TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# PART 15


__ADS_3

****Kost, 04.30 Wib****


Alarm Hp berbunyi, menandakan mendekati waktu sholat subuh.


Seperti biasa suasana pagi ini masih seperti hari-hari sebelumnya, jika ada diantara kami yang masuk kuliah pagi, maka mereka akan mengambil antrian untuk mandi pagi, karena kamar mandi kami hanya satu.


Agar tidak berebutan, setiap anak kost yang masuk kuliah pagi akan bangun lebih awal dan mengambil antrian untuk bisa mandi lebih dahulu.


Karena pagi ini aku tidak ada jam kuliah, alhasil pagi ini meskipun aku bangun pagi, aku tidak langsung keluar kamar dan mengambil antrian untuk mandi.


Waktu menunjukan pukul 04.35. Masih terlalu pagi, semalaman aku menati telpon dari mas Gilang.


Sepertinya mas Gilang lupa untuk menelponku, atau mungkin mas Gilang sibuk dengan kegiatannya, apalagi akan ada kunjungan di Batalionnya, secara dia pasti akan sibuk mengurus segala sesuatu bersama anggotanya.


Ku raih HPku, mencoba membuka icon pesan di Hpku.


Mencari nama mas Gilang, akan aku kirimi kakak sulungku itu pesan, semoga saja mas Gilang tidak sibuk dan akan menelponku.


Namun belum kelar pesan yang aku tulis, tiba-tiba muncul panggilan masuk, di sana muncul nama mas Gilang.


Hatiku sedikit berdebar, was-was jikalau saat aku mengajukan ijin kepadanya mas Gilang akan mencoba mencari tahu apa alasanku untuk mendaftar dan mengikuti ekskul HIMAPALA.


Sekeras mungkin aku coba tuk berfikir.


Mencari alasan yang tepat sebagai jawabanku, agar mas Gilang menyetujui keinginanku bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam di kampus.


Ku dengar mas Gilang membuka suara dari seberang sana ," Assalamu'alaikum, Dek. Gimana kabarmu? Apa kamu sehat-sehat saja di sana? Apa ada sesuatu hal yang sangat penting yang ingin kamu bicarakan? Apa gerangan yang mau di bicarakan?" bertubi-tubi pertanyaan yang mas Gilang lontarkan kepadaku, sampai-sampai aku belum sempat membalas salamnya.


"Sabar donk mas, Mayang belum juga membalas salam yang mas ucapkan. Nanyanya satu-satu donk." balasku sambil menghela nafas yang sedari tadi terasa berat, memikirkan apa yang akan terjadi nanti saat aku menceritakan keinginanku kepada mas Gilang.


"Owh...iya ya Dek, baiklah silahkan ngomong mas dengarin. Tapi jangan lama-lama ya.


Habis ini mas Gilang mau Apel pagi, habis itu mau nemanim teman mas yang namanya Radhif ngantarin orang tuanya ke bandara, hari ini ortunya mau balik ke Surabaya. Kemarin adiknya ikut tapi udah duluan pulang, karena ada kerjaan." kembali mas Gilang berucap dari seberang sana, seakan terburu-buru.


Sebelum memulai pembicaraanku, sesaat aku mengela nafasku dan menghembuskannya, mencoba mengatur kata agar mas Gilang tidak curiga," Baiklah mas, tapi mas Gilang janji akan bantuin Mayang buat sampaikan ke Ibu ya," ucapku penuh harap.


Singkat cerita, mas Gilang menyetujui keinginanku untuk menjadi anggota HIMAPALA, Namun dengan suatu syarat.


Aku harus menghubunginya jika ada kegiatan yang di laksanakan, dan wajib meminta ijinnya terlebih dahulu sebelum memutuskan mengikuti kegiatan apapun yang di laksanakan oleh organisasi HIMAPALA tersebut.


Tujuannya agar, mas Gilang bisa memantau setiap aktivitasku dalam organisasi HIMAPALA dan memutuskan kegiatan tersebut boleh atau tidak aku lakukan.


Sebelumnya rasa sesak menghimpit dadaku, namun setelah aku mendiskusikannya dengan mas Gilang tadi, rasanya dada ini lega, plong tanpa beban yang menghimpit.


Ijin sudah aku kantongi dari mas Gilang, tapi masih ada rasa ragu di dalam hati ini.


Apa benar ini keputusan yang tepat dalam hidupku.


