
๐Gunung Semeru๐
Hari sudah mulai gelap, nampak dari kejauhan sekelompok team SAR dan relawan telah kembali dari pencarian.
Mereka tidak menemukan tanda-tanda keberadaan kak Radhit.
Tangis tak dapat lagi aku bendung saat melihat mas Davin.
Melihat mas Davin mengingatkanku pada kak Radhit.
Apalagi mas Davin adalah sahabat setia dari kak Radhit, kemanapun Dia pergi, selalu ada mas Davin yang menemani.
"Gimana Mas? Apa ada tanda-tanda keberadaan kak Radhit?" ucapku pada mas Davin sesampainya di pos.
Aku menyodorkan secangkir kopi jahe yang telah kami siapkan untuk para team SAR dan relawan.
Nampak mas Davin menatapku dalam-dalam sambil berusaha menahan rasa sedihnya, tanpa berkata dia menggelengkan kepalanya dan berpaling menjauh dariku.
Malam itu aku dan Niar serta para team SAR dan relawan beristirahat.
Kami beristirahat di tenda yang kami buat tepat di depan pos.
Pos tersebut berada dalam kawasan desa terakhir sebelum gunung Semeru.
Mereka menyebutnya Desa Ranu Pani.
Kami semua menunggu waktu esok hari untuk kembali melakukan pencarian.
Sebenarnya ingin rasanya aku berbuat nekat, menjelajahi gunung Semeru di malam hari.
Namun, keinginan itu dihalangi oleh Niar dan mas Davin.
"Kamu gak boleh sembarangan May. Ingat kondisimu, jangan berbuat hal yang akan berakibat fatal nantinya." ujar Niar membuatku terdiam.
Mas Davin menyodorkanku sebuah buku dengan sampul berwarna hitam.
Buku itu terlihat seperti sebuah agenda.
Ternyata benar buku itu adalah buku agenda kerja milik kak Radhit.
__ADS_1
Dengan sedikit terkejut aku bertanya padanya,"Mengapa buku ini bisa berada ditanganmu Mas?"
Ku ambil buku itu, belum sempat aku membukanya, terdengar langkah kaki yang menuju ke arah tendaku.
Nampak Niar dengan nafas terengah-engah masuk kedalam tenda,"Gawat....May!"
"Gawat kenapa?" tanyaku dengan wajah bingung.
"Mas Gilang dan mas Radhif ternyat menyusul kita. Tadi Ika dan Restu meneleponku, katanya siang tadi mereka ke kost, tapi gak ada kamu disana.
"Tapi Ika dan Restu tidak mengatakan kalo aku dan kamu kesini kan?" tuturku pada Niar, mencoba mencari tahu lebih dalam informasi yang di sampaikannya.
Sambil menatap ponselku yang sedari tadi aku nonaktifkan aku berkata," Niar kira-kira berapa lama mereka akan sampai kesini? Aku takut kalo mas Gilang akan memarahiku dan melarangku untuk mendaki esok hari."
"Aku kurang tahu May, kalo saja mereka berangkat jam 13.00 Wib. Berarti sebentar lagi mereka akan sampai. Karena sekarang sudah pukul 22.00 Wib," ucap Niar padaku.
Karena takut, telepon dari mas Gilang tidak aku angkat.
Berulang kali mas Gilang menelpon tapi sama sekali tidak aku respon panggilannya tersebut.
Hingga sebuah pesan singkatpun masuk.
(*Jangan berbuat yang membuatmu dalam bahaya, fikirkan Ibu yang mencemaskanmu. Tunggulah aku dan Radhif disana. Kami akan segera tiba*), begitulah isi pesan singkat dari mas Gilang kakakku, yang mencemaskanku.
\*\*\*\*\*\*\*
Selang beberapa saat, setelah menerima pesan singkat dari mas Gilang, aku merasakan rasa gelisah dalam hati ini, aku takut bila mas Gilang akan melarangku untuk mendaki gunung Semeru esok hari.
Semua ini karena mas Gilang khawatir akan terjadi apa-apa padaku bila memaksakan diri untuk mencari mas Radhit dengan melakukan pendakian.
Tak berselang lama setelah aku membatinnya, nampak dari kejauhan dua orang pria menggunakan jaket loreng.
__ADS_1
Namun, salah satunya tidak dapat aku kenali karena menggunakan penutup wajah.
Nampak ada 5 orang personil yang mengikuti mereka dari belakang.
"Niar, sepertinya itu mas Gilang dan kak Radhif," ucapku pada Niar setengah berbisik.
"Kakaknya kak Radhit?" tanya Niar dengan suara terkejut sambil menatapku.
Dengan sigap aku menutup mulut Niar menggunakan tanganku, membungkamnya agar team yang lain tidak terganggu dengan teriakannya.
Ternyata bukan aku saja yang tak tau kalo kak Radhit mempunyai seorang kakak, dan yang lebih mengejutkan lagi, kak Radhit dan kak Radhif adalah saudara kembar yang sangat identik.
Aku belum pernah bertemu secara langsung, hanya sebatas foto yang aku lihat.
Bedanya mas Radhif kulitnya lebih eksotis dibandingkan kak Radhit yang memiliki kulit lebih terang atau kuning langsat.
Mereka memiliki hoby yang sama yaitu mendaki, namun mas Radhif lebih suka hal-hal yang bersifat seni.
Mas Radhif sangat menyukai dunia seni, melukis dan juga membuat ukiran.
Semua itu dia warisi dari darah sang Ayah.
Ayah mereka memang memiliki berbagai lukisan dan juga patung.
Dan mas Radhif sempat mengenyam D3 pendidikan seni.
Hanya saja, sang paman yang merupakan saudara dari Ibu kak Radhif mendaftarkannya untuk mengikuti pendidikan AKMIL.
Meskipun terpaksa, tetapi mas Radhif berhasil lolos dengan predikat terbaik selama pendidikan.
Hanya itu sekelumit latar belakang kak Radhif yang aku ketahui dari kembarannya yaitu kak Radhit.
***********
*Akankah Gilang memperbolehkan Mayang untuk ikut mendaki bersamanya?
*Apakah Mayang berhasil menemukan Radhit?
__ADS_1
*Dan apa isi buku Agenda Radhit?
Nantikan kisah selanjutnya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" part 29. Trimakasih ๐๐ค