
...ππTakdir Cinta Mayangππ...
...Part ke-132...
...----Desa Wirotaman, Malang-----...
"Harusnya kita tidak dipertemukan lagi oleh takdir. Apa salahku, Mas? Mengapa takdir selalu saja mempermainkan perasaan cinta ini?" tangis Mayang semakin menjadi ketika Dokter Bima memeluknya.
πππ
Obrolan panjang berakhir. Radhif terlihat gelisah. Hingga tanpa sengaja dirinya mendengar suara tangisan seseorang. Tangisan soerang wanita dari dalam rumah Pak Tugimin.
"Maaf, Pak. Apa Pak Tugimin mendengar suara tangis? Suara itu berasal dari dalam rumah Bapak," seru Radhif sambil mempertajam pendengarannya.
Radhif mulai curiga. Dirinya merasakan ada yang tidak beres. Kecurigaannya semakin kuat ketika Pak Tugimin mulai terlihat gusar dan cemas.
πππ
Radhif beranjak dari posisi duduk. Berjalan ke arah Pak Tugimin. Seperti berusaha menemukan sesuatu yang masih tersembunyi.
"Benar, Pak Tugimin tidak mendengar ada suara tangis dari dalam rumah?" tanya Radhif penuh selidik.
Pak Tugimin terdiam sesaat-berusaha mengontrol emosi dan juga sikap. Ia khawatir bila Radhif mencurigai kebohongan yang disembunyikan sejak tadi.
"Ti-tidak, Nak. Rumah saya tidak ada siapapun kecuali isteri saya. Kami pasangan suami isteri yang tidak beruntung. Sudah sejak lama hanya hidup berdua semenjak anak kami meninggal-saat bayi berusia setahun. Bahkan sampai detik ini pun kami belum dikaruniai momongan lagi oleh Allah, SWT," ucap Pak Tugimin dengan tenang. Pria itu mencoba mengalihkan pembicaraan.
Radhif mencari posisi duduk di dekat Pak Tugimin-lebih dekat dari sebelumnya.
"Sabar, Pak. Mungkin ada rencana indah dibalik duka yang telah Bapak alami," ujar Radhif dengan tulus.
__ADS_1
"Maaf kalau boleh tahu, anak Bapak meninggal karena apa?" Tanya Radhif penasaran.
Pak Tugimin tertunduk. Matanya terpejam sesaat-mengingat kembali apa yang telah terjadi. Mengembuskan nafas dengan berat lalu berkata, "Anak saya meninggal karena sakit. Malam itu demamnya sangat tinggi. Karena terlambat membawa ke puskesmas, nyawanya tidak tertolong," tutur Pak Tugimin sedih.
Radhif merasa bersalah sudah membuat Pak Tugimin mengingat semua kenangan pahit dalam hidupnya. Beban berat bagi seorang Ayah karena harus kehilangan sang buat hati. Begitu pula pastinya perasaan Bu Tugimin.
'Apakah tangisan tadi adalah suara Bu Tugimin? Tapi mengapa ia menangis?" batin Radhif. Berbagai macam pertanyaan memenuhi kepalanya.
Radhif kemudian menghubungkan earphone miliknya, memberi instruksi kepada salah seorang anggotanya agar mengecek setiap sisi luar rumah Pak Tugimin. Radhif ingin memastikan kecurigaannya mungkin saja salah. Namun, jika benar Pak Tugimin menyembunyikan sesuatu darinya, maka Radhif tidak segan-segan bertindak kasar.
Pak Tugimin mulai tidak nyaman. Dirinya memohon permisi untuk ke belakang sebentar.
"Saya permisi ke belakang sebentar, Nak Radhif. Sekalian mau mengambilkan singkong rebus untuk Nak Radhif dan kawan-kawan," ujar Pak Tugimin dengan nada bergetar.
Selepas kepergian Pak Tugimin ke dalam rumah. Sebuah panggilan melalui ear phone terdengar. Anggota Radhif memberi laporan seputar pengintaiannya di sekeliling rumah tetua adat tersebut.
"Pantau pergerakan. Pastikan siapa yang ada di sana, tapi ingat jangan sampai tuan rumah tahu. Saya akan pamit pergi agar umpan bisa termakan oleh mangsa!" perinta Radhif lagi.