Tak terasa adzan subuh berkumandang, akupun bergegas mangambil wudhu dan sholat.


Masih dengan rasa ragu yang bergelanyut dalam relung hatiku.


Aku kembali bersujud memohon petunjuk dan ridho dari Gusti Allah.


Berharap keputusan ini adalah keputusan yang tepat.


Sesaat setelah sholat aku kembali berbaring, sambil memainkan HPku, memutar musik dan mendegarkannya, mencoba menghilangkan rasa galau di hatiku, membayangkan awal pertemuanku dengan teman-temen seperjuangan yang kini menjadi sahabatku dalam menuntut ilmu di bangku kuliah. Terlintas pula wajah kak Radhit saat OSPEK kala itu.


Tak terasa aku ketiduran saat mendengarkan alunan musik dari Hpku.

__ADS_1


Aku tersadar ketika Ika datang ke kamarku dan membangunkanku.


Dengan nada panik dan ekspresi wajah yang gusar.


Ika terus saja berucap," Mayang....,bangun...ayo cepat bangun. Kamu kok malah enak-enakan tidur, apa kami gak lihat status di FB Setyo?" ucap Ika sambil memegang HPnya dan memperlihatkannya kepadaku.


Tampak di foto itu Setyo menuliskan kalimat pendek, "SELAMAT TINGGAL UNTUKMU YANG KU CINTAI".


Entah untuk siapa status itu di tujukan.


Nampak teman dan juga sahabatnya membanjiri kolom komentarnya dengan berbagai macam pertanyaan.


Sesaat kemudian, nampak Setyo memposting fotonya yang berada di bandara.


Dalam statusnya dia menuliskan," Jika kita berjodoh, aku yakin suatu saat kita akan bertemu, dan saat itu aku akan menunjukkan bahwa aku pantas untukmu."


Aku dan Ika saling berpandangan, menerka-nerka untuk siapa status Setyo di tujukkan.


Apakah Setyo memiliki kekasih?


Atau mungkin ada seseorang yang sedang dekat dengannya selain aku.


Wajar saja, karena Setyo banyak pengagumnya, mungkin saja ada sesorang yang benar-benar dia suka, namun tak ada yang tahu.


Benar-benar kepribadian yang sulit untuk di tebak.


Wajahnya yang tampan, tubuh yang atletis karena Setyo adalah seorang atlet basket dengan segudang juara, membuatnya menjadi primadona dan cowok idaman bagi setiap wanita.


Namun itu tidak berlaku untukku, karena sejak menjadi MABA di kampus ini dan menjadi PK untuk kelas kami, Setiap kali melihat Setyo tak ada perasaan apapun dan tak ada rasa ingin merebut perhatian juga simpatik darinya.


Aku bahkan cuek dengan keberadaannya.


Bahkan menjadikannya kekasihku.


Yasudahlah....biarkanlah dia dengan kehidupannya, dan aku tetaplah aku, Mayang Trihapsari si gadis tomboi yang memiliki karakter unik di mata temanku.


Meski kata mereka aku memiliki sejuta talenta tapi itu tak membuatku berbesar hati.


Terkadang aku merasa tak pede jika melihat wanita perfect seperti Nabila.


Sungguh aku merasa jauh bila di bandingkan dengan mereka yang menghias dirinya bak supermodel.


Begitu cantik dan sempuna.


Tersadar aku dari lamunanku kala Ika menepuk jidatku sambil berkata,"Oalah Mayang....jadi dari tadi aku ngomong sampe kering mulutku ini, tidak kau dengarkan? Pantas aku tanya kamu diam aja, ternyata fikiranmu gak disini, hanya ragamu aja tadi bersamaku."


"Semprut...sakit tahu, aku gak ngelamun kok,cuma mikirin kok dari tadi aku nyium aroma kecut, jangan-jangan kamu belum mandi dari kemarin cha." balasku mengalihkan pembicaraan.


"Eh tapi cha, tadi sewaktu aku tidur aku sempat bermimpi, aku berada di atas puncak gunung gitu. Pemandangannya sangat bagus tapi aku bukan bersama kak Radhit, entah siapa dia menggunakan baju loreng lengkap dengan ransel tapi wajahnya tidak terlihat. Nampak samar-samar Cha." ucapku sambil tertawa aku bangkit dari kasur mengambil handuk dan meninggalkan Ika yang masih kepo dengan status Setyo di FB.


