
#Baper2
#Bab2
Judul : Melukis Senja Dalam Bayang Semu
penulis : Cikgu Maya
Jumkat :
...__Melukis Senja Dalam Bayang Semu__...
...Bab 2...
Dua orang gadis berjalan beriringan. Seorang diantarnya memegang sebuah payung kecil berwarna 'dusty pink' bermotif bunga-bunga kecil. Tangan kanannya sibuk mengibaskan benda tipis demi menghalau rasa gerah yang melanda.
"Duh, kalo kayak gini sia-sia aja aku mandi susu di salon kemarin. Mana rambutku udah mulai lepek karena keringat. Aku tadi kan dah bilang naik motorku aja biar gak kepanasan dan capek, Gha. Sekarang udah capek, kepanasan, gerah, keringatan dan bau asem pula. Euyh ... Bukan aku banget deh!" keluh Ika yang sejak tadi terlihat rempong.
Sinar itu mentari terasa begitu terik membakar kulit. Ika yang sejak tadi berjalan di sebelah Mega kini mempercepat langkahnya agar lebih dulu sampai di lokasi perpustakaan kampus mereka yang tinggal beberapa meter. Namun, di belakangnya Mega berjalan santai tanpa mempedulikan teriknya cahaya mentari yang menyengat.
"Mega, buruan. Heran banget, panas gini kamu kok malah santai jalannya. Bisa item kamu kayak sate yang di jual Mang Udin," teriak Ika yang sudah duluan sampai di depan perpustakaan.
"Lebay banget sih, Cha. Panas gini aja udah uring-uringan. Gimana kalo kamu masuk neraka. Bisa kabur para malaikat penjaganya kalau penghuni nerakanya kamu, Cha," cibir Mega kepada Ika sahabatnya.
"Gak lucu!" balas Ika cuek.
"Lelucon kamu garing, Gha. Emang siapa yang mau masuk neraka. Cantik kayak gini tuh masuknya di surga," balas Ika sembari memukul lengan Mega menggunakan buku yang dipegangnya.
"Pede banget. Anak siapa sih kamu, Cha? Hari-hari kok muji diri sendiri mulu. Kayaknya emakmu ngidamnya makan daging kancil waktu hamil," cecar Mega gemas dengan tingkah sahabatnya.
__ADS_1
"Enak saja! Ngidam buah delima, jadinya aku lahirnya cantik dan mempesona," cetus Ika sambil memainkan matanya dengan genit.
"Sak karepmu wis, Cha. Aku pegel debat karo awakmu!" ucap Mega dengan wajah kesal.
("Suka-suka kamu ajalah, Cha. Aku capek debat sama kamu!" ucap Mega dengan wajah kesal.)
"Jangan bete, dong, Gha! Kamu kan sahabat aku sejak kecil. Cuma kamu yang selalu mengerti dan jagain aku," ucap Ika merajuk.
"Iya, iya, sudah sana buruan balikin bukunya. Ntar lagi perpustakaan tutup, ini kan hari Jumat. Habis dari perpus temani aku ke 'basecamp' anak Himapala, tinggal empat hari lagi aku naik Gunung Semeru sama Bang Jery cs. Aku mau ngambil list logistik yang harus aku bawa saat naik gunung nanti," papar Mega sambil berlalu menuju bangku kosong di dekat gasebo yang terletak di depan perpustakaan.
"Siap, bodyguardku yang cantik," celetuk Ika sambil berlari kecil ke arah pintu masuk perpustakaan.
'Dasar bocah, enak aja manggil 'bodyguard'. Mampu bayar berapa kalo aku jadi pengawalnya,' gerutu Mega dalam hati. Untuk mengusir rasa bosan Mega merogoh saku celana untuk mengambil ponsel miliknya . Siang itu Mega berdandan casual dengan celana cargo berwarna coklat tua. Mega menggunakan kaos tanpa lengan berwarna putih dan kemeja lengan panjang kotak-kotak kombinasi coklat-putih. Topi putih dengan lambang Himpala kampusnya menghiasi kepala Mega. Tak lupa sepatu snakers dan tas ransel eiger sebagai pelengkap fashion Mega hari itu. Benar-benar memberi kesan tomboi yang kental pada diri Mega.
πππ
Basecamp anak-anak himapala kampusnya terletak di bagian dalam kampus yang mengarah ke tempat rektorat. Di sana juga terdapat sebuah masjid yang digunakan oleh mahasiswa-mahasiwi universitas dari semua jurusan. Siang itu selepas mengantarkan Ika ke perpustakaan, Mega sengaja menyempatkan diri ke basecamp untuk menemui rekan-rekannnya sesama pecinta alam. Seminggu yang lalu senior mereka yang lulus ingin mengadakan pendakian bersama ke Gunung Semeru. Karena Mega masih aktif dalam kepengurusan organisasi himapala, maka dirinya di ajak ikut serta dalam rencana tersebut.
