TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# PART 42


__ADS_3

πŸƒKostπŸƒ


(Perumahan Ketintang, Surabaya)


Sore itu Setyo sampai di daerah Ketintang, tidak jauh dari kawasan kampusnya.


Sesampainya disana, Setyo menyempatkan diri berjalan-jalan sejenak ke kampus.


Biasanya hari sabtu begini suasana kampus tidak begitu ramai.


Hanya beberapa anggota BEM ( badan eksekutif mahasiswa) yang aktif melakukan kegiatan serta mahasiswa-mahasiswi yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang banyak berseliweran di kampus. Sebab hari sabtu sore saat minggu terakhir perkuliahan kebanyakan dari mereka mudik atau berlibur ke tempat asal mereka.


Langkah kaki Setyo terus saja berjalan menyusuri jalan kampus.


Tujuannya hanya satu, menuju lapangan basket.


Sudah berapa tahun lamanya dia tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di tempat ini.


'Untunglah tadi saat di terminal, aku mengganti baju seragamku, sebab jika menggunakan baju dinas saat berada di tempat ini, pasti akan menarik perhatian orang yang ada di sekitarku,' batin Setyo.


Langkahnya terhenti saat tiba di lapangan basket.


Lapangan dimana dulu dia pernah bermain basket bersama Mayang.


Dan di tempat ini pula, wanita yang dicintainya membuatnya sakit hati dan kecewa.


Tepat didepan lapangan basket ini terdapat pula gedung kecil yang digunakan sebagai basecamp atau tempat tinggal anak-anak HIMAPALA kampus.


'Apa benar Kak Radhit sudah meninggal? Tapi bagaimana bisa?' muncul pertanyaan demi pertanyaan dalam benak Setyo.


Kemudian teringat kembali sosok Mayang dalam fikirannya.


Wajahnya, senyumnya dan juga karakternya yang aneh.


Namun hal tersebut yang membuat Setyo jatuh hati padanya.


'Bagaimana keadaan Mayang saat ini? Semoga dia kuat dan tabah dalam menerima semua cobaan ini.


Ya Allah pertemukanlah aku dengan Mayang.


Agar aku dapat membuatnya bahagia dan mengobati luka hatinya,' gumam Setyo dalam hati.


"Oiya aku lupa kalo aku janjian sama Dion alias si kutu buku, biasanya sabtu gini dia sibuk di 'basecamp' anak-anak BEM," ujar Setyo perlahan sembari mengerluarkan ponselnya dari dalam tas ransel loreng miliknya.


Dengan cepat Setyo mengirim pesan singkat kepada sahabatnya semasa kuliah dulu yang bernama Dion.


Memberitahu kabar keberadaannya di sekitar kampus.


Berharap sahabatnya Dion datang menghampirinya.


Selang dua puluh lima menit kemudian, nampak Dion dari kejauhan.


Kali ini karena jenuh, Setyo sengaja bermain basket bersama beberapa mahasiswa yang terlihat sedang bermain basket.


Nampaknya mereka adalah mahasiswa baru, sehingga tak ada satupun yang mengenalnya.


Padahal dulu Setyo adalah ketua tim basket di kampus ini.


"Setyo....!" panggil Dion si kutu buku sambil membuka tangannya dan berlari.


Ah gile nie anak, lari-lari segala sambil tangan di buka, udah kayak adegan filem Romi dan Juliet aja gayanya' gumam Setyo sambil tersenyum.


Dion pun berlari, memeluk Setyo dan meninju lengannya perlahan.


Terlihat sahabatnya itu begitu senang melihat dan menyambut kedatangan sahabat lamanya yang sempat menghilang.


"Kemana aja kamu Yo, kangen tahu," ucapnya sambil memcubit dan mengelitikki perut Setyo dengan gemas.


"Udah ah, lama-lama disini bisa jadi pusat perhatian loh Ion, dikiranya aku ada apa-apa lagi sama kamu," gerutu Setyo sambil melirik ke arah lapangan basket.