Saat Radhif berdiri tak sengaja dia mendengar suara wanita kembali menangis. Kali ini tak begitu lama. Radhif semakin yakin dengan instingnya. Ada sesuatu yang tidak diceritakan oleh sepasang suami-isteri itu kepada dirinya.
Radhif berpikir keras untuk mengulur waktu keberadaannya di rumah itu. Tapi dengan alasan apa dirinya berlama-lama di sana. Sebab sudah hampir sejam lebih, Pak Tugumin dan isterinya tidak jua mengatakan bahwa mereka tahu keberadaan Mayang. Radhif memutar otak mencari straregi lain agar dapat menemukan kembali isterinya itu, apa pun yang terjadi.
πππ
Di dalam rumah tepatnya di dapur. Pria paruh baya yang tidak lain adalah Pak Tugimin sang tetua adat menemui sang isteri yang tengah memasak. Dibisikkannya kepada sang isteri bahwa Radhif mulai menaruh curiga kepada mereka. Apalagi tadi Radhif sempat mendengar suara tangis wanita dari dalam rumah mereka. Suara isak tangis Mayang.
"Ibu tolong sampaikan ke Nak Bima dan Nak Mayang, jangan melakukan hal yang membuat orang-orang di luar menjadi curiga! Jika ada sesuatu yang mencolok, maka keduanya terancam ketahuan!" bisik Pak Tugimin kepada isterinya.
Bu Tugimin tidak bersuara-hanya membalas dengan anggukan. Setelah itu menempatkan potongan singkong rebus di sebuah piring untuk dibawa ke depan oleh sang suami.
__ADS_1
Radhif masih tetap di posisinya, mengawasi dari teras. Sorot matanya tajam menelisik ke area dalam melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat. Namun, tak satupun jejak yang ditinggalkan sebagai petunjuk.
Pintu terbuka, Pak Tugimi keluar membawa sepiring singkong rebus yang masih mengeluarkan asap karena panas. Pria itu lalu menutup rapat pintu rumahnya.
"Maaf, Nak Radhif. Pintunya saya tutup, sebab serangga liar sering masuk dan mengganggu. Beberapa minggu lalu ada yang terkena demam berdarah. Mohon jangan tersinggung!" jelas Pak Tugimin dengan mimik wajah datar.
"Oo .. Oh, iy-iya, Pak. Silahkan. Saya juga hendak berpamintan. Kami akan melakukan penyisiran di daerah sini untuk menemukan jejak Mayang. Sekalian menanyakan kepads warga sekitar apa ada hal-hal yang mencurigakan. Saya sangat berharap bisa menemukan isteri saya malam ini juga. Sebelum semuanya terlambat. Sebentar lagi saya harus mengikuti pendidikan di Bandung. Sebelum berangkat saya harus menemukan dan membawa kembali Mayang," tutur Radhif panjang lebar.
Tampak jelas di wajah pria tampan nan kharismatik itu guratan kepedihan. Hanya saja dirinya berusaha tegar. Mencoba menerima semua dengan sabar dan lapang dada. Meskipun terkadang emosi membuat dirinya bertindak gegabah. Seorang prajurit yang tidak mudah menyerah. Seperti itulah sosok Radhif menurut pemikiran Pak Tugimin.
"Sebelum melanjutkan perjalanan, silahkan disantap dulu singkong rebus ini. Hanya ini yang saya punya. Semoga pencarian kalian dimudahkan," usul Pak Tugimin.
"Terima kasih banyak, Pak. Maaf sebelumnya bila kedatangan kami mengganggu Bapak dan Ibu!" tutur Radhif.
Mata elang milik Radhif menatap Pak Tugimin dengan intens. Pria tampan itu berusaha mencari jawaban dalam sorot mata pria paruh baya yang ada dihadapannya. Akan tetapi, Pak Tugimin selalu menghindar, menunduk, dan memalingkan pandangannya ketika bertatapan dengan Radhif-menyembunyikan sebuah rahasia.
...-----------Bersambung-------------...
*Apa Pak Tugimin menceritakan semuanya kepada Radhif setelah kejadian tadi?
*Apakah perseteruan akan terjadi antar Radhif dan Dokter Bima?
*Siapa yang akan Mayang pilih diantara keduanya?
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 133. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang ππ
Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.
__ADS_1