
*****
"Ehemmmmm....," terdengar suara deheman seorang wanita dari arah belakang.
Tanpa di komando, serentak kami berdua memalingkan wajah, mencari sumber suara yang kami dengar tadi.
Ternyata suara tersebut berasal dari seorang wanita cantik dengan body mulus bak gitar spanyol, dengan kulit kuning langsat dan rambut lurus panjang sepinggang yang tampak indah makin indah dengan car rambut berwarna brown.
Seraya bangkit dari posisi jongkok, aku dan kak Radhit saling berpandangan.
Aku tak menyangka akan bertemu mereka berdua pagi ini, entah musibah atau berkah sehingga kami bertiga di pertemukan di tempat yang sama.
Namun kali ini aku mencoba untuk tidak memikirkannya, mencoba untuk berfikiran positif.
Hingga rasa sakit dan kecewa itupun benar-benar aku rasakan ketika Nabila mulai bersikap konyol dan judes.
Semua itu karena rasa cemburunya yang membuatnya melakukan semua itu.
Sambil melepaskan genggaman tangan kak Radhit aku berkata," Maaf kak aku harus kembali ke kelas sebelum jam perkuliahan di mulai, karena aku harus mempersiapkan keperluan untuk kuliah nanti."
Tampak kak Radhit hanya terdiam, tatapannya tajam ke arahku, seolah tak ingin aku beranjak dari tempat itu.
Namun Nabila segera menarik tangan kak Radhit sambil sesekali mencoba melepas senyuman dan lirikan genit ke arah kak Radhit.
Kemudian Nabila berkata, " kamu kok mainnya sama anak ingusan yang baru beranjak ABG, bukannya dia cewek kuper dan kampungan yang pernah kita temui di koridor kampus?"
Masih dengan gayanya yang centil dan manja Nabila melirikku, melepaskan senyum sini seolah aku bukanlah tandingannya.
"Udah sana masuk kelasmu, ngapaen masih disini," kembali suara itu terdengar.
Kali ini suara itu bagaikan petir yang menyambarku di siang bolong.
Aku lihat kak Radhit berusaha untuk mengindar dari Nabila, tapi Nabila terus saja memegang erat tangan kak Radhit.
Timbul rasa kecewa, sedih dan juga marah aku memutuskan untuk pergi.
Toh untuk apa aku harus berada disini, hanya menambah luka di hati apabila tetap bertahan, apalagi Nabila semakin menjadi-jadi melihat kejadian yang terjadi tadi antar aku dan kak Radhit.
Rasa cemburunya membuatnya hilang akal.
Sehingga sikapnya dan kata-katanya kasar terhadapku.
Dengan buru-buru aku melangkah, meninggalkan mereka berdua, tak lupa ku tarik secara paksa lembar absen kelasku yang sedari tadi berada dalam genggaman kak Radhit.
Ku langkahkan kakiku secepat mungkin, tanpa berpaling.
Meninggalkan mereka berdua.
Sayup terdengar suara perseteruan mereka setelah aku pergi.
"Aku tak peduli...!" Jerit hatiku, seolah ingin melupakan rasa rindu yang ada untuk kak Radhit.
Ya....rasa rindu itu kini berubah menjadi sebuah kekecewaan, sedih dan juga amarah.
__ADS_1
Inginku tinggalkan kelas ini, pulang ke kost dan meratapi semua yang telah terjadi.
Namun aku sadar, cinta bukanlah segalanya.
Toh Radhit bukanlah siapa-siapaku.
Apakah pantas aku meratapi semua ini?
Apakah ini yang di sebut sakit hati karena cemburu melihat org yang kita sayangi bersama orang lain????
Apakah aku benar-benar telah jatuh cinta????
*****
Tak berselang lama, terdengar langkah kaki di depan kelas kami, kemudian pintu kelaspun di buka oleh seseorang.
Dia adalah kak Radhit.
Kali ini aku memilih untuk tidak menghiraukannya.
Aku mencari posisi duduk jauh di belakang, tidak seperti biasanya aku duduk tepat di depan meja dosen.
Semua tugasku sudah aku selesaikan.
Kini giliran Bayu sang wakil kelas yang akan menggantikan tugasku.
Setyo adalah cowok pecinta alam yang bertubuh gagah dan juga macho.