"Ich...biarin aja, kita kan sahabatan, biarin aja tu orang-orang rempong dan ribet. 'Sapose' mereka (siapa sich mereka)," balas Dion bawel.


Sambil berjalan Setyo berkata, "Habis kamu genit banget Ion, gak kayak biasanya. Makin melambai aja dirimu. Kirain udah sembuh, ternyata makin parah."


"Boleh aku nginap di rumahmu?


Senin pagi aku balik ke Malang?" tanya Setyo dengan wajah penuh harap.


"It's ok beb, kenapa tidak. Anggap aja rumahku adalah rumahmu," Dion menjawab sambil cengar-cengir.


"Eh...tapi bukannya rumahmu di daerah perumahan elit kawasan X di Surabaya sini, Yo?" Dion balik bertanya karena bingung.


"Aku mau melakukan satu hal penting, makanya aku gak ingin pulang kerumah sebelum semuanya selesai," balas Setyo mempercepat langkahnya.


"Apa ini ada hubungan sama kisah masa lalu?" tanya Dion berusaha menerka.


"Iya," jawab Setyo singkat.

__ADS_1


Sejenak setyo terhenti saat meninggalkan tepat di bawah pohon akasia besar yang ada didepan kampus.


Ternyata Setyo menyembunyikan sesuai di sebuah lubang yang tak jauh dari pohon itu.


Sesampainya dibawah pohon Setyo melihat pada bagian samping masih ada sebuah batu besar.


Diangkatnya batu tersebut, menggali dan mengambil sesuatu dari dalam tanah.


"Apa-apaan kamu Yo, udah kayak dukun santet aja nanam-nanam ginian," protes Dion.


"Huuuussssttt...berisik. Ini tuh gelang kaki milik Mayang yang pernah hilang. Sengaja aku sembunyikan disini, aku berharap pas valentine aku ngajaknya ke tempat ini, tapi sialnya aku gagal," ujar Setyo sambil memasukan kotak kecil berisi gelang kaki milik Mayang ke dalam tas ranselnya.


"So sweet banget si kamu Yo, beruntung banget cewek yang dapetin kamu. Kalo aku cewek aku ngantri deh," goda Dion pada Setyo.


"Hmmmm, tunggu kelahiran berikut aja ya. Kalo kehidupan ini hatiku sudah jadi milik orang lain. Lagi pula aku lebih milih Restu dari pada kamu Ion, seandainya gak jadian sama Mayang," tambah Setyo.


Mendengar itu Dion pun tertawa terkekeh dan mencibir ke arah Setyo.


"Oh, iya, Ion...ngomong-ngomong soal Restu, kamu ada gak nomor ponselnya?


"Kamu ingin tahu kabar Mayang Yo?" tanya Dion sedih.


"Iya, kamu tahu kabar terakhir Mayang dan Kak Radhit?" tambah Setyo.


Langkahnya terhenti, memandang penuh harapan kepada Dion. Berharap Dion dapat memberinya informasi tentang wanita yang dicintainya itu.


Pucuk dicinta ulampun tiba.


Akhirnya Dion menceritakan semuanya sambil berjalan menuju rumah Dion yang tak jauh dari kampus.


Hingga saat hendak memasuki rumah milik Dion langkah kakinya terhenti saat melihat seseorang yang mirip dengan tiga sahabatnya Mayang yaitu Restu, Ika dan Niar.


"Restu...!" panggil Setyo.


Bukannya mereka mendekati Setyo malah ketiganya memilih untuk pergi.


Karena bingung akhirnya Setyo menyerahkan tas ranselnya kepada Dion dan berlari mengejar ketiga gadis itu.


πŸƒRumah sakit πŸƒ


(Suasana di kamar VVIP, ruang mawar, nomor 5)


"Alhamdulilah meskipun belum pulih benar tapi sudah berangsur-angsur kondisi Mayang akan membaik," ucap Dokter Rian.


Sambil menulis sebuah resep Dokter Rian berkata," Ini ada obat untuk Mayang, jangan lupa tetap rutin periksa kesehatan dan makan makanan yang bergizi ya nona cantik."


