
...****""""*****...
...Rumah keluarga Pratama...
Sudah hampir seminggu kedua orang tua Kak Kak Radhif belum kembali.
Kabar terakhir yang aku ketahui dari Bi Inah, kedua orang tua Kak Radhif dari Madiun berangkat menggunakan pesawat ke Solo.
Semua berkaitan dengan usaha batik yang mereka kelola.
"Sepi ya, Bi, kalo gak ada Papa dan Mama," ucapku
"Iya, Non. Sepi rasanya. Biasa kalo pagi. Yang sibuk buatin sarapan itu Bu Dian, mamanya Den Radhif," balas Bibi.
"Oiya Bi, sore ini Mayang mau belanja kebutuhan Mayang bentar ya.
Bibi tolong jagain rumah ya.
Biar Pak Ujang yang nganterin Mayang ke 'Hypermart'," ucapku lagi.
"Iya, Non. Lagi pula ada Pak Deden di rumah kok.
Biasanya kalo gak ada Pak Deden, Bibi gak berani di rumah sendirian kalo malam.
Bukannya takut hantu, tapi takut kalo ada orang jahat," ucap Bi Inah khawatir.
Sambil mengunyah roti berisi selai coklat aku berkata, "Bukannya perumahan sekitar sini aman kan, Bi?
Kan ada 'securty' yang patroli 24 jam kok, Bi."
"Non Mayang udah ijin ke Den Radhif?" tanya Bi Inah.
'Untung saja Bi Inah mengingatkanku.
Jika tidak aku tak tau apa yang akan terjadi,' batinku.
Subuh tadi aku lupa mengirim pesan kepada Kak Radhif.
Biasanya selepas sholat subuh Kak Radhif berolahraga, entah joging atau bermain tenis lapangan bersama Mas Gilang.
******""""******
Batalion A, Sorong Papua.
"Dhif, kau perhatikan anak-anak di sana itu.
Berebutan mengambil buah jambu dan mangga muda untuk di buat rujak," ucap Gilang sambil menunjuk ke arah segerombolan anak-anak kecil di pojok kompi tak jauh dari tempat mereka bermain tenis.
"Biarlah, Lang. Biarkan mereka menikmati masa-masa indah saat kanak-kanak."
"Ngomong-ngomong soal jambu dan mangga muda, aku jadi teringat Mayang," tutur Radhif keceplosan, dia lupa kalau Gilang tak tau perihal kehamilan Mayang.
"'Whats'?"
"Mayang? Jambu dan mangga muda?"
"Hei yang benar saja, Bro. Apa adikku sudah berisi?" tanya Gilang terkejut mendengarkan ucapan Radhif barusan.
"Buset, cepet banget serangan lo, Dhif. Aku masih belum bisa ngebayangin di panggil Pakde oleh anakmu nanti," gurau Gilang.
"Emang orang ngidam aja yang suka rujak? Bukannya kau setiap siang nongkrong di warung Bu Dewi buat beli rujak, Lang?" sanggah Radhif mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ah, itu kan beda. Aku kan beli rujak buat istrinya komandan. Karena ajudannya sakit, akibatnya aku yang kena getahnya," balas Gilang tersenyum kecut.
"Hahahaha...apa benar begitu, Lang? Malang benar nasibu," ucap Radhif sambil melangkah pergi meninggalkan Gilang.
"Hei, mau kemana? Kita belum selesai?" teriak Gilang.
"Aku lapar, Lang," balas Radhif terus berjalan menjauh.
Radhif sengaja meninggalkan Gilang, karena takut rahasia yang di sembunyikannya terbongkar.
Dia tak mau Gilang curiga kepadanya.
Hampir saja tadi Radhif membongkar semuanya.
Beruntung, dia berhasil mengalihkan kecurigaan Gilang.
Sesampainya di rumah, Radhif meraih ponselnya.
__ADS_1
Itu menjadi kegiatan barunya setelah menikah.
Mengecek setiap pesan yang masuk dan keluar, serta siapa saja yang menghubungi Mayang.
"Nomor baru? Nomor siapa ini?
Ternyata Mayang masih saja berhubungan dengan sahabat-sabahatnya," gerutu Radhif dengan nada marah.
"Tunggu saja sampai aku kembali, akan aku beri pelajaran dia. Dasar cewek bandel," ucap Radhif sambil meletakan raket tenisnya dengan keras ke lantai ruang tamu.
Tak berselang lama, sebuah pesan masuk.
Ponsel Radhif pun berbunyi.
Lampu notifikasi berkedip-kedip memberi isyarat.
"Pesan dari siapa pagi-pagi begini.
Gak tau apa jam segini orang masih pada sibuk," gerutu Radhif lagi.
Nampak sebuah pesan muncul ketika membuka layar ponsel, Rashif membukanya dan mendapati isi pesan itu ternyata dari Mayang.
['Assalamualaikum, Kak. Sore ini aku hendak pergi membeli keperluanku di sebuah swalayan di daerah Ahmad Yani bersama Pak Ujang.
Ijinkan aku kesana sebentar saja.
Aku mohon, terimakasih sebelumnya.] Bunyi pesan dari Mayang.
Sesaat Radhif termenung, memikirkan pesan yang di kirim Mayang.
'Apa benar dia berbelanja keperluan rumah? Bukannya semua sudah di beli oleh Bi Inah?
Apa kebutuhan Mayang yang belum di beli?' fikir Radhif.
Namun kali ini Radhif tidak menaruh curiga sedikit pun, mungkin benar ada kebutuhan Mayang yang belum sempat di beli atau terlewatkan oleh Bi Inah.
