TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
TAKDIR CINTA MAYANG Part 95


__ADS_3

Kembalinya ingatan akan masa lalu (Bagian keempat)


---Rumah sakit X, Pusat kota Malang---


Radhif POV


---sebait doa Radhif untuk Mayang---


Jika malam tak lagi menyejukkan hati yang lelah menantimu,


Jika embun pagi tak lagi memhapuskan dahagaku akan cinta dan juga kasih sayangmu,


Harusnya takdir membawaku pergi...


Pergi jauh meninggalkamu,


Hingga kau sadar berartinya diriku


dalam hidupmu.


Dalam diam Radhif menuliskan puisi itu dalam buku harian Radhit yang pernah di baca dan simpan oleh Mayang. Buku harian itu sengaja di ambil oleh Radhif secara diam-diam agar Mayang tidak lagi membacanya. Dalam benak Radhif jika Mayang menyimpan dan membaca buku harian milik Radhit maka sosok Radhit akan terus membayang-bayangi hidup Mayang seumur hidup sehingga dirinya akan sulit membuka pintu hati Mayang untuk menerima cintanya.


Harusnya Mayang sadar bahwa selama ini aku tulus mencintainya. Perhatian dan kasih sayang yang aku berikan untuknya bukanlah kepura-puraan.


Akankah diri Mayang bisa menyadari perasaanku yang begitu dalam untuknya? Apa mungkin semua ini terlambat? Terlambat untuk memulai kembali semua dari awal. Mungkinkah Mayang masih bisa membuka kembali hatinya untukku setelah apa yang aku perbuat hingga musibah menimpa dirinya dan merenggut sesuatu miliknya yang teramat berharga.


Apakah ini semua kesalahanku? Atau ini memang suratan takdir agar aku bisa memulai semuanya bersama Mayang tanpa bayang-bayang mendiang Radhit? Keegoisan kah ini bila dalam benakku berfikir seperti ini? Berdosakah aku karena menyebabkan buah cinta Mayang dan mendiang adikku meninggal?

__ADS_1


'Ya, Allah, mengapa takdir masih saja mempermainkan perasaan kami. Kemana kebahagiaan yang seharusnya Engkau berikan kepada wanita yang telah kehilangan sandaran hidupnya. Kuburan Radhit belum lagi mengering, mengapa Engkau mengambil miliknya yang sangat di inginkannya hadir di muka bumi ini. Biarkan dirinya merasakan kebahagiaan, meskipun aku harus merasakan kepahitan dan kesedihan. Aku akan ikhlas menerimanya, demi cintaku kepada Mayang dan demi menebus semua kesalahanku karena menyebabkan Mayang kehilangan janin yang di kandungnya,' jerit Radhif.


Radhif mencurahkan semua unek-unek yang ada di dalam hatinya pada buku milik mendiang adiknya Radhit. Goresang demi goresan yang menggambarkan suasan hatinya kala itu. Hanya dengan menulisnya dalam buku itu beban berat yang membuat dadanya sesak sedikit berkurang.


Andai dirimu tahu betapa aku menginginkanmu dan berharap bisa menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Aku ingin kau tahu Mayang, Cintaku takkan pernah berubah meskipun aku tahu hati dan cintamu hanya milik Radhit. Aku rela menjadi bayang-bayang Radhit agar kau bisa merasakan kebahagiaan. Hanya dengan begitu aku bahagia melihatmu tersenyum dan menikmati syurga dunia bersamaku dalam sebuah ikatan suci yang benar-benar berlandaskan cinta tanpa ada paksaan. Tahukah kau aku telah hanyut dalam lautan asmaramu


Tanpa Radhif sadari Mayang mulai membuka kedua kelopak matanya. Matanya liar menyapu ruang kamar.


'Awh...mengapa terasa sakit banget. Kenapa kepalaku terasa pusing. Rasa sakit ini membuat diriku tak bisa membalikkan tubuhku,' gumamnya dalam hati.


Mayang mencoba menggerakkan kakinya, bunyi decit tempat tidur terdengar. Seketika dirinya berhenti bergerak. Kembali berdiam diri dan memejamkan matanya, menahan rasa sakit yang luar biasa pada perutnya.


'Aku mendengar sesuatu, sepertinya Mayang terbangun,' batin Radhif.


