
************
Sejak menerima kabar itu, aku jadi tak bersemangat melakukan apapun, aku merasa hidup ini sudah berakhir.
Hanya bisa bersujud mendoakan dan berserah diri kepada Ilahi.
Tak henti-hentinya aku memohon kepada Allah, semoga kak Radhit baik-baik saja. Tidak terjadi apa-apa dengannya, dan lekas kembali.
Semoga Allah memberi satu kesempatan dan sebuah keajaiban.
Dirumah kak Radhit, Ayah, Ibu, serta kak Radhif menggelar acara doa bersama.
Aku masih enggan untuk menemui siapapun saat itu. Hatiku terasa hancur, jiwa ini masih terguncang hebat atas apa yang terjadi.
Hanya mas Gilang yang menemani kak Radhif dan keluarganya.
Hingga kuliahku pun terbengkalai, untunglah ada kedua sahabatku Ika dan Restu yang selalu setia membantuku.
"May, sampai kapan kamu mau seperti ini?" ucap Ika saat memasuki kamar kostku.
"Doakan saja kak Radhit agar bisa ditemukan, semoga tidak terjadi apa-apa dengan kak Radhit." tambah Ika lagi sambil menyodorkan segelas teh hangat untukku.
Sejak mendengar kabar dari mas Davin aku sama sekali belum makan dan minum, hanya menangis dan terus menanti kabar dari mas Davin juga teman-teman HIMAPALA yang menjadi relawan untuk mencari hilangnya kak Radhit.
Aku menoleh pada Ika, mengambil teh hangat dari tangannya sambil berkata," Aku harusnya menemani kak Radhit Cha, seharusnya aku ada bersamanya. Kalaupun dia pergi, setidaknya aku ada bersamanya."
Air mataku kembali menetes, rasa khawatir dan sedih akan kehilangan orang yang aku sayang dan aku cintai.
Teringat kembali saat alm. Ayah dulu pergi, begitu sedihnya aku sampai-sampai hampir sebulan lamanya aku tidak mau menemui siapapun, bahkan aku enggan untuk bersekolah.
Saat itu aku merupakan siswa kelas tiga sekolah lanjutan tingkat atas atau SMA.
Untunglah ada mas Gilang dan mas Endi yang selalu menguatkan aku.
Membantuku menata kehidupanku.
Kedua kakakku itu menjadi sosok pria yg manggantikan alm. Ayah untukku.
Menjaga dan membimbingku, karena selama ini aku memang lebih dekat dekat Ayah ketimbang dengan Ibu.
__ADS_1
Hingga saat Ayah sakit dan meninggal, semua itu membuat jiwaku sesaat terguncang.
"Tapi ini baru lewat sehari semalam May, kak Radhit pasti akan ditemukan, percayalah kak Radhit mampu melewati semua ini.
Doakan saja agar kak Radhit terhindar dari mara bahaya dan bisa menemukan jalan pulang." ucap Ika mencoba menenangkanku.
Aku menggelengkan kepalaku sambil menatap lekat wajah kak Radhit di foto yang ku pegang.
Foto saat kami berada di puncak Mahameru 2 tahun silam.
Setelah meminum teh dari Ika tadi, aku sholat dan tidur sejenak.
Aku berniat untuk sholat malam, memohon pada Allah pertolongan untuk kak Radhit.
Saat aku tertidur, dalam mimpi yang kurasakan seperti nyata, nampak aku berada di gunung Semeru.
Tempat yang tidak asing lagi bagiku.
Saat itu aku berada di Danau Ranu, ada suara yang mengajakku berjalan menuju puncak Mahameru.
Perjalanan menuju puncak melewati tanjakan cinta menuju sangatlah menanjak dan curam.
Disitulah aku terhenti dan melihat bayangan sosok seperti kak Radhit berdiri disisi jalan.
"Kak Radhit...Kakak mau kemana, jangan pergi Kak!" aku terus memanggilnya.
Kali ini aku mencoba mengejarnya dengan mempercepat langkahku, namun aku tak bisa menemukannya.
Secepat itu kak Radhit menghilang.
"Mayang...!" suara kak Radhit terdengan sangat lembut berbisik di telingaku.
"Kakak kemana, jangan pergi, jangan tinggalkan aku disini sendiri tanpamu!" ucapku lirih sambil bersujud ditanah, menangis dan memanggil namanya.
"Bangunlah Mayang, raihlah tanganku ini, aku takkan membiarkanmu sendirian." suara itu kembali terdengar.
Di hadapanmu nampak kak Radhit berdiri dan tersenyum, mengulurkan tangannya.
Tasbih yang aku buat untukknya sebagai kado, aku perlihatkan kepadanya.
__ADS_1
"Kakak kemana saja, kenapa membuatku sedih, kemarin adalah hari jadi kita yang ketiga tahun kak. Ini kado untukmu, pergunakanlah ini disaat Kakak sholat." ucapku padanya sambil menatap matanya yang nampak sayu.
"Trimakasih sudah mengisi hari-hariku selama ini, aku bahagia telah mengenalmu. Tetaplah jadi Mayang yang ceria dan penyayang. Aku akan selalu mencintaimu Mayangku sayang". ucapnya sambil membelai kepala dan mengecup keningku dengan mesra.
Tiba-tiba saja Kak Radhit berpaling dan pergi dariku, berjalan kembali menuju puncak tanjakan.
Aku terus memanggilnya, tapi tak di hiraukannya, aku kembali berjalan tapi kaki ini rasanya berat, tak mampu melangkah.
Hingga aku tersadar saat seseorang menampar wajahku.
Tersadar aku ternyata tadi itu hanyalah mimpi yang terlihat begitu nyata.
Sangat nyata untukku hingga aku berharap itu memang kak Radhit yang aku temui dan membawanya kembali.
Nampak Mas Gilang dan juga teman-teman kost ku.
Ternyata tadi mereka khawtir akan kondisiku dan memanggil Mas Gilang.
Karena sejak sejam lalu aku tak sadarkan diri dan terus me manggil-manggil kak Radhit.
Seperti orang yang tak sadarkan diri.
Malam itu juga mas Gilang membawaku pulang kerumah Bulek di Sidoarjo, sambil memapah dan Membawakan beberapa barangku mas Gilang berpamitan kepada seisi kost dan juga Ibu kostku.
Ya Allah apa yang sebenarnya terjadi, aku berharap ini semua segera berakhir.
Kembalikanlah kak Radhit, aku sangat mencintainya, aku memohon padamu agar kau memberi kesempatan kedua untuknya.
Berilah sebuah keajaiban baginya ya Allah.
Jagalah dia dimanapun dia berada, jauhkanlah dia dari mara bahaya, doaku dalam hati.
*******
*Apa arti mimpi Mayang malam itu?
*Apakah Radhit masih bisa ditemukan?
Nantikan kisah selanjutnya hanya di "AKHIR KISAH CINTA SANG PENDAKI" PART 26🙏😍
__ADS_1