
Dua kabar yang menyesakkan dada (bagian pertama)
----Rumah sakit M, pusat kota Malang----
Selama perjalan menuju rumah sakit yang dituju Radhif terus saja menggenggam jari jemari Mayang. Dia terus saja berdoa dan memohon kepada Sang Pencipta agar memudahkan segala sesuatunya. Entah apa jadinya Mayang apabila operasinya ditunda. Radhif sungguh tak bisa menahan rasa sedih dan juga bersalah dalam lubuk hatinya. Perasaan itu membuatnya tidak bisa tenang. Dirinya hanya bisa tenang jika Mayang siuman dan pulih kembali dari kritisnya.
'Hamba mohon kepada-Mu, ya, Allah. Mudahkan segala sesuatunya. Hamba berharap kali ini Mayang bisa segera di operasi. Lancarkan operasi Mayang nantinya, beri dia kesembuhan agar hamba dapat menebus semua kesalahan yang telah hamba perbuat. Izinkanlah kami bersama lagi, masih banyak yang harus aku lakukan untuk membahagiakan Mayang. Hamba tidak sanggup melihat Mayang dalam kondisi seperti ini, ya, Allah. Kuatkan dia agar bisa melewati semua ujian ini,' doa Radhif dalam hati.
Sambil mencium jari jemari istrinya, Radhif tak sengaja menjatuhkan map yang berisi berkas dari rumah sakit sebelumnya. Genggaman tangannya yang sebelumnya memegang Mayang dilepaskannya kemudian tertunduk dan memungut berkas tadi yang terjatuh. Di angkatnya berkas tersebut dan kembali meraih jari jemari Mayang serta menciumnya.
"Sayang, bangunlah. Jangan biarkan aku sendiri. Maafkan aku sudah menyebabkan dirimu hingga seperti ini," ucap Radhif setengah berbisik. Dirinya membisikkan kata-kata tersebut di telinga Mayang sambil membelai kepala Mayang yang terbungkus hijab hitam yang digunakan istrinya sejak awal mereka meninggalkan villa milik Heru. Tangannya mengusap kepala Mayang dengan lembut, menatap wajah pucat Mayang yang tak bergeming sedikit pun dari tidurnya.
Tadinya Radhif ingin membawa Mayang ke rumah sakit milik TNI AL yang ada di kota Surabay, akan tetapi jarak dan kondisi Mayang membuatnya membatalkan niatnya. Dia ingin Mayang lekas pulih kembali tetapi tidak memungkinkan sehingga dirinya menerima rujukan dari Dokter Vivian untuk memindahkan Mayang kerumah sakit M di pusat kota Malang.
Pergelutan batin dan beban fikiran membuat Radhif tidak sadar bahwa sebentar lagi mobil ambulans yang ditumpanginya tersebut memasuki pelaratan rumah sakit yang di tuju. Laju mobil mulai melambat dan beberapa saat kemudian berhenti, menandakan mereka telah tiba di tempat tujuan. Tangannya menghapus titik embun yang mengendap di sudut matanya. Pria gagah yang nampak tegar bagaikan batu karang itu terenyuh hatinya melihat wanita yang dicintainya terbaring lemah tak berdaya. Mayang kini harus berjuang antara hidup dan mati. Semua ini karena dirinya yang terlampau egois. Penyesalan yang datang terlambat. Radhif berdoa dan berharap penyesalan itu dapat di tebus oleh dirinya, bukan menjadi penyesalan yang sia-sia belaka.
"Kleek....!!!" suara pintu di buka dari luar. Sesaat kemudian terlihat sosok pria menggunakan seragam perawat.
"Permisi, Pak, kita sudah sampai. Saya akan membawa memindahkan pasien. Silahkan Bapak mengurus administrasi dan juga segala sesuatunya langsung ke pihak rumah sakit rujukkan," ucap sang perawat.
"Oh, iya. Baik, Pak. Akan saya serahkan berkas istri saya ke pihak rumah sakit. Tolong Bapak jaga dan pindahkan istri saya. Terima kasih atas bantuanya!" ucap Radhif seraya turun dari mobil ambulan menuju loby rumah sakit.
Saat berjalan menuju ke loby rumah sakit ponsel Radhif bergetar. Dirinya kemudian merogoh tas pinggang yang digunakannya. Tak berselang lama benda pipih itu telah berada dalam tangannya. Dibukanya dengan terburu-buru. Nampak sebuah pesan di layar ponselnya. Sebuah pesan yang ternyata berasal dari Heru adik lettengnya.
[Isi pesan dari Heru : "Assalamualaikum, Bang Radhif maaf saya dan Dwi agak terlambat datangnya. Ada sedikit gangguan di jalan. Mobil yang kami tumpangi mogok. Insya'Allah kalo sudah selesai akan kami susul abang di rumah sakit M."]