"Nanti perawat akan membawakan resep dan obatnya. Saya berikan resep agar saat obatnya habis bisa dibeli di apotek terdekat," tambahnya lagi.


Mayang balik tersenyum membalas senyuman dari sang dokter tampan itu.


"Sepertinya dokter itu suka padamu Dek," ucap Mas Gilang menggoda sang adik.


"Bisa aja Mas Gilang nie, sempat-sempatnya mikir gitu ya," protes Mayang.


"Syukurlah gak udah dilepas infusnya, besok sepertinya Mayang udah boleh pulang," ucap Bu Endang.


"Siap-siap buat acara lamaran By," tambah Gilang membuat sang Ibu terkejut.


"Oiya...?! Siapa yang mau melamar? kata sang Ibu dengan raut wajah terkejut.


"Ini Dia, cogan (cowok ganteng) yang berdiri di sebelahku," tutur Gilang sambil meninju lengan Radhit dengan perlahan.


"Apa itu benar Dhif?" tanya Ibu Endang penuh selidik.


"Ternyata benar firasat Ibu, karena saat mengantar Ibu pulang waktu itu, Ibu Dian menanyakan segala sesuatu sangat detai tentang Mayang," ujar Bu Endang terkenang tentang kejadian saat keluarga Pratama mengantarnya waktu itu.


"Kamu yakin dengan keputusanmu Dhif? Apa sudah kamu fikirkan matang-matang semua ini?" tanya Bu Endang dengan wajah sedikit khawatir.


"InsyaAllah Bu sudah Radhif fikirkan. Ini juga sudah keputusan bersama antara saya dan keluarga," jawab Radhif mantap, mencoba meyakinkan sang calon mertua.


Sesaat setelah mengucapkan itu, mata Radhif memandang Mayang. Tak disangka, mata keduanya saling beradu.


Mayang yang tak sengaja beradu pandang dengan Radhif akhirnya merasa grogi dan malu.


Karena malu terhadap Radhif, akhirnya Mayang menarik selimutnya dan berbaring membelakangi Radhif dan Gilang yang berdiri disamping kanannya.


"Hhmmmm...kayaknya ada yang malu-malu meong nie Bu," ledek Gilang.


Karena udah terlanjur ketahuan, Mayang hanya diam tak bergerak, tetap pada posisinya tadi.


Berbaring membelakangi Radhif dan Gilang.


"Hhhuuussst, udah Lang. Jangan kamu ganggu anak Ibu yang cantik ini. Biarkan dia beristirahat dulu," ujar Bu Endang.


"Ibu mau pulang bentar ke kost ya. Kalian jagain Mayang," tambahnya lagi.


Mendengar sang Ibu berkata demikian tanpa berfikir panjang Gilang kemudian mengambil kunci mobil milik Radhif.

__ADS_1


Dia ingin menceritakan kepada ibunya apa yang sudah dibahasnya bersama Radhif.


Dengan tujuan Bu Endang sang ibu akan menyetujuinya.


"Aku antar ibuku dulu ya Dhif, tolong jagain adik cewek semata wayangku itu," ucapnya sambil menepuk bahu sahabatnya.


"Beres bro. Tenang aja saya siap melaksanakan perintah kakak ipar," uja Radhif membuat Mayang semakin salah tingkah.


"Ntar lagi bakalan ada yang pingsan karena grogi Dhif, jadi dirimu harus bisa jadi dokter buat sembuhin pasien. Jadilah dokter cinta yang handal," gurau Gilang lagi.


Mendengar ledekkan dari sang kakak yang tak henti-hentinya, Mayangpun berbalik dan melemparkan kotak tisu yang berada tepat disampingnya ke arah Gilang.


"Udah deh Mas Gilang, kalo gak pergi Mayang lempar nie pake buah apel. Biar bonyok sekalian," teriak Mayang kesal.


"Tuh kan, aku disuruh pergi. Sepertinya ada yang mau pedekate Bu," kali ini Gilang meledek sambil memeluk ibunya dan berjalan menjauh.


