
...--Hilangnya Mayang dari rumah sakit--...
...(bagian ketiga)...
...Sepenggal part sebelumnya,...
"Ehem!" suara Danton Heru mengagetkan kedua anggotanya yang nampaknya tak sadar mereka telah di pantau sejak tadi olehnya dan juga Radhif.
Sontak saja Togar yang masih asyik bercerita mendadak pucat pasi ketika mengetahui bahwa Danton Heru dan juga Pak Radhif berada di balik jendela. Tubuhnya gemetar, panas dingin serasa mau pingsan. Ia khawatir bila Pak Radhif akan memberikannya hukuman karena sikapnya tadi.
"Izin, Danton. Saya kebelet ingin buang hajat. Saya pamit kebelakang sebentar," ucap Togar berusaha melarikan diri dari situasi tegang tersebut.
"Izin, saya juga ya Danton. Maaf sudah tidak tahan mau buang air kecil," ujar Asep sembari berlari mengikuti Togar yang sudah duluan ngacir.
"Ah, dasar kalian. Mau kabur aja. Awas kalo balik. Aku suruh lari keliling rumah sakit sebanyak seratus kali," teriak Danton Heru dengan nada tinggi.
Melihat hal tersebut Radhif pun tersenyum.
"Izin, Bang. Maafkan anggota saya. Mereka memang begitu. Maaf apabila ada kata-kata mereka yang menyinggung Abang," ucap Danton Heru meminta maaf.
"Ah, gak apa-apa kok, Her. Itu hanya rumor murahan. Aku yakin bukan Dokter Bima dalang semua ini. Aku harus menemui humas rumah sakit untuk mencari tahu kebenarannya. Sudah hampir tiga jam aku menunggu. Aku berharap mereka bisa memberi petunjuk atau titik terang, agar kita bisa segera menemukan Mayang kembali," balas Radhif.
"Siap, Bang. Saya akan menemani Bang Radhif kesana," seru Danton Heru kemudian mengikut langkah Radhif yang berjalan menuju loby rumah sakit.
...________****""""****_________...
Ketika berjalan melalui koridor rumah sakit Radhif mulai merasakan ada hal yang tidak beres. saat berpapasan dengan para medis atau perawat nampak mereka berbisik dan memandang sinis ke arahnya.
__ADS_1
Sepanjang jalan Radhif mengepal erat kedua tangannya. Dia berharap dapat menahan emosinya yang mulai berkobar.
'Andai saja aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, takkan aku biar semua ini berlarut-larut. Sepertinya ada sesuatu yang pihak rumah sakit sembunyikan," ujar Radhif dalam hati. Wajahnya terlihat memerah menahan amarah. Matanya fokus menatap kedepan tanpa mempedulikan mereka yang sedanf berbisik-bisik dan memandang sinis kepadanya.
Danton Heru pun tak berkata sepatah kata pun, dirinya terus berjalan mengikuti Radhif dari belakang. Dia khawatir bila ucapannya malah membuat seniornya itu semakin emosi. Dalam fikirannya diam adalah hal terbaik untuk saat ini.
Dengan setia Danton Heru tetap mengikuti langkah kaki Radhif. Hingga langkah seniornya itu berhenti di sebuah ruangan. Di sana nampak beberapa orang sedang duduk. Diantaranya ada petugas keamanan yang sempat berbincang dengan Radhif sebelum dirinya kembali ke kamar inap. Pria itulah yang berjanji akan memberikan informasi bila ada kemajuan atau informasi dari bagian humas.
Namun, sudah tiga jam berlalu pria tersebut tak kunjung menghubungi Radhif. Dan akhirnya Radhif berinisiatif untuk datang menemui pihak humas rumah sakit demi mendapatkan petunjuk atau informasi akurat tentang hilangnya Mayang istrinya.
"Assalamualaikum, selamat malam Pak. Maaf saya kurang sopan datang langsung menemui Anda di kantor humas. Sebenarnya saya hanya ingin mendengar dari Anda, bagaimana sampai terjadi kejadian tadi siang, hingga istri saya hilang dari kamarnya. Sekarang sudah hampir tiga jam saya berusaha mencari keberadaanya, namun hasilnya nihil. Mungkin Anda bisa memberi saya titik terang tentang keberadaan atau kejadian sesungguhnya melalui rekaman CCTV!" ucap Radhif dengan sopan namun berwibawa.
