TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# Part 74


__ADS_3

...PERTEMUAN SETYO DENGAN RADHIF...


...*Bagian pertama*...


...Rumah sakit X, Kota Malang...


...****""""*****...


"Pak Radhif, Bapak harus benar-benar menjaga istri Anda ini dengan baik. Apalagi istri Anda sedang mengandung bayi kembar, mengandung bayi kembar 4 sangatlah riskan, terutama bagi ibu dan bayinya. Saya harap Anda mengerti," ujar sang dokter dengan wajah serius.


"Baik, Dok. Saya akan berupaya sebaik mungkin untuk menjaga istri dan calon anak kami," ucapnya singkat namun tegas dan padat.


"Ibu Mayang, harus sering-sering chek up kandungan, ya, Bu. Karena kami harus mengetahui perkembangan keempat janin ibu sangat ini. Melakukan pemeriksaan rutin serta USG setiap bulannya, agar kami bisa mengetahui perkembangan keempat embrio yang ada di dalam rahim Ibu. Kami akan melakukan tindakan medis bila keempat janin dalam kandungan Ibu Mayang tidak berkembang dengan baik," ujar Dokter Inggrit.


Deg....


Hati Mayang merasakan sesuatu ketika sang dokter cantik itu mengatakan kalimat terakhir tadi.


"Apa yang akan dokter lakukan bila terjadi kelainan pada kandungan saya?" tanya Mayang dengan raut wajah yang terlihat sangat cemas dan khawatir.


Radhif yang mengetahui hal tersebut mencoba menenangkan hati Mayanf.


Diraihnya jari jemari Mayang. Menggengamnya dengan erat.


Seolah-olah dengan sikapnya itu dia ingin menunjukkan kepada Mayang, bahwa dirinya akan selalu ada dan akan selalu menemani Mayang melewati semua masa-masa sulit dalam kehamilannya tersebut.


"Tenanglah, tarik nafasmu dan hembuskan. Jangan panik!" ucap Radhif kepada sang istri.


Kemudian Radhif berkata kepada sang dokter, "Apa yang akan terjadi bila terjadi kelainan pada embrio yang tumbuh di dalam rahim istri saya, Dok?" Dari wajah dan sorot matanya Radhif pun mulai nampak gusar.


Sejenak air muka Dokter Inggrit berubah, dia mengernyitkan dahinya.


Kemudian mengecek layar komputernya.


Sepertinya ada yang membuat dokter cantik itu tidak bisa langsung menjawabnya.


Dia masih memikirkan cara merangkai kata yang tepat, agar kedua pasangan muda ini tidak panik, kecewa bahkan terkejut.


"Saya sangat berat mengatakan ini, tapi saya harus kuat untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Meskipun saya tahu ini akan membuat kalian berdua sedih dan kecewa," uja Dokter Inggrit.


"Tidak mengapa, Dok. Tolong sampaikan saja tindakan apa yang akan dilakukan dan apa alasannya?!" ucap Radhif dan Mayang bersamaan.


"Baiklah. jika kalian memaksa," jawab si dokter dengan singkat.


"Jika embrio yang ada di dalam rahim Bu Mayang tidak tumbuh dengan baik, maka saya akan melakukan operasi. Mengangkat keempat embrio tersebut," jelas Dokter Inggrit dengan nada yang sangat berat dan mata berkaca-kaca. Seakan turut merasakan apa yang dirasakan Mayang sebagai seorang calon ibu muda itu yang pastinya akan syok atau bahkan trauma bila mengetahui hal yang sebenarnya.


"Apa, Dok. Operasi???"


"Mengapa bisa seperti itu???" suara Mayang mulai tak stabil, emosinya mulai tak terkontrol.


Ada rasa sedih dan kecewa yang menghujam dadanya.


semburat garis keputusasahan terlihat jelas di sana, di wajah cantiknya.

