pernah singgah di hatinya seakan mulai luntur. Yang ada hanya rasa sakit karena kehilangan buah cintanya dengan Radhit saudara kembar Kak Radhif.
"Mam, ini tisunya. Biar Radhif aja yang lanjut menyuapi Mayang. Mami dan Papi pulang aja ke tempat peristirahatan. Aku lihat papi udah lelah," ucap Radhif kepada sang mama.
Sebenarnya Bu Dian membenarkan ucapan Radhif. Akan tetapi, ada hal penting yang hendak disampaikannya kepada Radhif. Hal itu berhubungan dengan pernikahan Mayang dan Radhif. Bu Dian berfikir bila pernikahan mereka harus di akhiri, karena sejak awal pernikahan itu hanya untuk menutupi keadaan Mayang yang tengah mengandung anak dari mendiang Radhit. Sedangkan kini bayi yang di kandung Mayang telah meninggal dunia sebelum lahir. Bu Dian ingin agar Radhif melanjutkan perjodohan dengan anak dari sahabatnya yang kini bekerja sebagai dokter anak di rumah sakit. Dan kebetulan rumah sakit itu adalah tempat di mana Mayang kini di rawat.
"Biar Mami aja, Dhif. Kamu makan dulu pizza yang udah Mami beli tadi," ucap Bu Dian pada anak kesayangannya itu.
"Radhif masih kenyang, Mam. Nanti akan Radhif makan bersama Heru dan Dwi," balas Radhif.
Dengan perdebatan yang cukup alot, akhirnya Bu Dian menyerah pada keinginan Radhif. Bu Dian kemudian memberikan mangkok bubur dan sendok yang tadi digunakkannya untuk menyuapi Mayang menantunya tersebut.
Bu Dian berjalan ke arah suaminya dan duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang tempat Mayang terbaring.
'Bagaimana caranya aku menyampaikan maksudku kepada Radhif? Apa Radhif menerima keputusanku ini?' ucap Bu Dian dalam hati.
Dia khawatir bila anaknya itu akan marah dengan apa yang sudah direncanakannya. Apalagi Radhif telah mengurus pernikahan kantor. Mayang kini telah sah sebagai istri menurut hukum dan juga kedinasan. Dan Bu Dian tahu kalo perpisahan dalam kedinasan TNI itu sangat sulit dan memakan waktu sangat lama.
'Ini demi kebaikan keduanya, bukankah Mayang bisa melanjutkan hidupnya dan meraih masa depan. Aku harap Mayang mau mengerti dan melepaskan Radhif,' batin Bu Dian dalam hati.
Tak berselang lama, Radhif telah selesai menyuapi Mayang. Bubur ayam masih banyak, namun Mayang sudah tak ingin lagi memakannya. Akhirnya, Radhif menyudahi suapan terakhir dan menaruh mangkok berisi bubur ayam tersebut di atas nakas dan menutupnya dengan sebuah piring. Dia berfikir jika Mayang merasa lapar lagi, dia akan dengan mudah menyuapinya kembali.
Lima belas menit kemudian, seorang perawat datang membawakan obat untuk Mayang. Suster yang mengenakan seragam putih tersebut memeriksa kondisi Mayang dan menyuntikkan cairan obat melalui selang infus yang menancap di pergelangan tangan Mayang.
"Obat ini untuk menghilangkan rasa sakit akibat operasi tadi. Semoga lekas pulih kembali ya, Bu Mayang. Jika ada keluhan bisa menghungi petugas piket malam dengan memencet tombol bel merah yang terletak di atas tempat tidur Anda," jelas sang perawat tersebut.
"Baik, Suster. Terima kasih atas bantuannya," ucap Mayang.
__ADS_1
"Terima kasih, Sus. Kalo ada keperluan nanti saya akan menghubungi petugas," balas Radhif sembari tersenyum dan memandang ke arah Mayang.
Suster pun berlalu meninggalkan ruangan. Radhif sengaja tak mengantarkan sang perawat tadi ke depan pintu. Tangannya dengan sigap menata bantal agar Mayang merasa nyaman untuk tidur. Dan menarik dan merapihkan selimut yang menutupi tubuh Mayang.
"Tidurlah, aku akan menjagamu," ucap Radhif.
Radhif membungkukkan tubuhnya hendak mecium dahi Mayang. Akan tetapi Mayang menepisnya dengan memalingkan tubuhnya membelakangi Radhif.
"Aku ngantuk, Kak. Biarkan aku istirahat," ucap Mayang cuek.
"Tidurlah, aku ada di sini jika kau membutuhkan sesuatu," balas Radhif perhatian.
Tiga puluh menit kemudian. Radhif merasa bosan di dalam ruangan. Dirinya hendak mencari keberadaan kedua adik asuhnya yang tak kunjung menemuinya.
Radhif pun berdiri dari tempat duduknya, hendak pergi ke luar. Akan tetapi baru berapa langkah sang mami memanggilnya untuk berbicara.
Bu Dian yang sedari tadi mencari kesempatan untuk berbicara kepada Radhif pun tak melepas kesempatan tersebut.
"Dhif. Mami ingin mengatakan sesuatu. Mami hanya ingin tahu apa kau dan Mayang akan meneruskan pernikahan ini?" seru Bu Dian kepada Radhif.
Ucapan Bu Dian tadi sontak membuat seisi ruang inap tersebut terkejut. Terutama Radhif. Dia tak menyangka maminya bisa berkata seperti itu. Mengingat kondisi Mayang yang baru saja kehilangan janin yang sedang dikandungnya. Belum juga pulih operasinya.
"Mami keterlaluan. Bisa-bisanya Mami berkata seperti itu," ucap Radhif menahan emosi. Dia memang kecewa atas sikap maminya. Tapi bagaimana pun Bu Dian adalah ibunya. Wanita yang melahirkannya. Dia tetap harus menjaga sikapnya, meskipun dalam keadaan marah.
"Mami hanya bertanya, Dhif. Karena sejak awal pernikahan kalian karena Mayang yang tengah mengandung bayi dari mendiang adikmu, Radhit. Kini bayinya telah tiada, apakah kalian akan mempertahankan pernikahan ini atau tidak?" ujar Bu Dian lagi.
"Saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal seperti ini, Mam. Sungguh keji dan tak berperasaan bila harus membahasnya sekarang," tambah Radhif lagi.
Mayang yang sejak tadi belum tertidur, dengan jelas mendengar percakapan kedua orang tersebut. Dirinya hanya bisa menahan sakit dan kepedihan. Kali ini sakit bekas secar yang dirasakannya tidak seberapa bila dibandingkan dengan rasa sakit dihatinya. Air mata membanjiri kedua matanya. Lidahnya kelu.
...-----------Bersambung-------------...
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 101. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊
__ADS_1
Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.