
...*******""""""*******...
...Rumah keluarga Pratama...
Hingga malam saat Radhif, aku masih saja mengacuhkannya.
Walaupun sebenarnya hati dan fikiranku merasakan hal yang berbeda.
Hatiku menolak untuk menerimanya, tetapi logikaku memintaku untuk mendekatinya.
Seolah logikaku memintaku untuk membuka hati agar bias cahaya cinta Kak Radhif bisa masuk dalam sudut ruang hatiku yang gelap, dingin dan membeku.
Hanya lewat Bi Inah, aku mengetahui kabar tentang Kak Radhif yang sedari tadi sudah berangkat meninggalkan rumah menuju bandara.
Kedua orang tuannya telah pergi menemaninya.
Masih sempat tadi Ibu dan Mas Gilang datang berpamitan padaku.
Isak tangis tak dapatku bendung, meski kondisiku sangat lemah, aku harus menerima kenyataan bahwa Ibu dan kakakku harus kembali.
Sebenarnya mama dari Kak Radhif sangat ingin aku pergi bersama Radhif kembali ketempat tugasnya. Mengurus pernikahan dinas yang seharusnya lebih dahulu kami laksanakan.
Tetapi karena kondisiku yang kurang baik, akhrinya keputusan itu dibatalkan.
Dan aku bersyukur dengan keputusan itu.
Masih belum sanggup aku menerima kenyataan ini, apalagi setelah kejadian semalam.
Aku tak ingin hubungan kami menjadi semakin rumit dan lebih jauh lagi.
Fikiranku hanya fokus kepada kesepakatan awal kami berdua saat akan menikah.
Bahwa setelah melahirkan janinku, aku dan Kak Radhit akan bercerai.
Maka setelah itu aku akan hidup berdua bersama anakku.
Oleh karena itu, aku lebih memilih Kak Radhif tidak mengurus berkas nikah kantor, sebab itu akan membuat posisinya semakin sulit.
"Kenapa Kak Radhif harus senekat ini, bukannya kami menikah hanya sampi delapan bulan kedepan. Untuk apa dia melengkapi berkas punyaku dan membawanya pergi,' ucapku dalam hati.
Meskipun aku belum bisa menerima cinta Kak Radhif, tetapi ada rasa khawatir saat terakhir kali dia berpamitan padaku sore tadi.
Aku merasa takut kehilangan lagi.
Trauma itu masih membayangiku.
Dalam hati aku berdoa semoga keberangkatan mereka dilancarkan dan tiba dengan selamat di daerah yang dituju.
Jam dinding menunjukan pukul 02.00 dini hari. Dan masih saja belum ada kabar tentang ketiganya.
Hatiku was-was memikirkannya.
Bi Inah yang sedari tadi menemaniku pun ikut cemas.
Namun akhirnya Bi Inah lelah dan tertidur di sampingku, menggunakan sofabed yang kemarin malam aku gunakan untuk tidur.
'Kok belum ada kabar dari Mas Gilang, ibu serta Kak Radhif, apa merka baik-baik saja ya?' fikirku penuh kecemasan.
Kuraih ponselku, menekan nomor Mas Gilang yang tertera dilayar ponselku.
"Tuuuut....tuuuut....tuuuutttt," bunyi nada sambung pada ponselku.
Tak ada suara, tak juga ada pesan yang dikirimkan.
Hatiku semakin cemas.
__ADS_1
Lalu kukirimi Mas Gilang sebuah pesan yang isinya menanyakan posisi mereka saat ini.
Dan selang beberapa menit sebuah pesan pun masuk, kurasakan getar pada ponselku.
['Wa'alaikumsalam, Radhif, aku dan ibu baru saja sampai di bandara Ambon. Beberpa jam lagi akan berangkat menuju Sorong-Papua,' jawab Mas Gilang.]
Bagaimana mungkin aku berani menghubungi Kak Radhif, aku telah membuatnya kesal atas sikapku.
Selama ini aku bersikap dingin dan acuh padanya.
Seolah-olah Kak Radhif memiliki segudang kesalahan atas diriku.
Harusnya aku sadar siapa diriku.
Pria mana yang dengan ikhlas menerimaku yang tengah berbadan dua.
Bahkan menanggung aib yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawabnya.
Meskipun itu anak dari saudara kandungnya sendiri.
Jika Kak Radhif mau dia bisa saja lepas tangan atas apa yang terjadi padaku.
Namun Kak Radhif dengan tulus menerimaku, menjagaku, berusaha menghiburku, walau terkadang sikap kasarku melukainya.
Hanya pria gentle saja yang bisa bersikap sepertinya.
Harusnya aku sadar itu dan berusaha membuka hati untuk cinta dan ketulusannya,' gumamku dalam hati, menyesali apa yang telah terjadi.
['Udah dulu ya, Dek. 15 menit lagi kami akan 'boarding', jaga dirimu dan juga kesehatanmu. Kalo apa-apa cepat hubungi Radhif atau aku,' isi terakhir pesan dari Mas Gilang.]
Sudah beberapa jam berlalu sejak pesawat mereka landing di tanah Papua tempat tujuan akhir dari pesawat yang merupakan milik salah maskapai penerbangan di Indonesia tersebut.
'Mas Gilang dan Ibu telah sampai di tempat tujuan. Tapi mengapa Kak Radhif tidak menghubungiku?
Bahkan sebuah pesan untukku pun tidak ada.
Bi Inah yang mengetahui keresahan hatiku, mencoba untuk menghiburku dan membesarkan hatiku.
