TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# Part 78


__ADS_3

...Batalion X, kediaman Danton Heru...


...-----***-----...


Tok...tok...tok...


"Assalamualaikum, izin danton, selamat siang!" panggil seseorang dari balik pintu yang berwarna hijau pekat.


"Waalaikumsalam, masuk aja Setyo. Pintunya tidak di kunci," balas seseorang dari dalam.


Di dalam rumah dinas itu, hanya ada Danton Heru yang tengah bermain 'Play Station' dengan serunya.


Walaupun Setyo telah masuk ke dalam rumah, pandangannya tetap terarah pada permainan game di layar televisi yang berada didepannya.


"Izin, Danton Heru, ini camilan dan minuman dingin yang danton pesan tadi," jelas Setyo kepada sang danton.


Mata Danton Heru tetap tak berpaling, tatapannya tetap fokus ke depan televisi memperhatikan 'game' yang dimainkannya.


"Biar aja semuanya itu, ntar kalo udah kelar baru kita sikat habis semuanya. Oiya, kamu ikutan main juga ya., jangan pulang dulu!" seru sang danton padanya.


Mau tidak mau akhirnya Setyo duduk di samping sang danton dan meraih sebuah stik 'play station' untuk memulai 'game' dengan dantonnya itu.


Perjalanan menuju batalyon X, Kota Malang


-----***-------


Deru mobil kemudian melaju kembali, melewati jalan setapak yang berada di tengah-tengah kebun teh yang cukup luas.


Hamparan luas kebun teh yang hijau nampak bak permadani yang begitu indah di pandang.


Sungguh luar biasa kuasa Allah menciptakan alam semesta.


Aku berharap bukan hanya di sini aku menemukan keindahan dan kesejukan alam yang masih asri.


Tetapi di tempat lain juga, terutama di ibu kota. Di mana kebersihan dan kedamaian tak lagi tercipta.


Hanya hiruk pikuk dan juga kebisingan yang selalu menghiasi wajah ibu kota.


Hampir satu jam kami menyusuri jalan yang terbentang dari villa hingga menggapai aspal licin pusat kota Malang.


Seperti rencana awal kami hendak mencari jajanan yang bisa di bawa pulang sebagai buah tangan atau oleh-oleh untuk keluarga di Sidoarjo dan juga di Surabaya.


"Kita mampir ke pusat jajanan yang berada di jalan Tangkuban Perahu ya, Dek," ucap Kak Radhif membuatku tersentak dari lamunanku.


Tanpa berkata-kata, aku hanya menganggukan kepalaku memberi isyarat tanda setuju dengan apa yang diucapkannya.


Tak butuh waktu lama untuk mencari pusat jajanan sebagai buah tangan, karena di sepanjang jalan banyak outlet dan juga toko yang menjual oleh-oleh khas Kota Malang.


Mulai dari sari apel, kripik aneka buah, serta olahan dari telo ungu khas Malang.


Ada juga beberapa jajanan unik dan khas lainnya.


Tetapi aku dan Kak Radhif lebih menyukai apa yang aku sebutkan tadi.


"Udah cukup, Kak. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita," ujarku sambil menenteng 3 buah 'paper bag' coklat dengan hiasan tali putih.


"Udah kamu belikan untuk Pak Udin dan Bi Inah?" tanyany dengan raut wajah cemas.


Aku tahu benar Kak Radhif sangat menyayangi kedua orang kepercayaannya yang selalu menjaga dan mengurus kediaman keluarganya itu. Bagi Kak Radhif, mereka berdua sudah seperti kedua orangtuanya.


"Iya, udah kok, Kak. Satu 'paper bag' besar itu untuk Pak Udin dan Bi Inah. Sedangkan yang satunya itu untuk bulekku," balasku santai.


"Trus yang satu lagi untuk siapa?" itu untuk ketiga sahabatku di kost. Udah lama aku tidak menemui mereka," jawabku lagi.

__ADS_1


Kali ini aku menatap manik bundar coklat yang membuatku seakan hayut di dalam pusara cintanya.


Menatap kedua mata itu mencari jawaban atas pertanyaanku.


Hingga akhirnya dia menyunggingkan senyum dibibirnya dan menggangguk tanda menyetujui permintaanku tersebut.


"Aku berterimakasih atas semuanya, Kak. Kamu memang yang terbaik," ucapku dengan tulus.


Dengan perasaan bahagia dia mengusap ujung kepalaku dan menarik hidungku.


Begitulah dirinya, sepanjang jalan terus saja menggodaku dan membuatku terbuai dengan kata-kata mutiaranya. Kak Radhif mulai bertingkah lagaknya sang pujangga.


Setelah puas menggodaku dan meracuniku dengan jurus-jurus rayuan mautnya kini pandangannya mengarah ke depan memperhatikan jalan, fokus menuju rencana awal kami tadi.


Laju mobil berkurang ketika mendekati gapura hijau dengan lambang rider dan patung prajurit.


"Kita menuju kesatrian dulu ya,Dek,"


"Kita izin dulu untuk masuk menemui Heru,sebab aku pun belum tau letak rumah Heru," ucapnya seraya memberhentikan mobil calya merah itu tepat di depan pos jaga.


Kak Radhif pun turun dari mobil. Terlihat dirinya menemui seorang bintara jaga yang sedang piket.


Setelah bintara tersebut memberi hormat, Kak Radhif berbalik dan berjalan kembali menuju mobil.


Nampak dari dalam mobil, bintara piket tersebut memberi kode untuk mengikutinya yang menggunakan sepeda motor.


