
Kost, 15 Agustus 2004 pukul 17.00 Wib
Setelah mengerjakan tugas, Restu pamit untuk pulang duluan bersama teman sekostnya, itu karena esok dia akan pulang ke kampung halamannya, ada beberapa oleh-oleh yang hendak di belinya untuk keluarganya dirumah.
Tinggalah aku dan Ika, sebelum pulang aku, ku sempatkan untuk menghubungi mas Gilang, dengan gamblangnya aku menceritakan semua kisahku, kembali memohon ijin agar aku di ijinkan untuk mendaki, awalnya mas Gilang tidak memperbolehkan aku untuk ikut.
Namun akhirnya mengizinkan aku setelah aku bercerita bahwa salah seorang teman kostku yang bernama Yaniar juga ikut serta dalam pendakian tersebut.
Yaniar memang sudah menjadi anggota pecinta alam sejak di sekolahnya dulu, dia lebih berpengalaman dibandingkan aku, paling tidak aku ada teman yang bisa membantu dan juga mengajariku.
"Apa benar Ika, teman sekost kita Niar dulu anggota pecinta alam semasa SMA?" tanyaku penuh selidik.
Ika tersenyum sambil menunjukan foto Ika dan Niar semasa SMA yang tersimpan di dompetnya, disana terlihat Ika menggunakan baju paskibra dan Niar menggunakan baju bertuliskan kelompok pecinta alam dengan nama sekolah mereka.
Ternyata mereka satu sekolah semasa SMA.
Hanya berbeda jurusan.
Niar masuk ke Fakultas Tekhnik Informatika.
Sedangkan Ika bersamaku di jurusan Pendidikan Ekonomi.
"Iya benar, ada fotoku dan Niar saat upapacara 17 Agustusan dulu, kami menggunakan atribut masing-masing saat upacara yang bertempat di lapangan kantor PEMDA di daerah kami," ucapnya sambil menutup kembali dompetnya dan menyimpannya di dalam tas.
"Owh...gitu ya. Hebat ya Niar, ternyata dia punya hoby mendaki kayak kak Radhit." tambahku lagi, seolah takjub akan bakat dan keahlian Niar teman sekostku yang baru aku kenal lewat Ika.
Ika adalah teman kostku yang ternyata bersahabat dengan Niar yang merupakan calon anggota HIMALAPA di kampusku.
Mereka satu sekolah sejak SD.
Karena mereka sama-sama satu kota juga satu kampung.
Rumah mereka tak berjauhan.
Jadilah setiap sekolah mereka selalu bersama.
Hingga kuliahpun sekampus, namun beda jurusannya.
Sesampainya kami dikost, Niar belum terlihat, maka aku dan Ika memutuskan untuk menelpon Niar.
"Asslamu'alaikum," terdengar suara Niar di seberang sana.
__ADS_1
akupun menjawab," Wa'alaikumsalam, benar ini Niar?"
Terdengar kembali suara khas Niar"Iya, ini dengan saya sendiri. Maaf ini dengan siapa?"
Akupun menjawab kembali,"Ini aku Mayang,
Niar kamu dimana sekarang? Apa kamu sudah prepare keperluan mendaki?"
Suara Niarpun terdengar kembali membalas pertanyaanku," Iya May, ini aku lagi di toko perlengkapan mendaki, aku lagi milih-milih jaket, sepatu dan juga tas gunung untuk mendaki."
Dan akhirnya dengan bantuan Niar, akupun memesan beberapa perlengkapan untuk mendaki, dengan bantuan Niar pula aku menyiapkan BAMA( bahan makanan) yang bisa aku bawa saat mendaki.
Semua aku persiapkan dengan matang, mulai dari baju, jaket, sendal, sepatu, tas mendaki, sarung tangan, kupluk (tutup kepala), kacamata, obat dan makanan serta minum.
Tak terasa isi tas Carrierku sudah penuh, belum lagi jas hujan dan juga sleeping bag.
Lumayan beratnya saat aku mencoba menggendongnya di bahuku.
Sepertinya butuh tenaga ekstra untuk mencapai puncak.
Malam itu, aku benar-benar mempersiapkan diriku, makan makanan yg bisa menunjang stamina dan minum vitamin.
Karena berangkatnya siang sekitar jam satu siang, aku masih bisa istirahat agar kondisi tubuhku lebih fit saat berangkat.
*** Pukul 21.00 Wib***
Hpku berdering, saat itu aku baru saja selesai melaksanakan sholat Isya.
Ternyata ada sebuah pesan yang masuk, pesan itu berasal dari mas Gilang, dia mengabarkan bahwa kakakku nomor dua telah lulus dalam pendidikannya sebagai seorang TNI AU di Madiun, dan beberapa hari saat libur setelah pelantikan dia akan menemuiku di Surabaya.
Bahagianya rasa hatiku mendengarnya.
Jika Ayah masih ada, pasti akan bangga melihat anak sulung dan anak keduanya sukses menjadi penerusnya sebagai seorang TNI.
Semoga akupun bisa menjadi wanita karier yang mandiri dan membanggakan keluarga.
Tak berselang beberapa menit, dering ponselku berbunyi.
Tanda bahwa ada sebuah pesan MMS masuk.
Saat aku buka, tampak foto tas carrier seseorang dengan tulisan LOVE MAYANG pun nampak.
__ADS_1
Kali ini bukan dari nomor kak Radhit.
Ternyata itu no mas Davin yang di gunakan kak Radhit untuk mengirim pesan MMS kepadaku.
Tak lama kemudian sebuah pesan masuk kembali, kali ini berasal dari kak Radhit.
Pesan itu berisi, ("Aku akan selalu ada untukmu, janganlah takut, apapun yang akan terjadi nanti. Insya'Allah, Allah dan aku akan selalu menjagamu.")
Rasa ragu yang menyelimutiku, berangsur hilang dengan adanya pesan singkat dari kak Radhit.
Aku yakin kak Radhit akan menjagaku saat mendaki nanti.
Begitu pula dengan Niar, kami akan selalu bersama, saling mendukung dan menjaga saat melakukan pendakian.
Semoga Allah melindungi dan meridhoi rencana dan perjalanan kami.
Tak lupa aku membawa mukena kecil agar bisa di gunakan.
Hampir saja aku melupakan itu.
Tak terasa waktu semakin larut, segera aku menyelesaikan packinganku dan melepas lelah dalam buaian dewi malam, menghabiskan sisa malamku dalam peraduan.
Agar dapat menyambut sang fajar esok hari.
Menanti hari baru, dimana kisah cintaku akan dimulai.
Awal kisah cinta yang penuh lika-liku kehidupan.
Sampai dimanakah kisah ini bermuara.
Hanya Allah yang tahu, aku dan Radhit hanyalah dua sejoli yang mengikuti takdir Ilahi.
Semoga kisah kami menjadi kisah cinta yang abadi, bagaikan kisah Taj Mahal yang berdiri kokoh di tanah India.
*******
*Apakah perjalanan Mayang, Radit dan rombongan HIMAPALA berjalan mulus hingga mencapai puncak Mahameru?
*Apa yang akan dilakukan Radhit saat mencapai puncak gunung Semeru untuk membuktikan cintanya kepada Mayang?
Nantikan kisah selanjutnya di part berikutnya, trimakasih 🙏🤗
__ADS_1