TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#Takdir Cinta Mayang# Part 33


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Hari ini terasa begitu hampa buatku, setelah apa yang terjadi membuatku merasa hidupku tak berarti lagi.


Kepergian Kak Radhit membuat gairah hidupku sirna, bagaikan layang-layang putus dari talinya. Begitu pula aku, terbang tak tentu arah.


Ibarat kapal tanpa nakoda, terombang-ambing dalam gelombang. Tak tentu kemana arah tujuannya.


Makanan yang masuk kemulutku terasa hambar, terasa bagaikan duri tak dapat kutelan.


Kondisiku semakin lemah tak berdaya.


Berulang kali Niar, Restu dan Ika bergantian menemaniku, memberiku semangat tapi hasilnya sia-sia.


Tak satupun dari mereka dapat mengubahku menjadi Mayang si tomboi yang selalu ceria.


Kehilangan Kak Radhit membuatku bagaikan mayat hidup.


Hanya raga yang terlihat, nyawaku seakan ikut pergo bersama Kak Radhit.


"Mayang, sampai kapan kamu terpuruk dalam kesedihanmu?" istighfar ingat Allah tak akan memberi ujian melebihi batas kemampuan umatnya," ucap Kak Radhif padaku.


Aku hanya terdiam, meratapi kepergian Kak Radhit sembari mendekap erat figura berisikan foto milik Kak Radhit.


Tak henti-hentinya aku menangis, hingga mataku membengkak dan memerah.


Aku akan berhenti meratapi takdirku hanya jika dokter atau perawat memberikanku obat penenang agar bisa tertidur.


Aku berharap dalam tidurku dapat bertemu dengan kekasih hati yang kini telah pergi meninggalkanku.


Hanya dengan bertemu dialam mimpi, aku dapat melepaskan kerinduanku yang begitu dalam.


Tiba-tiba, kepalaku terasa sangat berat dan pusing, lambungku pun terasa begitu sakit bagaikan dirajam, aku berusaha menahannya.


Akan tetapi sakitnya tak tertahankan, aku berusaha bangkit dan meraih obat dan gelas yang berada tak jauh dari tempat tidurku.


Namun tanganku gemetar lemah tak bertenaga.


Tak sengaja gelas yang hendak aku raih jatuh kelantai.


Tubuhku semakin menggigil, seketika langit terasa berputar, sesaat hilang kesadaranku.


Sayup di telingaku terdengar teriakan Kak Radhif yang baru saja keluar dari toilet.


"May...! Mayang...!" teriak Kak Radhif.


Mas Gilang dan Ika yang baru saja muncul dari pintu pun berhamburan menuju tempatku berdiri tadi.

__ADS_1


Mengangkatku ke pembaringan.


Dengan cekatan Mas Gilang memanggil perawat dan dokter jaga untuk memeriksa keadaanku, beruntung kondisiku masih bisa diatasi.


Dering ponsel Mas Gilang berbunyi.


"Maaf aku keluar sebentar ya ada telepon dari Ibu, sepertinya Ibu sudah sampai di Bandara," ucapnya pada Kak Radhif dan Ika.


5 menit berselang, Mas Gilang masuk keruangan.


"Dhif, aku harus ke bandara, Ibu sudah sampai, aku harus menjemputnya. Sepertinya Ibu sangat khawatie akan keadaan Mayang," ujarnya.


" Aku juga pamit pulang ya Mas, soalnya besok aku ada ujian. Ini sudah aku bawakan baju ganti dan juga bubur untuk Mayang," ucap Ika sambil menaruh barang bawaannya di meja putih yang tak jauh dari tempat tidurku.


Sambil memasukan ponsel dan mengambil kunci motor Mas Gilang berkata pada Kak Radhif, "Aku nitip Mayang ya Dif, tolong jaga dia baik-baik."


Kemudian Mas Gilang dan Ika berlalu meninggalkan ruangan itu.


Hanya tersisa aku, Kak Radhif serta dokter dan perawat jaga.


Masih dalam keadaan setengah sadar.


Karena kondisiku yang lemah dokter memberiku selang oksigen dan selang infus kembali.


Berharap dengan begitu keadaanku akan membaik.