__ADS_1


"Tunggu sampai 1 atau 2 bulan, maka akan saya pastikan apa keempat embrio tersebut tumbuh dengan optimal. Jika tidak kita akan melakukan operasi mengangkat janin yang berada di luar kandungan, agar tidak menyebabkan hal-hal negatif bagi Ibu dan bayinya.


Hati Mayang terasa remuk, harapannya untuk membesarkan buah cintanya dengan mendiang Kak Radhit hancur berkeping, luluh lantak berserakan.


Kebahagiaannya seolah menguap di terpa cahaya sinar mentari.


Tak bersisa bahka jejak sekalipun tak ada lagi, yang ada hanya rasa kehampaan.


'Haruskah aku kehilangan janinku, buah cintaku dengan mendiang Kak Radhit? Ya, Allah, apa Engkau tega mengambil mereka dariku setelah kepergian Kak Radhit? Apa aku sanggup menerima ujian ini?' rintih Mayang dalam hati.


Begitu perih dirasakannya, sampai-sampai tak ada lagi air mata untuk meratapi semua ini.


Di batas asahnya dia hanya bisa berdoa dan memohon kepada Allah Sang Empunya kehidupan ini, agar janin dalam kandungannya tumbuh dan berkembang.


Sehingga dapat mematahkan semua prediksi dan rencana dari dokter.


Hanya dengan kuasa Allah, apa yang tak mungkin bisa menjadi mungkin sebab manusia hanya bisa merencakanan tetapi Allah yang akan menentukan segalanya.


Setelah melakukan chek up dan berkonsultasi dengan Dokter Inggrit usai, tiba saatnya Radhif untuk menemui Dokter Rian.


Ada beberapa berkas terkait mendiang Radhit yang harus diselesaikannya dengan bantuan Dokter Rian sebagai staf yang menangani kasus Radhit saat itu.


Radhif dan Mayang pun berjalan melangkahkan kaki menuju kantor Dokter Rian.


"Kita mampir ke tempat Dokter Rian ya, sayang. Apa kau lelah? Jika lelah aku akan mengantarmu ke mobil. Biar dirimu bisa beristirahat di sana," ucap Radhif sembari merangkul Mayang yang berjalan tepat disampingnya.


"Aku akan menemanimu, Kak. Sungguh aku baik-baik saja," balas Mayang memeluk suaminya dengan mesra.


Entah mengapa dia merasa lebih nyaman bila bersama Radhif.


Kini bongkahan es di dalam hatinya telah mencair, berganti musim semi yang penuh dengan bunga-bunga yang bermekaran.


Bunga cinta yang telah ditaburkan oleh Radhif kini tumbuh subur dan mewangi.


Sesampainya mereka di depan ruang Dokter Rian, Radhif melepaskan rangkulannya. Kemudian mengetuk pintu tersebut.


Selepas melakukan 'chek up' tadi Radhif telah menghubungi sang dokter.


"Tiiiit....tiiit...tiiit....!!!" suara pesan masuk di ponsel Radhif.


Dengan terburu-buru Kak Radhif mengambil ponselnya dari sebuah wadah kotak berwarna coklat dengan aksen sisik keemasan, kotak kecil itu menempel pada sabuk celana yang terlilit di pinggangnya.


"Hhhhmmmmm....Dokter Rian menunggu kita di kantin rumah sakit. Sebaiknya kita ke sana sebelum hari semakin siang. Aku takut dirimu lelah, itu tak baik untuk kandunganmu," ucap Radhif dengan tatapan teduh bak samudra raya yang tenang, akan tetapi dapat menghanyutkan seseorang yang berada di atasnya.


Nampak tak beriak, namun dapat membuat Mayang tenggelam di dalam pusaran cinta sang kapten.


Sesat kemudian keduanya telah sampai di sebuah tempat yang tak jauh dari kantor sang dokter.


Terlihat sang dokter yang sedang duduk bersama seorang pria.


Pria tersebut nampak gagah dengan potongan cepak mirip anggota TNI.