"Awas loh...jangan balik lagi ya Mas!" seru Mayang semakin kesal dan malu dibuat Gilang.


Wajah Mayang merah merona, apalagi kini hanya ada dia dan Radhif dalam ruangan itu.


Semakin tak menentu dekat jantungnya.


'Ya Allah Kak Radhit maafkan aku, apa yang harus aku lakukan?


Apakah hal ini harus terjadi?


Haruskah aku menerima saudaramu untuk menjadi suamiku?


Apakah kau disana melihatku?


Bantulah aku kak, aku mohon padamu, tunjukkanlah kepadaku apa yang sebaiknya aku lakukan,' gumam Mayang dalam hati.


Tak terasa mata Mayang basah oleh airmata, membayangkan sosok Radhit yang telah pergi meninggalkannya dan juga benih dalam kandungannya.


Radhif yang mengetahu gelagat Mayang kemudian berjalan ke arah Mayang.


Sengaja Radhif berpindah tempat agar dapat melihat Mayang dan menenangkan gejolak dalam hati Mayang.


"Dek...!" panggil Radhif perlahan kemudian duduk tepat dibangku yang ada disebelah Mayang.


Tempat dimana tadi Bu Endang duduk menemani Mayang.


"Yakinlah ini yang terbaik untukmu dan juga buah cintamu dengan mendiang Radhit. Pasti Radhit akan bahagia bila anaknya memiliki status dan tersemat nama keluarga kami pada anaknya nanti," tutur Radhif sambil menghapus airmata Mayang.


"Tapi Kak,--"


Belum sempat Mayang melanjutkan ucapannya, Radhif menutup mulut Mayang dengan tangannya.


"Jika kau tidak mencintaiku, tidak mengapa. Kita akan berpisah setelah anak ini lahir," tambah Radhif sambil melepas tangannya dari mulut Mayang.


"Aku tidak akan memaksamu mencintaiku dan tetap hidup bersamaku. Aku tak ingin merusak kebahagiaanmu dan juga merampas kebebasanmu," ucapnya perlahan, bahkan nyaris tak terdengar oleh Mayang.


Melihat Mayang yang terdiam dan termenung membuat Radhif merasa bersalah karena dia tahu itu memang berat bagi Mayang.


Keputusan yang sangat berat, apalagi setelah kejadian menyedihkan yang merenggut mendiang adiknya.


Sungguh berat bagi Mayang karena Radhit adalah kekasih dan juga anak dari bayi yang dikandungnya saat ini.


Apalagi mereka telah menikah siri, itu yang membuat Mayang semakin sedih dan galau.


Suasana hening sesaat, terasa canggung antara Mayang dan Radhif.


Fikiran Radhif pun muncul, dia teringat manisan mangga yang semalam disimpannya di kulkas.


Secepatnya dia beranjak dan mengambil manisan tersebut.


Berharap hati Mayang dapat terhibur dengan memakan manisan mangga itu.


'Semoga bumil bahagia memakan manisan mangga ini,' batin Radhif.


Dan benar apa yang di fikirkan Radhif, Mayang nampak bahagia dan tersenyum saat Radhif datang membawakan manisan mangga di tangannya.


"Kamu mau ini kan?" tanya Radhif pada Mayang.


"Iya Kak," jawab Mayang singkat.


"Tapi janji jangan ngambek, nanti wajah anak dalam kandunganmu jadi jelek," tambah Radhif.


"Baik Kak," balas Mayang sambil bangun dari tidurnya dan menarik plastik yang ada ditangan Radhif.


Mayang pun memakan manisan mangga itu, menikmatinya sepuasnya sebelum sang kakak kembali.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


*Apakah Setyo akan menemukan keberadaan Mayang?


*Dan apakah acara lamaran yang direncanakan berjalan mulus tanpa hambatan?

__ADS_1


Nantikan kisahnya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" Part 43. Terimakasih πŸ™πŸ€—



__ADS_2