TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# Part 58


__ADS_3

...****""""****...


...Royal Plaza, Ahmad Yani, Surabaya...


"Yo, maafkan aku atas semua salahku," ucapku memecahkan kehenimgan diantara kami.


"Aku sadar selama ini aku sudah membuatmu susah. Hiduplah bahagia dengan orang yang kau cintai," ucapku lagi.


"Apa maksudmu berkata seperti itu?"


"Aku sangat mencintaimu, bahkan cinta ini ada sebelum kau mengenal mendiang Kak Radhit," tutur Setyo dengan nada tinggi.


"Aku sudah tau apa yang terjadi padamu, aku sanggup menerima semua itu. Demi cintaku, kembalikah padaku," ucap Setyo sambil memegang tanganku.


"Tapi aku sudah tak pantas lagi bersamamu, Yo. Carilah wanita yang lebih pantas untuk menjadi pendampingmu.


Aku hanyalah masa lalumu yang takkan pernah menjadi masa depanmu," ucapku berurai airmata.


Setyo mendekap erat diriku, mencoba menghiburku.


"Maafkan aku, kita takkan bisa bersama," sambil melepas pelukkan yang seharusnya tak kubiarkan itu terjadi.


"Tapi--" ucapnya terputus karena aku segera memotongnya.


"Aku sudah menikah dan aku sekarang sedang mengandung anak dari buah pernikahanku. Tolong mengertilah!" seruku dengan tatapan tajam.


"Aku tahu itu anak siapa. Dan aku tahu pernikahanmu hanya sebuah kesepakatan," kilah Setyo berusaha merubah keputusanku.


"Aku bersedia menikahimu dan menjadi ayah dari anak yang kau kandung," tambahnya lagi.


Kali ini Setyo berusaha meyakinkanku untuk menerima cintanya.


"Simpanlah gelang kaki ini sebagai kenang-kenangan dariku,"


"Terimalah cinta wanita yang selama ini mencintaimu secara diam-diam," ucapku sambil melepaskan gengaman Setyo dari tanganku.


"Apa maksudmu?"


"Siapa yang selama ini mencintaiku?" ucapnya penuh selidik.


"Kau akan tahu, bukalah hatimu untuknya," balasku.


"Dan lupakanlah aku untuk selamanya!" ucapku sambil berlalu pergi dari hadapannya.


Sedih rasanya melihat Setyo terluka. Tapi bila semua ini takku akhiri, luka itu akan semakin dalam dan sulit untuk di sembuhkan.


Aku berharap Setyo dapat membuka hatinya, karena sebenarnya Restu sudah menyimpan lama perasaan suka pada Setyo.


Aku tak ingin bersikap egois dengan memberi harapan palsu pada Setyo.


Apalagi membuat harapan sahabatku Restu sirna untuk memiliki Setyo.


Sudah saatnya aku membuka hati untuk Kak Radhif, bagaimana pun dia kini adalah suamiku, ayah dari janin yang ku kandung, meskipun bukan darah dagingnya, akan tetapi darah yang mengalir dalam darah janin ini sama dengan yang mengalir dalam darah Kak Radhif.


Andaikan aku dan Kak Radhif tak berjodoh, aku pasrah.


Paling tidak aku tak mencoba untuk menghianatinya.


****"""""****


Batalion A, Papua.


Dalam keheningan malam, Radhif merenung.


Memikirkan sikap Mayang yang sudah membuatnya kecewa.


Seharusnya aku tahu kalau Mayang masih mencintai Setyo.


Dan bodohnya aku membiarkan dirinya bertemu dengan pria yang merupakan kisah masa lalunya itu.


"Harusnya tadi aku melarangnya untuk pergi," ucap Radhif sambil memukul meja makan kayu tempatnya duduk.


Setelah merenung cukup lama, akhirnya muncul ide gila dalam benak Radhif.


Dia ingin menemui Setyo secara langsung, dia ingin membuktikan seberapa besar cinta Setyo kepada Mayang.


'Jika memang dia pantas untuk Mayang, aku akan merelakannya, meskipun aku terluka dengan kenyataan yang ada di depanku," jerit batin Radhif.


Malam itu juga, Radhif mengurus semua berkas cutinya. Di dalam berkas cutinya Radhif mencantumkan ijin untuk melangsungkan pernikahan.

__ADS_1


Selama seminggu ini memang dirinya telah mengurus berkas nikah dinas untuknya dan Mayang.


Dan semua itu telah rampung.


Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memboyong Mayang ke tempat tugasnya.


Namun itu semua akan sia-sia bila Mayang tidak mencintainya dan lebih memilih Setyo.


Dua hari setelah kejadian itu, Radhif berangkat tanpa berpamitan kepada Gilang.


Kali ini Radhif merahasiakan kepulangannya, bahka kepada kedua orang tuanya yang masih berada di Solo.


Hanya Pak Ujang yang di hubungi oleh Radhif.


Tepat pukul satu siang pesawat yang di tumpanginya landing di bandara Juanda, Surabaya.


Tanpa Mayang ketahui, Pak Ujang telah pergi menjemput Radhif di bandara.


Perjalanan bandara kerumah memakan waktu 30 menit karena macet.


Berhubung hari itu adalah hari senin.


"Masih macet, Pak?" tanya Radhif sambil melirik jam tangan.


"Sabar, Den. Bentar lagi juga sampai. Den Radhif kangen ya sama Non Mayang?" ucap Pak Ujang menggoda.


Radhif pun tersenyum kecut, membayangkan reaksi Mayang saat dia pulang nanti.


Pastilah reaksi yang sama ketika dulu dia meninggalkan rumah saat berangkat ke tempat tugasnya.


"Hhhhuuuussst!"