"Yuk mandi miss perfect, ntar kamu gak bisa tampil cantik di kampus kalo masih kepo sama status orang," teriaku dari dalam kamar mandi.


***kampus, 08.00 Wib***


Seperti biasa Trio gado-gado alias aku, Ika, dan Restu berjalan menuju kampus.


Kali ini lebih santai tidak terburu-buru karena perkuliahan akan di mulai puku 8.30 pagi.


Jadi kami masih punya waktu untuk jajan di kantin kampus atau sekedar nongkrong di koridor depan kelas kami, sambil menunggu tiba waktu perkuliahan untuk kelas kami di mulai.

__ADS_1


Tanpa sengaja aku berpapasan dengan Nabila, cewek resek yang membuatku sakit hati karena ucapannya yang kasar.


Dengan tatapan tajam dia menatapku, namun kali ini tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Hanya pandangan sinis yang penuh kebencian.


Entahlah apa yang terjadi dengannya, aku tak mempedulikannya.


Kami bertiga berjalan menuju kantin, karena tadi pagi memang kami tak sempat untuk sarapan, dan memutuskan untuk membeli beberapa gorengan dan minuman sebagai sarapan pagi ini sebelum masuk kelas di jam kuliah nanti.


Namun saat akan berjalan menuju kantin aku melihat dari jauh sosok kak Radhit yang sedang mengobrol dengan salah satu siswa di sudut di depan kelas yang bersebrangan dengan kantin.


"Deg....hatiku serasa terpompa lebih kencang." Sekujur tubuhku tiba-tiba terasa dingin, keringat mengucur di balik hijabku. Membasahi pelipisku.


Restu dan Ika yang sadar akan hal itu tiba-tiba berbalik, tadinya mereka berjalan lebih dahulu di depanku, tapi setelah melihat kak Radhit mereka berbalik arah dan kembali kepadaku.


"Ika...., kamu sama Mayang ke kelas aja ya, biar aku aja yang beli jajanannya," pinta Restu seakan tahu kegelisahan dan kalutnya aku saat melihat kak Radhit.


Untung saja kak Radhit tidak melihat ke arah kami bertiga.


Jadi fikirku aku masih aman, jika aku berbalik arah dan kembali.


Dari pada aku teruskan berjalan ke kantin, malah akan memperkeruh suasana, aku masih belum siap bertemu dengannya.


Aku masih belum bisa memberi keputusan yang di nantikannya.


Ketika sampai di kelas, tampak hanya ada Dion teman akran Setyo di kelas selama ini.


"Akhirnya kamu datang juga, nich ada titipan dari Setyo buat kamu May." Sesaat suara dion memecahkan kesunyian kelas, sambil melangkah dia menyodorkan sebatang coklat berhiaskan pita pink. Yang diatasnya ada kertas bertuliskan "SDA", yang merupakan inisial dari Setyo Dwi Ardiansyah.


Kali ini di pojok kertas nampak gambar 2 buah gambar hati berdampingan 💞


Apa maksud dari ini semua?


Setyo benar-benar membuatku bingung dan bimbang.


Yang membuatku semakin syok, saat Ika dan Dion memperlihatkan status terakhir Setyo yang mengunggah foto gantungan tas bertuliskan "Avriel Lavigne" gantungan kunci kesayanganku bergambarkan idolaku penyanyi " when you're gone" yang aku sangka hilang, ketika aku berlari meninggalkan kak Radhit di lapangan basket.


Di statusnya Setyo mengunggah foto itu dan menuliskan pesan singkat" untukmu pemilik gantungan kunci ini, suatu saat aku akan menemukanmu dan menjadikanmu milikku".


Lututku serasa lemas, hatiku tiba-tiba terasa sakit, sesak dada ini tak bisa bernafas.


Ada rasa bersalah dan juga rasa sesal yang membayangiku.


Membuatku semakin gelisah dan cemas.


Apa yang harus aku lakukan, apakah aku harus memilih kak Radhit ataukah menanti Setyo kembali?


Duuuuhhhh....Gusti Allah, hamba tak sanggup menghadapi semua ini.


Berikanlah aku kekuatan dan juga petunjukmu.


**********


*Apakah yang sebenarnya terjadi pada Setyo?


*Kemanakah Setyo pergi?


*Apakah Mayang memutuskan untuk memilih Radhit?

__ADS_1


Nantikan kelanjutan kisahnya di part selanjutnya 🙏😍😘


__ADS_2