TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
TAKDIR CINTA MAYANG Part 92


__ADS_3

Kembalinya ingatan akan masa lalu (Bagian pertama)


...---Rumah sakit M, pusat kota Malang---...


Udara pagi kota Malang terkenal sejuk dan segar tak mampu menenangkan hati Radhif yang sejak tadi merasa resah. Dengan pandangan nanar tak lepas menatap pintu dengan cat putih yang masih tertutup rapat. Sudah hampir satu jam lebih Mayang berada di ruang operasi. Radhif hanya bisa menanti dengan sabar sembari berdoa dan berdzikir berharap semuanya berjalan lancar.


"Klik....Bruk...!!" suara pintu berwarna putih tepat di depannya terbuka.


Sesaat kepala Radhif yang tertunduk terangkat. Tatapan mata Radhif tertuju pada suara tersebut. Terlihat Dokter Bima keluar dari ruangan tersebut.


Tanpa menunggu lama Radhif segera menghampiri sang dokter, "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" ucapnya dengan nada gusar.


"Apa dia baik-baik saja? Apa operasinya berjalan lancar? Apa Mayang masih membutuhkan tambahan darah?" begitu resahnya Radhif hingga tanpa sadar dirinya melontarkan bertubi-tubi pertanyaan kepada Dokter Bima yang baru saja selesai melakukan tugasnya di dalam ruang bedah.


Dokter Bima yang mengerti akan kekhawatiran Radhif mencoba menenangkannya, "Alhamdulillah, proses operasi berjalan lancar. Istri Anda masih butuh waktu untuk pemulihan karena sempat terjadi pendarahan. Untuk sementara stok dua kantong darah sudah kami gunakan. Pak Radhif bisa mencari 2 atau 3 kantong darah lagi sebagai cadangan jika pasien membutuhkan tambahan darah." Sorot Mata Dokter Bima seakan menyimpan sebuah guratan hati ketika menatap Radhif.


"Alhamdulillah, Dok. Terima kasih banyak. Saya sudah mencarikan dua kantong darah lagi untuk Mayang," balas Radhif pada Dokter Bima.


"Syukurlah kalau masih bisa mendapatkan stok darah dengan golongan AB, memang agak susah mendapatkan stok darah tersebut," seru dokter tampan yang berdiri dihadapannya.


"Butuh waktu untuk pemulihan, saya harap Pak Radhif harus bersabar bila ingin memiliki momongan. Semua bisa di konsultasikan dengan dokter kandungan yang akan menangani Mayang istri Anda," ucapnya lagi seraya menepuk bahu Radhif.


Spontan ekspresi wajah Radhif terlihat kaget dan malu mendengar ucapan Dokter Bima tadi. Sebenarnya belum terfikirkan oleh Radhif perihal momongan seperti kata dokter tampan itu barusan. Bagi dirinya saat ini adalah kesembuhan Mayang yang paling utama, apalagi dirinya tahu begitu berartinya janin yang dikandung tersebut bagi Mayang. Pastilah trauma seperti kejadian dulu saat kehilangan sosok ayah biologis bayi yang dikandung Mayang akan kembali mendera batin wanita yang kini telah sah menjadi istrinya itu setelah dirinya mengetahui bahwa bayi yang dikandungnya tak lagi bisa di selamatkan.


"Iya, Dok. Untuk saat ini saya akan fokus untuk kesembuhan Mayang dulu. Urusan momongan masih bisa saya konsultasikan. Sekali lagi terima kasih banyak atas semua bantuannya," ujar Radhif pada Dokter Bima.


"Saya hanya perantara saja, Pak Radhif. Operasi ini berhasil karena doa Anda dan juga karena campur tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita patut bersyukur karena rahim istri Anda tidak cacat atau sobek, bahkan pendarahan yang terjadi saat kecelakaan bisa ditangani dengan cepat. Jika tidak nyawa istri Anda tidak dapat tertolong," jelas Dokter Bima pada Radhif.


"Iya, Dok!" ucapnya lirih. Ucapan Dokter Bima bagai sembilu yang tajam menghunus tepat ke jantung Radhif. Hal itu mengingatkan kembali dirinya akan kejadian beberapa hari lalu. Kesalahan yang membuatnya merasakan penyesalan teramat dalam bahkan seumur hidupnya karena menyebabkan Mayang harus kehilangan anak dari mendiang adiknya Radhit.

__ADS_1


"Baiklah, saya permisi dulu ya, Pak Radhif. Kalo ada apa-apa Anda bisa berkunjung ke ruangan saya yang tak jauh dari ruang bedah ini!" seru Dokter Bima dengan ramah.