"Pak Ujang, kepo deh," balas Radhif mencoba menyembunyikan kisah sebenarnya dari supir kepercayaannya itu.


"Obat yang saya kasih masih ada kan, Den?" tanya Pak Ujang asal.


"Iya masih, Pak," balas Radhif singkat.


"Kalo habis masih ada punya saya, Den," ucapnya lagi.


"Pak Ujang memang hebat. Pantas aja Bi Inah gak berpaling, padahal kalo di fikir lebih tua sepuluh tahun ya, Pak Ujang dan Bi Inah.


Lebih muda Bibi," ujar Radhif sekenanya, membuat Pak Ujang tersipu Malu.


Mobil pun sampai di parkiran rumah.


Pelan-pelan Radhif masuk ke dalam rumah.


Kemudian menuju kamar tamu.


Radhif sengaja melakukan itu, dia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh Mayang.


"Den, barangnya sudah saya taruh di kamar tamu.


Den Radhif mau makan apa?" tanya Bi Inah.


"Nanti aja makannya, Bi. Radhif mau mandi dulu.


Tapi jangan bilang ke Mayang aku pulang ya, Bi," ucap Radhif sambil berjalan mengendap-endap menuju kamar tamu.


Selepas sholat isya Mayang keluar kamar, ada sesuatu yang hendak ia ambil di kamar tamu.


Kebetulan hari itu selimut di kamarnya telah kotor dan di laundry.


Teringat olehnya selimut di kamar tamu senada dengan seprei yang di pakainya kini.


Mayang melangkahkan kakinya, menuju kamar tamu. Suasana di sana remang-remang.


Hingga tidak begitu jelas baginya.


Tangan Mayang meraba-raba saklar lampu yang ada di dinding tapi tak nemenukanya juga.


Akhirnya dalam keadaan remang-remang langkah kakinya menuju tepat tidur dan menarik selimut yang ada di atas ranjang.


"Apa ini? Kok selimutnya gak bisa di ambil, sudah aku tarik sekuat mungkin," ucapnya setengah berbisik.


Namun tiba-tiba....


"Buuukkkk!"

__ADS_1


"Aaauuuccchhhh, sakit!" pekiknya.


"Bi....Bibi tolong!" teriak Mayang.


Dan tiba-tiba sosok pria tegap menggendongnya dan menaruhnya di atas ranjang sambil menutup mulutnya.


"Diam atau ku habisi kau," ucap suara itu.


'Bukannya ini suara Kak Radhif?' batin Mayang.


Mayang berusaha mentap wajah yang ada dihadapannya.


"Kak Radhif?" tanya Mayang dengan suara bergetar.


"Ternyata kau mengenali suaraku.


Aku fikir hanya Setyo yang ada dalam fikiranmu," ujar Radhif sambil berjalan ke arah pintu.


Tak lupa tangannya menyalakan saklar lampu yang ada di balik lemari pakaian.


Mayang tak menyangka Kak Radhif akan berkata seperti itu.


Tapi dari mana dia tahu tentang Setyo?


Akhirnya Mayang bangkit dari ranjang dan mengambil selimut yang tadi sempat di tariknya, hingga membuatnya terjatuh.


Berjalan menuju kamarnya.


Tak nampak Kak Radhif di kamarnya maupun di lantai bawah.


Saat memasuki kamar tiba-tiba seseorang menutup kamar dan mendorongnya ke dinding.


"Apa ini?"


"Kenapa kau begitu kasar, Kak?" suara Mayang mulai bergetar karena takut dan terkejut.


"Apa hebatnya Setyo sampai-sampai kau membohongiku hanya untuk menemuinya?" ucap Kak Radhif dengan tatapan tajam dan wajah yang serius.


"Lihatlah aku, aku sangat mencintaimu. Akan aku lakukan apapun untukmu.


Tapi jangan pernah menghianatiku," suara Radhif kian menggelegar memekakan telinga dan menusuk hati Mayang.


"Bu...bu...bukan seperti itu Kak," dengarkan dulu penjelasanku.


'Harusnya kau tahu, aku telah menolak Setyo. Aku berharap bisa membuka hati ini untukmu,' jerit Mayang dalam hati.


"Ada yang ingin aku ceritakan," ucapku memohon pengertian dari Kak Radhif.


"Aku sudah bersabar, tapi sampai saat ini kau terus saja menguji kesabaranku," amarah Radhif semakin menjadi.


"Katakan di mana Setyo berdinas, akan aku temui dia dan membawanya kepadamu," bentak Radhif membuat Mayang semakin takut.


Badannya menggigil ketakutan melihat ekspresi Radhif saat itu.


Hingga....


Karena syok dan depresi Mayang pun pingsan.


Dengan susah payah Radhif menggendongnya dan membawanya ke klinik yang tak jauh dari kediaman mereka.


Ada penyesalan dalam diri Radhif, mengapa dirinya tidak bisa menahan emosi.


Kini hanya penyesalan, semua akibat kebodohannya.


Dia lupa bahwa syok atau depresi akibat tekanan jiwa dan batin, bisa berdampak buruk bagi kesehatan Mayang dan juga bayi yang di kandungnya.


Nasi telah menjadi bubur.


Apa daya setetes nila telah membuat susu sebelanga menjadi rusak.


Kini dia hanya bisa berharap Mayang akan baik-baik saja.


🍁🍁🍁🍁🍁


*Bagimana kisah selanjutnya?


*Apakah Mayang akan memaafkan sikap Radhif terhadapnya, dan membuka hati untuk Radhif?


*Apa Radhif menemui Setyo untuk memastikan apa sebenarnya yang telah terjadi antara Mayang dan Setyo?

__ADS_1


Nantikan kisahnya di "TAKDIR CINTA MAYANG" Part 59. Terimakasih 🙏🤗😍



__ADS_2