
Tak terasa 30 menit sudahku memejamkan mata, tersentak oleh suara gaduh di lantai bawah. Kulirik jam ditanganku, ternyata jam menunjukkan pukul 22.30 Wib. Aku hampir saja melewatkan sholat isya, segeraku ambil wudhu, kemudian aku pun menjalankan kewajibanku sebagi seorang muslimah yang taat akan ajaran agama yang sdh di ajarkan.
Warnet ibu kostku memang selalu ramai dengan pengunjung, entah itu para mahasiswa sekitar yang mngerjakan tugas ato para remaja yang hanya datang untuk bermain game online.
Terkadang para pengunjung warnet suka usil, mereka terkadang suka membunyikan bel tanda ada tamu bagi anak kost. Karena kost kami di lantai 3, maka pemilik kostku memasang bel, yang berfungsi ada penjaga kost bisa memberi tanda bila ada keperluan atau ada tamu untuk kami para penghuni kost.
***
Selang beberapa setelah aku selesai sholat bel kostpun berbunyi.
Awalnya aku berfikir kalo itu hanya keusilan dan ke jahilan pengunjung warnet. Tak lama bel pun berbunyi lagi, kali ini bel berbunyi sebanyal 3 kali berturut-turut. Karena penasaran akupun bergegas menuju teras balkon depan kost, dengan tujuan menanyakan hal tersebut kepada mas Mamad penjaga parkiran kost dan warnet di tempatku. Dan terkejutnya aku, saat aku melihat siapa sosok pria yang berdiri di samping mas Mamad, dia adalah kak Radhit.
Untuk beberapa saat diriku mematung tak dapat berkata apa-apa, sampai mas Mamad menegadahkan wajahnya ke atas dan meneriaki namaku dari bawah. Jujur lututku lemas, rasanya jantung ini seakan-akan berhenti berdetak. Bagaikan jiwa ini akan terbang meninggalkan raganya.
"May, kenapa bengong saja di situ, sini cepat turun, ada tamu yang mau ketemu sama kamu!" panggil mas Mamad lagi dengan suara lebih kencang dari sebelumnya.
Dan akupun membalas teriakan mas Mamad dari atas teras balkon, "Itu tamunya benar nyari aku atau salah alamat mas," tanyaku kepada mas Mamad, walaupun sebenarnya aku kenal sosok pria yang ada di dekatnya.
Entah memastikan atau hanya berpura-pura itulah yang aku lakukan agar tak terbaca oleh lawanku sikapku tadi.
Walaupun sebenarnya aku yakin kak Radhit tidak memperhatikan ekspresiku ketika tahu dia yang datang mencariku. Namun, di dalam lubuk hatiku ada sebersit rasa yang tak bisa aku tebak. Antara bahagia dan juga was-was jauh di dalam lubuk hatiku.
"May, buruan turun!" panggil mas Mamad lagi.
__ADS_1
Kali ini dengan membunyikan bel kost tak henti-hentinya.
Aku bergegas mengganti pakaianku, menggunakan hijab merah maroon kesukaanku, celana kain batik gombrang berwarna coklat, dengan cardigan senada. Karena tak sempat mengganti kaos singlet yang aku pakai, salah satu alternatif adalah dengan menggunakan cardigan tersebut. Dengan buru-buru aku turuni tiap anak tangga menuju pintu depan yang terhubung dengan warnet untuk turun ke lantai bawah. Karena pintu samping yang ada sudah di tutup apabila jam malam di atas jam 22.00 wib.
Saat melewati warnet, aku meminta permisi kepada mbak Ririn yang menjaga warnet untuk ke depan kost.
Dengan langkah yang terburu-buru aku menuju depan kost dimana tadi mas Mamad dan kak Radhit berdiri.
Namun, saat aku sampai di depan, ternyata hanya mas Mamad yang berada di depan, tak ada lagi kak Radhit di sana.
Dengan logat jawa yang sangat kental mas Mamad mulai menggodaku dengan candaannya yang khas, "Oalah yo...yo...kelamaan dandan e mbak e, makane di tinggal karo pacare," ucap mas Mamad seraya melanjutkan kerjaannya merapikan parkiran motor di bagian utara pojok warnet.
Maksudnya mas Mamad, karena aku lama berganti baju dan dandan, makanya kak Radhit pergi.
"Sial, ini cowok bener-bener deh ngerjain aku. Mana udah buru-buru turun. Gak tau apa lumayan capek aku turun dari lantai atas ke lantai bawah," batinku.
Namun saat aku akan berbalik masuk kembali ke warnet, ada seseorang yang tiba-tiba menarik pergelangan tanganku.
Refleks karena kaget aku tepis sekuat tenaga tangan tadi.
Ternyata itu adalah tangan kaka Radhit.
"Wow, super banget mbak tenaganya, anak tapak sakti ya," ledek kak Radhit sambil tersenyum.
__ADS_1
Duh Gusti, hati ini seolah-olah mau lepas dari tempatnya, melihat senyuman dan tatapannya yang cool.
Tenyata kalo di lihat dari dekat kelihatan baget lesung pipinya kalo lagi tersenyum, sepertinya aku tak pernah melihatnya, atau baru kali ini aku benar-benar melihat wajahnya sedekat ini.
Tersadar aku dari semua bayang-bayang itu, mencoba untuk bertahan dan fokus.
"Kuasai dirimu May, ingat perlakuannya sama kamu waktu OSPEK kemarin!" batinku lagi.
"Hei...jangan melamun, aku kesini hanya untuk memberikan ringkasan materi dan tugas untuk kelasmu. Jangan berfikir aku datang untuk ngapelin kamu ya!" hardik kak Radhit membuyarkan lamunanku.
"Eh...iya enggaklah. Ngapen juga mikir gitu. Maaf ya, aku bukan tipe cewek yang suka baperan kali kak," balasku gak mau kalah, mencoba menutupi perasaanku yang gak menentu.
"Besok subuh aku akan berangkat menggunakan pesawat ke tempat saudaraku bersama kedua orangtuaku, makanya aku antrkan materi dan tugas ini ke kamu. Aku tau meskipun kamu di sms sama pak Dwiarno kamu gak bakalan ke tempatku mengambil tugas ini. Untungnya Davin teman kelasku tau alamat kostmu, makanya aku antarkan langsung ke tempatmu," ucap kak Radhit lagi, kali ini sambil merogoh saku celananya dia mencoba mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.
"Ini flashdisckku, simpan baik-baik, ada materi dan tugas di dalamnya. Saat aku pulang nanti aku akan mengambilnya kembali. Jagalah dengan sepenuh hatimu!" dengan tatapan penuh arti, kak Radhit memandangku memberikan apa yanh tadi di ambilnya kemudian melangkah pergi, dari kejauhan aku pandangi dia hingga hilang melewati perempatan di depan ganh kostku.
Masihku ingat kalimat terakhir yang di ucapkan kak Radhit membuatku merinding, otakku berfikir keras untuk mencernanya.
Tapi usahaku gagal, aku tak mampu berfikir saat itu.
****
*Apa isi dari flashdisck yang di berikan oleh Radhit kepada Mayang?
__ADS_1
*Apa tujuan Radhit memberikan Flashdisck itu kepada Mayang?
Jawabannya ada di part selanjutnya, trimakasih sudah setia membaca cerbung karya Cikgu Maya 🙏😊