" Kurangnya asupan makanan membuat kondisi pasien semakin melemah," tutur dokter Rian yang memeriksaku kepada Kak Radhif.


Nampak raut sedih diwajah ketiga orang yang berada diruangan itu.


Air muka Kak Radhif begitu jelas terpancar rasa kecewa dan khawatir terhadap kondisi Mayang saat ini.


"Kami harus bagaimana Dok?" tanya Kak Radhif padanya.


Sambil terus memeriksa dan membenahi peralatan medisnya sang dokter berkata, "Untuk saat ini biarkan pasien istirahat, berikan makanan halus dan juga perhatian lebih bagi si pasien, agar dapat melupakan peristiwa atau kejadian yang mengguncang jiwanya."


"Dan satu hal lagi, berikan dia jus atau makanan yg mudah dicerna, karena saat ini si pasien benar-benar membutuhkannya, kondisi lemah akan membuat bayi dalam kandungannya kehilangan asupan gizi. Karena dalam masa pertumbuhan janin yang ada di kandungannya itu," tambah si dokter.


Pernyataan terakhir dokter jaga tersebut membuat sontak membuat geger yang mendengarnya.


Terutama kak Radhif, apa yang didengarnya tadi membuatnya panik.


Bergegas mengejar dokter yang telah berjalan meninggalkan ruang itu.


"Dok...! Dokter tunggu!!" panggil Kak Radhif.


"Apa benar Mayang sedang hamil?" tanyanya seolah tak percaya dengan diagnosa dari dokter tadi.

__ADS_1


"Owh, pasiennya bernama Bu Mayang ya Pak?" sang dokter balik bertanya.


"Iya Dok," balasnya singkat.


Sambil menatap Kak Radhif yang kebingungan sang dokter berkata, "Iya, saat ini pasien sedang hamil, kurang lebih baru 28 minggu."


"Selamat ya Pak atas kehamilan istri Bapak," ucap sang dokter lagi.


"Eh..., iya dok terimakasih ataa informasinya," balas Kak Radhif setengah terbata.


Dokter dan perawat pun berlalu menuju ruangannya.


Tinggallah Kak Radhif yang masih terpaku mendengar kabar yang menghebohkan tersebut.


Masih tak percaya akan apa yang didengarnya tadi.


Sesaat kemudian berbalik dan berjalan menuju ruang tempat mayang dirawat.


Sejenak Kak Radhif menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka pintu kamar tersebut.


Berat baginya menerima kenyataan yang menimpa Mayang.


Ada rasa sedih, kecewa dan juga marah.


Sedih karena kepergian sang Adik yang begitu cepat, kecewa karena harus melihat keadaan Mayang yang seperti itu membuatnya sedikit memendam kekecawaan terhadap mendiang adiknya yang memutuskan untuk mendaki, padahal sempat Radhif melarangnya untuk pergi.


Dan marah, karena takdir begitu kejam merenggut kebahagiaan Radhit dan Mayang.


Radhif masuk dan duduk disebelah Mayang, terpaku memandang wajah cantik nan polos Mayang yang terlelap dalam tidurnya.


Termenung memikirkan ucapan sang dokter.


...'Apakah aku harus memberitahu Gilang akan keadaan Mayang?...


...Haruskah Mayang menanggung ujian hidup yang terlampau berat ini sendiri?...


...Ya Allah berilah hamba petunjukmu, apa yang harus hamba perbuat?...


...Kuatkanlah Mayang dalam mengahadapi ujianmu ini, sudah cukup berat peristiwa kehilangan Radhit, mengapa kau tambahkan lagi ujian untuknya,' ucap Radhif dalam hati....


\*\*\*\*\*\*\*\*


*Bagaimana kondisi Mayang selanjutnya, apakah akan membaik?


*Dan apakah Gilang dan sang Ibu mengetahui kehamilan Mayang?


*Bagaimana sikap Radhif setelah mengetahui kehamilan Mayang yang merupakan tunangan mendiang adiknya?

__ADS_1


Nantikan kisah selanjutnya hanya di "Takdir Cinta Mayang" part 34. Trimakasih 🙏🤗😍



__ADS_2