
...----TAKDIR CINTA MAYANG----...
...PART 104...
----Keretakan mahligai pernikahan Mayang dan Radhif-----
(bagian ketiga)
----Rumah sakit M, pusat kota Malang---
Sepenggal part sebelumnya,
Mayang membuka matanya, hari sudah pagi. Matahari telah menyembul dari balik awan. Cahayanya kini telah memasuki celah-celah ventilasi rumah sakit.
Semalam saat Radhit tertidur, Heru sempat memberikan sesuatu kepadanya. Hanya saja belum sempat untuknya membuka benda yang diberikan oleh Heru kepadanya.
Flashback
Di saat Radhif tertidur, Mayang sempat meminta bantuan kepada Heru untuk membantunya mengambilkan minum ketika dirinya haus. Ibarat pucuk dicinta ulam pun tiba. Heru kemudian memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memberikan sesuatu kepada Mayang.
"Maaf Mbak. Ada sebuah surat yang diberikan oleh Setyo kepada saya untuk di sampaikan kepada Mbak Mayang. Awalnya saya tidak mau menerimanya karena saya khawatir bila ketahuan Bang Radhif. Cuma saya merasa iba dan simpatik kepada Setyo. Bagimana pun juga Setyo anggota saya dan dia memohon kepada saya untuk membantunya menyampaikan amanatnya. Dia hanya berfikir seandainya dia tidak akan bisa bertemu kembali dengan Mbak Mayang," ucap Heru sambil merogoh isi tas selempangnya bermotif loreng.
Mayang hanya menatapnya dengan terkejut. Semua itu dapat Heru lihat dari sorot mata Mayang. Di dalam lubuk hatinya paling dalam Mayang merasa khawatir. Dirinya takut bila Kak Radhif mengetahui hal tersebut. Saat ini dirinya tak ingin melukai hati siapapun. Kak Radhif atau pun Setyo. Yang di fikirannya Mayang hanya satu, yaitu lekas sembuh dan bisa kuliah lagi.
"Saya tidak tahu apa isi surat yang di titipkan kepada saya. Silahkan Mbak Mayang simpan surat ini. Jika tidak ingin membacanya, Mbak Bisa membuangnya atau mebakarnya. Intinya saya telah menjalankan amanat yang diberikan Setyo kepada saya.
__ADS_1
Flashback Off
Pagi itu Mayang masih menyimpan surat yang di berikan Heru semalam ketika Radhif telah tertidur pulas karena lelah menjaga Mayang. Belum ada kesempatan untuk membacanya. Mayang menunggu waktu yang tepat, agar bisa membaca surat dari Setyo untuknya.
Hari ini kondisi Mayang sudah mulai membaik. Efek obat cina yang di bawakan perawat sehari yang lalu untuknya sungguh ampuh. Entah dari mana obat tersebut. Bahkan Suster Niken tak mengatakan apapun. Hanya menyuruhnya meminum obat tersebut dan memakan rebusan ikan gabus demi kesembuhan Mayang.
Flashback
"Suster Niken, beneran gak mau sebutin siapa yang mengirimkan obat ini untuk saya?" tanya Mayang penuh selidik.
"Intinya, obat dan makanan yang saya bawa untuk Mbak Mayang banyak khasiatnya. Beneran Mbak Mayang, gak mau makan bubur dan juga rebusan ikan gabus ini? Kalo gak mau saya bawa kembali aja ya," ucap Suster Niken membuyarkan lamunan Mayang.
Terperanjat dengan ucapan sang perawat yang mengancamnya tadi, akhirnya Mayang secara tak sengaja berkata, " Jangan, Sus. Jangan di bawa kembali. Saya akan memakannya." Suara Mayang cukup kencang membuat suster Niken balik terkejut.
"Makasih, Sus. Terima kasih sudah mau membantu saya dan tetap sabar menghadapi sikap saya," balas Mayang dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, sama-sama mbak Mayang. Ini sudah tugas saya," ucap suster Niken.
