TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
TAKDIR CINTA MAYANG PART 115


__ADS_3

...----Awal sebuah petaka----...


...(bagian keempat)...


...Sepenggal part sebelumnya,...


Mendengar ucapan sang perawat tadi, sekenanya tubuh mayang berasa panas dingin, perutnya terasa mules. Irama jantungnya menjadi tak beraturan. Tenyata apa yang difikirkannya benar. Suara itu memang suara Mas Bimanya. Mas Bima yang dahulu pernah menjadi bintang didalam hatinya. Ada rasa rindu yang semakin menjadi-jadi ketika mengetahui kenyataan itu. Akan tetapi, Mayang takut Kak Radhif akan bertindak kasar kepada Dokter Bima bila mengetahui hal yang sesungguhnya.


Cukup Setyo yang merasakan keegoisan Kak Radhif. Ia tak ingin Dokter Bima pun kena dampak negatif dari kecemburuan Kak Radhif.


'Mas Bima, kemana saja Mas selama ini. Apakah Mas tahu kalu aku dan Mas Gilang berusaha mencari Mas Bima selama setahun, setelah kepergian Mas Bima. Kini setelah apa yang terjadi kepadaku, mengapa Mas Bima muncul tanpa aku cari. Takdir macam apa ini, Mas? Aku benci dengan semua yang telah terjadi,' tangis Mayang dalam hati. Begitu sesak dirasakannya, air mata takkan mampu menghilangkan semua kesedihan dan penyesalannya. Namun, semua itu telah terjadi. Dan pada hakekatnya takdir bukanlah hal yang bisa dia tepiskan dalam hidupnya, Karena pads hakekatnya hanya Sang Penciptalah yang maha mengetahui dan membolak-balikan hati manusia, serta menentukan takdir juga garis hidup seseorang.


...______****"""""*****______...


Sesaat setelah Suster Niken memberi makan siang kepada Mayang. Kak Radhif muncul dengan membawa obat yang baru saja ditebusnya dari apotek rumah sakit.


Mayang bersikap seolah-olah tak melihat Kak Radhif masuk ke dalam ruangan tersebut. Sikapnya dingin tak peduli dengan kehadiran Kak Radhif.


Ka Radhif yang mengetahui bahwa suasana hati Mayang sedang tak baik kemudian menaruh plastik berisi obat-obatan di atas nakas tak jauh dari tempat tidur Mayang.


"Minumlah obat ini setelah makan," ujar Kak Radhif dengan nada tegas.


Mayang yang mendengarnya tetap terdiam tak menghiraukannya. Mayang masih saja menyantap bubur yang diberikan oleh Suster Niken sebelum meninggalkan ruangan tadi.


"Aku gak butuh obat, Kak. Aku butuh penjelasanmu!" seru Mayang setelah meletakan mangkok berisi bubur yang dimakannya.

__ADS_1


Kak Radhif yang baru saja sampai dan hendak duduk di sofa mengurungkan niatnya. Kini Kak Radhif berjalan menuju tempat tidur dimana Mayang kini sedang duduk.


"Apa yang harus aku jelaskan? Bukannya sebaliknya, kau yang harus jelaskan mengapa Setyo bisa ada di sini tadi pagi? Apa kau yang mengundangnya ke rumah sakit ini, agar bisa berdua-duaan dengannya?" ucap Kak Radhif dengan nada suara yang meninggi.


Mayang kemudian menarik laci meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya dan mengeluarkan map hijau yang ada didalamnya. Lalu dilemparkannya map tersebut ke arah Kak Radhif.


Dengan cekatan Kak Radhif menangkap map hiaju tersebut dan membukanya. Kini giliran Kak Radhif yang terkejut setelah melihat apa isi map tadi.


"Akhirnya Kak Radhif tahu, Setyolah yang menolongku. Apa itu balasan atas kebaikannya karena menolongku dari maut? Kenapa dengan teganya Kak Radhif membuatnya harus pergi jauh ke pelosok Papua dan meninggalkan saudara serta keluarganya. Apa alasan Kak Radhif melakukan semua itu? Jawab aku Kak!" seru Mayang dengan nada kesal bercampur sedih.


Mendengar perkataan Mayang, Radhif hanya terpaku dan membisu. Sebenarnya semua yang dilakukannya adalah karena rasa cemburu yang membabi-buta. Kak Radhif sangat emosional jika melihat Setyo yang selalu saja berusaha dan berjuang untuk mendapatkan Mayang. Apalagi Kak Radhif tahu bahwa semua itu Setyo lakukan karena dia mengetahui bahwa pernikahannya dengan Mayang hanya untuk menutupi aib, agar anak yang dikandung Mayang kelak memiliki orang tua laki-laki atau ayah.


