
...RAHASIA DI BALIK CHEK UP ...
...*Bagian ketiga*...
... ****""""****...
...Rumah sakit X, Kota Malang...
Deru mobil yang dikendarai oleh Mayang dan Radhif mulai melemah.
Mobil putih itu memasuki halaman parkir sebuah rumah sakit.
Rumah sakit ini menjadi saksi bisu kepergian Mendiang Kak Radhit dan kedekatannya dengan Radhif.
Perjalanan yang memakan waktu sekitar sejam membuat Mayang tertidur karena lelah.
Melihat sang istri yang tertidur Radhif memutuskan untuk menunggu hingga Mayang terbangun dari tidurnya.
Tak tega bila harus membangunkannya.
Lagi pula mereka masih mempunyai waktu setengah jam lagi untuk menemui dokter kandungan tersebut.
Sebenarnya Radhif tidak bermaksud meminta bantuan kepada Dokter Rian untuk mencarikan seorang dokter specialis kandungan untuk Mayang.
Akan tetapi tanpa sengaja Dokter Rian menyampaikan kepada Radhif agar memeriksakan Mayang kepada salah seorang rekan kerjanya yang merupakan seorang specialis kandungan.
Karena percaya kepada Dokter Rian, Radhif pun menerimanya usulnya dengan senang hati.
Flash back
Saat itu Radhif menelpon kepada Dokter Rian, bahwa dia akan ke Kota Malang untuk menyelesaikan berkas yang terkait dengan meninggalnya adik kembarnya Radhit.
Berkas itu memerlukan tanda tangan Dokter Rian yang menangani permasalahan mereka saat turun dari puncak Gunung Semeru ketika menemukan mendiang Radhit.
Dan Radhf menceritakan kepada Dokter Rian akan membawa serta Mayang ke Malang karena sudah waktunya untuk 'chek up' kandungan.
Mendengar itu, Dokter Rian kemudian menawarkan kepada Radhif untuk membuatkan janji dengan salah seorang kenalan dokter specialis kandungan.
Tanpa berfikir panjang, Radhif menerima batuan tersebut dengan senang hati.
"Eeoooeeehhhmmm, mulut Mayang menguap namun tertahan oleh sebuah telapak tangan yang besar. Telapak tangan milik Radhif yang menutup mulutnya.
"Hhhhmmmm...Kak, singkirkan tanganmu. Aku tak bisa bernafas," ujar Mayang ketus.
"Makanya kalo 'angop' (menguap karena ngantuk dalam bahasa jawa 'angop') itu di tutup mulutnya, biar jin jahir gak masuk ke dalam tubuhmu," ujar Radhif dengan gemas, lalu menarik hidung mancung milik Mayang.
"Iccchhh...idungnya bikin gemes aja," ucapnya perlahan.
"Kak Radhif, berhenti!" pekik Mayang sambil meloto melihat aksi jahil suaminya itu.
Tanpa menunggu lama, sebab Mayang telah bangun dari tidurnya, Radhif dan Mayang kemudian menuju loby rumah sakit.
Mereka mencoba menghubungi Dokter Rian melalui resepsionis yang sedang bertugas.
Setelah mendapat informasi dari resepsionis tak berselang lama Dokter Rian pun datang menghampiri kedua pasutri tersebut.
Karena kebetulan Dokter Rian saat itu sedang memeriksa pasien yang letak ruangannya tak jauh dari loby depan.
"Assalamualaikum, Mas Radhif dan Mbak Mayang. Bagaimana kabarnya?" ujar Dokter Rian pada saat bertemu.
"Alhamdulilah,Baik,Dok. Dokter sendiri bagaimana kabarnya?" ucap Radhif sambil membalas uluran tangan dokter muda itu.
"Alhamdulih, saya juga baik-baik saja. Mari saya antrkan menemui Dokter Inggrit," jawabnya.
Ketiga melangkah menyusuri koridor rumah sakit, berjalan menuju ruang di mana Dokter Inggrit berada.
Tak memakan waktu lama, akhirnya mereka bertiga sampai di suatu ruangan yang didepannya bertulisakan papan nama Dokter Inggrit, SpOG(K).
Dokter Rian menggeser pintu tersebut kemudian mempersilahkan pasangan pasutri tersebut untuk duduk.
"Saya tinggal bentar ya, ada panggilan untuk memeriksa pasien. Kalo sudah selesai, Mas Radhif bisa ke ruangan saya. Masih ingat kan di mana letak ruangan saya?" tanya sang dokter.