Hanya 15 menit berjalan, akhirnya kami tiba di sebuah rumah dinas yang nampak asri dengan bunga-bunga yang tertata rapih serta pohon mangga besar yang tumbuh di samping rumah dinas tersebut.


"Izin, kapten, ini kediaman Danton Heru," ucapnya kemudian memberi hormat dan meninggalkan aku dan Kak Radhif di dalam mobil yang kami parkir tepat di depan rumah dinas itu.


"Kau tunggulah di mobil, aku akan menemui Heru, ucapnya seraya mengambil bingkisan yang telah kami siapkan sebelumnya.


"Jangan lama-lama ya, Kak. Aku akan merindukanmu bila dirimu lama di dalam sana," balasku dengan nada menggoda.


Senyumnya begitu manis, membuat benih-benih cinta yang kini telah bermekaran di dalam hatiku semakin merekah indah dan mewangi.


Kak Radhif melangkahkan kakinya, menuju teras depan rumah dinas itu.


Sekita lima menit dia berdiri di depan pintu rumah itu mendengarkan suara berisik dari dalam rumah.


Ternyata dia mendengar percakapan antara Heru dan Setyo.


Tangannya terlihat mengepal menahan gejolak di dalam dadanya.


Seperti ada sesuatu percikan api yang tersulut dan mulai membakar emosinya hingga berkobar.


Bruuuuk....


Nampak dari jauh Mayang melihat Kak Radhif membuka kasar pintu rumah dinas yang ada di seberang jalan sekitar beberapa langkah dari mobil.


'Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Kak Radhif mendorong dengan kasar pintu rumah itu?' batin Mayang bingung dan heran melihat peristiwa yang baru saja terjadi.


Rasa penasaran menyelimuti hatinya, fikirannya mulai menginstruksikan agar dirinya harus segera menghampiri Kak Radhif. Mencari tahu apa sebenarnya yang telah terjadi.


Belum lagi sampai di depan rumah itu, nampak Kak Radhif memegang kerah baju seseorang dan mendorongnya terhuyung-huyung hingga pria itu terjatuh tepat di depan Mayang.


Dan....


"Setyo!" tak sengaja Mayang mengucapkan nama itu.


Membuat amarah Radhif semakin memuncak.


Ternyata pria yang di temuinya di kantin rumah sakit waktu itu adalah Setyo.

__ADS_1


Dan jelas di dengarnya tadi pria itu menceritakan semua kejadian dan menyebut nama Mayang pada Heru.


"Ternyata kalian semua sekongkol membohongiku. Apa yang sudah kalian sembunyikan selama ini di belakangku?" ucapnya geram.


Mayang hanya bisa tertunduk diam tanpa bisa mengatakan apapun.


Sedangkan Setyo berdiri mematung terus menatap Mayang yang nampak terisak.


"Bukan salahnya, aku yang salah. Aku yang selalu saja mencoba mendapatkan cintanya kembali, karena aku tahu pernikahan kalian hanya sebuah kesepakatan," ucap Setyo.


Dia hendak melangkah ke arah Mayang, namun sebuah suara yang cukup keras dan lantang menghardiknya.


"Jangan sentuh dia, atau kau akan berurusan denganku. Jika kau masih mau berdinas di kota ini jangan pernah dekati Mayang atau mencari kabar tentangnya.


Lupakan dia untuk selama-lamanya," hardik Radhif dengan mata berapi-api bak singa yang hendak menerkam mangsanya.


Setyo tak mempedulikan ucapan Radhif. Tangannya meraih jari jemari Mayang dan memohon kepada Mayang untuk tetap menerima cintanya.


Hingga....


"Baaakkkk....Buuuukkk...!" suara pukulan menhantam perut Setyo.


Kesabaran Radhif telah habis, dua kali tinjunya mengenai perut Setyo hingga pria itu tersungkur di depan halaman rumah Heru.


Heru yang melihatnya mencoba melerainya, namun kekuatannya kalah dibandingkan Radhif yang saat itu benar-benar di kuasai oleh amarah.


Setyo bangkit dari keterpurukannya.


Mengambil kuda-kuda untuk menerima pukulan yang akan di lancarkan oleh Radhif.


Terdengar teriakan Mayang mencoba menghentikannya.


Heru pun berusaha keras melerai keduanya.


Berhubung rumah Heru berada di bagian pojok dan terpisah dari rumah yang lain, maka tak ada seseorang pun yang melihat dan membantu Heru untuk memisahkan kedua pria yang sedang bergelut tersebut.


"Kak Radhif hentikan, jangan di teruskan lagi!" teriak Mayang.


Radhif tak mempedulikannya, dia sungguh kesal dengan sikap Setyo yang keras kepala.


Rasa kesal yang selama ini di pendamnya kini meluap sudah, kemarahan itu bak luapan sungai yang menyebabkan banjir bandang.


Siap meluluh lantakan apapun yang ada didepannya.


Tangannya siap mengayun kearah Setyo, kali ini dengan kekuatan penuh dia mengarahkan tinjunya ke pada pria yang ada dihadapannya.


Akan tetapi pukulan itu terhenti ketika suara jeritan Mayang yang kesakitan meminta tolong.


Seketika itu juga keduanya berlari mencari arah suara itu berasal.


Sejenak mereka berdua melupakan pertikaian yang baru saja terjadi.


🍃🍃🍃🍃🍃


*Apa yang terjadi pada Mayang?


*Apa Mayang baik-baik saja?


*Bagaimana kelanjutan kisah "TCM"? Nantikan kisah selanjutnya.


Jangan lupa like, vote dan komen yang membangun semangat Author. Terima kasih selalu setia membaca hasil karya Cikgu Maya 🙏🤗😍


__ADS_1


__ADS_2