Flashback off
Jelang hari keempat pasca operasi, keadaan Mayang berangsur pulih. Semua berkat bantuan suster Niken yang dengan setia membawakan bubur serta rebusan ikan gabus untuk Mayang. Mayang kini sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan perawat. Bahkan infus yang melekat pada tangan kanan Mayang telah dilepas.
Hari ini Radhif menghubungi perawat yang piket menanyakan kondisi Mayang. Radhif berharap Mayang bisa segera pulang kerumah. Ia ingin Mayang bisa kembali ke Surabaya, disana Mayang akan di ajak ke dokter spesialis kandungan untuk melakukan 'medical chek-up". Radhif sengaja melakukan hal itu karena dia mencurigai dokter Bima, menaruh hati kepada Mayang.
Bukan tanpa alasan Radhif menuduh dokter Bima. Akan tetapi Radhif melihat, mendengar dengan mata kepalanya sediri apa yang di katakan dan di ucapkan oleh dokter Bima kepada suster yang merupakan asistennya untuk mendekati Mayang dan mencari informasi tentang Mayang. Semua itu Radhif ketahui secara tak sengaja ketika hendak menemui dokter tampan tersebut di ruang kerjanya.
__ADS_1
'Sungguh licik. Aku fikir kau membantuku karena tulus dan ikhlas. Ternyata kau ingin menarik perhatian serta simpati Mayang. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh dokter tampan ini dari Mayang? Bukankah dia tahu Mayang telah menikah dan aku adalah suami dari Mayang. Harus aku beri pelajaran dokter ganjen ini. Semakin lama semakin membuatku emosi bila memikirkannya,' gerutu Radhif dalam hati.
Radhif kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Dia sudah lupa tujuan awalnya ke tempat tersebut. Emosi sudah merasuki fikirannya. Cemburu buta membuat akal dan fikirannya tak bisa bekerja dengan baik. Yang ada hanya emosi dan kekesalan.
Tak berselang lama, Radif pun muncul. Sikapnya sungguh aneh pagi itu. Sikap Radhif yang awalnya baik-baik saja kini berubah setelah dia kembali dari luar. Membanting pintu kama ruang inap. Menggerutu dengan mengeluarkan kata-kata yang kasar. Bahkan Radhif sempat membentak Mayang yang memintanya untuk memanggilkan dokter untuk mengecek kondisinya pagi itu.
"Kau, sudah tidak butuh dokter. Yang kau butuhkan hanya beristirahat yang cukup agar keadaanmu lekas membaik dan sembuh," ucap Radhif dengan wajah penuh emosi.
Mayang yang mendengar hal itu seketika terdiam dan tertunduk. Air matanya meleleh bagaikan daun yang berguguran di musim semi.
Hatinya semakin sakit ketika menerima perlakuan seperti itu dari Radhif yang masih berstatus suaminya yang sah.
'Mungkin memang benar, aku tak bisa melanjutkan skenario ini lagi. Aku harus mengakhiri semua ini, demi masa depanku dan juga masa depan kak Radhif,' batin Mayang dalam hati.
Derai air mata membasahi wajahnya. Namun, Mayang mencoba menahan semua itu dan berusaha terlihat tegar.
Mayang tak ingin kak Radhif mempertahankan bahtera rumah tangga mereka hanya karena kasihan dan simpatik kepadanya. Dalam fikiran Mayang, alangkah baiknya jika mereka segera berpisah. Baik secara agama maupun secara kedinasan. Semua ini demi kebaikan keduanya, begitulah fikiran Mayang untuk saat ini. Dia tak tahu apa semua itu baik atau buruk untuknya kedepan nanti. Yang difikirkan oleh Mayang hanyalah hidup bebas dari bayang-bayang masa lalu, meski begitu pahit untuknya.
...-----------Bersambung-------------...
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 105. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊
Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.
__ADS_1