"Non Mayang!" panggilnya.
"Tidur aja dulu Non, mungkin Den Radhif lelah jdi tidak sempat mengabari kalo sudah sampai. Pasti esok hari setelah beristiraha, Den Radhif akan menghubungi Non Mayang atau orang rumah," ucapnya berusaha menghiburku.
Ini
Aku pun meminum obat yang sedari tadi lupa aku minum karena menunggu kabar dari Kak Radhif.
Akhirnya selang beberapa lama efek obat itu pun mulai kurasakan.
Mataku mulai berat, dan aku pun tertidur.
Dan ponselku lupa aku charger, karena lelah dan jenuh menanti kabar aku letakan di bawah bantal.
"Tok...tok...tok....!" terdengar suara pintu kamarku diketuk.
"May....Mayang, kamu masih tidur, Nak?" tanya suara itu.
Muncul mamanya kak Radhif dari balik pintu.
Berjalan ke arahku.
Aku yang baru saja memejamkan mataku kini terbangun.
"Radhif sudah tiba di tempat tugasnya.
Sekarang dia sedang istirahat.
__ADS_1
Tadi dia menghubungin tapi katanya ponselmu tidak aktif.
Jadinya Radhif menelpon ke ponsel Mama.
Tadinya mau Mama sampaikan ke kamu teleponnya, tapi kata Radhif dia lelah, pengen istirahat dulu," ucap Bu Dian sembari mengelus kepala Mayang menantunya.
"Baik Ma, Mayang juga baru aja mau tidur setelah meminum obat yg diberikan oleh Dokter Rian waktu itu. Sejak malam tadi Mayang belum tidur menunggu kabar dari Kak Radhif," ucapku seraya mengambil ponsel dari bawah bantal yang berada disebelahku.
"Bi Inah, juga tidur aja dulu. Biar gak sakit. Kasian besok pagi banyak kerjaan yang harus diselesaikan," ucap Bu Dian lagi.
"Nggeh Nyonya," balas Bi Inah.
"Kamu juga tidur ya, Nak. Mama khawatir kamu jatuh sakit. Gak baik wanita hamil begadang apalagi kondisi fisikmu lagi gak bagus.
Nanti cucu Mama kenapa-napa, Mama jadi sedih," sambil merapikan selimutku, Mama pun berlalu meninggalkanku dan Bi Inah.
Kesesokan harinya aku baru terbangun, ternyata tidurku sangat pulas.
Tak terasa aku melupakan kewajibanku sebagai seorang muslim.
Aku ketiduran hingga tidak sholat subuh.
Ketika hendak bangun, aku rasakan tubuhku lemas dan kepalaku sedikit pusing.
Akhirnya aku memilih untuk berbaring diatas tempat tidur.
Pastinya Mama dan Papa dari Kak Radhif sudah pergi, karena hari ini ada undangan dari keluarga mereka yang berada di Magelang.
Semalam sebelum pergi, mamanya Kak Radhif sudah memberitahuku, sebenarnya mereka enggan untuk pergi karen kondisiku yang kurang sehat. Akan tetapi aku meyakinkan mereka bahwa aku akan baik-baik saja bersama Pak Ujang dan Bi Inah.
Sontak saja ketika melihat ponsel yang aku letakan di meja tak jauh dari tempat tidurku aku pun sadar bila, setelah Bu Dian keluar dari kamarku aku sempat mencharger ponselku karena kehabisan daya.
'Sampai aku lupa menyalakannya, pasti Kak Radhif bertanya-tanya mengapa ponselku tidak aktif. Jika memang firasatku ini, semoga saja amarahnya telah reda, dan dia akan menghubungiku,' gumamku dalam hati.
Kutekan tombol daya untuk menyalakan ponselku.
Tak berapa lama layar ponsel telah aktif dan muncul foto gambar baby yang sangat cute pada layar ponselku.
Ku tunggu beberapa menit. Tenyata tak ada sebuah pesanpun yang masuk.
Baik dari Mas Gilang mau pun Kak Radhif.
Hatiku sedikit kecewa, tapi mengapa?
Bukankah aku lebih suka bila Kak Radhif mengacuhkanku?
Bukankah aku lebih memilih tenggelam dalam kenanganku tanpa mempedulikan perasaannya?
Haruskah aku berharap perhatian lebih darinya, padahal aku sering membuatnya sakit hati dengan sikap dan tingkah lakuku yang dingin?
Akhirnya aku terpuruk dalam penyesalan, setelah kepergian Kak Radhif aku mulai merasakan kesepian itu lagi, dan juga kehampaan dalam hari-hariku, seperti saat kepergian Kak Radhit.
'Ya, Allah apakah ini hukuman untukku ataukah ini hadiah untukku, perasaan ini muncul kembali, disaat dirinya tak lagi bersamaku.
Semoga kepergiannya hanya sebentar saja, aku ingin belajar membuka hati ini dan menerima cintanya.
Aku ingin merasakan bahagia, walau hanya sebentar saja,' renungku dalam hati, menyesali semua yang telah terjadi antara aku dan Kak Radhif.
...****"""""*****...
*Apa yang akan terjadi selanjutnya antara Mayang dan Radhif?
*Bagaimana caranya Mayang mengambil hati Radhif agar mendapatkan kembali perhatian dan simpati dari Danki tampan itu?
Nantikan kisah selanjutnya hanya di "Takdir Cinta Mayang" part 53. Terimakasih 🙏🤗😍
__ADS_1