
Rumah sakit
"Udah selesai makan manisan mangganya, Dek?" tanya Kak Radhif.
"Eeehhhhmmmm...iya Kak," balasku sambil memasukan potongan terakhir ke dalam mulutku.
"Baru kali ini aku melihatmu makan dengan lahap, seperti sedang memakan nasi, apa orang ngidam semuanya kayak gini ya?" ucap Radhif sambil mengerutkan keningnya.
Mayang menghisap tetesan sari manis yang menempel di jarinya.
Seakan-akan seplastik manisan mangga tidak cukup baginya.
Melihat hal tersebut membuat Kak Radhif tertawa geli.
Sikap Mayang memang benar-benar konyol.
Tapi hal itu membuatnya merasa gemas.
"Masih mau manisan mangga lagi, Dek?" tanya Radhif.
Dengan wajah ceria Mayang memandang tatapan Kak Radhif.
Berharap si danki tampan itu mewujudkan ucapannya tadi.
"Aku mau lagi kak," ucap Mayang sambil menjilati pinggiran bibirnya karena terkena sari manisan mangga yang dimakannya tadi.
"Beneran mau lagi?" tanya Kak Radhif sambil memasang wajah pura-pura cuek.
"Jangan becanda mulu, Kak!" protes Mayang dengan mimik wajah cemberut.
"Aku juga serius mau belikan manisan mangga yang banyak," jawab Kak Radhif sambil berjalan kearah Mayang.
"Ya, udah belikan sekarang aja, Kak!" rengek Mayang dengan suara yang manja.
"Boleh, tapi nanti setelah--" tambah Kak Radhif terhenti.
Ucapan Radhif tadi membuat Mayang sedikit kecewa. Dengan mata berkaca-kaca dia memandang wajah tampan Kak Radhif.
"Tapi kapan kak? Sesudah apa...?" ucap Mayang.
Radhif yang mulai gemas dengan sikap Mayang pun menghampirinya dan duduk disebelahnya sambil berkata, "Setelah kita menikah, aku akan membawakan manisan mangga yang banyak dan akan menyuapimu, Dek."
Radhif mengucapkan itu kepada Mayang sambil menarik hidung mancung milik Mayang.
Mayang meringis kesakitan sambil memukul tangan milik danki tampan itu.
__ADS_1
"Udah Kak, ntar hidungku makin mancung kalo ditarik," tutur Mayang sambil tersenyum malu.
"Ich...geer banget adiknya Gilang ini, baru tahu saya kalo orangnya tu kepedean," ledek Kak Radhif.
"Hhhhmmmmm...aku emang pede, kalo gak gitu gak ada yang muji aku mancung. Jadinya aku muji diri sendiri aja," ucap Mayang sedikit jutek.
"Hahahaha....iya,iya kamu menang deh," terdengar tawa dari mulut Kak Radhif.
Mayang tak menyangka Kak Radhif akan tertawa lepas seperti itu. Tak pernah dilihatnya Kak Radhif tertawa sebelumnya.
'Sungguh tampan, ingin rasanya aku memeluknya.
Momen seperti ini membuat hatinya sedih lagi, teringat mendiang Kak Radhit,' gumamnya dalam hati.
Pilu rasanya ditinggalkan oleh orang yang sangat dia cintai.
Ingin rasanya berlari meninggalkan semua kesedihan ini.
Tapi takdir berkata lain, benih cintanya dengan Kak Radhit telah tumbuh dalam rahimnya.
Dia telah berjanji kepada Kak Radhit untuk menjaga dan membesarkan buah cinta mereka.
Saat ini jika melihat Kak Radhif seolah-olah dia melihat sosok Kak Radhit.
Tapi kesadarannya membuatnya harus sadar bahwa itu hanya halusinasinya saja.
"mayang sadarlah, dia bukanlah Kak Radhitmu. Dia hanya bayangan dari Kak Radhit," ucap Mayang dalam hati.