"Assalamualaikum, selamat siang. Salam pecinta alam!" ucap Mega dengan semangat ketika memasuki ruang depan basecamp. Di sana terlihat hanya beberapa rekan Bang Jery yang duduk sambil menikmati rokok dan kopi hitam.
"Wa'alaikumsalam," balas Toni teman Bang Jery yang merupakan senior Mega di fakultas ekonomi. Sedangkan Bang Jery adalah senior dari fakultas tekhnik elektro.
"Gimana kabarnya, Bang?" sapa Mega nampak canggung karena lama tak berjumpa.
"Puji Tuhan kabar, Baik, Gha. Kamu Gimana kabarnya? Udah melepas gelar jomlo belum nih?" gurau Bang Toni sambil meyeruput kopi hitam miliknya.
"Alhamdulillah, baru aja bubar, Bang," balas Mega sekenanya.
"Nah, tu ada cewek gokil jomlo. Loe semua bisa daftar jadi gebetan, Mega. Asal bisa mendaki lima gunung yang jadi prioritas Mega," celetuk Bang Toni sambil tertawa.
__ADS_1
"Buset, gunung apa aja tuh, Bang?" cerca salah seorang pria yang duduk bangku paling pojok.
"Tanya aja langsung sama Mega. Itu pun kalo loe sanggup, Gus. Satu aja gak sampe puncak, boro-boro mau naik lima gunung," ejek Bang Toni kepada temannya yang bernama Agus.
"Iya juga ya, Bang. Iya kalo selamat. Kalo 'koit' duluan gimana mau nyatain cinta?" sahut pria yang bernama Agus tadi.
Mega, Bang Toni dan ketiga temannya yang berada di ruang tersebut tertawa bersama mendengar ucapan temanya tadi.
"Bisa saja, Bang Toni ini membuat gaduh. Baru juga ketemu udah bikin gosip baru di basecamp," kelakar Mega menanggapi gurauan seniornya tersebut.
Tak berapa lama muncul teman Mega yang bernama Novi. Novi adalah saudara Bang Toni yang seangkatan masuk kuliahnya dengan Mega. Bedanya Novi mengambil jurusan tekhnik elektro sama dengan Bang Jery sang senior.
"Hai, Nov. Kamu ikut mendaki juga kan?" tanya Mega pada Novi.
"Hai, enggak tahu. Libur kuliah ini aku harus ngambil kuliah pendek. Ada mata kuliahku yang nulainya anjok. Harus aku perbaiki kalo gak, beasiswa aku bisa lepas," ucap Novi lirih.
"Semangat, Nov. Jangan pantang menyerah dan putus asa. Kami di sini adalah keluargamu dan selalu mendukungmu!" tutur Mega lalu berdiri dan memeluk Novi.
Saat Novi dan berpelukan tak di sangka Bang Jery masuk. Bang Jery baru saja kelar menunaikan salat Jumat bersama salah satu rekannya.
"Eit, ada apa ini. Kok pelukan kayak boneka Teletubbies aja. Kalo kayak gini sifat feminim Mega sedikit terlihat," goda Bang Jery.
"Udah deh, Bang. Jangan rusak suasana damai dengan gurauan Abang itu. Bisa ngamuk dua singa betina ini nanti!" tambah Bang Toni.
"Hahaha ... Benar juga ucapanmu, Ton. Aku mode silent aja deh kalo gitu. Biar rencana mendaki kita empat hari lagi berjalan mulus tanpa hambatan," tegas Bang Jery sambil menuangkan kopi hitam pada sebuah gelas.
"Oiya, Ton. Aku lupa mengajak Kudet. Bukankah sudah lama kita tidak mengajaknya naik ke Gunung Sejak dirinya pindah ke Kalimantan mengikuti ayahnya yang berdinas di sana?" ucap Bang Jery pada sahabatnya Toni.
"Kau benar, Bro. Sudah lama kita tidak bertemu. Apa kabarnya Kudet. Aku berharap kemampuannya mendaki tidak berkurang. Kangen aku mendaki bersama dia sejak perpisahan selepas SMA dulu.
__ADS_1
ππππBersambungππππ
Siapa si Kudet? Apakah Mega mengenal pria yang bernama Kudet tersebut? Nantikan kisah selanjutnya. Terima masih ππππ