"Silahkan masuk, Pak. Silahkan duduk. Maaf tadi kami agak kesusahan dalam menyelidiki kasus kehilangan tersebut. Namun, berkat tim ahli, kami bisa mendapatkan informasi yang cukup akurat tentang motif dari hilangnya istri Anda," ujar bagian humas rumah sakit kepada Radhif.
Radhif pun masuk ke dalam ruangan tersebut dan duduk berdampingan dengan Heru.
"Pak Radhif, kami menemukan buku diary ini di meja kerja Dokter Bima. Karena CCTV menunjukkan Dokter Bima sempat bertemu dengan Mayang dan perawat yang membawanya, kami pun menggeledah ruang kerja Dokter Bima untuk memberi petunjuk,"
"Sayangnya kamera CCTV di parkiran tempat ditemukannya kursi roda Bu Mayang rusak, makanya kami tidak mendapat petunjuk pasti apakah ini yang pasti apa Dokter Bima terkait dengan hilangnya istri Anda," jelas bagian humas rumah sakit kepada Radhif.
Wajah Radhif nampak semakin memerah menahan emosi yang kian meletup-letup. Apalagi dirinya mulai sadar dengan sikap Dokter Bima yang terkadang aneh saat berdekatan dengan Mayang istrinya.
"Bisa saya lihat buku diary yang ditemukan di ruang Dokter Bima, Bu? Mungkin ada petunjuk didalamnya," ujar Radhif dengan nada berat.
Matanya memandang ke arah wanita yang memegang buku diary tersebut. Dalam sorotan matanya Radhif nampak kobaran api amarah yang siap membakar siapapun.
"Silahkan, Pak Radhif. Maaf karena petugas keamanan kami terlambat menghubungi Anda. Sebab ada beberapa hal yang harus kami rundingkan. Ini semua demi nama baik rumah sakit kami. Kami harap Pak Radhif memakluminya dan memaafkan kami," ucap wanita yang merupakan bagian humas rumah sakit tersebut. Di meja kerjanya terdapat papan nama yang bertuliskan 'Anggun'. Tak salah lagi wanita itu adalah nama wanita muda yang berdiri di hadapan Radhif saat ini.
__ADS_1
Heru yang melihat itu, Danton Heru mencoba memanfaakan kesempatan dalam kesempitan.
"Maaf Bu, bisa minta no ponselnya? Mungkin bermanfaat untuk saat ini. Jika kami mengalami kesulitan nanti kami bisa menghubungi Anda," jelas Danton Heru.
Radhif hanya diam. Tangannya meraih buku diary dari wanita yang bernama Anggun tersebut kemudian berlalu tanpa menunggu Heru yang sedang SKSD alias sok kenal sok dekat.
Setelah mendapatkan nomor Anggun, Heru pun berpamitan.
"Terima kasih, Bu. Maaf bila sikap senior saya tadi kurang berkenan di hati Anda semua. Ini karena masalah yang datang bertubi-tubi, sehingga sifat temperamentnya sulit dikendalikan," jelas Danton Heru.
"Oh, iya. Gak apa-apa. Saya maklumi itu, Pak. Satu hal lagi, jangan panggil saya Ibu. Saya belum menikah. Panggil saja saya Anggun," balas wanita cantik itu kepada Danton Heru.
'Alhamdulillah, berkat Bang Radhif aku bisa dapat kenalan cewek cantik, berkah dalam kesusahan,' batin Danton Heru kegirangan.
"Baiklah, Mbak Anggun. Saya permisi dulu. Terima kasih atas bantuannya," balas Danton Heru sembari mengulurkan tanggannya untuk bersalaman.
"Sama-sama," balas Anggun menyambut uluran tangan Danton Heru.
Setelah memohon diri dan bersalaman dengan beberapa petugas di ruangan tersebut, Dantob Heru pun segera berlalu dan kembali ke kamar inap itu untuk menemui seniornya Radhif.
Namun, sesampainya Danton Heru di kamar itu, tak nampak Radhif. Di sana hanya ada kedua anggotanya yang sedang membereskan barang-barang yang ada di ruangan itu.
...-----------Bersambung-------------...
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 120. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊
Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
__ADS_1
Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.