Kak Radhif khawatir Setyo akan terus berusaha mendekati Mayang. Oleh karena itu, ia melakukan trik jahat dengan membuang Setyo sehingga mendapat surat perintah untuk pindah ke satuan dinas yang baru. Dan satuan dinas yang baru Setyo berada di pelosok Papua.


"Maafkan aku, May. Semua ini aku lakukan karena aku--!" belum selesai Kak Radhit mengatakannya, Mayang kembali meluapkan kemarahannya.


"Aku benci Kak Radhif. Lebih baik kita sudahi saja semua sandiwara ini sebelum terlambat Kak!" ucap Mayang dengan lirih sambil menyeka air mata yang mengalir deras di kedua belah pipinya.


Kak Radhif dengan kasar berseru, "Tidak! Jangan pernah berfikir tuk pergi dariku, May. Aku tak mau melepaskanmu setelah apa yang sudah kita lalui bersama. Jangan buat aku berbuat nekat," balas Kak Radhif tak kalah emosional.


"Anggap saja semua ini hanyalah fatamorgana, Kak. Ini hanya halusinasi saja. Biarkan kita memilih jalan kita sendiri, agar diantara kita tak ada yang tersakiti. Semakin Kak Radhif memaksakan, maka semakin aku membenci Kak Radhif!" balas Mayang dengan suaranya yang parau.


Tangis Mayang semakin menjadi, tak kala mengingat sosok mendiang Kak Radhit. Pria tampan yang gagah, namun lembut hatinya. Pria yang mampu membuatnya melupakan luka lamanya setelah kepergian Mas Bima. Cinta pertamanya.


Namun, Kak Radhit malah pergi meninggalkannya secepat itu menghadap Sang Ilahi, di saat Mayang mulai belajar menata hati dan mencintai Kak Radhit dengan setulus hati. Rasanya takdir mempermainkan perasaan dan hatinya hingga hancur berkeping-keping saat Kak Radhit pergi.

__ADS_1


Muncullah penyelamat dan bayangan Kak Radhit yaitu Kak Radhif. Ketulusan Kak Radhif membuat Mayang berusaha bangkit dan tegar menerima nasib serta takdir hidupnya. Namun, disaat berjalannya waktu. Rasa cemburu yang besar telah merubah diri Kak Radhif. Sikap dan watak asli Kak Radhif pun mulai nampak. Ternyata bayangan Kak Radhif yang begitu menyerupai Kak Radhit hanyalah bayangan yang semu.


"Mayang, dengarkan aku. Semua ini aku lakukan karen aku mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu. Aku tetaplah diriku. Aku bukanlah sosok Radhit yang sempurna. Tapi aku akan mencoba merubah diriku seperti mendiang Radhit. Semua demi cintamu!" timpal Kak Radhif berusaha meyakinkan Mayang.


Melihat sikap Kak Radhif itu, Mayang pun berkata, "Semua sudah terlambat Kak. Biarlah kita jalan dengan tujuan kita masing-masing. Aku tak ingin Kak Radhif menjadi orang lain bila bersamaku. Aku hanya ingin Kak Radhif bisa menjalani hidup dengan bahagia. Begitu pula diriku."


"Lagi pula Kak Radhif sudah di jodohkan dengan anak dari kawan Mami Dian. Terimalah, Kak. Mungkin itu lebih baik dari pada Kak Radhif harus hidup bersamaku," ucap Mayang lagi.


" Tapi, May. Kau tidak mencintainya. Aku mencintaimu, kita sudah menikah. Mengapa aku harus menerima perjodoham itu. Jangan berfikir yang bukan-bukan," balas Kak Radhif dengan nada keras.


"Sudahlah Kak, aku ingin kita berpisah. Itu yang terbaik buat kita berdua, titik!" ucap Mayang menjelaskan.


"Tapi, May. Kenapa---," belum selesai berkata. Mayang menyela ucapan Kak Radhif.


"Sudahlah, Kak. Aku tak ingin berdebat lagi. Biarkan aku beristiharat sejenak dengan tenang!" ucap Mayang memotong perkataan Kak Radhif.


Kak Radhif kemudian berjalan maju ke arah tempat tidur dan mengusap ujung kepala Mayang dan berusaha menciumnya. Namun, Mayang menghindarinya.


"Beristirahatlah, aku akan menjagamu!" ucap Kak Radhif kemudian berlalu dari sampng tempat tidur Mayang. Dirinya lalu berjalan menuju sofa untuk beristiharat di sana sambil menjaga Mayang.


...-----------Bersambung-------------...


Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 116. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊


Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.

__ADS_1


Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.


__ADS_2