__ADS_1
"Siap, Dok. Iya saya masig ingat," balas Radhif.
"Baiklah, silahkan duduk. Saya pamit dulu," ucap Dokter Rian lagi.
Dokter Rian pun berlalu, tinggallah Mayang dan Radhif. Mereka kemudian mencari tempat untuk duduk.
Terlihat beberapa ibu-ibu hamil yang sedang mengantri.
Di sana terdapat pasangan lain yang sedang menunggu giliran, ada juga yang datang sendiri atau berdua dengan anaknya yang sudah masih balita.
Sambil menunggu antrian untuk di periksa tak sengaja Mayang menjatuhkan 'mini bag' miliknya.
Lalu anak dari seorang ibu hamil yang ada disebelahnya membantu mengambilkan tas tersebut.
"Ini tante tasnya, hati-hati ya, biar gak jatuh lagi," ucapnya dengan nada cadel.
Umur anak laki-laki itu sekitar 6tahun.
"Terima kasih,Dek,sudah bantuin Tante ya," sambil tersenyum dan mengusap kepala sang anak.
"Adek cakep namanya siapa?"
"Udah kelas berapa? Kamu kok cakep banget, Tante jadi gemes lihatnya," ucapnya pada anak lelaki tadi.
"Nama aku langga, ante. Aku milip kan cama altis kelen tang ada di peyem-peyem icu kan," jawab sang bocah dengan pola lucu dan menggemaskan.
"Iya, mirip banget kok. Tapi lebih cakepan Rangga yang udah nolongin Tante," balas Mayang seraya memegang pipi sang bocah dengan lembut.
Radhif yang memperhatikan sikap Mayang itu, hatinya sungguh tersentuh.
Dia merasa Mayang sudah mulai berubah sikapnya.
Karakternya yang tomboi, kini lambat laun berubah sedikit demi sedikit menjadi sosok seorang ibu yang penuh kasih sayang dan berhati lembut.
'Inikah pasti karena kehamilannya, semoga Mayang sehat dan juga calon bayinya. Aku tak mau membiarkannya sedih ataupun sendirian. Semoga semua berjalan lancar hingga saatnya tiba,' doa Radhif dalan hati.
Mayang lalu duduk di kursi kosong tepat di sebelah itu tadi yang anaknya telah menolong Mayang.
"Baru sebulan,Bu. Kalo ibu sudah berapa bulan?" tanya Mayang balik kepada si Ibu.
"Sudah tujuh bulan, Mbak. Tapi ada kelainan sama calon bayi saya. Makanya saya harus sering-sering 'chek up'," ujar sang ibu sedih.
"Gitu ya,Bu. Yang sabar ya,Bu. Semoga Allah menguatkan Ibu dan juga calon anak Ibu.
Yakinlah Allah tidak akan memberi ujian di luar batas kemampuan umatnya," jawab Mayang mencoba membesarkan hati ibu tersebut.
"Iya,Mbak. Saya tidak henti-hentinya sholat dan memohon ampunan serta keajaiban dari Gusti Allah," balasnya sambil terisak.
Mayang yang mendengar kisah ibu tadi hatinya merasa iba dan juga khawatir.
Iya resah dan gelisah bila hal tersebut juga bisa saja menimpa janin dalam kandungannya.
Nampak dari raut wajahnya kecemasan itu.
"Kau gak apa-apa,Dek?"
"Mengapa wajahmu jadi murung? Jangan terlalu difikirkan apa yang barusan kau dengar.
Yakinlah Allah akan menjaga anak ini," ujar Radhif memberi semangat dan membesarkan hati sang istri yang terlihat cemas.
"Iya, Kak. Insyaallah,semua baik-baik saja," balas Mayang sambil menarik nafas dalam-dalam berusaha menenangkan hatinya yang resah.
Waktu bergulir dengan cepat, tiba saat giliran sang ibu tadi.
Tak berselang lama sang ibu itu pun keluar dari ruang periksa.
"Mari, Mbak. Saya duluan ya," sapanya sebelum meninggal ruang tersebut.
"Monggo,Bu. Hati-hati di jalan. Adek cakep jagain ibunya ya," balas Mayang sambil melambaikan tangannya.
"Ibu Mayang!" panggil seorang perawat.
__ADS_1
"Silahkan masuk," ucap perawat tersebut kepada Mayang dan Radhif.
Mereka berdua pun masuk ke dalam ruang periksa, di mana di sana berada Dokter Inggrit.