Kata-kata itu yang selalu terngiang ditelingan, membentengi hatinya agar menjaga hatinya dan tetap memupuk cinta untuk Kak Radhit.
********"""""""*********
Ketintang, Surabaya
"Bagaimana ini Niar, Ika?" ucap Restu.
Sambil menatap kedua sahabatnya Restu berkata, "Kita sudah membocorkan semuanya kepada Setyo, aku takut Mayang dan Kak Gilang akan marah besar kepada kita."
Ketiganya berjalan namun tak ada yang berkata-kata, hingga suara Niar terdengar, "Yaudah kita sampaikan kepada Mas Gilang atau Mayang aja, aku takut Setyo berbuat nekat setelah mengetahui kalo Kak Radhit telah meninggal."
"Iya aku setuju,"
"Aku juga," ujar Ika dan Restu.
Mereka pun bergegas berjalan menuju kost mereka yang terletak di salah satu warung internet yang berlantai tiga.
__ADS_1
Berjalan dengan terburu-buru, tujuannya agar segera sampai dan dapat menyampaikan hal penting tadi kepada Mayang dan keluarganya.
\*\*\*\*\*\*"""""\*\*\*\*\*\*
(Rumah Dion)
"Alhamdulih," ucap Setyo setelah mengabiskan sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauknya.
Kemudian Setyo mengambil segelas air putih dingin yang telah disediakan Dion sahabatnya itu.
"Kau adalah sahabat terbaikku, tetaplah seperti itu bro," tutur Setyo sambil memeluk Dion.
"Whats up bro (ada apa bro), kenapa kamu jadi letoy gini Yo," ledek Dion membuat Setyo segera melepas pelukannya.
"Kamu bakalan buat hatiku jadi berbunga-bunga deh," gurau Dion.
"Ah, kamu Dion, baru juga aku melow dikit kok. Ucapanmu tadi malah bikin merinding disko aja," protes Setyo sembari menegak habis minumannya.
"Aku mau pamit berangkat ke Malang, Ion" ujarnya lagi sambil mengambil tas ransel loreng yang ada di kursi.
Yakin kamu mau berangkat malam ini juga?
Ini dah hampir jam 7 malam, perjalanan lumayan jauh loh," balas Dion dengan rasa khawatir.
Sambil berfikir Dion memberi usul, "Udah gini aja, biar aku yang antarin pake mobil papaku ya. Tapi nunggu ebesku (panggilan anak Surabaya untuk Bapak) pulang kerja. Ebezku kalo sabtu kadang lembur sampe malam, jam sebelas malam baru pulang."
"Kamu yakin ebesmu bakalan setuju?" tanya Setyo tak yakin.
Dengan yakin Dion tetap saja berargumen, "Tenang aja, aku anak kesayangannya. Toh, aku juga udah gede bro, Masa iya gak boleh kalo udah ijin."
"Ke Bali bawa mobil aja di bolehin, Malang-Surabaya gak boleh? Lucu deh kaku Yo," sanggah Dion.
Akhirnya Dion berhasil meyakinkan Setyo untuk berangkat ke Malang menggunakan mobil milik papanya Dion.
Alhasil malam itu Setyo beristirahat di kamar sahabatnya itu, sambil menunggu kepulangan sang papa dari sahabatnya Dion.
🍃🍃🍃🍃
*Apakah Mayang akan terus terbayang kenangan masa lalunya dengan Radhit dan menutup hatinya terhadap Radhif?
*Bagaimana reaksi Mayang atau Gilang mendengar bahwa ada seseorang yang nekat ingin bertemu dengan Mayang?
* Sampaikah Setyo tepat pada waktunya di Malang, dan bertemu Mayang di rumah sakit?
__ADS_1
Nantikan kisah selanjutnya hanya ada di "TAKDIR CINTA MAYANG" Part 45. Terimakasih 🙏🤗😍