Namun sayang wajahnya tak bisa dikenali karena posisi duduknya membelakangi mereka.

__ADS_1


"pergilah dulu, Dek. aku akan ke parkiran.


Berkas yang harus ditandatangani Dokter Rian tertinggal di 'dashboard' mobil," ucap Radhif sesaat setelah sampai di dekat kantin rumah sakit yang nampak mulai rai di jam istirahat siang kala itu.


"Aku tak mau sendiri, aku ikut bersamamu, ya, Kak?" pinta Mayang.


Radhif menatapnya dengan lembut sambil membelai pipi Mayang.


"Tetaplah di sini. pergilah dan Tunggulah aku di tempat Dokter Rian berada.


Aku takkan lama, aku berjanji," tambah Radhif seraya meraih Mayang dalam dekapannya dan mengecup kening sang istri.


"Baiklah!"


"Tetapi kembalilah dengan cepat. Aku tak ingin jauh darimu walaupun sesaat," balas Mayang dengan tatapan memohon mirip seorang anak yang sedang meminta sesuatu pada sang ibu.


Radhif pun berlalu menuju parkiran, sedangkan Mayang masih berdiri mematung dengan tatapan nanar memandang Radhif yang telah berjalan menyusuri koridor yang berada di samping kantin, hendak menuju parkiran depan.


"Assalamualaikum, maaf dengan Bu Mayang. Mari silahkan bergabung dan menunggu Pak Radhif di dalam kantin bersama saya dan saudara sepupu saya. secara kebetulan dia sedang izin dari batalionnya untuk mengunjungi saya di tempat kerja," ujarnya sambil mempersilahkan Mayang agar mengikutinya menuju kantin rumah sakit tersebut.


Selang beberapa saat Mayang dan Dokter Rian telah berada di dalam kantin itu.


kemudian Dokter Rian menepuk pundak sepupunya yang sedang asyik mendengarkan musik melalui 'hadset'.


'Hadset' itu tersambung pada ponsel yang berada tak jauh dari pria tersebut.


Ponsel itu diletakkannya tepat di atas meja.


Sang sepupu sedang menunduk dan tengah asyik mengutak atik sebuah ponsel lain di tangannya kemudian mendongakkan wajahnya mencari sumber suara, menatap ke arah Dokter Rian.


Dia memberi kode pada Mayang yang berada di belakang pria itu untuk berkenalan dengannya.


"Bro, kenalin ini pasien aku dulu yang sempat aku tangani," ucap Dokter Rian memperkenalkan Mayang pada sepupunya itu.


Namun......


Alangkah terkejutnya Mayang saat pria itu membuka topinya, ternyata pria itu yang ternyata sepupu dari Dokter Rian yang selama ini dikenalnya adalah Setyo.


Setyo Dwi Ardiansyah yang merupakan pria yang berusaha mendapatkan kembali cinta Mayang.


Ada desiran aneh dalam hatinya, antar bahagia bercampur kecemasan.


Mayang khawatir bila nantinya Kak Radhif akan melakukan sesuatu di luar dugaan jika bertemu dengan Setyo.


'Ya, Allah, takdir seperti apa ini? Mengapa kami harus dipertemukan di saat seperti ini? Di kala telah terjalin kedekatan di antara aku dan Kak Radhif.


aku tak ingin pertemuan ini menghancurkan rasa cinta yang mulai terajut di antara aku dan suamiku,' gumam Mayang dalam hati.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


*Apa hal yang ditakutkan Mayang benar-benar terjadi?


Nantikan kisah selanjutnya hanya di "TCM" part 75. Terimakasih 🙏😊

__ADS_1


NOTE : Jangan lupa like, vote, tip dan komennya yang membangun ya teman-teman semua.


Karena semua itu bisa menjadi imun dan penyemangat untuk Author dalam menulis, mohon maaf apabila masih banyak kekurangan, karena Author masih pemula, semoga bisa lebih baik lagi kedepannnya 🙏😊🤩


__ADS_2