"Selamat siang, ini Mbak Mayang ya. Teman Dokter Rian," ujar sang dokter cantik itu.
"Iya, Dok," balas Mayang singkat.
"Mari saya USG kondisi janinnya, Mbak. Biar bisa di lihat perkembangan embrio dalam kandungan Mbak Mayang," ucapnya lagi sembari mengambil cairan gel yang ada di meja kerjanya dan memberikannya kepada sang asisten.
Dengan di bantu asisten sang dokter, akhirnya Mayang naik ke atas tempat tidur kayu yang tak jauh dari tempat duduknya tadi.
Perawat tersebut kemudian memberikan selimut dan memberikan gel pada perut Mayang.
Setelah siap, Dokter Inggrit pun memeriksa embrio yang berada dalam kandungan Mayang
Sesaat setelah itu, nampak wajah sang dokter yang sedikit terkejut ketika melakukan USG dan melihat embrio yang ada dalam rahim Mayang tersebut.
"Apa semua baik-baik saja. Tidak ada masalah kan, Dok?" tanya Mayang penuh selidik.
Radhif pun nampak cemas dengan hasil USG yang dilakukan oleh Dokter Inggrit.
Usai melakukan USG Mayang pun duduk kembali di kursi yang berada di depan meja kerja sang dokter.
"Apa Pak Radhif atau Bu Mayang memiliki keturunan kembar?" tanya dokter kepada pasangan pasutri yang ada dihadapannya itu.
"Iya, Dok. Saya anak kembar. Tapi saudara saya telah wafat dalam suatu musibah," jelas Radhif dengan wajah cemas dan resah.
"Owh, gitu ya, Pak. Saya mohon maaf ya sudah mengingatkan kejadian yang telah lama," balas sang dokter.
"Menurut pemeriksaan tadi, embrio yang tumbuh dalam rahim Bu Mayang ada 4 calon bayi.
Jadi analisis saya Bapak dan Ibu akan memiliki 4 bayi kembar. Untuk jenis kelamin masih belum bisa di prediksi sampai kehamilan memasuki bukan kelima," ucap sang dokter memperlihatkan hasil USG tadi.
"Kembar 4,Dok. Apa itu benar?" ujar Radhif tak menyangka.
"Iya, Pak. Semoga saja tidak ada kendala atau masalah yang serius, Bapak dan Ibu akan memiliki 4 orang bayi kembar," jawab sang dokter.
"Alhamdulilah, kalo begitu, Dok," balas Radhif dan Mayang bersamaan.
"Tapi saya harap Bu Mayang menjaga pola makannya, harus banyak asupan gizi agar bayinya bisa tumbuh seimbang. Dan yang perlu di ketahui bahwa hamil anak kembar lebih dari dua sangat riskan dan beresiko bagi Bu Mayang tentunya," ucap Dokter Inggrit dengan wajah serius.
"Apa resikonya, Dok. Apa istri saya akan baik-baik saja dan juga anak saya?" tanya Radhif cemas.
"Jika fisiknya lemah, bisa berisko pada diri Bu Mayang, Pak. Tapi kita serahkan semuanya kepada Allah Sang Pencipta. Dialah yang memberi maka Dia pulalah yang mengambilnya," balas Dokter Inggrit.
Mendengar penjelasan itu Radhif merasa sangat khawatir. Dia takut bila terjadi apa-apa pada Mayang dan juga janin dalam kandungannya.
Dia berharap semua akan berjalan lancar hingga saat lahiran nanti.
Dia bertekad akan selalu berada di dekat Mayang dan akan menjaganya.
Memberikan suport dan juga membahagiakan istri tercintanya itu, hingga saat tiba masa persalinan nanti.
'Semoga saja aku tidak mendapat tugas yang bisa membuatku meninggalkan Mayang seorang diri di saat -saat seperti ini,' gumam Radhif dalam hati.
Raut wajahnya menampakan sebuah kecemasan yang teramat dalam. Mengkhawatirkan keadaan istri tercintanya yang harus berjuang demi anak di dalam kandungannya.
Namu, Radhif yakin dan percaya bahwa Allah akan selalu menyertai umatnya yang taat dan patuh kepada-Nya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Bagaimana kelanjutan kisah Mayang dan Radhif?
Selanjutnya akan ada kisah Mayang dan Radhif yang melakukan pendakian untuk berziarah di tempat hilangnya Radhit dulu, bagaimana keseruan dan keromantisan mereka???
Nantikan kisah selanjutnya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" part 74. Terima kasih 🙏😊🤗
__ADS_1