
RAHASIA DI BALIK CHEK UP
*Bagian kedua*
... ****""""*****...
... Villa, Kota Malang...
... ...
Matahari memancarkan sinarnya, semua itu terlihat dari guratan kuning keemasan yang mulai menari-nari di kaki langit, membuat suasana pagi itu kian romantis bagi Mayang dan Radhif.
Mata keduanya tak berkedip memandang pesona alam yang di ciptakan Sang Kuasa.
Tiba-tiba dari mulut Mayang meluncur begitu saja kata-kata indah untuk Radhif.
Membuat Radhif terpaku sesaat tak percaya Mayang yang sekian lama hatinya membeku, bisa mencair secepat itu.
"Berjanjilah kepadaku, Kak. Jangan pernah meninggalkanku walau sesaat. Jadilah imam untukku yang akan selalu menggenggam tanganku," ucap Mayang dari dasar lubuk hatinya yang paling dalam.
Mayang memeluk erat tubuh Radhif, seperti tak ingin melepaskannya lagi.
Membenamkan wajahnya dalam pelukan hangat suaminya itu.
Sesaat Radhif terdiam, hanya bisa mendekap tubuh Mayang.
Menatap jauh menerawang membelah langit pagi yang berwarna kuning keemasan.
Mencerna setiap kata demi kata yang diucapkan Mayang.
Sejenak Radhif ragu untuk membalasnya, dia takut dirinya tak bisa menepati janji itu.
Namun, cinta yang tulus dan ikhlas yang dirasakannya memberinya kekuatan serta keyakinan, bahwa janji itu pasti akan diwujudkannya, selama ridho Allah selalu bersamanya dan menyertai setiap langkahnya.
"Insyaallah, jika Allah meridhoiku, aku berjanji takkan pernah melepaskan tangan ini.
Tanganku akan selalu menggenggam jari jemarimu, hingga mau memisahkan kita," balas Radhif sembari mencium ujung kepala Mayang.
"Bila maut memisahkan kita nanti biarlah aku yang pergi lebih dulu, Kak. Karena aku tak sanggup melihat orang yang aku cintai pergi dan meninggalkanku untuk ketiga kalinya," ujar Mayang dengan suara lirih.
Kata-kata Mayang bagai ribuan belati yang menghunus ke jantungnya.
Tanpa disadarinya mentalnya menjadi lemah, nampak di sudut pelupuk mata pria gagah nan rupawan itu lelehan bening.
Hatinya teriris oleh tajamnya ucapan Mayang tadi.
Sungguh sedih rasanya, tapi itulah kenyataan yang harus didengarnya dari bibir orang yang dicintainya.
__ADS_1
"Kita berserah dan pasrah kepada Allah Sang Pencipta. Dia Maha Tahu dan yang mengatur jalan hidup kita.
Semoga kebahagiaan ini takkan pernah lekang di makan usia dan waktu," ujar Radhif seraya menggenggam tangan yang lembut Mayang penuh cinta.
Dengan sigap Radhif membantu Mayang berdiri, berjalan menuruni bukit.
Dengan hati riang bahagia keduanya menapaki setiap jalan kenangan, jalan di mana hati mereka mulai terpaut dan menjadi satu ketika menaiki bukit itu, hingga saat turun dari sana pun genggaman tangan Radhif takkan pernah lepas, genggaman tangan itu justru akan semakin kuat dan erat.
Begitupula janji yang telah diucapkannya untuk Mayang.
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat.
Mayang dan Radhif telah selesai membersihkan diri dan berganti kostum.
Setelah berjalan-jalan saat pagi hari.
Kini tiba waktunya bagi Radhif mengantarkan Mayang menemui dokter kandungan.
Kebetulan dokter kandungan ini bekerja di rumah sakit yang sama dengan Dokter Rian.
Dan melalui rekomendasi dari Dokter Rian lah mereka bisa tahu dan membuat janji dengan dokter kandungan yang bernama Dokter Inggrit yang akan mereka temui Hari ini.
"Dek, sudah siap?"
"Kita berangkat sekarang saja ya, agar tidak terlambat nantinya? seru Radhif pada Mayang yang tengah mempersiapkan diri.
"SuubahanaAllah, cantiknya istriku. Hijabmu sunggu serasi dengan bajumu.
Sungguh beruntungnya aku memiliki bidadari dalam rumahku," ucap Radhif memuji sang istri.
Pujian itu membuat hati Mayang berbunga-bunga, wajahnya merah merona bak kelopak bunga mawar.
Dirinya merasa seakan-akan terbang menembus langit ketujuh karena pujian Kak Radhif padanya.
Melihat wajah Mayang yang bersemu merah, nampak semakin cantik bidadari hatinya itu, maka Radhif kemudian mengambil kamera digitalnya dan mengabadikan momen indah tersebut.