"Siap, Dok. Terima kasih!" balas Radhif sambil mengulurkan tangannya kepada Dokter Bima.


"Sama-sama, Pak Radhif. Jangan sungkan ya, bila ada apa-apa hubungi saya segera!" seru Dokter Bima dengan tatapan hangat dan penuh keakraban.


'Aku sebenarnya mencari keberadaan wanita yang terbaring di dalam ruang operasi itu. Tetapi takdir sepertinya tidak memihakku,' ucap Dokter Bima di dalam hati hatinya.


Flashback


Ketika di ruang operasi Dokter Bima segera memeriksa pasiennya yang bernama Mayang. Di perhatikannya wajah wanita cantik yang kini terlihat pucat pasi tak berdaya.


"Sus, coba lihat di bagian leher pasien apa ada tahi lalat di bagian lekuk lehernya dan bagian tengkut pasien?" tanya dokter muda itu kepada perawat wanita yang menggantikan baju Mayang sebelum operasi.


"Iya, Dok. Bagaimana Dokter Bima tahu? Apa dokter mengenali pasien ini? Jangan-jangan pasien ini mantannya Dokter Bima ya," ujar suster yang bernama Dian.


"Cieh, dokter Bima tersenyum. Berarti benar ucapan suster Dian, ya, Dok," tambah perawat yang bernama Niken.


"Hussst, kalian ini kalo gosip aja paling cepat. Udah beresin semuanya. saya mau bersihkan diri dulu sebelum melakukan operasi," sanggah dokter Bima seraya berjalan menuju sebuah ruangan kaca yang berada dalam ruang bedah tersebut.


"Siap, Dok. Jangan lupa traktirannya saat istirahat ya," goda suster Niken masih saja menjahili dokter tampan tersebut.


"Gampang itu, tapi awas ya jangan dijadikan bahan gosip di ruang perawat ya, Sus!" seru Dokter Bima segera berlalu.


"Setuju!" ucap suster Dian sambil tertawa kecil.


Tingkat kedua perawat tersebut membuat sang dokter kembali tersenyum sambil membelalakan matanya. Seakan memberi isyarat agar menyudahi aksi jahil mereka.


Dokter Bima pun menuju ruang kaca di pojok ruang bedah, mencuci tangannya dan mengenakan perlengakapannya sebelum melakukan operasi.

__ADS_1


'Andaikan waktu bisa di putar kembali seharusnya kita bisa bertemu. Aku tak tahu kalau kamu berada di Surabaya. Jika saja aku lebih dulu menemukanmu. Seandainya saja....,' batin dokter Bima.


Flashback off


Setelah bersalaman dan juga bertukar nomor ponsel sebelum Dokter Bima kembali keruangannya. Radhif kemudian menunggu para perawat yang hendak membawa Mayang kembali ke ruang VIP tempat istrinya itu dirawat inap.


Dua puluh menit kemudian


Kini Mayang telah berada di ruang VIP tempatnya dirawat inap. Nampak Radhif duduk di sebelahnya, menatap wajah cantik Mayang. Membelai pipi serta ujung kepala Mayang dan menciumnya. Berharap Mayang segera pulih. Meski dia tahu saat sadar nanti pastilah sebuah kenyataan pedas telah menantinya. Kenyataan bahwa mungkin saja Mayang akan meninggalkannya atau membencinya karena telah menyebabkan Mayang kehilangan janin yang di kandungnya. Janin milik buah cintanya dengan mendiang Radhit adik kembarnya.


'Aku tahu saat sadar nanti kau pasti akan membenciku bahkan mungkin saja akan meninggalkanku. Namun, aku akan tetap berdiri tegar, berusaha menjadi pria yang akan selalu menjadi sandaran untukmu. Akan aku lakukan apapun untukmu meski cintamu tak lagi ada untukku,' batin Radhif.


Tangannya menggenggam erat tangan Mayang, seakan tak ingin melepaskannya. Menatap wajahnya lekat seolah hanya hari itu dia dapat memandangnya. Mencium mesra kening Mayang, berharap itu bukan terakhir kalinya dirinya melakukannya.


...------Bersambung--------...


*Bagaimana kisah cinta Mayang selanjutnya?


*Ingatkah Mayang pada Dokter Bima?


*Apa sikap Mayang berubah seiring berjalannya waktu?


*Apa pernikahan Radhif dan Mayang akan tetap terjalin setelah Mayang kehilangan bayi dalam kandungannya?


Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" Part 93 Terima Kasih🙏😊


Terima kasih sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.


Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.

__ADS_1


__ADS_2