Di tutupnya buku bersampul kulit berwarna hitam tersebut, menaruhnya kembali dalam laci meja yang berada di samping sofa tempatnya duduk tadi. Bergegas melangkahkan kakinya menuju pembaringan Mayang.


'Apa yang harus aku lakukan? Apa aku pergi saja menemui perawat dan meminta bantuannya? Ya, sebaiknya aku meminta suster memeriksa keadaan Mayang. Mungkin dengan begitu Mayang akan merasa baikkan,' ucap Radhif dalam hati.


Kak Radhif kemudian berjalan menjauh menuju pintu, terdengar bunyi pintu di buka. Kini dirinya berlalu meninggalkan Mayang seorang diri di dalam kamar inap tersebut.


'Kemana Kak Radhif pergi? Apa yang di lakukannya? Mengapa dirinya tega meninggalkanku seorang diri dalam keadaan seperti ini? Mungkinkah cintanya hanya sebatas formalitas? Berarti saat ini tak ada lagi tempat untukku dalam ruang hatinya. Aku hanyalah aku yang takkan mungkin mendapatkan Kak Radhif yang begitu sempurna,' tangis Mayang dalam hati.


Hatinya tercabik-cabik. Sembilu menusuk ulu hatinya, meninggalkan luka yang teramat dalam. Luka yang kini berdarah di atas bekas luka yang belum lagi mengering karena kehilangan mereka yang dirinya cintai.


Di luar sana di loby rumah sakit Radhif mencari perawat yang sedang bertugas.


"Assalamualaikum, Suster!" seru Radhif saat berada di loby rumah sakit.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, bagaimana, Pak? Apa yang bisa saya bantu?" tanya perawat itu dengan ramah.


"Maaf apa saya bisa minta tolong perawat yang bertugas saat ini untuk memeriksa keadaan istri saya?" tanya Radhif lagi.


"Maaf, Pak. Istri Anda berada di ruang apa? kamar nomir berapa, Pak? Apa keluhan istri Anda, Pak?" sang perawat balik bertanya kepada Radhif.


"Istri saya habis operasi, Sus. Saya di kamar mawar no 86," balas Radhif.


"Owh, iya, Pak. Segera saya hubungi perawat yang bertugas. Silahkan Anda menunggu di kamar inap, petugas akan segera datang. Terima kasih," ucapnya dengan ramah, seraya mempersilahkan Radhif untuk kembali ke kamar inap tempat Mayang di rawat.


"Maaf, Sus. Kalo boleh saya mau ke kantin rumah sakit dulu. Ada sesuatu yang mau saya beli. Tidak lama hanya 25 menit," seru Radhif.


"Baik, Pak. Nanti saya sampaikan kepada petugas agar 30 menit lagi menemui Anda di kamar tempat istri Anda di rawat inap. Silahkan kalo mau ke kantin dulu, Pak," jelas sang perawat dengan senyum ramahnya mempersilahkan.


"Terima kasih, Suster atas bantuannya!" seru Radhif kemudian berjalan menuju cafe yang berada tepat di samping rumah sakit.


Dirinya ingin membeli kopi dan juga camilan sebagai pengganjal rasa laparnya. Sebab sudah hampir sore hari kedua adik lettengnya belum juga datang. Sempat terfikirkan olehnya untuk meminta bantuan lettengnya yang berada di batalyon yang sama tempat Heru dan Dwi berdinas, tetapi di urungkannya niat tersebut, karena dirinya percaya Heru takkan menghianati kepercayaannya. Meskipun dirinya tahu bahwa keduanya sudah membohonginya dengan memperbolehkan Setyo menjadu pendonor untuk Mayang.


'Mengapa mereka lama sekali. Apa mereka mendapat masalah karena harus menolongku? Apa yang harus aku lakukan? Apa aku coba menghubungi Heru untuk menanyakannya?' batin Radhif.


Perasaan Radhif mulai terusik karena keduanya tidak kunjung sampai kerumah sakit tempat Mayang kini di rawat. Radhif khawatir karena sesui janjinya Heru dan Dwi akan tiba di rumah sakit itu hanya dalam waktu 3 atau 4 jam setelah dirinya sampai.


...---------Bersambung---------...


Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 96. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊


Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.

__ADS_1


Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.


__ADS_2