Dia sangatlah tampan dengan body yang atletis dan tinggi mencapai 175cm, dengan postur yang lumayan tinggi sudah sepantasnyalah kalo Setyo memilih olahraga basket sebagai ekstrakurikuler di kampus dan di tunjuk sebagai calon ketua team menggantikan senior kami yang akan yudisium.
Terkadang anak-anak di kelas suka menggodanya, namun sikap dingin Setyo mematahkan semangat mereka yang ingin mencuri perhatian dan simpatik darinya.
Singkat cerita mata kuliah management bisnispun telah usai.
Kak Radhitpun meninggalkan kelasku.
Aku tak menghiraukannya, aku berusaha seolah-olah kejadian tadi tak pernah aku alami.
Dan kak Radhitpun bersikap yang sama, seperti tak terjadi apa-apa.
Sikapnya datar, sama dinginnya seperti gletzer di Kutub Utara.
Dingin dan membeku.
Namun aku sempat beberapa kali beradu pandang dengannya, dalam pandangan itu tersirat sesuatu di dalamnya.
******
Mata kuliah terakhir pun kelar, satu persatu anak-anak meninggalkan kelas.
Tinggallah aku, Restu, Ika dan Setyo.
Karena peralatan yang di gunakan untuk perkuliahan belum di kembalikan, aku masih belum bisa meninggalkan kelas.
__ADS_1
Dengan sigap aku mengemas semua peralatan dan bersiap mengembalikannya ke ruang administrasi tempat aku mengambilnya pagi tadi.
Kembali teringat kejadian itu, namun aku mencoba untuk menepis semua rasa itu.
Mencoba tegar dan ikhlas, bagiku memang benar apa yang di ucapkan Nabila.
Kak Radhit tak seharusnya bersamaku dan menjadi milikku.
Karena aku dan dia tak pantas bersanding.
Apalagi bila di bandingkan dengan Nabila, sangat jauh berbeda, bagaikan langit dan bumi.
180 derajat perbedaan itu terlihat dari gaya dan selera kami.
Nabila wanita sempurna, sedangkan aku hanya gadis tomboi, dengan karakter yang jauh berbalik dengan kodratku sebagai wanita.
Meskipun terkadang hatiku lebih rapuh tak sekuat dan setegar karakterku.
"May....," panggil setyo membuat lamunakku buyar.
Ternyata selama aku merapikan peralatan aku tak melihat keberadaan Setyo yang masih menungguku di kelas.
"Kemana Restu dan Ika, tega-teganya mreka berdua meninggalkanku sendirian." Batinku.
"Sini aku bantu mengembalikannya ke kantor administrasi!" ucap Setyo sambil berusaha mengambil infokus yang aku pegang.
"Gak usah, aku bisa kok Yo," balasku, aku berusaha untuk menghindar darinya.
Bukannya sok jago, tapi begitulah aku, tidak ingin merepotkan teman bila memang aku masih sanggup mengerjakannya.
Dengan sigap Setyo mengambil tas berisi infokus dan memegangnya.
Sambil berjalan meninggalkanku.
Meskipun heran dengab sikapnya aku berusaha mengejarnya, mengikuti langkah kaki Setyo.
Sebab gulungan kabel terminal dan chas infokus tidak ikut terbawa oleh Setyo.
"Yo....," panggilku sambil berlari mengejarnya yang sudah hampir setengah jalan menuju kantor administrasi.
"Hei...kamu lupa membawa kabelnya!" Teriakku.
Setyo menghentikan langkahnya dan berbalik menoleh ke arahku, seraya tersenyum dia memandangku.
" Emang sengaja gak aku bawa, biar kamu ikut aku ke ruang administrasi," tutur Setyo padaku.
Kali ini dengan senyum sumringah bak menang piala oscar dia meraih tanganku untuk mengikutinya menyusuri koridor kampus yang mulai sepi karena jam perkuliahan telah usai.
*****
Apa yang sebenarnya terjadi antara Mayang dan Setyo???
Akankah mereka bertemu dengan Radhit saat mengembalikan peralatan di ruang administrasi????
__ADS_1
Simak kelanjutannya dalan part berikutnya ya teman-teman
Trimakasih masih setia menantikan kisah perjalanan cinta Mayang, semoga syuka dengan cerita ini 🙏😊😍😘