Betapa manis sepasang muda-mudi ini, tak ada masa berpacaran yang mereka lalu sebelum menikah.
Sehingga setelah sah di mata Allah, kini waktunya bagi mereka untuk menyatakan perasaan dan juga cinta kasih kepada pasangannya.
Sebab lebih manis dan nikmat masa-masa pacaran setelah menjadi pasangan halal, bila dibandingkan harus berpacaran dan melakukan hal-hal terlarang yang akan menjerumuskan diri kedalam kemaksiatan.
Manisnya madu pernikahan kini dirasakan oleh Mayang dan Radhif, meskipun bagi Radhif pernikahan ini belumlah utuh sepenuhnya.
Namun cinta yang murni dan tulus karena Allah, sangatlah suci dan semerbak mewangi bagaikan melati putih yang takkan pernah ternoda oleh nafsu sesaat.
"Ayolah, Kak. Jangan menatapku seperti itu. Aku akan tenggelan dalam samudra cinta yang ada dalam bola matamu," ucap Mayang mencoba melepaskan diri dari tatapan Radhif yang tajam.
__ADS_1
"Jika memang kau tenggelam di dalam lautan cintaku, aku rela menjadi lumba-lumba demi menyelamatkanmu, " balas Radhif seraya memeluk Mayang dan mencium kening wanita yang ada di dekapannya.
Mayang yang mendengar itu mencubit lengan Radhif sambil berkata, "Sejak kapan Kak Radhif pandai berkata-kata indah bak seorang pujangga?" ledek Mayang yang telah melepaskan diri dari dekapan mau Radhif Putra Pratama yang tampan itu.
"Sejak aku mulai merasakan cinta yang tulus dan dalam untukmu," pekik Kak Radhif di tambah cubitan manja di pipi Mayang membuatnya semakin tersanjung dan terbang melayang dibuatnya
"Hhhhhmmmmm....!" balas Mayang sambil berlalu ke arah samping lemari mengambil sebuah 'mini bag' hitam dan sebuah sepatu sendal hitam yang senada dengan warna 'mini bag' miliknya.
"Bukankah kau menyukainya, wahai Mayang-mama sayang?" balas Radhif tak mau kalah.
"Iya, aku menyukainya. Tapi untuk hari ini cukup sampai di sini dulu rayuannya, atau kita akan terlambat sampai tempat tujuan," kilah Mayang mencoba menyudahi aksi jahil sang suami yang terus saja menggodanya.
"Ok, siap 86 ibu komandan," celetuk Kak Radhif dengan sikap hormat ala-ala tentara yang sedang menerima perintah dari sang atasan.
"Kak, sini dulu bentar. Ada sesuatu di wajah Kak Radhif," teriak Mayang membuat Radhif yang hendak melangkah keluar kamar tiba-tiba terhenti.
Radhif berjalan ke arah Mayang dengan penuh tanda tanya, apa yang ada diwajahnya itu sampai-sampai membuat Mayang panik.
"Sini, Kak. Merunduk, aku akan membersihkan kotoran yang ada di wajahmu," ucap Mayang seraya mengambil tisu dari dalam mini bag yang di bawanya tadi.
Radhit berhenti di depan Mayang, merundukkan wajahnya tepat di hadapan Mayang.
Dan......
"Cuuupppp...!"
"Terima kasih sudah menjadi imamku dan suami terbaik untukku juga anakku, aku mencintaimu, Kak Radhif," tanpa sadar sikap Radhif membuat benteng pertahanannya runtuh seketika, hingga dirinya mampu mengutarakan isi hatinya detik itu juga.
Radhif tak menyangka bakal secepat itu Mayang jatuh dalam pelukannya, doa dan penantian yang lama kini membuahkan hasil.
Kini Mayang benar-benar telah membuka hati dan menerima cintanya.
Bahagia rasanya mendengar pengakuan Mayang saat itu.
Membuat suasana menjadi haru biru bagi keduanya.
"Terima kasih, sudah menerima cintaku. Aku berjanji takkan pernah melepaskan genggaman tanganku, hingga maut memisahkan kita," balas Radhif membalas ciuman lembut Mayang.
Radhif mengambil kedua jari jemari Mayang, menciumnya dengan lembut dan membelat pipi Mayang.
Menggandengnya meninggalkan kamar itu, kamar yang menjadi saksi cinta mereka yang telah tumbuh serta bersemi bak taman bunga melati yang indah dan semerbak mewangi.
Nantikan kisah selanjutnya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" PART 73. Terimakasih, jangan lupa like, dan komennya yang membangun ya teman-teman semua.
Karena semua itu bisa menjadi imun dan penyemangat untuk Author dalam menulis, mohon maaf apabila masih banyak kekurangan, karena Author masih pemula, semoga bisa lebih baik lagi kedepannnya 🙏😊🤩
__ADS_1