Maklum Bi Inah udah tua.
Jadi kadang ada saja yang terlewatkan olehnya.
['Baiklah, tapi ingat jangan aneh-aneh, ajaklah Pak Ujang bersamamu. Dan sekali lagi aku tegaskan. Kamu sudah menikah, harusnya lebih banyak berdiam diri di rumah saat suami tak di tempat bersamamu.] balasku kepada Mayang.
['Baiklah Kak, aku janji takkan lama. Hanya sebentar saja.
Pak Ujang akan pergi bersamaku. Terimakasih atas pengertianmu. Hati-hatilah di sana. Titip salam rinduku untuk Ibu dan Mas Gilang.] balas Mayang.
"Rindu?"
"Apa rindumu hanya untuk Gilang dan Ibu?"
"Apa kau tidak merindukan aku, seperti aku merindukanmu? Dasar gadis tomboi. Tak secuil pun cinta dan rindumu kau berikan untukku yang kini menjadi suamimu," omel Radhif sambil menyeduh teh hangat untuk sarapannya pagi itu.
Detik demi detik berlalu, menit demi menit berganti, waktu menunjukkan pukul 4 sore.
"Bi Inah, udah sampaikan ke Pak Ujang kalo jam 5 sore nanti antarin Mayang ke swalayan?" seru Mayang pada Bi Inah.
"Non Mayang sudah ijin kepada Den Radhif?" tanya Bi Inah.
"Iya, udah, Bi," balasku singkat.
"Baiklah, Non. Bibi sampaikan ke Pak Ujang ya. Biar siap-siap," ujarnya lagi, seraya berlari menghampiri Pak Ujang yang lagi santai sehabis sholat asyar.
Perjalanan dari rumah Kak Radhif tak begitu jauh dari lokasi yang menjadi tujuanku kali ini.
Hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit.
"Pak Ujang mau ikut masuk sama-sama Mayang?
Atau nunggu di parkiran?" tanyaku pada supir keluarga pratama.
"Bapak di parkiran aja ya, Non. Kalo butuh bantuan, Non Mayang telepon aja ke ponsel saya," ucapnya.
"Baiklah kalo gitu, Pak," balasku.
Sesampainya di sana, aku langsung turun di depan pintu masuk, sedangkan Pak Ujang mengendarai mobil menuju baseman yang letaknya di lantai bawah untuk memarkir mobil.
Kakiku melangkah menyusuri tiap lantai, eskalator untuk menuju ke lantai atas.
Hingga sampailah aku di food court.
__ADS_1
Aku mencari tempat yang tak begitu ramai pengunjung.
Nampak olehku stand minuman yang tidak terlalu ramai.
Sepertinya itu tempat yang cocok.
Aku mencari tempat yang posisinya nyaman bagiku, bawaan bayi membuat penciumanku sedikit sensitif.
Jadinya aku mencari tempat yang tak ada pengunjung lain.
Asap rokok dan aroma parfum membuatku terkadang merasa mual.
Setelah mendapatkan posisi yang nyaman, aku memesan segelas jus alpukat, karena semenjak hamil, aku mulai menyukai minuman yang awalnya aku tidak menyukainya karena bentuknya membuatku merasa j***k.
Tak berselang lama, sebuah pesan masuk.
['Sekarang kamu di mana?'] Dari nomor yang semalam mengirimiku pesan semalam.
['Food court.'] Balasku singkat.
['Oke.'] Balasnya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Apa yang aku dan Setyo inginkan terwujud.
Akhirnya setelah sekian lama kami berdua bisa bertemu kembali.
Setyo yang dulu kini nampak berbeda.
Nampak semakin dewasa, dengan postur tubuh sangat atletis.
Hanya saja kulitnya yang kuning langsat telah berubah menjadi eksotis.
Mungkin karena kegiatannya selama pendidikan dan saat berdinas.
"Assalamualaikum!"
"Apa kabar?"
"Lama kita tak jumpa," ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Aku mengulurkan tanganku dan menyambut tangan Setyo.
"Eeehhheeeemmmm...jangan lama-lama tu tangan," ucap Dion dan Niar.
Setelah berbincang lama, Setyo mulai menceritakan tentang kepergiannya hingga saat menempuh pendidikan dan bertugas di batalion x, di Kota Malang.
Sepertinya sudah di rencanakan sejak awal oleh ketiga sahabatku dan juga Dion.
Mereka satu per satu pergi meninggalkan kami.
Hingga hanya ada kami berdua di tempat itu.
Namun saat aku dan Setyo sedang bercakap-cakap.
Dering teleponku berbunyi.
Pada layar ponsel muncul nama Kak Radhif.
Aku sempat panik.
Itu tersirat dari raut wajahku.
Panggilan itu aku abaikan, aku menggantinya dalam mode silent, agar deringnya tak lagi terdengar.
'Maafkan aku Kak, ada sesuatu yang harus aku selesaikan.
Aku tak mau semua ini berlarut-larut.
Aku hanya ingin Setyo bahagia. Begitu pula aku.
Aku tak ingin lagi hidup dalam kesedihan yang terus menerus menghantuiku,' gumamku dalam hati.
🍁🍁🍁🍁🍁
*Apakah sore itu Mayang menerima kembali pernyataan cinta Setyo kepadanya?
*Bagaimana reaksi Radhif ketika Mayang mulai mengabaikannya hanya karena kehadiran Setyo?
Nantikan kisah selanjutnya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" Part 58. Terimakasih 🙏🤗😍
__ADS_1