__ADS_1
[Balasan dari Radhif : "Ok, monitor. Hati-hati di jalan."]
Setelah membalas pesan dari Heru tadi, Radhif memasukan kembali benda pipih tersebut ke dalam tas pinggang yang digunakkannya. Kemudian dirinya kembali melanjutkan langkahnya menuju loby hendak mengurus administrasi dan menyerahkan berkas rujukan milik Mayang.
Sesaat setelah itu dirinya telah berada di meja resepsionis di depan loby rumah sakit. Terlihat seoarang wanita menggunakan seragam rumah sakit sedang melayani keluarga pasien yang lainnya. Sedangkan seorang lagi sedang memeriksa layar monitor komputer di meja resepsionis.
"Assalamualaikum!" sapa Radhif kepada petugas rumah sakit.
"Wa'alaikumsalam, ada yang bisa kami bantu, Pak?" ucap wanita yang tadi memeriksa monitor komputer di sebelahnya.
"Maaf, Sus. Saya keluarga pasien rujukan dari rumah sakit X. Saya membawa surat rujukkan dari Dokter Vivian. Maaf ini berkasnya, Sus," ucap Radhif seraya menyerahkan berkas milik istrinya kepada Suster yang bertugas.
"Sebentar saya cek dulu, ya, Pak. Saya konfirmasi dulu dengan pihak rumah sakit sebelumnya," ucap perawat itu kemudian menekan tombol pada telepon mencoba menghubungi pihak rumah sakit yang memberi rujukan.
Setelah menghubungi pihak terkait, suster tersebut menutup pembicaraan dan meletakkan gagang telepon rumah sakit yang digunakannya.
"Baik, Sus. Kemudian dokter bedah yang yang akan membantu menangani istri saya itu apa bertugas di rumah sakit ini juga? Maksud saya apa boleh saya bertemu dengannya untuk mendiskusikan kondisi istri saya?" tanya Radhif kepada sang perawat.
"Iya, Pak. Akan saya hubungi. Akan tetapi kita antar dulu pasien menempati ruang inapnya, setelah itu akan saya hubungi dokter untuk menemui Anda," balas wanita itu.
"Baiklah, Suster. Saya minta tolong carikan makar di ruang kelas VVIP untuk istri saya, teri kasih atas bantuannya," seru Radhif sambil melirik ke arah supir ambulans yang datang menghampirinya.
"Maaf, Pak. Apa sudah selesai mengurusnya? Jika sudah biar kami bantu memindahkan istri bapak ke ruangan yang di tuju?" seru sang supir.
Radhif kemudian memalingkan wajahnya ke arah sang suster hendak menanyakan hal tersebut.
__ADS_1
"Apa ada kamar VVIP yang kosong, Sus?" tanya lagi dengan tatapn penuh harap.
"Iya, ada satu kamar yang kosong. Kebetulan pasiennya sudah sembuh dan pulang. Kamarnya sudah di bersihkan. Sebentar saya panggilkan petugas piket ruang VVIP untuk mengantarkan dan membantu Anda," ujar sang perawat lagi. Nampak dirinya menghubungi seseorang menggunakan telepon rumah sakit.
"Mohon tunggu sebentar ya, Pak. Petugasnya akan segera tiba," jelas sang perawat tadi.
Tak berselang lama muncul seorang perawat pria menuju ke loby rumah sakit membawa serta tempat tidur yang di dorong. Ketiga perawat pria kemudian memindahkan Mayang yang terbaring dan membawanya menuju kamar VVIP yang sudah disiapkan.
Masih terbayang dalam ingatan Radhif lorong rumah sakit ini, tempat dimana dirinya mulai dekat dengan Mayang. Di tempat ini pula mendiang saudaranya pernah di bawa setelah musibah yang menimpanya di Gunung Semeru waktu pendakian. Muncul kekhawatiran dalam benaknya. Dia khawatir bila Mayang akan mengingat kembali trauma lama yang pernah di alaminya.
'Semoga saja trauma itu tidak muncul kembali. Kuatkanlah Mayang, ya, Allah,' seru Radhif dalam hatinya.
...---------Bersambung------------...
*Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah Mayang dapat tertolong? Dua berita apa yang mengejutkan Radhif?
Nantikan kisahnya di TAKDIR CINTA MAYANG. Terima kasih 🙏😊
Jangan lupa like, vote, juga tips dan komennya yang membangun ya teman-teman semua.
Karena semua itu bisa menjadi imun dan penyemangat untuk Author dalam menulis, mohon maaf apabila masih banyak kekurangan, karena Author masih pemula, semoga bisa lebih baik lagi kedepannnya 🙏😊🤩
__ADS_1